Share

Bab 252

Penulis: Kak Han
last update Tanggal publikasi: 2026-05-15 21:34:21

​Rio menunggu dengan napas tertahan. Dia duduk di kursi taman kota, jauh dari jangkauan Lyra yang mungkin akan terus mengawasinya. Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Hingga akhirnya, muncul notifikasi balasan.

​ "Siapa ini? Dari mana kamu mendapatkan nomorku? Apa maksudmu dengan informasi tentang Bayu?" balas Alena.

​Rio menyeringai. Dia merasa mangsanya itu sudah mulai mendekati umpan. Segera dia balas pesan tersebut.

“Aku adalah Rio, orang yang cukup dekat dengan Bayu. Aku bisa membantu kamu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
JAMILAH HAFIZ
Capek ngebaca, ceritanya pusing sana pusing sini, timbul pula watak baru alena...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 509

    Air mata yang sejak tadi ditahan Tasya akhirnya luruh melintasi pipinya. Rasa sesak yang membendung di dadanya pecah, meluapkan seluruh ganjalan batin yang selama bertahun-tahun ini ia simpan sendiri. Ruang makan privat yang tadinya tenang kini dipenuhi getaran emosi dan keheningan yang menyayat.​"Kamu tidak akan pernah tahu rasanya, Maudy," bisik Tasya dengan suara serak, napasnya tersendag-sendag. "Menjadi perempuan yang sudah menikah bertahun-tahun tapi tidak kunjung punya anak itu rasanya seperti berjalan di bawah pengawasan semua orang. Ke mana pun aku pergi, selalu ada mata yang memandang kasihan atau mulut yang bertanya tanpa perasaan."​Tasya mengusap air matanya dengan kasar, namun lelehan bening itu terus saja mengalir.​"Setiap acara keluarga, setiap kali kumpul arisan, atau bahkan saat bertemu teman lama, pertanyaan pertama yang keluar dari mulut mereka selalu sama. Sudah isi belum? Kapan mau kasih cucu? Kok ditunda-tunda terus? Mereka bicara seolah-olah punya anak itu cu

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 508

    Makan malam di ruangan VIP restoran tempat mereka berkumpul itu berlangsung dalam alunan musik instrumental yang lembut. Hidangan pembuka telah tersaji indah di atas meja, namun ketegangan samar masih menggantung di udara.​Sesuai rencana awal, Bayu dengan lihai memberikan isyarat mata pada Andra. Pria itu tiba-tiba berdiri seraya tersenyum ramah. "Sya, Mas sama Pak Bayu mau ke area luar sebentar ya, ada urusan berkas kantor yang perlu dipastikan sebentar. Kalian ngobrol santai saja dulu."​Andra menepuk pelan bahu istrinya, memberikan tatapan menenangkan sebelum akhirnya melangkah keluar ruangan mengekor di belakang Bayu. Kini, hanya tersisa Maudy dan Tasya yang duduk berhadapan di meja makan yang luas.​Maudy meraih teko teh hangat, membuangkan cangkir untuk Tasya seraya menyunggingkan senyum paling tulus. "Diminum dulu tehnya, Sya. Ini chamomile, bagus buat bikin pikiran rileks."​Tasya memandangi cangkir teh yang berasap tipis di hadapannya. Meski Maudy sudah berusaha bersikap san

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 507

    Bayu tersenyum tipis, menatap CEO kepercayaannya itu dengan pandangan penuh keyakinan. "Bujuk dia perlahan, Ndra. Katakan kalau ini cuma makan malam santai antar keluarga, cuma kita berempat. Tekankan kalau Maudy kangen sekali sama sepupunya dan mau mengobrol tanpa diganggu keriuhan anak-anak."​Andra mengangguk pelan, meski guratan cemas masih belum sepenuhnya hilang dari wajahnya. "Baik, Pak Bayu. Saya bakal coba bujuk Tasya nanti malam."​Malam harinya di kediaman Andra dan Tasya, suasana rumah terasa begitu hening. Usai makan malam yang berlangsung tenang, Tasya sedang duduk di meja rias kamar utama, mengoleskan krim malam ke wajahnya. Matanya yang tampak agak sayu memantulkan rasa lelah. Bukan cuma lelah fisik, tapi lelah batin yang sudah menumpuk berbulan-bulan.​Andra melangkah masuk ke kamar, melepas jam tangannya, lalu berjalan mendekati sang istri. Pria itu berdiri tepat di belakang Tasya, meletakkan kedua tangannya di bahu Tasya dan mengusapnya lembut.​"Sayang..." panggil

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 506

    Maudy memiringkan kepalanya sedikit, merenungkan percakapan mereka dengan seksama. Tatapannya menerawang ke arah pepohonan taman belakang yang bergoyang pelan ditiup angin malam. Idea manis namun cermat mendadak melintas di benaknya.​Ia memegang tangan Bayu, menatap suaminya dengan binar mata yang penuh dengan ide berharga.​"Mas Bayu..." panggil Maudy pelan namun penuh penekanan. "Bagaimana kalau kita ajak Andra dan Tasya makan malam keluar berempat saja tanpa anak anak?"​Bayu menaikkan sebelah alisnya, tertarik. "Makan malam keluar? Berempat saja?"​"Iya, Mas. Berempat saja!" Maudy mengangguk mantap. "Sama sekali tidak usah membawa Evelyn, apalagi Arka, Bagas, Cakra, sama Daffa. Kita tinggalkan anak-anak di rumah bersama Ibu dan para suster sebentar. Cuma beberapa jam saja."​Bayu mencerna usul istrinya seraya mengelus jemari Maudy. "Kenapa harus tanpa anak-anak, Sayang?"​"Supaya mental Tasya tidak makin down, Mas," terang Maudy dengan raut wajah peka dan penuh pengertian. "Kal

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 505

    Helaan napas halus keluar dari bibir Bayu. Raut wajahnya yang tadinya dipenuhi tawa dan senyum kebahagiaan saat membayangkan masa depan anak-anak mereka perlahan berubah menjadi agak serius. Ada satu beban pikiran yang mendadak melintas di benaknya.​Maudy yang menyandarkan kepala di dada bidang Bayu seketika merasakan perubahan ritme napas dan ketegangan halus di bahu suaminya. Maudy mendongak, menatap wajah Bayu dari samping.​"Mas Bayu? Apa Ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Maudy pelan seraya mengusap lembut lengan Bayu.​Bayu menoleh, menatap istrinya dengan tatapan yang sarat akan rasa prihatin. Pria itu menyesap kembali teh chamomile-nya yang sudah mulai hangat suam-suam kuku, lalu meletakkan cangkirnya kembali ke atas meja.​"Mas mendadak teringat Andra, Sayang," tutur Bayu pelan, nada suaranya mengalun berat.​Maudy tertegun sejenak. "Andra? Kenapa dengan dia, Mas?"​"Kemarin waktu bertemu di kantor, Andra cerita banyak sama Mas," cerita Bayu seraya merapatkan dekapannya p

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 504

    Malam merambat pelan di kediaman Bayu dan Maudy. Angin malam berembus sepoi-sepoi, membawa kesegaran dari dedaunan di taman belakang. Setelah melewati keriuhan mengurus empat anak kembar yang sedang aktif-aktifnya dan menimang Evelyn yang baru saja tertidur pulas usai menyusu, suasana rumah akhirnya mengendap dalam keheningan yang menenangkan.​Bayu duduk santai di kursi rotan teras belakang, menikmati momen jeda yang sangat langka. Pria itu sudah memutar gulungan kemeja kerjanya hingga ke siku. Di atas meja kayu di hadapannya, secangkir teh chamomile hangat masih berasap tipis, memancarkan aroma manis yang menenangkan pikiran.​Satu tangannya memangku cangkir teh, sementara pandangannya menerawang jauh menembus kegelapan taman. Di tengah tegukan teh hangatnya, sebuah bayangan masa depan mendadak melintas di benak Bayu. Bayangan yang begitu jelas, nyata, dan tanpa sadar meletupkan rasa bangga luar biasa di dalam dadanya.​Bayu membayangkan waktu bergulir cepat, delapan belas tahun d

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 3

    “Saya cuma mau membantu Bu Maudy berdiri. Lantai itu kotor, dan harus saya pel,” ucap Bayu dengan pelan sambil mulai duduk di dekat Maudy. Dia juga sedikit mengulurkan tangan, barangkali Maudy meraihnya. Akan tetapi, yang ada Maudy menepis tangannya dengan kasar lalu melempar sebuah brosur tebal k

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 2

    “Simpan pertanyaanmu dan kembali lanjutkan pekerjaanmu!” titah Rio mengalihkan pertanyaan dari Bayu. Bayu tidak bisa mengelak. Dia lekas undur diri dan beranjak dari tempatnya berdiri. “Baik Pak Rio, saya akan kembali bekerja,” ucap Bayu sebelum dia melangkah pergi. Pintu ruangan tersebut kembali

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 1

    "500 juta untuk pengobatan ibumu, tapi dengan syarat, gauli istriku sampai hamil!" Degh! Jantung Bayu seolah berhenti berdetak usai mendengar perintah dari suami bosnya sendiri, Rio. Dia yang masih dibalut keringat usai mengepel, mendadak diminta ke ruang CEO dan menerima perintah di luar nalar.

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 4

    Satu jam sudah Bayu berdiri di balik pintu. Sementara Maudy, dia tetap pada posisinya. Duduk bertekuk lutut di sudut kasur. Tidak bergerak dan juga tidak ada niatan merealisasikan ancamannya.Kaki Bayu mulai merasa pegal. Sejak tadi dia sudah berusaha mengabaikan rasa pegalnya,, tapi kali itu dia s

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status