Share

Bab 2

Penulis: Luli
Dia bilang, dia nggak punya perasaan apa-apa.

Jadi, selama tiga tahun ini, hanya Tania sendiri yang seperti orang bodoh, terjebak dalam sandiwara yang pria itu sutradarai dan menumpahkan seluruh perasaan tulusnya.

Tania mematung di tempatnya, menatap tangannya yang terasa kosong. Sisa kehangatan dari pergelangan tangan pria itu masih tertinggal, tapi, detik ini rasanya justru membakar kulitnya bagaikan besi panas.

Detik berikutnya, dia mendadak menyambar botol minuman mahal di atas meja dan membantingnya keras-keras ke lantai!

Semua yang ada dalam pandangannya, mulai dari gelas, piring buah, hingga hiasan ruangan, menjadi sasaran pelampiasan rasa sakitnya yang luar biasa.

Orang-orang di dalam ruangan itu sontak ketakutan, tidak ada satu pun yang berani maju untuk menghentikannya.

Entah berapa lama berlalu, Tania akhirnya kehabisan tenaga. Pandangannya kosong, wajahnya penuh air mata, tetapi bibirnya masih tertarik dalam tawa rendah.

Dia bahkan tidak tahu bagaimana dia bisa keluar dari klub itu.

Begitu angin malam menerpa, wajahnya terasa sangat dingin. Dia sembarang menyeka air matanya lalu mencegat taksi.

"Ikutin mobil Maybach di depan itu."

Dia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri, siapa sebenarnya sosok cinta pertama yang membuat pria itu terobsesi selama tiga tahun sampai dia pun tidak sanggup menandinginya!

Sopir taksi itu melihat kondisi Tania yang kacau. Dia tidak berani banyak bertanya dan langsung memacu kendaraan mengikuti mobil di depan.

Kevin yang biasanya selalu tenang dan mengendarai mobil dengan stabil, kali ini terlihat memacu kendaraannya jauh lebih cepat.

Apa dia sudah nggak sabar buat segera ketemu pujaan hatinya?

Mobil itu akhirnya berhenti di area kedatangan bandara internasional.

Tania membayar taksi lalu turun dengan langkah limbung dan bersembunyi di balik pilar.

Dia melihat Kevin berdiri di depan pintu keluar. Tak lama kemudian, seorang wanita yang memakai gaun putih dengan aura lembut dan tampak rapuh keluar sambil menarik koper.

Saat melihat wajah wanita itu, Tania merasa seperti disambar petir!

Bukan hanya karena Kevin langsung merentangkan tangan untuk menangkap wanita itu saat dia menghambur ke pelukannya, lalu menunduk mencium rambutnya dengan gerakan yang sangat lembut.

Tetapi juga karena cinta pertama yang begitu dia lindungi dalam pelukannya itu .…

Ternyata wanita itu Devia!

Kakak tiri Tania sendiri, orang yang paling dia benci dan paling tidak ingin dia hubungi seumur hidupnya!

Dulu, belum genap setengah tahun ibunya meninggal karena kecelakaan, ayahnya sudah membawa pulang seorang wanita ke rumah. Wanita itu juga membawa anak perempuan yang usianya tiga tahun lebih tua dari Tania, yaitu Devia Tamara.

Ayahnya menjelaskan bahwa wanita itu adalah cinta pertamanya, Devia adalah darah dagingnya sendiri. Jika bukan karena ibunya dulu "merebutnya secara paksa", dia tidak akan membiarkan cinta pertamanya pergi dalam keadaan hamil.

Betapa konyol dan menggelikannya semua itu.

Tania yang paling tahu mengenai kebenarannya.

Dulu, saat ayahnya merintis usaha dan sangat membutuhkan dana, terdesak sampai tidak punya uang untuk makan, dialah yang dengan inisiatif sendiri mendekati ibunya yang sudah lama menyukainya, berjanji akan menikahinya asalkan keluarga ibunya mau berinvestasi.

Ibunya sudah mengorbankan segalanya untuk pria itu, mulai dari harta sampai seluruh cintanya. Bahkan di detik terakhir saat kecelakaan, ibunya merelakan nyawanya sendiri demi mendorong ayahnya agar selamat!

Lalu, hasilnya apa? Jasad ibunya bahkan belum beberapa bulan dikuburkan, ayahnya malah menggunakan harta warisan ibunya sebagai mas kawin untuk menikahi wanita yang katanya cinta pertama itu dengan sangat meriah.

Kevin ... siapa pun yang dia sukai sebenarnya tidak masalah, tetapi kenapa harus Devia?

Tania menggigit bibir bawahnya kuat-kuat sampai tanpa dia sadari rasa amis darah sudah menyebar.

Di tengah lamunannya, Kevin sudah mengambil alih koper Devia dan merangkul pinggang wanita itu menuju parkiran.

Seperti orang kesurupan, Tania kembali mencegat taksi dan terus mengikuti mereka.

Karena jaraknya cukup dekat, Tania bisa melihat dengan jelas dari kaca taksi bagaimana Kevin menoleh dan mengobrol dengan sangat lembut pada Devia. Pria itu bahkan mengulurkan tangan untuk merapikan rambut halus di telinga Devia.

Perhatian yang sedemikian detail itu tidak pernah dia dapatkan selama tiga tahun mereka bersama.

Hatinya rasanya seperti diletakkan di atas batu giling, hancur berkeping-keping sampai dia hampir tidak bisa bernapas karena sesak.

Saat dia menatap lurus ke depan dengan mata yang sudah kabur oleh air mata, sesuatu tiba-tiba terjadi di persimpangan jalan.

Suara rem yang melengking dan benturan keras terdengar beruntun.

Taksi yang ditumpangi Tania tidak sempat menghindar dan menabrak mobil di depannya, lalu sedetik kemudian dihantam keras oleh mobil dari belakang!

Brak!

Benturan dahsyat itu membuat kening Tania terhantam keras ke sandaran kursi depan. Rasa sakit yang hebat menyerang dan cairan hangat seketika mengalir deras membasahi pandangannya.

Di tengah kekacauan dan suara teriakan orang-orang, dia melihat dari balik kaca jendela taksi yang pecah, pintu mobil Maybach yang dia kenal itu terbuka.

Kevin turun lebih dulu, lalu cepat-cepat memutar ke kursi penumpang dan dengan sangat hati-hati menggendong Devia keluar.

Kevin memeluknya, memeriksa apakah dia terluka. Alisnya berkerut rapat, wajahnya penuh rasa cemas dan sakit hati.

Sambil menggendong Devia, dia berbalik untuk meninggalkan lokasi kecelakaan. Namun, tanpa sengaja, matanya beradu pandang dengan Tania yang sedang bersimbah darah dan terjepit di kursi belakang taksi yang ringsek.

Tania melihat kilatan keterkejutan yang jelas di mata pria yang biasanya selalu tenang itu, tetapi hanya sesaat.

Devia yang ada di pelukannya sepertinya sadar bahwa langkah Kevin terhenti, lalu dia bertanya dengan suara yang sangat lemah, "Kevin, ada apa? Apa kamu lihat orang yang kamu kenal? Aku nggak apa-apa kok, cuma lecet sedikit. Kalau ada kenalan, mending kamu samperin aja .... Aku dengar ada taksi yang tabrakannya parah banget ...."

Setelah terdiam beberapa detik, Kevin membuang muka.

"Nggak ada orang yang kukenal."

"Semuanya cuma orang asing yang nggak ada hubungannya sama aku."

Setelah itu, sambil menggendong Devia, dia pergi tanpa menoleh lagi, melangkah cepat meninggalkan lokasi kecelakaan yang kacau itu.

Tania melihat punggung pria itu yang menjauh dengan penuh ketegasan. Dia ingin tertawa, tapi air matanya justru mengalir bercampur dengan darah.

Orang asing ....

Ternyata selama tiga tahun ini, di hati pria itu, Tania tidak lebih dari sekadar orang asing!
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 29

    Setelah selesai bicara, dia bangkit berdiri tanpa menoleh pada pria itu lagi. Dia pun berbalik dan berjalan menuju pintu bangsal."Tania ...." Kevin mengerahkan sisa tenaga terakhirnya, memanggil dengan suara lemah yang diiringi isakan keputusasaan.Langkah kaki Tania sempat terhenti di ambang pintu, tapi dia tidak menoleh.Dia mengulurkan tangan dan membuka pintu ruangan itu.Di luar pintu, Yudha berdiri di sana, menatapnya dengan pandangan yang lembut tapi teguh.Tania berjalan ke sisinya, dan Yudha secara alami menggandeng tangannya, menggenggamnya dengan erat.Mereka berdua berjalan berdampingan meninggalkan bangsal itu tanpa menoleh ke belakang, lalu menghilang di ujung lorong.Kevin terbaring di ranjang rumah sakit, menatap pintu yang kini kosong dan punggung wanita yang pergi dengan tegas itu. Air matanya akhirnya tumpah dengan deras, mengalir dari sudut mata dan membasahi bantalnya.Dia tahu bahwa kali ini, dia benar-benar ... telah kehilangan wanita itu selamanya.Kehilangan s

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 28

    Tania yang masih didekap erat oleh Yudha hanya bisa terpaku menatap pemandangan tragis di depannya. Jantungnya seolah berhenti berdetak seketika!Dia bahkan bisa melihat dengan jelas sorot mata Kevin saat pria itu terpental ....Tidak ada rasa takut, tidak ada penyesalan, yang ada hanyalah semacam perasaan lega yang rumit, seolah sedang berkata, "Lihat, kali ini ... aku duluan yang nyelamatin kamu ....""Kevin!" Yudha adalah yang pertama bereaksi. Sambil terus melindungi Tania yang gemetar hebat, dia berteriak ke arah pengawal dan petugas keamanan hotel yang berdatangan. "Cepat panggil ambulans! Cepat!!"Lokasi kejadian menjadi kacau balau.Tania menatap sosok yang terbaring tak bergerak di tengah genangan darah itu. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya gemetar tanpa kendali. Meskipun sudah tidak cinta lagi, meskipun ada begitu banyak dendam, melihat sebuah nyawa yang tadinya begitu hidup kini mungkin lenyap di depan mata demi menyelamatkannya ....Guncangan ini membuatnya tidak bisa tetap te

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 27

    Hasil penganugerahan diumumkan, Tania berhasil menyabet mahkota Aktris Terbaik berkat sebuah film seni yang menginterpretasikan kompleksitas sisi manusia secara mendalam!Saat namanya dipanggil, seluruh penonton berdiri dan memberikan tepuk tangan meriah.Di bawah sorotan lampu, dia perlahan naik ke panggung, menerima piala yang terasa berat itu dari tangan presenter. Matanya sedikit memerah, tapi senyumnya tampak begitu cemerlang.Dia memberikan pidato kemenangan yang singkat, berterima kasih kepada sutradara dan kru film. Terakhir, pandangannya tertuju pada Yudha yang berada di bawah panggung, suaranya terdengar lembut namun mantap. "Terakhir, aku ingin berterima kasih secara khusus kepada seseorang, kekasihku, Yudha. Terima kasih karena selalu ada di sisiku, memberiku dukungan dan kekuatan. Setengah dari piala ini adalah milikmu."Kamera segera menyorot Yudha. Dia berdiri, mengirimkan sebuah ciuman jauh ke arah Tania di panggung, dengan mata yang berkaca-kaca karena bangga. Seluruh

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 26

    Akhir musim gugur. Daun-daun ketapang berguguran memenuhi tanah, membentangkan puisi berwarna keemasan.Tania mengenakan syal kasmir yang lembut, duduk di samping jendela besar yang bermandikan cahaya matahari sambil membalik-balik naskah film baru yang baru saja dikirimkan.Yudha duduk bersila di atas karpet sambil menangani urusan kantor di laptopnya. Sesekali dia mendongak menatap Tania dengan tatapan yang sangat lembut.Suasana yang tenang dan hangat itu seketika pecah oleh notifikasi berita yang muncul di tablet.[Berita Terkini! Rendy, pimpinan Grup Tamara yang merupakan perusahaan ternama di dalam negeri, diduga terlibat penggelapan dana publik dalam jumlah besar serta penyelewengan pajak, dan kini telah resmi ditangkap pihak kepolisian!][Harga saham Grup Tamara seketika anjlok parah, perusahaan dinyatakan bangkrut dan dalam proses likuidasi!][Investigasi Mendalam: Di balik runtuhnya Grup Tamara, diduga ada keterlibatan raksasa kapital misterius yang melakukan serangan secara

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 25

    Nada bicaranya terdengar sedikit sedih. "Kamu ke luar negeri tiga tahun itu, aku langsung nyusul kamu saat itu juga. Bukan karena alasan lain, tapi karena ... aku suka kamu, Tania. Dari kita masih kecil banget, aku sudah sangat menyukaimu."Ucapan itu bagaikan aliran air hangat yang perlahan mengalir masuk ke dalam hati Tania.Dia menatap Yudha dengan bimbang, melihat ketulusan dan rasa cemas yang tidak ditutup-tutupi di mata pria itu.Selama tiga tahun ini, Tania mengingat setiap kebaikan yang diberikan Yudha padanya, sedikit demi sedikit.Yudha menemaninya melewati kesepian saat pertama kali tiba di negeri asing, mendukungnya dalam diam saat kariernya terhambat, menjaganya sepanjang malam saat dia sakit, menghargai setiap keputusannya, dan tidak pernah memberinya tekanan. Kehadiran Yudha terasa hangat dan menenangkan.Yudha menggenggam tangan Tania, telapak tangannya terasa hangat dan kering. "Tania, aku tahu hatimu masih terluka dan belum sepenuhnya lepasin masa lalu. Aku nggak buru

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 24

    Waktu seolah membeku selama beberapa detik.Kevin melihat Tania berdiri di sana tanpa luka sedikit pun. Hati yang sudah terasa digantung selama berhari-hari itu akhirnya jatuh terperosok dengan rasa lega yang luar biasa!Sebuah rasa syukur yang sangat besar karena selamat dari maut dan rasa pilu yang tidak terlukiskan seketika menghancurkan akal sehatnya!Dia tidak memedulikan rasa sakit yang menusuk di lengannya, tidak memedulikan penampilannya yang sangat berantakan. Dia menerjang maju beberapa langkah, lalu di bawah tatapan semua orang yang terperangah, dia memeluk Tania dengan sangat erat! Kekuatannya begitu besar seolah-olah ingin menghancurkan wanita itu dalam dekapannya!Tubuhnya gemetaran tanpa kendali, suaranya terdengar serak dan pecah dengan nada hidung yang berat, mengulang kalimat yang sama berkali-kali. "Syukurlah ... syukurlah kamu nggak apa-apa ... syukurklah ...."Itu adalah sebuah ketakutan luar biasa yang meledak setelah berhasil mendapatkan kembali apa yang sempat d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status