Share

Bab 257

Author: Kak Han
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-17 22:55:29

]Waktu terus bergulir di lantai teratas gedung pencakar langit itu. Di luar ruangan, di balik meja sekretarisnya, Cindy mulai gelisah. Ia melirik jam tangan digital di pergelangan kirinya untuk yang kesekian kali. Jarum panjang sudah bergeser jauh, menandakan sudah hampir empat puluh lima menit wanita dari Pradipta Group itu berada di dalam ruangan kakaknya.

​Cindy mengerutkan kening. Ketukan jemarinya di atas meja marmer terdengar tidak beraturan, mencerminkan isi kepalanya yang mulai dipenuhi
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 392

    Maudy menyandarkan kepalanya di dada bidang Bayu, mendengarkan detak jantung suaminya yang teratur. Kehangatan dekapan itu perlahan-lahan mengikis rasa sesak dan cemas yang sejak siang menggelayuti pikirannya. Di bawah redupnya lampu kamar, Maudy merasa beruntung memiliki suami yang selalu bisa menjadi benteng penenang di setiap badai yang datang.​Namun, di belahan kota yang lain, malam yang tenang justru terasa membakar di dalam kediaman keluarga Heru. Angin malam yang berhembus pelataran seolah tidak mampu mendinginkan suasana di dalam ruang keluarga mereka yang mendadak diselimuti ketegangan baru.​Tasya baru saja melangkah masuk ke dalam rumah dengan menghentakkan kakinya kasar. Wajah ceria yang ia pamerkan semalam kini runtuh total, digantikan oleh raut masam, bibir yang mengerucut penuh amarah, dan binar mata yang memancarkan kekecewaan yang teramat mendalam. Ia melempar tas kerjanya ke atas meja kaca hingga menimbulkan suara benturan yang cukup keras.​Heru dan istrinya yang

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 391

    Siang itu berjalan dengan sangat lambat bagi Maudy. Setelah panggilan telepon dari ibunya terputus, ia hanya bisa duduk termenung di tepi ranjang. Dadanya masih terasa sesak, dan air mata yang sempat membasahi pipinya kini telah mengering, meninggalkan rasa hangat yang tidak nyaman.​Meskipun hatinya bergejolak hebat dan jemarinya sangat gatal untuk segera menghubungi Bayu, Maudy menahan diri kuat-kuat. Ia melirik ponselnya yang tergeletak di atas nakas.​”Tidak, Maudy. Jangan telepon Mas Bayu sekarang,” ucap Maudy mengingatkan diri sendiri.​Maudy tahu betul bahwa hari ini Bayu kembali ke kantor dengan agenda yang sangat padat, termasuk menstabilkan gejolak di antara para pemegang saham akibat penundaan rapat kemarin. Ia tidak ingin menjadi beban pikiran baru bagi suaminya di tengah jam kerja. Kandungannya yang masih sangat muda juga menjadi alasan mengapa ia harus pandai-pandai menata emosi. Akhirnya, Maudy memilih untuk menarik napas dalam-dalam, mengelus perutnya yang masih rata,

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 390

    Setelah hampir dua jam mengobrol dan menikmati teh hangat serta camilan yang disajikan oleh Ibu Maudy, Heru dan istrinya akhirnya berpamitan untuk pulang. Pertemuan yang begitu hangat itu seolah-olah berhasil mengikis dinding es yang selama bertahun-tahun ini membentang di antara kedua keluarga.​Ibu Maudy mengantarkan kakak kandungnya dan sang kakak ipar hingga ke teras depan rumah. Senyum bahagia tidak lepas dari wajah wanita paruh baya itu, merasa bahwa hari ini adalah awal yang baru bagi hubungan persaudaraan mereka yang sempat renggang.​Namun, tepat sebelum Heru melangkah keluar dari pagar halaman, pria itu menghentikan langkahnya. Ia membalikkan badan, menatap sang adik dengan raut wajah yang kembali diselimuti kesenduan yang teramat meyakinkan.​"Oh ya, Dik," panggil Heru lembut, suaranya terdengar begitu tulus di bawah semilir angin siang. "Ada satu hal lagi yang ingin Mas sampaikan sebelum kami pulang."​Ibu Maudy menghentikan langkahnya di undakan teras, menatap sang kakak

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 389

    Rencana licik yang disusun di ruang keluarga Heru semalam kini mulai digerakkan. Pagi itu, atmosfer di kediaman Heru tampak sibuk. Tasya sengaja berangkat ke kantor lebih awal agar tidak menimbulkan kecurigaan, sementara Heru dan istrinya bersiap-siap dengan pakaian yang rapi namun tidak terlalu mencolok, sengaja dirancang untuk membangun kesan ramah dan bersahaja.​Tujuan mereka hanya satu: kediaman Ibu Maudy.​Sejak Maudy dan Bayu resmi menikah, Ibu Maudy memang memilih untuk tetap tinggal sendirian di rumah lama peninggalan mendiang suaminya. Rumah itu penuh dengan kenangan, dan ia merasa lebih tenang berada di sana. Meskipun Maudy dan Bayu berkali-kali membujuk, bahkan memohon agar dirinya ikut tinggal bersama di mansion megah mereka, Ibu Maudy tetap bersikeras menolak.​Alasannya sederhana dan sangat mulia; ia tidak ingin mengganggu kebersamaan serta privasi pasangan pengantin baru tersebut. Di samping itu, baginya sangat sayang jika rumah penuh kenangan itu dibiarkan kosong tak

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 388

    Kegalauan Cindy yang tertuang dalam pesan singkat tengah malam itu benar-benar menjadi ganjalan besar di hati Bayu. Pria itu meletakkan ponselnya kembali ke atas meja, lalu memijat pangkal hidungnya yang terasa pening.​Sebagai seorang pemimpin tertinggi di perusahaan, Bayu tahu betul bahwa ia tidak bisa memaksakan takhta sementara itu kepada orang yang mentalnya belum siap. Jika Cindy dipaksa duduk di kursi Komisaris harian dalam kondisi tertekan dan ketakutan, gadis itu justru akan menjadi sasaran empuk yang mudah dihancurkan oleh serigala-serigala berbulu domba di kantor, terutama Tasya.​Namun, mencari pengganti Cindy pun bukanlah perkara mudah. Di dunia bisnis yang kejam dan penuh intrik ini, tingkat kepercayaan Bayu berada di level yang sangat tipis. Di luar Cindy, ia tidak bisa memercayakan urusan krusial perusahaan begitu saja kepada orang lain. Apalagi jika mengingat manuver ambisius Tasya tadi siang. Menunjuk Tasya? Itu sama saja dengan menyerahkan leher perusahaannya sendir

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 387

    Malam kian merambat sunyi, menyisakan keheningan yang begitu pekat di dalam kediaman megah Bayu dan Maudy. Di lantai atas, Maudy sudah tertidur lelap setelah meminum obatnya, napasnya teratur di bawah kehangatan selimut tebal. Namun, di lantai bawah, Bayu masih enggan memejamkan mata.​Pria itu duduk termenung di sofa ruang tamu yang temaram, hanya diterangi oleh lampu sudut berwarna kuning hangat. Tatapannya lurus menatap cangkir teh kamomil yang sudah mendingin di atas meja kaca. Di bawah keheningan malam, otak jenius Bayu bekerja dengan sangat keras. Ia memikirkan setiap jengkal kejadian di aula kantor tadi siang.​Bayu sama sekali tidak menyesali keputusannya untuk memprioritaskan Maudy dan calon buah hati mereka. Baginya, itu adalah harga mati yang tidak bisa ditawar oleh apa pun, termasuk oleh grafik keuntungan perusahaan. Yang kini berkecamuk di dalam kepalanya adalah bagaimana cara mengamankan posisi Cindy.​Bayu tahu betul bahwa penunjukan Cindy sebagai Komisaris harian semen

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 2

    “Simpan pertanyaanmu dan kembali lanjutkan pekerjaanmu!” titah Rio mengalihkan pertanyaan dari Bayu. Bayu tidak bisa mengelak. Dia lekas undur diri dan beranjak dari tempatnya berdiri. “Baik Pak Rio, saya akan kembali bekerja,” ucap Bayu sebelum dia melangkah pergi. Pintu ruangan tersebut kembali

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 1

    "500 juta untuk pengobatan ibumu, tapi dengan syarat, gauli istriku sampai hamil!" Degh! Jantung Bayu seolah berhenti berdetak usai mendengar perintah dari suami bosnya sendiri, Rio. Dia yang masih dibalut keringat usai mengepel, mendadak diminta ke ruang CEO dan menerima perintah di luar nalar.

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 270

    Malam kian larut, meninggalkan keheningan di rumah milik Maudy. Di dalam keheningan itu, ketegangan yang sempat memuncak perlahan-lahan mencair. Di bawah sentuhan dan dekapan hangat pria yang telah menjadi pelindungnya, seluruh benteng pertahanan Maudy runtuh tak bersisa. Di tangan sang pawang hati

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 259

    Bagi Bayu, tawaran miliaran rupiah atau nama besar Pradipta Group sama sekali tidak memiliki bobot jika harus ditimbang dengan ketenangan hidup Maudy. Ia telah menyaksikan bagaimana Maudy hancur di tangan Rio, dan ia telah berjanji di dalam hatinya untuk menjadi pelindung, bukan sumber luka baru. J

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status