LOGINPonsel Maudy berbunyi dan bergetar hebat di atas kasur. Menampakkan layar ponsel yang sangat terang.
“Ibu mertua!” serunya dengan pikiran yang kacau saat Ibu mertuanya melakukan panggilan video. Meski Ibu mertuanya belum mengucapkan apapun, Maudy sudah tau apa yang hendak perempuan itu katakan. Maudy berusaha mengabaikan panggilan video itu sekali tetapi setelah panggilan itu berbunyi berulang kali, terpaksa dia harus menerima panggilan tersebut. “Haa..halo Bu,” jawab Maudy dengan bibir dan tangan gemetar saat melihat wajah Ibu mertuanya yang garang di layar. “Kenapa lama sekali terima telponnya? Maudy, kamu harus ingat, bulan ini kamu harus hamil jika namamu masih ingin tercatat di silsilah keluarga!” bentak Ibu mertua Maudy dengan penuh tekanan. “Iya Bu, aku…. Aku dan Mas Rio akan berusaha...“ jawab Maudy terbata bata dan hati yang berdebar debar. Apalagi saat itu dia sedang berdua saja dengan Rio di dalam kamar hotel. Dia tidak ingin Ibu mertuanya mengetahuinya. “Kamu dan Rio sudah bertahun tahun menikah, tapi kamu belum juga hamil! Jangan bilang kamu mandul! Kalau kamu sampai mandul, jangan salahkan Ibu jika akan mencarikan istri baru untuk Rio!” Tuuuuutt...tuuuttt...tuuuuutt Panggilan dimatikan paksa oleh Ibu mertua Maudy. Seolah menandakan jika ucapannya tidak main main. Meski tidak menghadap langsung dengan kamera, Bayu bisa mendengar bentakan dan tekanan dari Ibu mertua Maudy Dia hanya bisa diam sambil menggelengkan kepala. "Kasihan Bu Maudy, ditekan oleh suami dan Ibu mertuanya. Dasar Ibu mertua nggak tau diri, anak laki lakinya yang letoy, malah nuntut menantu perempuannya!" geram Bayu di dalam hati,natas sikap Ibu mertua Maudy. Setelah panggilan berakhir, Maudy melempar ponselnya ke atas kasur. Pikirannya makin kacau. Dia panik bukan main. Masa depannya seolah sedang berada di ujung tanduk. “Mandul? Bukan aku yang mandul Bu, tapi anakmu! Dan aku, tidak rela jika Ibu mencarikan Mas Rio istri baru! Aku harus hamil!” seru Maudy di dalam hati sembari menggelengkan kepala. Maudy berusaha menenangkan diri agar bisa berpikir secara tenang. Tapi, sepertinya dia tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah suaminya. Maudy lantas memandang Bayu yang tengah duduk di lantai. Meski di dalam hatinya menolak, tetapi harapan dia satu satunya saat itu adalah Bayu. “Astaga, benarkah aku harus berhubungan badan dengan dia? Dia itu, OB. Dan dia bukan suamiku. Bisa bisanya aku bernasib sial seperti ini,” gumam Maudy meratapi kesialan nasibnya. Namun, saat itu bukanlah saat yang tepat untuk meratapi nasib. Tindakan nyata adalah solusi dari masalah yang dia hadapi. Dengan sedikit ragu, Maudy mulia melepas jaket tebalnya. Setelah jaket itu terlepas, nampak lengan putih Maudy karena dia hanya menggunakan dress putih tanpa lengan. Sekali lagi, dia meyakinkan hatinya atas tindakan menjijikan itu. “ Aku terpaksa harus melakukan hal yang menjijjkkan ini!” ucap Maudy di dalam hati sembari mempersiapkan diri untuk memanggil Bayu mendekat. Dia benar benar gugup. Bukan karena untuk pertama kalinya, tetapi karena dia akan bermain dengan laki laki asing, bukan suaminya. Dan sialnya, laki laki itu adalah OB di kantor yang dia pimpin. Maudy menarik nafas dalam lalu menghembuskannya dengan pelan. Dia ulang berkali kali agar dia benar benar tenang dan sanggup melakukan hal itu. Jangan sampai, di tengah jalan dia mendadak histeris dan menendang Bayu untuk menjauhinya. Setelah merasa lebih tenang, Maudy memanggil Bayu agar segera naik ke ranjang. “Bayu!” panggilnya, sambil menunjuk kasur sebelahnya. Bayu terkejut. Bosnya yang baru saja menangis dan marah tidak terkendali, tiba tiba memanggilnya ke atas kasur. Bahkan bosnya sudah melepas jaket tebalnya, hingga menyisakan gaun putih yang seksi. “Bu Maudy, anda serius?” tanya Bayu dengan ragu. Lalu Maudy mengangguk. Suasana di dalam kamar hotel mewah itu terasa sangat kontras. Di satu sisi, kemewahan furnitur dan aroma aromaterapi mahal menyelimuti ruangan, tapi di sisi lain, ada ketegangan yang menyesakkan. Ini bukan tentang cinta, ini adalah tentang sebuah kesepakatan pahit yang lahir dari keputusasaan. Bayu mulai melangkah mendekat dengan sangat hati-hati. Ia tahu posisinya. Ia tahu ini hanya tugas, tapi nuraninya tidak membiarkannya memperlakukan Maudy sekadar sebagai objek. "Bu Maudy... tolong lihat saya sebentar,” ucap Bayu dengan Suaranya yang rendah dan tenang, ia berlutut di lantai agar posisinya lebih rendah dari Maudy. "Lakukan saja tugasmu, Bayu. Suamiku sudah membayar mahal. Kita tidak perlu basa-basi,” jawab Maudy sambil menatap ke arah lain dengan suara yang bergetar. Tanpa permisi, Bayu mulai menyentuh punggung tangan Maudy dengan ujung jarinya, sangat ringan dan penuh hormat. "Saya tahu ini sulit bagi Ibu. Tapi saya tidak akan melakukannya jika Ibu merasa terancam. Saya bukan hanya sekedar alat. Malam ini, setidaknya, biarkan saya memastikan Ibu merasa nyaman." Maudy tertegun. Sentuhan Bayu di tangannya terasa hangat dan penuh empati, sangat berbeda dengan dinginnya sikap suaminya belakangan ini. Bayu perlahan menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Maudy dengan gerakan yang begitu lembut, seolah Maudy adalah porselen yang mudah pecah. "Kenapa kamu melakukan ini? Kamu bisa saja langsung menyelesaikannya dan pergi." Ketus Maudy mencoba menutupi rasa nyamannya dengan sentuhan lembut Bayu. "Karena Ibu tetaplah manusia, bukan sekadar kontrak. Izinkan saya... membuat ini menjadi lebih mudah untuk Ibu,” ucap Bayu dengan begitu lembut. Setiap kata yang keluar dari bibir Bayu, seketika mampu menyentuh hati Maudy. Antara terpaksa dan mulai nyaman, Maudy tidak bisa membedakannya. Dia Mulai sedikit tenang, rasa tegang di bahunya perlahan meluruh. Bahkan amarah yang tadinya membara, seketika padam. Sentuhan Bayu yang tidak menuntut itu secara perlahan meruntuhkan tembok pertahanan Maudy. Di tengah situasi yang ironis tersebut, ada sedikit rasa dihargai yang Maudy rasakan, sesuatu yang selama ini ia rindukan di dalam rumah tangganya sendiri. Setelah membuat Maudy merasa nyaman, tangan Bayu mulai bekerja lebih liar. Bayu mulai menyentuh bagian bagian tubuh sensitif Maudy dengan penuh kelembutan. Dengan hati hati, dia mulai mendaratkan ciuman, hingga tanpa Maudy sadari dia makin larut dalam pemanasan tersebut. Sentuhan liar yang lembut, yang belum pernah dia dapat dari Rio. “Uuhhhh,” lenguh Maudy tanpa dia sadari. Dan seketika hal itu membuat Bayu makin bangga pada dirinya. “Yes! Akhirnya aku berhasil meluluhkan singa betina yang liar. Bu Maudy, aku akan memuaskanmu. Dan aku pastikan benihku tertanam dengan baik di rahimmu, lalu akan melahirkan anak yang ganteng seperti aku!” celetuk Bayu di dalam hati, sambil terus memberikan sentuhan lembut pada MaudyMobil sedan yang dikemudikan Lyra membelah jalanan kota dengan kecepatan yang stabil. Namun bagi Maudy, setiap putaran roda terasa seperti detak jantungnya yang kian memburu. Ia menatap ke luar jendela, mengenali gedung-gedung yang mulai akrab di matanya. Benar, itu adalah jalur menuju hotel. Tempat dengan arsitektur klasik modern yang menjadi saksi bisu setiap kali ia ingin melarikan diri dari kenyataan pahit hidupnya.Saat mobil akhirnya berhenti di pelataran lobi, Maudy sempat ragu untuk melangkah keluar. Ia menatap Lyra yang tampak begitu tenang, seolah tidak baru saja melakukan sesuatu yang bisa menghancurkan rumah tangga orang lain."Turunlah, Maudy. Kamu tidak datang ke sini hanya untuk menatapku, bukan?" Lyra tersenyum tipis, sebuah senyuman yang kini terasa lebih seperti dukungan daripada ejekan.Maudy pun turun. Mereka berdua melangkah masuk ke lobi. Maudy merasa seolah-olah seluruh staf hotel memperhatikannya. Namun dia menundukkan kepala, mengikuti langkah kaki Lyra yan
Maudy sendiri terkejut karena rupanya pengirim pesan itu benar benar Lyra. Namun, rasa lega segera menyusul. Ia melihat celah kemenangan di depan matanya. Ia menoleh ke arah Rio yang masih berdiri mematung dengan mulut setengah terbuka."Nah, Mas... temanku sudah datang. Kamu tadi bersikeras mau ikut, kan? Ayo, Mas Rio ikut saja. Tapi aku tidak menjamin ya, kalau Lyra tidak tahan melihat kita berdua bermesraan lalu dia membuat keributan di depan umum. Kamu tahu kan tabiatnya kalau sudah cemburu?" goda Maudy dengan senyum simpul yang sangat dingin."Lalu... lalu kenapa kamu pergi dengan dia? Jangan buat masalah, Maudy! Dia itu perempuan tidak benar!" sentak Rio, mencoba menutupi kegagalannya mengatur situasi.Maudy menatap lurus ke mata Rio, memberikan tatapan yang membuat suaminya itu ciut seketika. "Mas Rio, jangan lupakan sesuatu dong. Aku dan Lyra itu teman sejak kuliah. Kami berdua sebenarnya tidak punya masalah apa-apa. Karena yang membuat masalah di antara kami selama ini..
Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden kamar terasa menyilaukan, tapi tidak sebanding dengan kegaduhan yang berkecamuk di dalam benak Maudy. Ia duduk di tepi ranjang, meremas jemarinya yang dingin. Sementara Rio sudah tidak ada di sampingnya. Mungkin pria itu sedang berada di bawah, kembali menjalankan perannya sebagai menantu teladan di depan ibunya.Maudy menatap ponselnya yang tergeletak di atas bantal. Ketakutan akan jebakan dan kerinduan yang amat dalam pada Bayu bertarung hebat di dadanya. Ia membayangkan wajah Bayu, sorot matanya yang teduh, caranya memperlakukan Maudy yang selalu membuat nyaman. Jika benar pria itu menunggunya di hotel kenangan mereka, dan Maudy tidak datang, ia tahu ia akan diliputi dengan penyesalan yang membakar.Dengan napas yang tertahan, jemari Maudy gemetar saat mengetikkan balasan pada nomor misterius itu."Baik. Aku akan datang. Tapi aku harus cari cara aman dulu agar tidak dicurigai Ibuku dan Mas Rio." tulis Maudy. Setelah
Rio tersentak. Dengan cepat dia menjawab pertanyaan Ibu mertuanya."Bu, demi Tuhan, Rio tidak tahu! Ini pasti kerjaan orang yang ingin menjatuhkan Rio!" Rio mencoba mengelak, suaranya parau. Ia segera menyambar kotak itu dan memberikannya kembali pada asisten rumah tangga. "Bi, buang ini! Saya tidak mau makan makanan dari orang tidak jelas!"Maudy hanya menggeleng-gelengkan kepala sembari tersenyum miring. Lalu dia menoleh pada ibunya. Mencoba untuk mempengaruhi pikiran sang Ibu."Bu, seorang pria yang jujur tidak akan sepanik itu hanya karena sebuah paket makanan. Ibu masih mau percaya kalau dia sudah berubah? Buktinya, masa lalunya masih mengejar sampai ke meja makan kita,” cakap Maudy dengan santai.Ibu Maudy terdiam seribu bahasa. Ia terjebak dalam pusaran bimbang yang menyesakkan. Di satu sisi, ia sangat ingin mempertahankan Rio demi nama baik. Namun di sisi lain, bukti-bukti kecil mulai bermunculan satu per satu, meruntuhkan tembok pembelaannya.Di tengah hiruk-pikuk perdeba
Maudy sedikit menggeliat. Namun ia hanya membalikkan posisi tidurnya tanpa membuka mata. Rio mengembuskan napas lega yang sangat panjang, tapi keringat dingin kini sudah membanjiri kausnya. Ia memilih untuk memejamkan mata rapat-rapat, berpura-pura tidur dengan jantung yang masih berpacu liar, demi menambah masalah baru.“Sialan perempuan itu! Berani beraninya dia bermain api denganku? Awas kamu!” geram Rio sebelum matanya benar benar terpejam.Keesokan harinya, suasana meja makan kembali terasa canggung. Sinar matahari pagi yang cerah masuk melalui jendela besar. Namun tidak mampu mengusir awan mendung di wajah Rio. Matanya yang merah dan lingkaran hitam di bawah kelopak matanya menunjukkan bahwa dia kurang tidur malam itu."Mas, wajahmu kuyu sekali pagi ini? Apa semalam tidurnya tidak nyenyak? Atau jangan jangan semalaman kamu main ponsel terus ya?" tanya Maudy sambil mengoleskan selai ke rotinya dengan gerakan yang sangat elegan. Dia hanya sedang menggoda Rio, tapi hal itu seket
Malam semakin larut, tapi udara di dalam kamar utama itu terasa begitu kontras bagi kedua orang yang berbaring di atas ranjang king-size tersebut. Suara jangkrik di luar jendela terdengar samar, mengiringi keheningan yang mencekam di antara Maudy dan Rio.Maudy merebahkan tubuhnya dengan santai, menarik selimut hingga sebatas dada. Untuk pertama kalinya sejak Rio tinggal di rumah itu, dia merasa beban di pundaknya sedikit terangkat. Bukan karena ia telah memaafkan Rio, melainkan karena ia merasa menang. Kehadiran Lyra malam itu adalah jawaban atas keraguannya. Sebuah bukti nyata bahwa pertobatan Rio hanyalah sebuah panggung sandiwara yang sangat rapuh.Maudy menoleh sedikit ke arah Rio yang berbaring kaku di sampingnya. Pria itu menatap langit-langit kamar dengan mata yang terus berkedip cepat, napasnya terdengar pendek dan tidak beraturan."Mas, kok belum tidur? Biasanya kamu cepat sekali mendengkur setelah bicara soal proyek bisnis masa depan kita. Apa pesan dari Lyra tadi membua







