Share

Bab 10

Penulis: Luli
Beberapa hari berikutnya bagi Tania terasa seperti neraka dunia.

Di tempat itu, dia yang dulunya adalah Nona Besar Keluarga Tamara yang angkuh dan cantik, harus menderita habis-habisan.

Orang-orang di dalam sel sepertinya mendapatkan pesan khusus untuk menyiksanya. Mereka merundungnya, memukul, dan menendangnya berkali-kali. Pergelangan tangannya yang sudah patah diinjak dan digilas dengan sengaja hingga tulangnya remuk berkeping-keping ....

Beberapa hari kemudian, saat dia akhirnya dibebaskan, kondisinya sudah tidak karuan. Tubuhnya penuh luka dan dia nyaris tidak bernapas.

Satu-satunya hal yang membuatnya sanggup merangkak keluar dari neraka itu adalah sebuah pesan yang baru saja masuk ke ponselnya.

Visanya akhirnya disetujui.

Dia naik taksi kembali ke vila untuk mengambil barang-barangnya sebelum bergegas ke bandara.

Namun, begitu masuk ke rumah, dia justru berpapasan dengan Yumna, sahabatnya yang baru saja pulang dari perjalanan keliling dunia dan langsung datang setelah mendengar kabar buruk itu.

Yumna seketika menangis tersedu-sedu melihat kondisi Yumna. Dia memeluk Tania sambil terus meminta maaf, "Tania! Maafin aku! Ini semua salahku! Dulu aku cuma nggak suka sama mantan pacar om aku, aku tahu om belum bisa lupain dia, makanya aku sengaja panas-panasin kamu buat dekatin om-ku ... aku nggak nyangka bakal jadi begini ... aku nggak tahu kalau cinta sejatinya itu Devia! Kalau aku tahu, aku nggak akan pernah biarin kamu terlibat ...."

Tania menggeleng lemah dengan suara serak, "Ini bukan salahmu. Semuanya sudah berlalu, aku ... sudah ikhlasin semuanya."

"Yumna, aku berencana ke luar negeri, mungkin nggak akan pernah balik lagi."

Yumna terkejut dan mencoba menahannya, "Tania, jangan pergi .... Tetap di sini saja, biar aku yang jaga dan lindungi kamu ...."

"Nggak perlu," jawab Tania lirih. "Nggak ada lagi hal di sini yang layak buat aku pertahankan."

Tangis Yumna makin pecah, tapi melihat tatapan mata Tania yang kosong tapi penuh tekad, dia tahu dia tidak bisa menahan sahabatnya ini lagi.

Dengan mata merah, dia hanya bisa membantu Tania membereskan koper terakhirnya.

Sebelum pergi, Tania menatap untuk terakhir kalinya rumah yang menyimpan semua kenangan masa kecilnya, rumah yang kini dikuasai oleh ayahnya bersama selingkuhan dan anak haramnya.

Dia mengeluarkan bensin yang sudah disiapkan. Tanpa memedulikan cegahan para pelayan, dia menyiramkannya dengan wajah datar, lalu menyulutkan api.

Api berkobar hebat ke langit, melahap habis semua kenangan masa lalu.

Sambil menenteng koper terakhirnya, dia berbalik pergi dengan tegas.

Yumna mengantarnya ke bandara. Di sepanjang jalan, dia terus meminta maaf dan menawarkan koleksi mobil mewahnya sebagai kompensasi.

Tania menggeleng. Dia bersandar di jendela mobil sambil melihat pemandangan yang berlalu cepat, lalu berbisik pelan, "Sudah nggak butuh lagi."

"Cuma perlu ninggalin orang yang salah, kita baru bisa ketemu sama orang yang tepat." Dia berusaha memaksakan senyum yang penuh kelegaan meski terlihat lelah. "Tania ini 'kan cantik, asal aku mau, laki-laki masa depanku pasti bakal jauh lebih baik, lebih kaya, dan lebih mencintaiku ...."

Yumna segera menimpali, "Benar! Tania yang paling cantik! Nanti pasti ketemu orang yang bakal kasih seluruh dunianya buat kamu!"

Sesampainya di bandara, Yumna memeluknya erat dan tidak mau melepaskannya sambil menangis hebat. "Tania, kamu harus hidup dengan sangat baik, bikin mereka semua nyesel dan malu!"

Tania memeluknya balik, menepuk punggungnya pelan, lalu melepaskan pelukan itu. Dia pun melambaikan tangan dengan santai dan berbalik menuju pemeriksaan keamanan.

Yumna menatap sosok Tania sampai menghilang di ujung lorong, lalu dia tidak tahan lagi dan berjongkok sambil menangis histeris.

Setelah menangis entah berapa lama, dia memberanikan diri. Dengan penuh kemarahan dan rasa tidak adil, dia menelepon Kevin.

Telepon berdering lama sebelum akhirnya diangkat.

"Om." Suara Yumna terdengar bindeng dan ketus, "Aku tahu Om cinta sama Devia, tapi seenggaknya Tania sudah temenin Om selama tiga tahun! Sekarang dia sudah pergi! Nggak akan balik lagi! Apa Om ... bahkan nggak sudi buat datang sekadar antar dia?!"

Di seberang telepon, suasana mendadak sunyi senyap.

Beberapa detik kemudian, suara Kevin terdengar dengan nada yang sangat kaku dan serak, sesuatu yang sangat jarang terjadi padanya.

"Kamu bilang ...."

"Siapa yang pergi?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 29

    Setelah selesai bicara, dia bangkit berdiri tanpa menoleh pada pria itu lagi. Dia pun berbalik dan berjalan menuju pintu bangsal."Tania ...." Kevin mengerahkan sisa tenaga terakhirnya, memanggil dengan suara lemah yang diiringi isakan keputusasaan.Langkah kaki Tania sempat terhenti di ambang pintu, tapi dia tidak menoleh.Dia mengulurkan tangan dan membuka pintu ruangan itu.Di luar pintu, Yudha berdiri di sana, menatapnya dengan pandangan yang lembut tapi teguh.Tania berjalan ke sisinya, dan Yudha secara alami menggandeng tangannya, menggenggamnya dengan erat.Mereka berdua berjalan berdampingan meninggalkan bangsal itu tanpa menoleh ke belakang, lalu menghilang di ujung lorong.Kevin terbaring di ranjang rumah sakit, menatap pintu yang kini kosong dan punggung wanita yang pergi dengan tegas itu. Air matanya akhirnya tumpah dengan deras, mengalir dari sudut mata dan membasahi bantalnya.Dia tahu bahwa kali ini, dia benar-benar ... telah kehilangan wanita itu selamanya.Kehilangan s

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 28

    Tania yang masih didekap erat oleh Yudha hanya bisa terpaku menatap pemandangan tragis di depannya. Jantungnya seolah berhenti berdetak seketika!Dia bahkan bisa melihat dengan jelas sorot mata Kevin saat pria itu terpental ....Tidak ada rasa takut, tidak ada penyesalan, yang ada hanyalah semacam perasaan lega yang rumit, seolah sedang berkata, "Lihat, kali ini ... aku duluan yang nyelamatin kamu ....""Kevin!" Yudha adalah yang pertama bereaksi. Sambil terus melindungi Tania yang gemetar hebat, dia berteriak ke arah pengawal dan petugas keamanan hotel yang berdatangan. "Cepat panggil ambulans! Cepat!!"Lokasi kejadian menjadi kacau balau.Tania menatap sosok yang terbaring tak bergerak di tengah genangan darah itu. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya gemetar tanpa kendali. Meskipun sudah tidak cinta lagi, meskipun ada begitu banyak dendam, melihat sebuah nyawa yang tadinya begitu hidup kini mungkin lenyap di depan mata demi menyelamatkannya ....Guncangan ini membuatnya tidak bisa tetap te

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 27

    Hasil penganugerahan diumumkan, Tania berhasil menyabet mahkota Aktris Terbaik berkat sebuah film seni yang menginterpretasikan kompleksitas sisi manusia secara mendalam!Saat namanya dipanggil, seluruh penonton berdiri dan memberikan tepuk tangan meriah.Di bawah sorotan lampu, dia perlahan naik ke panggung, menerima piala yang terasa berat itu dari tangan presenter. Matanya sedikit memerah, tapi senyumnya tampak begitu cemerlang.Dia memberikan pidato kemenangan yang singkat, berterima kasih kepada sutradara dan kru film. Terakhir, pandangannya tertuju pada Yudha yang berada di bawah panggung, suaranya terdengar lembut namun mantap. "Terakhir, aku ingin berterima kasih secara khusus kepada seseorang, kekasihku, Yudha. Terima kasih karena selalu ada di sisiku, memberiku dukungan dan kekuatan. Setengah dari piala ini adalah milikmu."Kamera segera menyorot Yudha. Dia berdiri, mengirimkan sebuah ciuman jauh ke arah Tania di panggung, dengan mata yang berkaca-kaca karena bangga. Seluruh

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 26

    Akhir musim gugur. Daun-daun ketapang berguguran memenuhi tanah, membentangkan puisi berwarna keemasan.Tania mengenakan syal kasmir yang lembut, duduk di samping jendela besar yang bermandikan cahaya matahari sambil membalik-balik naskah film baru yang baru saja dikirimkan.Yudha duduk bersila di atas karpet sambil menangani urusan kantor di laptopnya. Sesekali dia mendongak menatap Tania dengan tatapan yang sangat lembut.Suasana yang tenang dan hangat itu seketika pecah oleh notifikasi berita yang muncul di tablet.[Berita Terkini! Rendy, pimpinan Grup Tamara yang merupakan perusahaan ternama di dalam negeri, diduga terlibat penggelapan dana publik dalam jumlah besar serta penyelewengan pajak, dan kini telah resmi ditangkap pihak kepolisian!][Harga saham Grup Tamara seketika anjlok parah, perusahaan dinyatakan bangkrut dan dalam proses likuidasi!][Investigasi Mendalam: Di balik runtuhnya Grup Tamara, diduga ada keterlibatan raksasa kapital misterius yang melakukan serangan secara

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 25

    Nada bicaranya terdengar sedikit sedih. "Kamu ke luar negeri tiga tahun itu, aku langsung nyusul kamu saat itu juga. Bukan karena alasan lain, tapi karena ... aku suka kamu, Tania. Dari kita masih kecil banget, aku sudah sangat menyukaimu."Ucapan itu bagaikan aliran air hangat yang perlahan mengalir masuk ke dalam hati Tania.Dia menatap Yudha dengan bimbang, melihat ketulusan dan rasa cemas yang tidak ditutup-tutupi di mata pria itu.Selama tiga tahun ini, Tania mengingat setiap kebaikan yang diberikan Yudha padanya, sedikit demi sedikit.Yudha menemaninya melewati kesepian saat pertama kali tiba di negeri asing, mendukungnya dalam diam saat kariernya terhambat, menjaganya sepanjang malam saat dia sakit, menghargai setiap keputusannya, dan tidak pernah memberinya tekanan. Kehadiran Yudha terasa hangat dan menenangkan.Yudha menggenggam tangan Tania, telapak tangannya terasa hangat dan kering. "Tania, aku tahu hatimu masih terluka dan belum sepenuhnya lepasin masa lalu. Aku nggak buru

  • Mawar Merah Di Ujung Penyesalan   Bab 24

    Waktu seolah membeku selama beberapa detik.Kevin melihat Tania berdiri di sana tanpa luka sedikit pun. Hati yang sudah terasa digantung selama berhari-hari itu akhirnya jatuh terperosok dengan rasa lega yang luar biasa!Sebuah rasa syukur yang sangat besar karena selamat dari maut dan rasa pilu yang tidak terlukiskan seketika menghancurkan akal sehatnya!Dia tidak memedulikan rasa sakit yang menusuk di lengannya, tidak memedulikan penampilannya yang sangat berantakan. Dia menerjang maju beberapa langkah, lalu di bawah tatapan semua orang yang terperangah, dia memeluk Tania dengan sangat erat! Kekuatannya begitu besar seolah-olah ingin menghancurkan wanita itu dalam dekapannya!Tubuhnya gemetaran tanpa kendali, suaranya terdengar serak dan pecah dengan nada hidung yang berat, mengulang kalimat yang sama berkali-kali. "Syukurlah ... syukurlah kamu nggak apa-apa ... syukurklah ...."Itu adalah sebuah ketakutan luar biasa yang meledak setelah berhasil mendapatkan kembali apa yang sempat d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status