Mag-log inPada tahun ketiga setelah menikah dengan Alden, akta pernikahan mereka tidak sengaja rusak karena terkena kopi. Eunice membawa dokumen itu ke kantor catatan sipil untuk mengurus penggantian. Petugas mengetik beberapa kali di depan komputer, lalu tiba-tiba mengangkat kepala dan menatapnya, "Bu, status pernikahan kamu di sistem tercatat belum menikah." Eunice tertegun sejenak karena mengira dirinya salah dengar. "Nggak mungkin, aku dan suamiku menikah di sini tiga tahun lalu." Petugas itu memeriksa lagi dan ekspresinya berubah sedikit aneh. "Di sistem memang tertulis kamu belum menikah, tapi Pak Alden tercatat sudah menikah ...." Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Di kolom pasangan, yang terdaftar adalah wanita lain bernama Anika. Kamu kenal dia?" Kepala Eunice langsung berdengung, hanya menyisakan suara nyaring yang menusuk di telinganya.
view moreGaun pengantin Eunice tidak memiliki renda yang rumit, hanya sehelai gaun satin sederhana yang memantulkan kilau seperti mutiara di bawah cahaya bulan.Axel mengenakan kemeja putih. Lengan kemeja digulung sampai siku. Dasinya sudah dilonggarkan sejak tadi.Dia menggenggam tangan Eunice, bertukar cincin di observatorium puncak Gunung Alpen. Di bawah hanya ada belasan sahabat terdekat. Suara gelas sampanye yang beradu bercampur dengan angin pegunungan, jernih seperti suara bintang yang pecah."Aku kira kamu akan ingin pernikahan yang lebih megah." Axel menunduk, mencium ujung jarinya.Eunice memandang galaksi. "Orang yang pernah jadi pusat perhatian, baru tahu betapa berharganya ketenangan."Pelayan membawa tumpukan hadiah setinggi gunung. Salah satunya adalah kotak kayu hitam yang tampak sangat mencolok.Saat Eunice membuka tutup kotak itu, Axel jelas merasakan jemarinya bergetar. Rangkaian tasbih yang dulu diberikan Alden kepada Anika kini tergeletak diam di atas lapisan beludru. Setia
Beberapa hari kemudian, Eunice tiba-tiba menerima sebuah video dari nomor tak dikenal.Di dalam video, Alden berlutut di tangga batu yang curam, dahinya menempel pada batu hijau, dan bersujud setiap tiga langkah. Jejak darah merah gelap berkelok di tangga karena lututnya yang terluka.Itu adalah kuil tempat dulu Eunice memohon tasbih untuknya.Suara latar adalah suara asisten yang melapor pelan, "Pak Alden sudah berlutut selama tiga hari. Kepala kuil bilang dia sedang memohon ...."Eunice mematikan video.[ Hapus saja. Ke depannya, urusannya nggak perlu dilaporkan lagi. ]Dia berjalan ke brankas, mengambil sebuah surat pengalihan saham. Setelah menandatangani, dia sempat berhenti, lalu menarik selembar kertas catatan.Pulpen terhenti lama di udara, lalu akhirnya dia menulis dua kata.[ Sudah lunas. ]Saat Alden menerima dokumen itu, dia sedang berbaring di ruang meditasi kuil. Dia demam tinggi, keadaannya setengah sadar.Kepala kuil menghela napas, menyerahkan teh hangat. "Pak, keterik
"Segera adakan rapat, siapkan langkah penanganan." Eunice memberi perintah dengan nada dingin, "Sekalian selidiki sumber dana mereka ....""Nggak perlu." Axel tiba-tiba menyela, "Kemungkinan besar Jacob sejak awal hanya pura-pura dibeli olehmu."Eunice langsung menoleh tajam. "Maksudmu?"Axel mengangguk, sorot matanya rumit. "Kamu kira dia orang Grup Kusnadi, tapi kemungkinan terbesar dia bukan milik siapa pun. Dia cuma berpihak pada kepentingannya sendiri."Otak Eunice langsung bekerja cepat. Kalau begitu, masalah ini justru jauh lebih sederhana dari yang dia bayangkan.Dia tiba-tiba meraih mantel. "Siapkan mobil, kita ke Grup Kusnadi."Axel mengernyit. "Untuk apa kamu ke sana?"Eunice bahkan tidak menoleh. "Cari Alden."Saat Eunice mendorong pintu, Alden sedang berdiri di depan jendela kaca. Punggungnya kurus dan rapuh.Mendengar suara, dia perlahan berbalik. Keterkejutan melintas sesaat di matanya, lalu kembali menjadi kehampaan."Tumben kamu datang." Suaranya serak. "Kamu datang un
Pembalasan dendam Eunice belum berakhir. Di ruang rapat, Eunice duduk di kursi utama. Ujung jarinya mengetuk pelan permukaan meja."Hari ini ada sesi khusus." Dia membuka suara perlahan, tersenyum ke arah bawah panggung. "Mari kita sambut Pak Alden untuk membacakan sebuah contoh tulisan bisnis."Alden berdiri di sudut ruangan, wajahnya pucat pasi. Di tangannya tergenggam setumpuk kertas menguning. Itu adalah surat cinta yang dia tulis untuk Eunice saat berusia 18 tahun. Setiap halamannya dipenuhi janji paling tulus di masa muda."Baca." Eunice mendesak dengan pelan, "Biar semua orang belajar dari gaya tulisan Pak Alden."Seluruh ruangan sunyi senyap. Ujung jari Alden sedikit gemetar, tetapi dia tetap membuka halaman pertama."Eunice, hari ini aku melihatmu memakai gaun putih. Jantungku berdegup begitu cepat sampai rasanya mau copot ...."Nadanya getir. Saat membaca hingga halaman ketiga, jakunnya bergerak naik turun dengan hebat."Kalau aku sudah 22 tahun, kita nikah ya? Aku akan menci












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu