เข้าสู่ระบบMalam kian larut ketika Andra berjalan bolak-balik di ruang tengah apartemennya. Ponsel di genggamannya bergetar berulang kali karena remasan jemarinya yang dingin. Sejak melepas Tasya pulang dari restoran tadi sore, pikiran Andra tak pernah benar-benar lepas dari Tasya. Andra tahu betul betapa berartinya restu keluarga bagi Tasya, dan malam ini adalah penentuan besar bagi langkah masa depan mereka.Dengan napas yang sedikit tertahan, Andra akhirnya memberanikan diri menekan tombol panggilan ke nomor Tasya.Tut... tut...Panggilan itu hanya tersambung tiga detik sebelum suara lembut Tasya menyapa dari seberang saluran."Hallo, Andra?""Tasya..." sapa Andra pelan, menghentikan langkah kakinya. "Maaf kalau aku mengganggu jam istirahatmu. Aku cuma... aku tidak bisa tidur kalau belum mendengar kabar darimu."Di kamarnya, Tasya menyandarkan punggung pada kepala tempat tidur, menyunggingkan senyum tipis mendengarkan nada cemas sekaligus penuh harap dari Andra. Rasa salah tingkah yan
Ruang kerja yang tadinya diwarnai suasana yang hangat seketika membeku. Kata-kata yang baru saja keluar dari bibir Tasya seolah menggantung kaku di udara, menciptakan keheningan yang mencekam.Mama Tasya melepaskan rangkulannya di bahu Tasya secara perlahan. Matanya membelalak lebar, menatap putri tunggalnya dengan raut wajah tak percaya yang amat sangat."Andra?" ulang Mama Tasya, suaranya naik satu nada. "Andra pria yang dulu pernah kamu ceritakan itu, Tasya? Pria yang kata kamu terus-terusan menganggumu padahal dia cuma staf biasa di kantor pusat?"Tasya menelan ludah susah payah, jemarinya di pangkuan meremas kain celananya kian erat. "Ma, itu kan…”"Tunggu sebentar!" sela Heru dengan tegas.Heru menggeser berkas di meja kerjanya dengan gerakan kasar, lalu menegakkan tubuhnya. Wajah bijaksana yang tadinya dihiasi senyuman ramah kini berubah keras dan berkerut dalam. Tatapan matanya yang tajam tertuju lurus pada Tasya.“Ada apa Papa?” tanya Tasya."Andra yang kamu maksud ini
Hari-hari berlalu dengan nuansa yang kian berubah, membawa lembaran baru bagi setiap insan yang ada di dalamnya. Sore itu, sepulang kerja, Di sebuah restoran , Andra dan Tasya duduk berhadap-hadapan di sebuah meja sudut yang cukup privat.Andra menatap Tasya dengan manik mata yang menyiratkan ketulusan mendalam. Tidak ada lagi keraguan atau sikap menunda-nunda di dalam benak Andra. Usianya sudah sangat matang untuk memikirkan masa depan, dan di antara riuhnya kesibukan dunia kerja, satu nama yang selalu berhasil mengunci seluruh perhatiannya adalah Tasya, wanita yang dulunya tampak begitu angkuh, namun kini telah meluluhkan hatinya seutuhnya.Andra menarik napas perlahan, merapikan letak jasnya sejenak sebelum memberanikan diri membuka suara."Tasya," panggil Andra dengan nada suara yang begitu lembut namun sarat akan ketegasan.Tasya, yang sedari tadi sedang mengaduk minuman di cangkirnya, mengangkat wajah. Tasya menatap Andra dengan kening berkerut tipis, merasa ada yang berb
Setelah dirawat beberapa hari di Rumah Sakit, akhirnya Maudy diperbolehkan pulang. Hari kepulangan Maudy dari rumah sakit disambut dengan udara sore yang sejuk. Mobil yang dikemudikan oleh Bayu terparkir rapi di halaman depan rumah megah mereka. Dengan penuh kehati-hatian, Bayu membantu Maudy turun dari mobil, merangkul pinggang istrinya itu untuk menuntunnya melangkah masuk melewati pintu utama.Ibu Maudy yang ikut mendampingi sejak dari rumah sakit langsung berjalan mendahului, membuka lebar pintu utama dengan senyuman lebar."Akhirnya kamu pulang juga, Sayang," sambut Ibu Maudy lega, membantu Maudy duduk di sofa ruang tamu yang empuk. "Rumah ini terasa sepi sekali tanpamu."Maudy tersenyum tipis, merapikan selendang yang menutupi bahunya. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruang tamu yang tampak lengang. Ada satu hal yang sejak tadi mengganjal di benaknya, namun baru ia tanyakan sekarang."Ibu..." panggil Maudy pelan. "Cindy... di mana?"Suasana di ruang tamu yang t
Di lain tempat, Suasana yang berbeda terjadi. Cindy sudah selesai berkemas. Kopernya berdiri rapi di dekat pintu. Pagi ini, ia bertekad bulat untuk pulang ke rumah peninggalan mendiang ibunya. Ia tidak mau merepotkan Bayu lebih lama lagi.Ketika Cindy meraih gagang pintu untuk keluar, pintu itu justru terdorong dari luar."Mau ke mana, Cindy?"Cindy tersentak kaget. Bayu berdiri di ambang pintu dengan kemeja putih bergulung hingga siku. Di belakangnya, Andra berdiri membawa beberapa kantong kertas berisi sarapan."Mas... Mas Bayu?" bisik Cindy kaku. "Cindy mau pulang ke rumah mendiang Ibu."Bayu melangkah masuk tanpa pamit, matanya langsung tertuju pada koper hitam di dekat pintu. Kening pria itu berkerut dalam."Masuk dulu," perintah Bayu dingin namun tegas. "Andra, taruh makanannya di meja.""Baik, Pak," sahut Andra sigap seraya meletakkan kantong makanan di meja.Cindy menunduk kaku, mengikuti langkah Bayu. "Mas Bayu, Cindy mau tinggal di rumah Ibu saja. Cindy tidak bisa t
“Bibi ini bertanya apa sih? Pak Andra ini kan atasan ku,” sahut Tasya dengan pipi makin merona.Karena tidak ingin terus digoda, Tasya lalu berpamitan. Andra pun segera menyusul berpamitan, sehingga keduanya keluar bersama.“Emm Bibi, Tasya pamit pulang dulu ya,” Pamit Tasya.“Loh, kok buru buru sekali. Kan baru juga datang,” Tanya Ibu Maudy lalu dengan cepat Bayu menyahuti.“Ibu, kita harus maklum dengan urusan anak anak muda,” goda Bayu dan seketika membuat kedua bola mata Tasya membulat sempurna.“Bukan. Bukan begitu Bibi. Aku hanya ingin memberi waktu untuk Mbak Maudy agar segera beristirahat,” kilah Tasya.Semua menahan tawa melihat tingkah Tasya yang gugup. Karena tidak tega terus menggoda Tasya, Maudy angkat bicara dan mempersilahkan Tasya untuk pulang.“Sudah, sudah. Jangan menggoda Tasya terus. Mungkin Tasya sendiri juga capek habis kerja seharian. Mas Andra, buruan antar Tasya pulang untuk istirahat,” ujar Maudy.“Siap Bu Komisaris!” sahut Andra sembari mengangkat telapak ta
Satu jam sudah Bayu berdiri di balik pintu. Sementara Maudy, dia tetap pada posisinya. Duduk bertekuk lutut di sudut kasur. Tidak bergerak dan juga tidak ada niatan merealisasikan ancamannya.Kaki Bayu mulai merasa pegal. Sejak tadi dia sudah berusaha mengabaikan rasa pegalnya,, tapi kali itu dia s
“Saya cuma mau membantu Bu Maudy berdiri. Lantai itu kotor, dan harus saya pel,” ucap Bayu dengan pelan sambil mulai duduk di dekat Maudy. Dia juga sedikit mengulurkan tangan, barangkali Maudy meraihnya. Akan tetapi, yang ada Maudy menepis tangannya dengan kasar lalu melempar sebuah brosur tebal k
“Simpan pertanyaanmu dan kembali lanjutkan pekerjaanmu!” titah Rio mengalihkan pertanyaan dari Bayu. Bayu tidak bisa mengelak. Dia lekas undur diri dan beranjak dari tempatnya berdiri. “Baik Pak Rio, saya akan kembali bekerja,” ucap Bayu sebelum dia melangkah pergi. Pintu ruangan tersebut kembali
"500 juta untuk pengobatan ibumu, tapi dengan syarat, gauli istriku sampai hamil!" Degh! Jantung Bayu seolah berhenti berdetak usai mendengar perintah dari suami bosnya sendiri, Rio. Dia yang masih dibalut keringat usai mengepel, mendadak diminta ke ruang CEO dan menerima perintah di luar nalar.







