LOGIN
"Nyonya Naomi Vargas, istri yang dicintai oleh suaminya, Mayor Raiden Vargas, kini telah berpulang.”
Naomi hampir tertawa. Refleks, Naomi menutup mulutnya sendiri dengan tangan bersarung hitam. Suara kecil itu nyaris lolos sebelum dia berhasil menelannya kembali. Dicintai? Sejak kapan? Angin siang berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan bunga kamboja yang berjatuhan di sekitar kompleks pemakaman militer. Pemimpin upacara mengucapkan kata itu dengan begitu yakin. Seolah dia memang hadir di setiap sudut pernikahan Naomi dan menyaksikan sendiri betapa agungnya cinta seorang Mayor Raiden Vargas kepada sang istri. Naomi tahu lebih baik dari itu. Orang memang baru akan disanjung ketika sudah tidak bisa lagi membantah. Ketika sudah tidak bisa lagi menceritakan sisi lain dari kisah yang selama ini hanya mengalir satu arah. Namun ketika Naomi hidup, mereka sibuk mencari kesalahan, menghina, dan memojokkannya. "Nona, tolong pelankan suara Anda," tegur pria jangkung di sebelahnya. Naomi sedikit memiringkan kepala, menatapnya dari balik kacamata hitam. "Mereka tidak akan mendengarku," balas Naomi sambil mengernyitkan dahi, tidak terima ditegur. "Jarak kita dengan area upacara sangat jauh. Lagipula, kenapa aku tidak boleh sedikit saja bersuara di pemakamanku sendiri?" Pria itu melirik sekilas, berdeham, lalu kembali menatap ke depan. Ke arah para prajurit berseragam hijau tua yang bersiap membawa peti mati. Naomi memandang peti itu dari kejauhan. "Aku ingin melihat lebih dekat," tukas Naomi. "Tunggu, Nona." Pria itu sigap menghadang sambil menyodorkan masker. "Tolong pakai ini dulu." Naomi mengambilnya tanpa banyak bicara. Jas panjang hitam. Sepatu boots hitam. Topi lebar yang menutupi separuh wajah. Masker dan kacamata yang menyembunyikan wajahnya. Pria itu membantu merapikan kerah jas. Sementara Naomi menyelipkan rambut hitam panjang kesukaan Raiden ke dalam lipatan kain jas. Sempurna. Naomi siap berbaur dengan lautan manusia yang sedang berlomba-lomba membuktikan bahwa mereka memiliki empati. Naomi membelah kerumunan dengan tenang. Di sekitarnya, suara isak tangis bercampur dengan bisik-bisik mulai terdengar. "Naomi mati dalam keadaan hamil delapan bulan," ucap seorang wanita tepat di depannya. "Kasihan sekali. Padahal sebentar lagi anaknya lahir," sahut wanita di sebelahnya. "Mayor Raiden sudah menunggu anak itu selama tiga tahun." Naomi tersenyum di balik masker. Menunggu? Tangan Naomi terangkat tanpa sadar, mengusap perutnya yang kini rata. Benar. Tiga tahun Raiden menunggu keturunan yang tidak kunjung hadir. Dan Naomi tahu persis bagaimana rasanya menanggung beban penantian itu. Beban yang tidak pernah terasa adil dan selalu berakhir dengan jari-jari telunjuk yang hanya mengarah ke satu arah saja, pihak perempuan. Naomi ingat siapa kedua wanita ini. Istri perwira yang juga merupakan tetangga di kompleks perumahan dinas, tempat di mana dulu Naomi dan Raiden tinggal bersama. Saat rumor bahwa kandungan Naomi bukanlah anak Raiden mulai beredar, mereka berdua ada di barisan terdepan. Mereka menyebutnya istri licik. Wanita yang memanfaatkan seragam suaminya untuk menutupi aib. Sekarang mereka berdiri di sini dengan mata berkaca-kaca. Naomi mengepalkan tangan di dalam saku jas. "Suamiku sempat melihat jasad Naomi," bisik suara lain. Naomi menoleh. Istri Letnan Kolonel. Wanita dengan jabatan sosial tertinggi di antara mereka, dan karena itu pula merasa paling berhak atas setiap informasi yang beredar. "Bagaimana jasadnya?" tanya Naomi, memaksakan diri masuk ke dalam percakapan itu. Ketiganya menoleh hampir bersamaan. "Maaf, Anda siapa?" Istri Letnan Kolonel menelusuri Naomi dari atas ke bawah, penuh penilaian. Naomi sadar penampilannya mencolok. Di antara lautan seragam hijau tua dan abu-abu formal, hanya dia yang hadir dengan serba hitam. "Keluarga jauh Naomi," jawabnya singkat. Mereka mengangguk. Naomi mengira percakapan akan berhenti di sana. Namun rupanya standar moral mereka memang tidak pernah setinggi yang Naomi bayangkan. "Bengkak, tidak berbentuk, dan hampir mustahil dikenali," kata istri Letnan Kolonel penuh penekanan. "Bahkan DNA dalam jasad sudah tidak bisa dicek karena sudah membusuk. Suamiku sampai muntah-muntah saat melihatnya." Kedua temannya bergidik. Salah satunya menutup mulut dengan tangan. "Lalu bagaimana Mayor Raiden bisa mengenali jasad itu sebagai istrinya?" tanya Naomi tanpa menunjukkan ekspresi apa pun. "Kehamilannya yang sudah besar, tentu saja." Istri Letnan Kolonel mengangkat bahu. "Naomi cukup beruntung karena mati dalam keadaan hamil besar, jadi jasadnya masih bisa dikenali." Naomi terpaku. Kata itu menghantam Naomi lebih keras dari semua cibiran semasa hidup. Perut rata Naomi mendadak terasa kram hingga wajahnya memucat. Naomi tidak sanggup bergerak. Dia tidak sanggup mengikuti obrolan ketiga wanita yang berdiri di depannya dengan wajah tanpa rasa bersalah. Wanita-wanita yang bisa menyebut kematian seorang ibu hamil sebagai sebuah keberuntungan. "Mayor Raiden kehilangan istri dan anak sekaligus. Aku tidak bisa membayangkan betapa hancurnya dia," ucap salah satu dari mereka sambil menggeleng pelan dan menghela napas dramatis. “Ya, Mayor Raiden adalah sosok suami yang setia dan pandai menutup aib istrinya,” sahut yang lain. Kepalan tangan Naomi semakin erat di dalam saku. Kuku-kukunya menggores telapak tangannya sendiri. Apakah Raiden benar-benar hancur? Naomi tersenyum pahit sambil menahan kram di perutnya. Apakah mereka pernah melihat wajah Raiden ketika dia menatap Naomi penuh kecurigaan? Apakah mereka pernah mendengar bagaimana Raiden bertanya siapa ayah dari bayi yang Naomi kandung? Tentu tidak. "Mayor Raiden! Mayor Raiden tiba!" Teriakan itu memecah kerumunan seperti kilat. Semua kepala menoleh ke arah gerbang. Napas Naomi tercekat. Seluruh tubuh Naomi menegang. Jantungnya berdegup tidak karuan. Bukan karena takut atau pun rindu, tetapi karena sesuatu yang sudah lama Naomi pendam tiba-tiba berdesak-desakan mencari jalan keluar dan tidak menemukan satu pun celah yang cukup besar. Perlahan, Naomi menoleh. Di sudut pemakaman itu, di bawah cahaya siang yang tidak kenal belas kasihan, Raiden berdiri. Raiden berdiri tegap sambil mengangkat dagunya. Dan wajah yang pernah dihapal Naomi hingga ke setiap lekuk terkecilnya itu, memakai ekspresi yang sudah sangat dia kenal. Ekspresi Mayor Raiden Vargas saat menjalankan tugas. Bukan seorang suami yang sedang mengantar kepergian istri tercinta untuk selamanya. Di belakang Raiden, peti mati Naomi perlahan diletakkan di atas tanah. Angin bertiup. Bunga-bunga karangan layu bergerak pelan. Dan Naomi berdiri di sana, memandang pria yang dulu dia sebut suami dengan pertanyaan yang tidak akan pernah bisa dijawab oleh upacara pemakaman semewah apa pun. “Apakah kamu pernah benar-benar melihatku, Raiden?Atau kamu baru bisa melihatku sekarang, ketika aku sudah tidak ada?”Nicolle membeku.Namun sebelum Nicolle sempat bereaksi, Raiden kembali tidak sadarkan diri.Tiga hari kemudian di posko enam.“Dokter Nicolle!” Suara Olivia memecah hiruk-pikuk posko enam yang sejak pagi dipenuhi bau obat, darah, dan tanah basah.Nicolle yang sedang menulis catatan kondisi pasien langsung menoleh cepat. Pulpen di tangannya nyaris jatuh ketika melihat Olivia berdiri di depan tenda dengan napas terengah.“Mayor Raiden sudah sadar!”Jantung Nicolle seolah berhenti sesaat.Selama tiga hari terakhir, Raiden tidak pernah benar-benar membuka mata.Tubuh pria itu beberapa kali mengalami demam tinggi akibat infeksi luka dan kehilangan terlalu banyak darah.Bahkan semalam, suhu tubuhnya sempat melonjak hingga membuat seluruh tenaga medis di posko tegang.Nicolle adalah orang yang paling lama berada di sisi ranjang pria itu.
“Dokter!” Suara Olivia terdengar pecah bersamaan dengan debu yang berhamburan di udara.Nicolle masih memejamkan mata ketika serpihan kecil menghantam pelipisnya cukup keras hingga kulitnya sobek tipis.“Ahh!” jerit Nicolle.Rasa perih langsung menjalar. Darah hangat mengalir pelan di sisi wajahnya.Namun beberapa detik kemudian, Nicolle membuka mata cepat-cepat dan langsung menoleh ke pasien di bawah tubuhnya.Prajurit itu masih bernapas.“Astaga!” Olivia membelalak panik saat melihat darah di wajah Nicolle. “Dokter, kepala Anda–”“Saya tidak apa-apa.” Nicolle langsung menggeleng tegas. “Lanjutkan pekerjaannya!”“Tapi darahnya–”“Perawat Olivia!”Nada suara Nicolle membuat Olivia spontan diam.Nicolle segera bangkit berlutut lagi meski kepalanya sedikit berdenyut. Tangan wanita itu kembali bergerak cepat menghentikan perdarahan pr
Suasana mendadak menegang.Beberapa tenaga medis yang sedang mengantre saling melirik diam-diam.Prajurit bersenjata di dekat pintu pemeriksaan ikut menoleh ke arah keributan tersebut.Bahkan suara langkah sepatu bot yang sejak tadi hilir mudik perlahan melambat.Lucy masih menangis tersedu-sedu di balik meja administrasi.Bahu wanita itu berguncang kecil. Air mata membasahi pipinya, membuat Lucy tampak seperti korban di tengah kerumunan orang yang mulai memperhatikannya.Namun Nicolle tidak bergeming sedikit pun. Tatapan wanita itu tetap dingin.“Biar saya lihat ulang dokumennya.” Seorang petugas administrasi senior akhirnya mendekat.Usianya sekitar empat puluhan dengan seragam rapi dan rahang tegas. Pria itu langsung berdiri di samping Lucy sambil menarik keyboard komputer ke arahnya.Lucy terlihat mulai gelisah.“Pak, saya tadi hanya menjala
Pagi itu, Lucy hampir menjatuhkan ponselnya sendiri. Wanita itu baru saja mengenakan cardigan krem dan bersiap berangkat menuju sekolah sementara untuk mengajar anak-anak korban perang ketika notifikasi pesan dari Dante muncul di layar. [Sebenarnya kamu bisa membujuk Jenderal Viktor atau tidak?] Kening Lucy langsung berkerut. Namun detik berikutnya, pesan kedua masuk. [Kenapa Raiden belum juga kembali dan justru menghilang? Nicolle akan pergi menyusulnya.] Napas Lucy tercekat. “Dokter Nicolle … menyusul Kak Raiden?” ulang Lucy pelan. Jari Lucy langsung mencengkeram ponselnya erat sampai buku-buku jarinya memutih. Selama dua hari terakhir, Lucy sebenarnya sudah menahan emosinya mati-matian. Viktor tanpa sengaja memberi tahu satu fakta yang terus menghantui pikirannya, bahwa Raiden rutin menghubungi Nicolle sebagai dokter penanggung jawabnya. Sementara Lucy? Semua panggilan dan pesannya tidak pernah dibalas oleh Raiden. Awalnya Lucy mencoba meyakinkan dirinya se
Suasana mendadak terasa pengap.Beberapa tenaga medis yang melintas di ujung lorong seolah ikut menahan napas melihat ketegangan di antara mereka.Nicolle mengangkat kedua alisnya tidak percaya.“Bukan aku yang memberi Aveline harapan, Dante,” jawab Nicolle akhirnya. “Tapi kamu. Kamu yang memberitahunya soal perjalanan dan pesta itu, padahal aku juga belum memberimu jawaban.”Dante mengeraskan rahangnya.“Jangan tiba-tiba melimpahkan kesalahan padaku!” desis Nicolle tegas.Angin dari jendela koridor meniup pelan ujung rambut Nicolle, tetapi wanita itu tetap berdiri tegak tanpa bergeming.Dante mengepalkan tangan kuat-kuat.“Kalau begitu, aku akan tetap membawa Aveline,” ancam pria itu penuh penekanan.Nicolle langsung menatap Dante tajam.Dante tahu betul satu hal tentang Nicolle. Wanita itu tidak bisa jauh dari Aveline.Itu sebabn
“Kenapa diam?” Dante berjalan mendekat sambil tersenyum tipis.Pria itu melangkah dengan santai, tetapi justru membuat tengkuk Lucy menegang.Tatapan Dante terlalu tajam. Seolah pria itu bisa melihat semua kebusukan yang selama ini Lucy sembunyikan.Lucy buru-buru mengangkat dagunya dan kembali memasang senyum manis.“Memangnya apa maumu?” tanya Lucy. “Dan kenapa saya harus menuruti apa maumu?”Lucy kembali memainkan kartu andalannya, berpura-pura polos.Namun Dante justru tertawa geli.“Serius?” Dante sedikit memiringkan kepala. “Kamu masih bertanya?”Pria itu berhenti tepat di depan Lucy.“Karena aku memegang rahasiamu,” sambung Dante.Senyum Lucy langsung menipis.Dante melanjutkan, “Setelah bicara denganmu, aku jadi paham kenapa Raiden lebih senang bicara dengan Nicolle-ku.”Dante sengaja menyebut nama Nicolle untuk melihat reaksi Lucy.Benar saja, wajah Lucy berubah sepersekian detik, sebelum wanita itu kembali memaksakan senyumnya.“Dokter Nicolle?” ulang Lucy lirih. “Apa hubung







