Share

Mawar Merah Di Ujung Penyesalan
Mawar Merah Di Ujung Penyesalan
Author: Luli

Bab 1

Author: Luli
Pada hari pertama taruhan dimulai, dia justru berpapasan dengan Kevin yang sedang berada di bawah pengaruh obat bius. Tania yang memang berniat mendekatinya, tanpa disengaja justru menjadi penawarnya.

Setelah malam itu, gunung es abadi dalam diri Kevin seolah-olah retak olehnya.

Selama tiga tahun, keduanya menjalin hubungan yang sangat intim.

Hati Tania pun sedikit demi sedikit mulai luluh dalam ribuan kali penyatuan rasa mereka.

Dia mengira pria yang dipuja seperti dewa oleh banyak orang itu juga menjadi miliknya.

Sampai malam ini, setelah mereka bermesraan di dalam mobil, dia menyadari kancing manset safir milik Kevin terjatuh. Dia pun memungutnya dan berniat mengantarkannya pada pria itu.

Pintu kamar di ujung koridor itu tidak tertutup rapat. Saat hendak mendorong pintu, dia mendengar suara tawa dan obrolan dari dalam.

"Kevin, baru turun dari sarang kehangatan ya? Tania itu biasanya manja dan galak kayak kucing liar, nggak ada yang dia pedulikan. Kok pas di depan kamu malah jadi manis dan lembut, bikin hati gatel. Kapan kamu mau nikahin dia?"

Langkah Tania terhenti, jantungnya mendadak berdegup kencang.

Kemudian, dia mendengar suara dingin yang sudah sangat dia kenali hingga ke tulang-tulangnya.

"Cuma teman tidur, mana mungkin kunikahi?"

Enam kata itu terasa ringan, tapi terasa seperti enam pedang es yang menghujam tepat ke jantung Tania, seketika menghancurkannya hingga berkeping-keping.

Suasana di dalam ruangan langsung berubah sunyi senyap. Jelas, bahkan para sahabatnya pun terkejut oleh definisi yang begitu blakblakan dan kejam.

Setelah sekian lama, barulah seseorang memberanikan diri memecah kesunyian, "Nggak, nggak mungkin 'kan, Kak Kevin? Sudah tiga tahun lho ... apa kamu ... kamu masih memikirkan cinta pertamamu itu?"

Cinta pertama?

Kepala Tania berdengung, pikirannya kosong.

Kevin ... punya cinta pertama?

Ia berdiri mematung di luar pintu seperti boneka yang kehilangan jiwanya, mendengarkan gumaman pelan Kevin yang mengiyakan.

"Pas putus dulu, dia bilang butuh waktu tiga tahun buat coba sama orang lain. Dia minta aku juga lakuin hal yang sama. Katanya kalau nanti masih saling suka, ya balikan."

"Dia itu orangnya hobi cari perhatian dan gampang ngerasa nggak aman, jadi aku turuti aja mau dia."

"Sekarang udah tiga tahun, aku udah selesai coba-cobanya." Dia berhenti sejenak, suaranya mengandung secercah harapan tipis yang tidak bisa disembunyikan. "Udah waktunya dia pulang."

Tania merasa seperti tersambar petir dan sekujur tubuhnya terasa dingin hingga ujung jarinya bergetar.

Kemesraan selama tiga tahun ini serta ribuan momen yang dia kira sebagai ikatan batin ternyata hanyalah bagian dari eksperimen pria itu untuk coba orang lain?!

"Terus Tania gimana? Kamu tahu sendiri 'kan sifatnya dia meledak-ledak kayak petasan, kalau sampai dia tahu gimana ...."

BRAK!

Belum sempat kalimat itu selesai, Tania sudah membanting pintu ruangan dengan keras.

Semua orang di dalam tersentak dan serempak menoleh ke arah pintu.

Tania berdiri di sana dengan wajah pucat pasi, tapi, sepasang matanya tampak merah menyala seolah-olah akan meneteskan darah.

Dia tidak menatap siapa pun kecuali pria yang duduk di kursi utama.

Kevin mengenakan setelan jas yang rapi dengan punggung tegak dan sikap yang sangat tenang.

Dia tidak menunjukkan rasa terkejut atau panik sedikit pun atas kemunculan Tania yang tiba-tiba. Dia tetap terlihat dingin seolah tidak ada hal besar yang terjadi.

Namun, ketenangan itulah yang menjadi taburan garam terakhir di atas luka hati Tania. Kalau Kevin mencintainya sedikit saja, pria itu tidak mungkin bereaksi seperti ini!

Tania berjalan mendekat ke hadapan pria itu, menatap wajah yang telah dia cintai selama tiga tahun, lalu bertanya dengan suara serak, "Kevin, nggak ada yang mau kamu omongin ke aku?"

Kevin mendongak dan menatapnya dengan tenang.

"Nggak ada yang perlu diomongin lagi. Semuanya 'kan kayak yang kamu dengar tadi."

"Hubungan kita itu cuma sebatas teman tidur. Dari awal aku pikir kamu udah paham soal itu."

"Yumna 'kan taruhan sama kamu buat naklukin aku, terus imbalannya mobil mewah di garasinya bebas kamu pilih. Kalau kamu ngerasa mobil aja nggak cukup ...."

Jari jemarinya yang panjang mengeluarkan sebuah kartu bank hitam dari saku jasnya lalu meletakkannya perlahan di atas meja depan Tania.

"Di sini ada 200 miliar. Anggap aja ini bayaran buat tiga tahun ini ... karena kamu selalu ada tiap kali aku panggil."

"Mulai sekarang, hubungan kita resmi berakhir."

Sesudah bicara, dia berdiri dan bersiap untuk pergi.

Namun, tepat saat melewati Tania, Tania mendadak mengulurkan tangan dan mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat!

Tangannya terasa sedingin es dan mencengkeram begitu keras hingga buku-buku jarinya memutih.

Langkah kaki Kevin terhenti.

Kemudian, dia mendengar perempuan yang begitu bangga akan harga dirinya itu berbicara dengan seluruh sisa tenaganya sembari memegang lengan Kevin. Kata demi kata meluncur dengan suara yang hancur namun terdengar jelas di ruangan yang sunyi itu.

"Tapi ... aku telanjur sayang!"

Kevin, aku benar-benar jatuh cinta sama kamu!

Dia sendiri tidak tahu kapan hatinya mulai tercurah.

Mungkin saat musim dingin ketika dia malas pakai alas kaki dan Kevin berlutut buat ngetes suhu kaki dia yang dingin lalu memakaikan sandal untuknya.

Mungkin saat dia operasi usus buntu dan bangun dalam kondisi linglung, lalu lihat Kevin setia nungguin di samping tempat tidurnya sampai matanya berkantung.

Atau mungkin di banyak malam yang larut ketika pria itu pulang dengan aroma alkohol tipis, tapi tetap ingat kalau dia takut suara guntur lalu narik dia ke dalam pelukan ....

Momen-momen kecil yang biasa itu terkumpul jadi gelombang dahsyat yang menenggelamkannya sepenuhnya.

Tapi sekarang, pria itu malah dengan gampangnya bilang kalau dia cuma teman tidur?

Kevin, kamu kejam sekali!

Bibir tipis Kevin bergerak seolah hendak bicara namun detik berikutnya ponselnya berdering.

Dia mengeluarkan ponselnya dan layar menyala hingga sebuah pesan baru terpampang jelas di mata Tania.

[Kevin, udah tiga tahun nih. Aku udah coba, tapi ternyata aku tetep cuma sayang kamu. Kita balikan yuk?]

Pada saat itu, Tania merasa dunianya benar-benar runtuh.

Kevin menatap layar ponselnya sejenak lalu perlahan-lahan dia melepaskan cengkeraman jari Tania dari tangannya.

"Maaf ya," ucapnya. "Aku nggak punya perasaan apa-apa ke kamu."

Selesai bicara, dia melangkah pergi tanpa ada sedikit pun rasa sesal.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 29

    Setelah selesai bicara, dia bangkit berdiri tanpa menoleh pada pria itu lagi. Dia pun berbalik dan berjalan menuju pintu bangsal."Tania ...." Kevin mengerahkan sisa tenaga terakhirnya, memanggil dengan suara lemah yang diiringi isakan keputusasaan.Langkah kaki Tania sempat terhenti di ambang pintu, tapi dia tidak menoleh.Dia mengulurkan tangan dan membuka pintu ruangan itu.Di luar pintu, Yudha berdiri di sana, menatapnya dengan pandangan yang lembut tapi teguh.Tania berjalan ke sisinya, dan Yudha secara alami menggandeng tangannya, menggenggamnya dengan erat.Mereka berdua berjalan berdampingan meninggalkan bangsal itu tanpa menoleh ke belakang, lalu menghilang di ujung lorong.Kevin terbaring di ranjang rumah sakit, menatap pintu yang kini kosong dan punggung wanita yang pergi dengan tegas itu. Air matanya akhirnya tumpah dengan deras, mengalir dari sudut mata dan membasahi bantalnya.Dia tahu bahwa kali ini, dia benar-benar ... telah kehilangan wanita itu selamanya.Kehilangan s

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 28

    Tania yang masih didekap erat oleh Yudha hanya bisa terpaku menatap pemandangan tragis di depannya. Jantungnya seolah berhenti berdetak seketika!Dia bahkan bisa melihat dengan jelas sorot mata Kevin saat pria itu terpental ....Tidak ada rasa takut, tidak ada penyesalan, yang ada hanyalah semacam perasaan lega yang rumit, seolah sedang berkata, "Lihat, kali ini ... aku duluan yang nyelamatin kamu ....""Kevin!" Yudha adalah yang pertama bereaksi. Sambil terus melindungi Tania yang gemetar hebat, dia berteriak ke arah pengawal dan petugas keamanan hotel yang berdatangan. "Cepat panggil ambulans! Cepat!!"Lokasi kejadian menjadi kacau balau.Tania menatap sosok yang terbaring tak bergerak di tengah genangan darah itu. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya gemetar tanpa kendali. Meskipun sudah tidak cinta lagi, meskipun ada begitu banyak dendam, melihat sebuah nyawa yang tadinya begitu hidup kini mungkin lenyap di depan mata demi menyelamatkannya ....Guncangan ini membuatnya tidak bisa tetap te

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 27

    Hasil penganugerahan diumumkan, Tania berhasil menyabet mahkota Aktris Terbaik berkat sebuah film seni yang menginterpretasikan kompleksitas sisi manusia secara mendalam!Saat namanya dipanggil, seluruh penonton berdiri dan memberikan tepuk tangan meriah.Di bawah sorotan lampu, dia perlahan naik ke panggung, menerima piala yang terasa berat itu dari tangan presenter. Matanya sedikit memerah, tapi senyumnya tampak begitu cemerlang.Dia memberikan pidato kemenangan yang singkat, berterima kasih kepada sutradara dan kru film. Terakhir, pandangannya tertuju pada Yudha yang berada di bawah panggung, suaranya terdengar lembut namun mantap. "Terakhir, aku ingin berterima kasih secara khusus kepada seseorang, kekasihku, Yudha. Terima kasih karena selalu ada di sisiku, memberiku dukungan dan kekuatan. Setengah dari piala ini adalah milikmu."Kamera segera menyorot Yudha. Dia berdiri, mengirimkan sebuah ciuman jauh ke arah Tania di panggung, dengan mata yang berkaca-kaca karena bangga. Seluruh

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 26

    Akhir musim gugur. Daun-daun ketapang berguguran memenuhi tanah, membentangkan puisi berwarna keemasan.Tania mengenakan syal kasmir yang lembut, duduk di samping jendela besar yang bermandikan cahaya matahari sambil membalik-balik naskah film baru yang baru saja dikirimkan.Yudha duduk bersila di atas karpet sambil menangani urusan kantor di laptopnya. Sesekali dia mendongak menatap Tania dengan tatapan yang sangat lembut.Suasana yang tenang dan hangat itu seketika pecah oleh notifikasi berita yang muncul di tablet.[Berita Terkini! Rendy, pimpinan Grup Tamara yang merupakan perusahaan ternama di dalam negeri, diduga terlibat penggelapan dana publik dalam jumlah besar serta penyelewengan pajak, dan kini telah resmi ditangkap pihak kepolisian!][Harga saham Grup Tamara seketika anjlok parah, perusahaan dinyatakan bangkrut dan dalam proses likuidasi!][Investigasi Mendalam: Di balik runtuhnya Grup Tamara, diduga ada keterlibatan raksasa kapital misterius yang melakukan serangan secara

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 25

    Nada bicaranya terdengar sedikit sedih. "Kamu ke luar negeri tiga tahun itu, aku langsung nyusul kamu saat itu juga. Bukan karena alasan lain, tapi karena ... aku suka kamu, Tania. Dari kita masih kecil banget, aku sudah sangat menyukaimu."Ucapan itu bagaikan aliran air hangat yang perlahan mengalir masuk ke dalam hati Tania.Dia menatap Yudha dengan bimbang, melihat ketulusan dan rasa cemas yang tidak ditutup-tutupi di mata pria itu.Selama tiga tahun ini, Tania mengingat setiap kebaikan yang diberikan Yudha padanya, sedikit demi sedikit.Yudha menemaninya melewati kesepian saat pertama kali tiba di negeri asing, mendukungnya dalam diam saat kariernya terhambat, menjaganya sepanjang malam saat dia sakit, menghargai setiap keputusannya, dan tidak pernah memberinya tekanan. Kehadiran Yudha terasa hangat dan menenangkan.Yudha menggenggam tangan Tania, telapak tangannya terasa hangat dan kering. "Tania, aku tahu hatimu masih terluka dan belum sepenuhnya lepasin masa lalu. Aku nggak buru

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 24

    Waktu seolah membeku selama beberapa detik.Kevin melihat Tania berdiri di sana tanpa luka sedikit pun. Hati yang sudah terasa digantung selama berhari-hari itu akhirnya jatuh terperosok dengan rasa lega yang luar biasa!Sebuah rasa syukur yang sangat besar karena selamat dari maut dan rasa pilu yang tidak terlukiskan seketika menghancurkan akal sehatnya!Dia tidak memedulikan rasa sakit yang menusuk di lengannya, tidak memedulikan penampilannya yang sangat berantakan. Dia menerjang maju beberapa langkah, lalu di bawah tatapan semua orang yang terperangah, dia memeluk Tania dengan sangat erat! Kekuatannya begitu besar seolah-olah ingin menghancurkan wanita itu dalam dekapannya!Tubuhnya gemetaran tanpa kendali, suaranya terdengar serak dan pecah dengan nada hidung yang berat, mengulang kalimat yang sama berkali-kali. "Syukurlah ... syukurlah kamu nggak apa-apa ... syukurklah ...."Itu adalah sebuah ketakutan luar biasa yang meledak setelah berhasil mendapatkan kembali apa yang sempat d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status