Share

Bab 55

Author: Kak Han
last update publish date: 2026-03-15 15:47:25

Mobil yang dikendarai Ayah dan Ibu Maudy melaju menembus kesunyian malam. Namun suasana di dalamnya jauh dari kata tenang. Begitu gang sempit kontrakan Bayu menghilang dari spion, Ibu Maudy tiba-tiba melepaskan pegangan di pelipisnya. Ia duduk tegak, napasnya kembali teratur, dan sorot matanya yang tadi tampak kuyu mendadak berubah menjadi tajam dan waspada.

​Ayah Maudy yang sedang menyetir melirik istrinya dengan dahi berkerut. "Lho, Ibu sudah tidak pusing lagi? Tadi sepertinya parah sekali sa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 83

    ​Pada saat yang hampir bersamaan, di lobi markas kepolisian pusat, Bayu melangkah dengan wajah yang sangat dingin. Ia mengenakan kemeja rapi yang kontras dengan kesehariannya sebagai pekerja kasar. Di tangannya, Bayu sudah membawa bukti kejahatan Rio.​Bayu tidak lagi menunggu. Ia masuk ke ruangan penyidik senior yang sudah dikenalnya. Di atas meja, ia menebarkan bukti-bukti yang tidak bisa dibantah. Rekaman CCTV dan rekaman percakapan Rio dengan para eksekutor cukup untuk memenjarakan Rio.​"Saya ingin laporan ini diproses detik ini juga. Semua bukti digital sudah diverifikasi oleh ahli independen. Rio adalah dalang rencana pembunuhan itu,,” ucap Bayu dengan nada yang rendah namun berwibawa.​Bayu merasa lega setelah menyerahkan bukti itu. Sudah tidak ada lagi yang perlu dia khawatirkan. Ia juga yakin dengan perlindungan tim keamanan yang ia sewa secara anonim di rumah Maudy, maka Maudy akan aman. Namun, satu hal yang luput dari kalkulasi Bayu adalah kegilaan Rio yang menyasar Bapak

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 82

    “Berhenti mengatakan Bayu sebagai pria sampah! Keluarga Bayu pernah berjasa untuk keluarga kita. Kita berhutang budi pada dia. Beginilah caramu memperlakukan orang yang sudah menolong kita?” bentak Bapaknya Maudy.“Ibu ingat, tapi bukan berarti mengorbankan masa depan putri kita. Ibu nggak tega lihat Maudy tinggal di kontrakan pengap, kotor. Apalagi sebentar lagi dia akan melahirkan. Maudy lebih baik tidak bercerai dengan Rio karena Rio jauh lebih layak daripada mantan OB itu!” “Rio?Ibu lupa dengan apa yang sudah Rio lakukan pada putri kita. Menyuruh istrinya tidur dengan laki laki lain demi menutupi kekurangannya, itu sungguh di luar moral manusia!” Bapak Maudy pergi meninggalkan istrinya. Beliau tidak mau lama lama terpancing amarah dan tidak bisa mengendalikan emosi.Pada waktu yang bersamaan, pintu kamar rawat inap Maudy kembali tertutup. Kesunyian yang murni kembali menyelimuti ruangan itu. Bayu menarik napas panjang, membiarkan dadanya yang sempat tegang kembali rileks. ​Bay

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 81

    Suasana di dalam kamar rawat itu mendadak hening, seolah oksigen di sana tersedot habis oleh ketegangan yang baru saja diciptakan Bayu. Bayu tidak membalas makian Ibu Maudy, tidak pula mencoba bersujud memohon kepercayaan Maudy. Sebaliknya, ia melangkah tenang, hampir terlalu santai, menggandeng wanita yang usai bersimpuh di kakinya itu.​Dengan gerakan yang tegas tapi tidak kasar, Bayu menggandeng tangan wanita itu. Ia membantunya berdiri, seolah-olah seorang pria yang sedang bersikap ksatria kepada kekasihnya. Namun, arah langkah Bayu membuat jantung semua orang di ruangan itu berdegup kencang. Ia menuntun wanita itu menuju jendela besar di sudut kamar.​Srak!​Bayu menggeser jendela kaca tersebut hingga terbuka lebar. Angin kencang dari ketinggian lantai tujuh langsung merangsek masuk, menerbangkan tirai putih kamar rawat inap dan membuat suhu ruangan turun seketika. Aroma antiseptik rumah sakit kini bercampur dengan bau hujan yang baru saja reda di luar sana.​Wanita itu membeku.

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 80

    Bayu menatap wanita asing yang sedang menangis tersedu-sedu di kakinya itu dengan tatapan yang sangat datar, seolah sedang mencoba mencerna sandiwara murahan macam apa yang sedang dimainkan di hadapannya ini. Setelah itu, pandangannya berpisah ke arah Maudy untuk memberinya penjelasan."Maudy, tatap aku, dengarkan aku. Aku bersumpah demi nyawaku dan demi bayi yang kamu kandung, aku tidak mengenal wanita ini. Aku tidak pernah melihatnya seumur hidupku. Ini jebakan, Maudy!” seru Bayu. Suaranya terdengar rendah tapi penuh penekanan. Ia mengabaikan isak tangis wanita di lantai itu dan beralih sepenuhnya pada Maudy.​Maudy menarik napas gemetar, matanya berkaca-kaca. "Tapi Bayu... dia tahu namamu. Dia bahkan tau dimana kontrakanmu. Bagaimana mungkin dia bisa sejauh ini kalau tidak ada apa-apa?" sahut Maudy. Tapi belum sampai Bayu menjawab, perempuan itu kembali menyela.​"Mas Bayu... jahat sekali kamu! Kalau kamu memang tidak mau mengakuinya, lebih baik aku mati saja! Aku akan lompat dari

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 79

    Setelah diusir dengan tidak hormat dari kamar perawatan, Rio tidak lantas melangkah menuju parkiran. Amarahnya yang meluap-luap justru berubah menjadi kalkulasi licik yang dingin. Ia berdiri di sudut koridor yang agak sepi, memperbaiki kerah jasnya yang sedikit miring, lalu melirik ke arah Ibu Maudy yang tampak berdiri kaku dengan wajah yang masih merah padam akibat pengusiran dokter tadi.​Rio tahu betul kelemahan Ibu mertuanya ini adalah martabat dan gaya hidup jauh yang tinggi. Dengan langkah yang tenang dan penuh percaya diri, Rio mendekati Ibu Maudy.​"Bu, bisa kita bicara sebentar? Berdua saja, di tempat yang lebih tenang," bisik Rio dengan nada yang mendadak lembut, tapi sarat akan manipulasi.​Ibu Maudy menoleh, matanya masih memancarkan kekesalan. Lalu dia menanggapi ajakan Rio.“Mau bicara apa Rio? Hari ini Ibu benar-benar malu. Bisa bisanya Bapaknya Maudy membela pelayan itu!" seru Ibunya Maudy dengan wajah yang sangat kesal.“Maka dari itu, ngomongnya jangan di sini. Nanti

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 78

    Suasana di dalam kamar perawatan Maudy itu mendadak bising oleh adu mulut. Suara bentakan Ayah Maudy yang mengusir Rio masih menyisakan gema di sudut-sudut ruangan itu.Ketegangan memuncak hingga akhirnya pintu kamar terbuka kasar dari luar.​Seorang dokter yang menangani Maudy datang bersama dua orang perawat. Mereka masuk dengan langkah cepat. Wajah sang dokter tampak sangat tidak senang melihat kerumunan orang yang menciptakan kegaduhan di zona pemulihan pasien. Ia segera menghampiri monitor di samping ranjang Maudy yang mengeluarkan bunyi alarm peringatan karena detak jantung pasien yang meningkat drastis.​"Apa yang terjadi di sini? Pasien baru saja mendapatkan kestabilan cairannya, dan sekarang kalian membuatnya muntah lagi? Lihat grafik ini, tekanan darahnya melonjak! Kalian ingin membunuh pasien atau menyembuhkannya?” Suara Dokter itu menggelegar, tenang tapi penuh otoritas yang membungkam semua orang.​Maudy terbatuk-batuk lemas, air matanya bercampur dengan sisa cairan yang i

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status