Compartir

Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku
Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku
Autor: prasidafai

1. Aku Sudah Mati

Autor: prasidafai
last update Fecha de publicación: 2026-03-24 15:02:45

"Nyonya Naomi Vargas, istri yang dicintai oleh suaminya, Mayor Raiden Vargas, kini telah berpulang.”

Naomi hampir tertawa.

Refleks, Naomi menutup mulutnya sendiri dengan tangan bersarung hitam. Suara kecil itu nyaris lolos sebelum dia berhasil menelannya kembali.

Dicintai? Sejak kapan?

Angin siang berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan bunga kamboja yang berjatuhan di sekitar kompleks pemakaman militer.

Pemimpin upacara mengucapkan kata itu dengan begitu yakin. Seolah dia memang hadir di setiap sudut pernikahan Naomi dan menyaksikan sendiri betapa agungnya cinta seorang Mayor Raiden Vargas kepada sang istri.

Naomi tahu lebih baik dari itu.

Orang memang baru akan disanjung ketika sudah tidak bisa lagi membantah. Ketika sudah tidak bisa lagi menceritakan sisi lain dari kisah yang selama ini hanya mengalir satu arah.

Namun ketika Naomi hidup, mereka sibuk mencari kesalahan, menghina, dan memojokkannya.

"Nona, tolong pelankan suara Anda," tegur pria jangkung di sebelahnya.

Naomi sedikit memiringkan kepala, menatapnya dari balik kacamata hitam.

"Mereka tidak akan mendengarku," balas Naomi sambil mengernyitkan dahi, tidak terima ditegur. "Jarak kita dengan area upacara sangat jauh. Lagipula, kenapa aku tidak boleh sedikit saja bersuara di pemakamanku sendiri?"

Pria itu melirik sekilas, berdeham, lalu kembali menatap ke depan. Ke arah para prajurit berseragam hijau tua yang bersiap membawa peti mati.

Naomi memandang peti itu dari kejauhan.

"Aku ingin melihat lebih dekat," tukas Naomi.

"Tunggu, Nona." Pria itu sigap menghadang sambil menyodorkan masker. "Tolong pakai ini dulu."

Naomi mengambilnya tanpa banyak bicara.

Jas panjang hitam. Sepatu boots hitam. Topi lebar yang menutupi separuh wajah. Masker dan kacamata yang menyembunyikan wajahnya.

Pria itu membantu merapikan kerah jas. Sementara Naomi menyelipkan rambut hitam panjang kesukaan Raiden ke dalam lipatan kain jas.

Sempurna.

Naomi siap berbaur dengan lautan manusia yang sedang berlomba-lomba membuktikan bahwa mereka memiliki empati.

Naomi membelah kerumunan dengan tenang. Di sekitarnya, suara isak tangis bercampur dengan bisik-bisik mulai terdengar.

"Naomi mati dalam keadaan hamil delapan bulan," ucap seorang wanita tepat di depannya.

"Kasihan sekali. Padahal sebentar lagi anaknya lahir," sahut wanita di sebelahnya. "Mayor Raiden sudah menunggu anak itu selama tiga tahun."

Naomi tersenyum di balik masker.

Menunggu?

Tangan Naomi terangkat tanpa sadar, mengusap perutnya yang kini rata.

Benar. Tiga tahun Raiden menunggu keturunan yang tidak kunjung hadir. Dan Naomi tahu persis bagaimana rasanya menanggung beban penantian itu.

Beban yang tidak pernah terasa adil dan selalu berakhir dengan jari-jari telunjuk yang hanya mengarah ke satu arah saja, pihak perempuan.

Naomi ingat siapa kedua wanita ini. Istri perwira yang juga merupakan tetangga di kompleks perumahan dinas, tempat di mana dulu Naomi dan Raiden tinggal bersama.

Saat rumor bahwa kandungan Naomi bukanlah anak Raiden mulai beredar, mereka berdua ada di barisan terdepan.

Mereka menyebutnya istri licik. Wanita yang memanfaatkan seragam suaminya untuk menutupi aib.

Sekarang mereka berdiri di sini dengan mata berkaca-kaca.

Naomi mengepalkan tangan di dalam saku jas.

"Suamiku sempat melihat jasad Naomi," bisik suara lain.

Naomi menoleh.

Istri Letnan Kolonel. Wanita dengan jabatan sosial tertinggi di antara mereka, dan karena itu pula merasa paling berhak atas setiap informasi yang beredar.

"Bagaimana jasadnya?" tanya Naomi, memaksakan diri masuk ke dalam percakapan itu.

Ketiganya menoleh hampir bersamaan.

"Maaf, Anda siapa?" Istri Letnan Kolonel menelusuri Naomi dari atas ke bawah, penuh penilaian.

Naomi sadar penampilannya mencolok.

Di antara lautan seragam hijau tua dan abu-abu formal, hanya dia yang hadir dengan serba hitam.

"Keluarga jauh Naomi," jawabnya singkat.

Mereka mengangguk. Naomi mengira percakapan akan berhenti di sana.

Namun rupanya standar moral mereka memang tidak pernah setinggi yang Naomi bayangkan.

"Bengkak, tidak berbentuk, dan hampir mustahil dikenali," kata istri Letnan Kolonel penuh penekanan. "Bahkan DNA dalam jasad sudah tidak bisa dicek karena sudah membusuk. Suamiku sampai muntah-muntah saat melihatnya."

Kedua temannya bergidik. Salah satunya menutup mulut dengan tangan.

"Lalu bagaimana Mayor Raiden bisa mengenali jasad itu sebagai istrinya?" tanya Naomi tanpa menunjukkan ekspresi apa pun.

"Kehamilannya yang sudah besar, tentu saja." Istri Letnan Kolonel mengangkat bahu. "Naomi cukup beruntung karena mati dalam keadaan hamil besar, jadi jasadnya masih bisa dikenali."

Naomi terpaku.

Kata itu menghantam Naomi lebih keras dari semua cibiran semasa hidup. Perut rata Naomi mendadak terasa kram hingga wajahnya memucat.

Naomi tidak sanggup bergerak.

Dia tidak sanggup mengikuti obrolan ketiga wanita yang berdiri di depannya dengan wajah tanpa rasa bersalah.

Wanita-wanita yang bisa menyebut kematian seorang ibu hamil sebagai sebuah keberuntungan.

"Mayor Raiden kehilangan istri dan anak sekaligus. Aku tidak bisa membayangkan betapa hancurnya dia," ucap salah satu dari mereka sambil menggeleng pelan dan menghela napas dramatis.

“Ya, Mayor Raiden adalah sosok suami yang setia dan pandai menutup aib istrinya,” sahut yang lain.

Kepalan tangan Naomi semakin erat di dalam saku. Kuku-kukunya menggores telapak tangannya sendiri.

Apakah Raiden benar-benar hancur?

Naomi tersenyum pahit sambil menahan kram di perutnya.

Apakah mereka pernah melihat wajah Raiden ketika dia menatap Naomi penuh kecurigaan?

Apakah mereka pernah mendengar bagaimana Raiden bertanya siapa ayah dari bayi yang Naomi kandung?

Tentu tidak.

"Mayor Raiden! Mayor Raiden tiba!"

Teriakan itu memecah kerumunan seperti kilat.

Semua kepala menoleh ke arah gerbang.

Napas Naomi tercekat.

Seluruh tubuh Naomi menegang. Jantungnya berdegup tidak karuan.

Bukan karena takut atau pun rindu, tetapi karena sesuatu yang sudah lama Naomi pendam tiba-tiba berdesak-desakan mencari jalan keluar dan tidak menemukan satu pun celah yang cukup besar.

Perlahan, Naomi menoleh.

Di sudut pemakaman itu, di bawah cahaya siang yang tidak kenal belas kasihan, Raiden berdiri.

Raiden berdiri tegap sambil mengangkat dagunya. Dan wajah yang pernah dihapal Naomi hingga ke setiap lekuk terkecilnya itu, memakai ekspresi yang sudah sangat dia kenal.

Ekspresi Mayor Raiden Vargas saat menjalankan tugas. Bukan seorang suami yang sedang mengantar kepergian istri tercinta untuk selamanya.

Di belakang Raiden, peti mati Naomi perlahan diletakkan di atas tanah.

Angin bertiup. Bunga-bunga karangan layu bergerak pelan.

Dan Naomi berdiri di sana, memandang pria yang dulu dia sebut suami dengan pertanyaan yang tidak akan pernah bisa dijawab oleh upacara pemakaman semewah apa pun.

“Apakah kamu pernah benar-benar melihatku, Raiden?Atau kamu baru bisa melihatku sekarang, ketika aku sudah tidak ada?”

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Comentarios (2)
goodnovel comment avatar
Azzurra
Keren kak. Lanjut
goodnovel comment avatar
wh1teF1sh
cerita yg awalnya sangat out of my mind ... dan belum bisa menebak ke mana alurnya..
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   141. Dilarang Keras Kepala

    “Mundur!”Suara Raiden menggema keras di tengah koridor yang dipenuhi asap hitam.Namun sebelum Naomi sempat membalas, pria itu sudah lebih dulu menerobos masuk ke area runtuhan.“Mayor!” teriak Naomi panik.Langkah Raiden menghantam pecahan kaca di lantai.Asap tebal membuat mata pria itu perih, tetapi tatapannya tetap lurus tertuju pada tubuh kecil Aveline yang terjebak di balik lemari roboh.Brak!Lemari besar itu bergeser lagi akibat getaran dari langit-langit yang mulai runtuh sedikit demi sedikit.“Paman ….” Aveline menangis semakin keras.Raiden langsung menahan sisi lemari itu dengan tubuhnya sendiri sebelum benda berat tersebut menimpa Aveline sepenuhnya.Otot di bahunya langsung menegang hebat.“Nggh!”Rahang Raiden mengeras saat rasa nyeri menusuk dari bekas operasi di bahu kirinya. Luka yang bahkan belum pulih sempurna itu terasa seperti disobek dari dalam.“Mayor!” Naomi refleks maju satu langkah.“Jangan bergerak!” bentak Raiden.Suara pria itu terdengar berat tertahan s

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   140. Di Mana Aveline?

    Suara ledakan masih berdenging di telinga Naomi saat kesadarannya perlahan kembali. Semuanya terasa kacau. Pandangannya buram. Kepalanya seperti dihantam palu berkali-kali, sementara bau asap memenuhi paru-parunya setiap kali dia mencoba bernapas. Di sekelilingnya terdengar jeritan, suara benda runtuh, tangisan, juga langkah kaki orang-orang yang berlari panik tanpa arah. Lampu di langit-langit berkedip tidak stabil. Separuh unit gawat darurat sudah hancur. Kaca berserakan di lantai bersama bercak darah dan alat medis yang terlempar dari tempatnya. “Aaah ….” Naomi mengerang pelan sambil memaksakan tubuhnya bangkit. Cairan hangat masih mengalir dari pelipisnya. Begitu berhasil duduk, insting pertama yang muncul di kepalanya hanya satu. “Aveline!” Napas Naomi langsung memburu. Wanita itu buru-buru berdiri meski tubuhnya limbung hebat. “Aveline!” Suara Naomi pecah di tengah kepulan asap. Tidak ada jawaban. Naomi mulai berjalan tertatih keluar dari area unit gawat darurat yang

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   139. Kembali Lebih Cepat

    Malam itu rumah terasa jauh lebih hangat dibanding kepala Naomi yang dipenuhi kekacauan.Pintu rumah baru saja tertutup ketika langkah tergesa terdengar dari ruang tengah.“Bu Dokter, akhirnya pulang juga.”Mia berjalan mendekat sambil menggendong Aveline yang sudah setengah mengantuk.Rambut anak kecil itu berantakan, pipinya sedikit memerah karena terlalu banyak bermain.Begitu melihat Naomi, mata Aveline langsung terbuka lebih lebar.“Mama ….”Kedua tangan kecil itu langsung terulur.Beban yang sejak tadi membebani dada Naomi luruh seketika.Naomi segera meraih putrinya dari gendongan Mia. Pelukannya sedikit lebih erat dari biasanya.Aveline tidak protes. Gadis kecil itu justru membenamkan kepalanya ke lekukan leher Naomi.Naomi mengusap rambut putrinya perlahan lalu mengecup kepalanya lama.Mia yang sejak tadi mem

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   138. Titik Asal yang Sama

    Henry tidak langsung menjawab. Dia mengambil napas pendek, memandang sebentar ke arah jendela, sebelum akhirnya kembali menatap Raiden.“Tidak bisa.”Kening Raiden berkerut. Rahangnya menegang tipis. “Kenapa, Dokter?”“Karena Dokter Nicolle akan segera kembali ke RSPU di pusat kota.” Henry bersandar di kursinya. “Dia perlu fokus menyelesaikan jurnal ilmiah untuk pendidikan spesialisnya.”Ruangan itu mendadak terasa lebih sempit.Tatapan Raiden turun sesaat ke meja di depan Henry.Kembali ke pusat kota.Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi entah kenapa membuat dada Raiden terasa tidak nyaman.Artinya Naomi akan pergi lagi. Menjauh lagi.Henry mengamati perubahan kecil di wajah Raiden sebelum akhirnya berkata tanpa ragu, “Mayor, saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian.”Raiden mengangkat pandangan.“Tapi sejak

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   137. Dia Naomi

    Napas Raiden melambat. Kalimat itu, hidung yang mulai memerah, air mata yang ditahan dengan susah payah, semuanya terlalu familiar untuk diabaikan. Wanita yang sedang berbicara di hadapannya, jelas bukan Nicolle. Raiden menatap wanita itu tanpa berkedip. Paru-paru pria itu bekerja lebih keras kala sosok di hadapannya tidak lagi menyembunyikan dirinya sendiri, Naomi. Sementara itu, Naomi perlahan mulai sadar dirinya terlalu emosional. Terlalu banyak pertahanan yang runtuh sekaligus hanya karena beberapa kalimat Raiden. Wanita itu langsung memalingkan wajah. Jemari Naomi mengepal kuat di sisi tubuh sampai ruas-ruasnya memutih. “Naomi sudah mati,” ucapnya dingin sambil menahan napas agar suaranya tidak bergetar lagi. “Jangan terobsesi mencarinya lagi.” Namun suara Naomi tidak lagi setegas sebelumnya. Ada retakan kecil di tepinya

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   136. Tidak Ada yang Berubah

    Nama itu menghantam seperti sesuatu yang jatuh dari ketinggian, tidak besar dan keras, tetapi cukup untuk membuat segalanya retak.Tubuh Nicolle menegang dari ujung kepala sampai telapak kaki. Satu per satu, jemarinya melepaskan genggaman pada tangan Raiden yang masih melingkari dadanya.Wanita itu mundur setengah langkah, cukup untuk membalikkan badan, dan menatap Raiden.“Bukankah saya sudah pernah mengatakan kalau saya adalah Nicolle?” tanya Nicolle. “Saya bukan Naomi.”Raiden tidak langsung menjawab.Pria itu hanya menatap Nicolle lekat, tidak berkedip, dengan tatapan yang berbeda dari semua tatapan sebelumnya.Tidak ada kebimbangan di sana. Hanya ada keyakinan yang membuat tengkuk Nicolle perlahan terasa dingin.Jantung Nicolle berdetak kacau. Untuk beberapa detik, dia bahkan lupa cara bernapas dengan benar.Raiden mengangkat kedua tangannya, memegang bahu Nicolle den

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status