Share

Bab 5

Penulis: Kak Han
last update Tanggal publikasi: 2026-02-18 13:32:21

Ponsel Maudy berbunyi dan bergetar hebat di atas kasur. Menampakkan layar ponsel yang sangat terang.

  “Ibu mertua!” serunya dengan pikiran yang kacau saat Ibu mertuanya melakukan panggilan video. Meski Ibu mertuanya belum mengucapkan apapun, Maudy sudah tau apa yang hendak perempuan itu katakan.

  Maudy berusaha mengabaikan panggilan video itu sekali tetapi setelah panggilan itu berbunyi berulang kali, terpaksa dia harus menerima panggilan tersebut.

  “Haa..halo Bu,” jawab Maudy dengan bibir dan tangan gemetar saat melihat wajah Ibu mertuanya yang garang di layar.

  “Kenapa lama sekali terima telponnya? Maudy, kamu harus ingat, bulan ini kamu harus hamil jika namamu masih ingin tercatat di silsilah keluarga!” bentak Ibu mertua Maudy dengan penuh tekanan.

  “Iya Bu, aku…. Aku dan Mas Rio akan berusaha...“ jawab Maudy terbata bata dan hati yang berdebar debar. Apalagi saat itu dia sedang berdua saja dengan Rio di dalam kamar hotel. Dia tidak ingin Ibu mertuanya mengetahuinya.

  “Kamu dan Rio sudah bertahun tahun menikah, tapi kamu belum juga hamil! Jangan bilang kamu mandul! Kalau kamu sampai mandul, jangan salahkan Ibu jika akan mencarikan istri baru untuk Rio!” 

 Tuuuuutt...tuuuttt...tuuuuutt

 Panggilan dimatikan paksa oleh Ibu mertua Maudy. Seolah menandakan jika ucapannya tidak main main. 

 Meski tidak menghadap langsung dengan kamera, Bayu bisa mendengar bentakan dan tekanan dari Ibu mertua Maudy Dia hanya bisa diam sambil menggelengkan kepala.

 "Kasihan Bu Maudy, ditekan oleh suami dan Ibu mertuanya. Dasar Ibu mertua nggak tau diri, anak laki lakinya yang letoy, malah nuntut menantu perempuannya!" geram Bayu di dalam hati,natas sikap Ibu mertua Maudy.

  Setelah panggilan berakhir, Maudy melempar ponselnya ke atas kasur. Pikirannya makin kacau. Dia panik bukan main. Masa depannya seolah sedang berada di ujung tanduk.

  “Mandul? Bukan aku yang mandul Bu, tapi anakmu! Dan aku, tidak rela jika Ibu mencarikan Mas Rio istri baru! Aku harus hamil!” seru Maudy di dalam hati sembari menggelengkan kepala.

  Maudy berusaha menenangkan diri agar bisa berpikir secara tenang. Tapi, sepertinya dia tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah suaminya. 

  Maudy lantas memandang Bayu yang tengah duduk di lantai. Meski di dalam hatinya menolak, tetapi harapan dia satu satunya saat itu adalah Bayu.

  “Astaga, benarkah aku harus berhubungan badan dengan dia? Dia itu, OB. Dan dia bukan suamiku. Bisa bisanya aku bernasib sial seperti ini,” gumam Maudy meratapi kesialan nasibnya.

  Namun, saat itu bukanlah saat yang tepat untuk meratapi nasib. Tindakan nyata adalah solusi dari masalah yang dia hadapi. 

  Dengan sedikit ragu, Maudy mulia melepas jaket tebalnya. Setelah jaket itu terlepas, nampak lengan putih Maudy karena dia hanya menggunakan dress putih tanpa lengan. Sekali lagi, dia meyakinkan hatinya atas tindakan menjijikan itu.

  “ Aku terpaksa harus melakukan hal yang menjijjkkan ini!” ucap Maudy di dalam hati sembari mempersiapkan diri untuk memanggil Bayu mendekat.

  Dia benar benar gugup. Bukan karena untuk pertama kalinya, tetapi karena dia akan bermain dengan laki laki asing, bukan suaminya. Dan sialnya, laki laki itu adalah OB di kantor yang dia pimpin.

  Maudy menarik nafas dalam lalu menghembuskannya dengan pelan. Dia ulang berkali kali agar dia benar benar tenang dan sanggup melakukan hal itu. Jangan sampai, di tengah jalan dia mendadak histeris dan menendang Bayu untuk menjauhinya. 

  Setelah merasa lebih tenang, Maudy memanggil Bayu agar segera naik ke ranjang. 

  “Bayu!” panggilnya, sambil menunjuk kasur sebelahnya. 

  Bayu terkejut. Bosnya yang baru saja menangis dan marah tidak terkendali, tiba tiba memanggilnya ke atas kasur. Bahkan bosnya sudah melepas jaket tebalnya, hingga menyisakan gaun putih yang seksi.

  “Bu Maudy, anda serius?” tanya Bayu dengan ragu. Lalu Maudy mengangguk. 

  Suasana di dalam kamar hotel mewah itu terasa sangat kontras. Di satu sisi, kemewahan furnitur dan aroma aromaterapi mahal menyelimuti ruangan, tapi di sisi lain, ada ketegangan yang menyesakkan. Ini bukan tentang cinta, ini adalah tentang sebuah kesepakatan pahit yang lahir dari keputusasaan.

  ​Bayu mulai melangkah mendekat dengan sangat hati-hati. Ia tahu posisinya. Ia tahu ini hanya tugas, tapi nuraninya tidak membiarkannya memperlakukan Maudy sekadar sebagai objek. 

  ​ "Bu Maudy... tolong lihat saya sebentar,” ucap Bayu dengan Suaranya yang rendah dan tenang, ia berlutut di lantai agar posisinya lebih rendah dari Maudy.

  "Lakukan saja tugasmu, Bayu. Suamiku sudah membayar mahal. Kita tidak perlu basa-basi,” jawab Maudy ​sambil menatap ke arah lain dengan suara yang bergetar.

  ​Tanpa permisi, Bayu mulai menyentuh punggung tangan Maudy dengan ujung jarinya, sangat ringan dan penuh hormat.

  "Saya tahu ini sulit bagi Ibu. Tapi saya tidak akan melakukannya jika Ibu merasa terancam. Saya bukan hanya sekedar alat. Malam ini, setidaknya, biarkan saya memastikan Ibu merasa nyaman."

  ​Maudy tertegun. Sentuhan Bayu di tangannya terasa hangat dan penuh empati, sangat berbeda dengan dinginnya sikap suaminya belakangan ini. Bayu perlahan menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Maudy dengan gerakan yang begitu lembut, seolah Maudy adalah porselen yang mudah pecah.

  "Kenapa kamu melakukan ini? Kamu bisa saja langsung menyelesaikannya dan pergi." Ketus Maudy mencoba menutupi rasa nyamannya dengan sentuhan lembut Bayu.

  ​"Karena Ibu tetaplah manusia, bukan sekadar kontrak. Izinkan saya... membuat ini menjadi lebih mudah untuk Ibu,” ucap Bayu dengan begitu lembut. Setiap kata yang keluar dari bibir Bayu, seketika mampu menyentuh hati Maudy. Antara terpaksa dan mulai nyaman, Maudy tidak bisa membedakannya. 

  ​Dia Mulai sedikit tenang, rasa tegang di bahunya perlahan meluruh.​ Bahkan amarah yang tadinya membara, seketika padam. Sentuhan Bayu yang tidak menuntut itu secara perlahan meruntuhkan tembok pertahanan Maudy. Di tengah situasi yang ironis tersebut, ada sedikit rasa dihargai yang Maudy rasakan, sesuatu yang selama ini ia rindukan di dalam rumah tangganya sendiri.

  Setelah membuat Maudy merasa nyaman, tangan Bayu mulai bekerja lebih liar. Bayu mulai menyentuh bagian bagian tubuh sensitif Maudy dengan penuh kelembutan. Dengan hati hati, dia mulai mendaratkan ciuman, hingga tanpa Maudy sadari dia makin larut dalam pemanasan tersebut. Sentuhan liar yang lembut, yang belum pernah dia dapat dari Rio.

  “Uuhhhh,” lenguh Maudy tanpa dia sadari. Dan seketika hal itu membuat Bayu makin bangga pada dirinya.

  “Yes! Akhirnya aku berhasil meluluhkan singa betina yang liar. Bu Maudy, aku akan memuaskanmu. Dan aku pastikan benihku tertanam dengan baik di rahimmu, lalu akan melahirkan anak yang ganteng seperti aku!” celetuk Bayu di dalam hati, sambil terus memberikan sentuhan lembut pada Maudy

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (6)
goodnovel comment avatar
Priyo Suwito
hot sekali kisah digambarkan
goodnovel comment avatar
Andoko Cokro
mantap,lannjut.
goodnovel comment avatar
Lelie
mantap lanjut
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 279

    Pada saat yang bersamaan, Sedan hitam milik Bayu melaju dengan kecepatan sedang, membelah aspal jalanan ibu kota yang mulai merayap padat menjelang siang. Di dalam kabin mobil yang kedap suara, suasana mencekam yang tadinya menyelimuti perjalanan menuju rumah sakit kini telah sepenuhnya mencair. Hawa dingin dari pendingin ruangan terasa menyegarkan, mengusir sisa-sisa ketegangan yang sempat memuncak di koridor IGD beberapa saat lalu.​Bayu mengemudikan mobilnya dengan satu tangan, sementara tangan kirinya perlahan bergerak ke samping, mencari jemari Maudy yang bertumpu di atas pangkuannya. Setelah menemukannya, Bayu menyisipkan jari-jarinya, menggenggam telapak tangan wanita itu dengan sangat erat seolah sedang menyalurkan seluruh rasa lega dan kagum yang membuncah di dalam dadanya.​Ia melirik Maudy sekilas melalui sudut matanya. Wanita itu tampak menatap ke luar jendela, membiarkan bias cahaya matahari siang menerpa profil wajahnya yang kini terlihat jauh lebih tenang dan tegap.​"M

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 278

    Tuan Pradipta sudah dipindah ke ruang perawatan. Suasana di dalam ruang perawatan VIP itu terasa begitu sunyi dan tenang. Bunyi ritmis dari mesin pemantau detak jantung yang terpasang di samping ranjang Tuan Pradipta terdengar konstan, memecah keheningan ruangan bernuansa putih bersih tersebut. Tuan Pradipta tampak terbaring lemah dengan selang oksigen yang masih terpasang di hidungnya, matanya terpejam rapat di bawah pengaruh obat bius dan penenang dari dokter.​Alena duduk di kursi kayu di samping ranjang, menatap wajah sayu sang ayah yang tampak jauh lebih tua dari usia sebenarnya. Rasa bersalah masih menggelayuti hatinya. Sentuhan jemarinya pada punggung tangan ayahnya terasa begitu hampa.​Tepat saat Alena hendak menyandarkan punggungnya untuk sedikit melepas lelah, keheningan itu mendadak buyar oleh getaran konstan dari dalam tas jinjingnya. Ponselnya berdering, menampilkan sebuah nomor tanpa nama yang sudah sangat ia hafal.​Alena menarik napas dalam-dalam, menatap layar ponse

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 277

    Suasana di koridor depan ruang Unit Gawat Darurat itu mendadak hening seketika. Gesekan emosi dan ketegangan yang baru saja memercik antara Maudy dan Alena seolah menguap begitu saja ke udara, tergantikan oleh fokus mutlak yang tertuju pada sosok pria berjas putih di hadapan mereka. Semua yang ada di sana menahan napas, membiarkan waktu bergulir lambat dalam kecemasan yang bergelayut tebal.​Bayu melangkah selangkah ke samping Maudy, bersedekap dada dengan tatapan yang tetap waspada. Sementara Cindy berdiri sedikit di belakang mereka, ikut memasang telinga dengan saksama. Alena sendiri tampak meremas kedua telapak tangannya yang basah oleh keringat dingin, matanya menatap lekat-lekat pada bibir sang dokter, menunggu vonis yang akan menentukan nasib ayahnya, dan juga nasib rencana besarnya.​Dokter paruh baya itu mengembuskan napas pendek, lalu mengulas seulas senyum tipis yang sarat akan profesionalisme untuk menenangkan suasana yang mencekam.​"Syukurlah Nona. Tuan Pradipta sudah ber

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 276

    Bayu mengambil napas dalam-dalam, bersiap untuk mengeluarkan kata-kata paling tajam demi memutus harapan Alena dan memperingatkan wanita itu agar menjaga jarak. Rahangnya mengatup rapat, dan kilat kemarahan di matanya sudah tidak lagi bisa disembunyikan. Namun, sebelum sepatah kata pun sempat keluar dari bibir Bayu, sebuah suara yang teramat tenang dan jernih tiba-tiba memotong keheningan di antara mereka.​Maudy melangkah maju. Gerakannya sangat lambat, namun memancarkan keanggunan dan ketegasan yang mutlak. Rasa syok yang sempat membuat tubuhnya lemas beberapa menit lalu kini seolah menguap, digantikan oleh kekuatan baru yang muncul dari harga dirinya sebagai seorang wanita yang tidak akan membiarkan dirinya diinjak-injak lagi oleh situasi.​Maudy menatap lurus ke dalam manik mata Alena yang masih berlinang air mata, sebelum akhirnya angkat bicara.​"Nona Alena, tenanglah. Dokter spesialis dan tim ahli terbaik dari rumah sakit ini sudah menangani Papa Anda di dalam. Mereka sedang

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 275

    Suasana di area tunggu Unit Gawat Darurat (UGD) terasa kian mendingin, berbanding terbalik dengan gemuruh kepanikan yang kian dekat di luar lobi.​Derit pintu kaca otomatis rumah sakit yang terbuka dengan kasar mendadak memecah keheningan koridor. Suara langkah kaki dengan sepatu hak tinggi yang melangkah tergesa-gesa, menggema di sepanjang lantai marmer putih.​Bayu, yang sejak awal berdiri dengan kewaspadaan penuh, langsung menoleh ke arah sumber suara. Seluruh otot tubuhnya seketika menegang kaku saat matanya menangkap sosok wanita berambut acak-acakan dengan wajah yang sudah sembap oleh air mata baru saja melewati pintu masuk lobi.​Alena benar benar muncul di sana. ​Pertemuan yang begitu dihindari oleh Bayu akhirnya benar-benar terjadi di bawah lampu neon putih rumah sakit yang benderang. Alena berlari kecil, matanya memandang liar ke sekeliling lorong IGD sampai akhirnya pandangannya terkunci pada sosok petugas keamanan kantor Bayu yang berdiri di dekat tirai hijau pembatas ruan

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 274

    Perjalanan menuju Rumah Sakit Pusat yang terletak beberapa kilometer dari perusahaan Bayu itu terasa begitu menyiksa bagi Bayu. Di dalam mobil sedan hitamnya yang melaju membelah kepadatan arus lalu lintas pagi, keheningan yang mencekam kembali merayap. Bayu mencengkeram kemudi dengan teramat erat, sesekali matanya melirik ke arah kaca spion tengah untuk melihat Cindy yang duduk di kursi belakang, lalu beralih pada Maudy yang duduk diam di sampingnya, menatap lurus ke luar jendela kaca.​Pikiran Bayu berkecamuk hebat. Setiap putaran roda mobilnya seolah membawanya semakin dekat ke arah bom waktu yang siap meledak kapan saja. Ia tahu betul, melangkah ke rumah sakit itu sama saja dengan menyerahkan diri ke dalam jebakan takdir yang paling ia hindari. Namun, ia tidak punya pilihan. Berdalih lebih jauh hanya akan membuat Maudy menaruh curiga bahwa ada rahasia kelam yang sengaja disembunyikan di balik pintu ruang kerjanya tadi. Dengan berat hati, Bayu memilih untuk mengambil segala risiko

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 42

    Keheningan di kamar hotel itu terasa begitu pekat, seolah oksigen di ruangan itu telah habis tersedot oleh pengakuan mengerikan yang baru saja terlontar. Maudy masih mematung di tepi ranjang. Tatapannya kosong, tertuju pada foto yang tergeletak di lantai. Foto yang kini tampak seperti potongan bukt

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 18

    Maudy hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Bayu, lalu beralih menatap Lyra dengan raut wajah tidak enak hati. "Maaf ya, Lyra. Bayu memang begitu, dia OB yang sedikit bandel di sini. Jangan dimasukkan ke hati ucapan lancangnya tadi," ucap Maudy meminta maaf pada Lyra. ​Lyra hanya tertawa k

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 16

    Bayu menepi di bawah pohon rindang yang agak jauh dari butik itu. Ia menatap layar ponselnya yang menampilkan foto Rio tengah tertawa mesra bersama wanita itu. Jarinya gemetar, berada hanya beberapa milimeter di atas tombol Kirim ke kontak Maudy. ​"Kalau aku kirim sekarang, apa yang terjadi?Bu Mau

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 55

    Mobil yang dikendarai Ayah dan Ibu Maudy melaju menembus kesunyian malam. Namun suasana di dalamnya jauh dari kata tenang. Begitu gang sempit kontrakan Bayu menghilang dari spion, Ibu Maudy tiba-tiba melepaskan pegangan di pelipisnya. Ia duduk tegak, napasnya kembali teratur, dan sorot matanya yang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status