Se connecterMaudy merebahkan kepalanya kembali ke tumpukan bantal empuk rumah sakit. Kelopak matanya perlahan-lahan memberat, lalu ia mengembuskan napas panjang yang terdengar teramat lelah. Wajahnya sengaja ia buat sedikit meredup, menyiratkan daya tahan tubuhnya yang seolah-olah sudah berada di batas paling bawah."Ibu... Tasya..." panggil Maudy dengan suara yang diatur sedemikian rupa. Terdengar serak, pelan, dan sarat akan rasa kantuk yang teramat sangat. "Maaf ya... sepertinya efek obat dari dokter mulai bekerja. Kepala Maudy mendadak terasa berat sekali dan mataku sangat mengantuk. Maudy mau tidur sebentar..."Mendengar ucapan putrinya, Ibu Maudy seketika memelankan pergerakannya. Wajah paruh baya itu diliputi rasa iba dan pengertian yang mendalam. Naluri keibuannya langsung mengambil alih."Astaga, iya, Nak... tidur dan istirahatlah," bisik Ibu Maudy pelan sembari mengusap dahi Maudy dengan penuh kasih sayang. Ia kemudian menoleh ke arah Tasya, mengisyaratkan keponakannya itu dengan ger
Mendengar penawaran manis yang berbalut ambisi terselubung dari mulut Tasya, Maudy yang sejak tadi menahan diri akhirnya tidak bisa tinggal diam lagi. Rasa mual dan lemas yang menggerogoti tubuhnya seolah menguap, berganti dengan keberanian yang mendadak membakar dadanya. Ia tidak sudi membiarkan ruangan rumah sakit ini, yang seharusnya menjadi tempat perayaan kabar bahagia kehamilannya—dijadikan panggung drama manipulasi oleh sepupunya.Maudy menegakkan punggungnya perlahan, melepaskan pegangan tangan Bayu lalu menatap Tasya lurus-lurus. Tatapan Maudy yang biasa lembut kini terpancar tajam, dingin, dan penuh penekanan."Tasya... terima kasih atas perhatianmu yang sangat berlebihan," ujar Maudy dengan suara yang tenang namun terdengar begitu lugas dan menggema di dalam kamar rawat.Tasya sedikit tersentak, tidak menyangka Maudy akan merespon secara terbuka di depan ibunya.“Ah, enggak kok Maudy. Biasa ajaa,” Sahut Tasya berusaha bersikap tenang."Kamu tidak perlu mengkhawatirkan
Tasya meletakkan keranjang buah yang dibawanya ke atas meja samping dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah barang itu adalah benda paling berharga di dunia. Ia memutar tubuhnya, menatap Maudy dengan raut wajah yang dipenuhi rasa prihatin yang amat dibuat-buat, lalu beralih menatap Ibu Maudy dengan senyuman paling santun yang bisa ia pamerkan."Tante... maaf kalau kedatangan Tasya mengganggu. Begitu mendengar kabar dari sekretariat kantor kalau Maudy mendadak harus dibawa ke rumah sakit, Tasya langsung kepikiran. Tasya tidak bisa fokus bekerja sebelum melihat sendiri bagaimana kondisi Maudy,” tutur Tasya, nada suaranya dilembutkan sedemikian rupa, memancarkan kesan sebagai sosok sepupu yang penuh perhatian. Bayu tidak beranjak dari posisinya di tepi ranjang. Jemarinya tetap menggenggam tangan Maudy, namun matanya yang tajam menatap Tasya dengan kilat dingin yang membekukan. Di sampingnya, Maudy hanya bisa diam menahan napas. Baik Bayu maupun Maudy sudah sangat mengenal tabiat
Bayu berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan langkah yang terasa lebih ringan, meski beban tanggung jawab di pundaknya kini bertambah berkali-kali lipat. Kabar dari Dokter OBGYN masih berdengung di telinganya bagai sebuah keajaiban yang nyata. Empat janin, Empat calon buah hati akan hadir di hidupnya. Pria itu menarik napas dalam-dalam sebelum mendorong pintu ruang rawat eksklusif tempat Maudy dirawat.Begitu pintu terbuka, pandangan Bayu langsung tertuju pada ranjang. Di sana, Maudy sudah bersandar pada tumpukan bantal dengan wajah yang sedikit lebih segar berkat cairan infus yang mengalir. Di sampingnya duduklah sang Ibu yang menemani.Rupanya, begitu mendengar kabar Maudy dilarikan ke rumah sakit, sang ibu langsung bergegas datang tanpa memedulikan hal lain."Mas..." panggil Maudy lirih, senyum tipis terukir di bibirnya yang masih agak pucat.Ibu Maudy menoleh, lalu segera bangkit berdiri dengan raut wajah penuh kecemasan seorang ibu. "Bayu... bagaimana kata dokter? Apa y
Keesokan paginya, sebelum fajar benar-benar menyingsing, keheningan di kamar utama kediaman Bayu dan Maudy pecah oleh suara langkah tergesa-gesa. Maudy kembali terserang morning sickness, namun kali ini kondisinya jauh lebih mengkhawatirkan daripada hari-hari sebelumnya.Tidak sekadar mual biasa, Maudy terus memuntahkan cairan lambung hingga tubuhnya lemas tak bertenaga. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin membanjiri pelipisnya, dan pandangannya mulai berkunang-kunang akibat rasa pusing yang teramat hebat.Melihat sang istri yang nyaris pingsan di pelukannya di lantai kamar mandi, kepanikan melanda Bayu. Tanpa membuang waktu untuk bersiap-siap ke kantor, Bayu langsung menggendong tubuh lemas Maudy, membawanya masuk ke dalam mobil premium mereka, dan melesat membelah jalanan fajar menuju rumah sakit terbaik di kota.Sesampainya di rumah sakit, Maudy segera dilarikan ke ruang tindakan dan langsung dipasangi infus untuk mengganti cairan tubuhnya yang habis dikuras. Dokter spesialis k
Maudy menyandarkan kepalanya di dada bidang Bayu, mendengarkan detak jantung suaminya yang teratur. Kehangatan dekapan itu perlahan-lahan mengikis rasa sesak dan cemas yang sejak siang menggelayuti pikirannya. Di bawah redupnya lampu kamar, Maudy merasa beruntung memiliki suami yang selalu bisa menjadi benteng penenang di setiap badai yang datang.Namun, di belahan kota yang lain, malam yang tenang justru terasa membakar di dalam kediaman keluarga Heru. Angin malam yang berhembus pelataran seolah tidak mampu mendinginkan suasana di dalam ruang keluarga mereka yang mendadak diselimuti ketegangan baru.Tasya baru saja melangkah masuk ke dalam rumah dengan menghentakkan kakinya kasar. Wajah ceria yang ia pamerkan semalam kini runtuh total, digantikan oleh raut masam, bibir yang mengerucut penuh amarah, dan binar mata yang memancarkan kekecewaan yang teramat mendalam. Ia melempar tas kerjanya ke atas meja kaca hingga menimbulkan suara benturan yang cukup keras.Heru dan istrinya yang
“Saya cuma mau membantu Bu Maudy berdiri. Lantai itu kotor, dan harus saya pel,” ucap Bayu dengan pelan sambil mulai duduk di dekat Maudy. Dia juga sedikit mengulurkan tangan, barangkali Maudy meraihnya. Akan tetapi, yang ada Maudy menepis tangannya dengan kasar lalu melempar sebuah brosur tebal k
Maudy menarik napas dalam, mengabaikan eksistensi Rio yang terus mengoceh di belakangnya seperti bayangan yang tak diinginkan. Dia lekas keluar dari ruangan itu, lalu segera memandu ibunya masuk ke dalam taksi yang telah dipesan Bayu sebelumnya. “Maudy, apa kamu tidak dengar! Aku masih belum sele
“Simpan pertanyaanmu dan kembali lanjutkan pekerjaanmu!” titah Rio mengalihkan pertanyaan dari Bayu. Bayu tidak bisa mengelak. Dia lekas undur diri dan beranjak dari tempatnya berdiri. “Baik Pak Rio, saya akan kembali bekerja,” ucap Bayu sebelum dia melangkah pergi. Pintu ruangan tersebut kembali
"500 juta untuk pengobatan ibumu, tapi dengan syarat, gauli istriku sampai hamil!" Degh! Jantung Bayu seolah berhenti berdetak usai mendengar perintah dari suami bosnya sendiri, Rio. Dia yang masih dibalut keringat usai mengepel, mendadak diminta ke ruang CEO dan menerima perintah di luar nalar.







