LOGINMalam itu rumah terasa jauh lebih hangat dibanding kepala Naomi yang dipenuhi kekacauan.
Pintu rumah baru saja tertutup ketika langkah tergesa terdengar dari ruang tengah.“Bu Dokter, akhirnya pulang juga.”Mia berjalan mendekat sambil menggendong Aveline yang sudah setengah mengantuk.Rambut anak kecil itu berantakan, pipinya sedikit memerah karena terlalu banyak bermain.Begitu melihat Naomi, mata Aveline langsung terbuka“Mundur!”Suara Raiden menggema keras di tengah koridor yang dipenuhi asap hitam.Namun sebelum Naomi sempat membalas, pria itu sudah lebih dulu menerobos masuk ke area runtuhan.“Mayor!” teriak Naomi panik.Langkah Raiden menghantam pecahan kaca di lantai.Asap tebal membuat mata pria itu perih, tetapi tatapannya tetap lurus tertuju pada tubuh kecil Aveline yang terjebak di balik lemari roboh.Brak!Lemari besar itu bergeser lagi akibat getaran dari langit-langit yang mulai runtuh sedikit demi sedikit.“Paman ….” Aveline menangis semakin keras.Raiden langsung menahan sisi lemari itu dengan tubuhnya sendiri sebelum benda berat tersebut menimpa Aveline sepenuhnya.Otot di bahunya langsung menegang hebat.“Nggh!”Rahang Raiden mengeras saat rasa nyeri menusuk dari bekas operasi di bahu kirinya. Luka yang bahkan belum pulih sempurna itu terasa seperti disobek dari dalam.“Mayor!” Naomi refleks maju satu langkah.“Jangan bergerak!” bentak Raiden.Suara pria itu terdengar berat tertahan s
Suara ledakan masih berdenging di telinga Naomi saat kesadarannya perlahan kembali. Semuanya terasa kacau. Pandangannya buram. Kepalanya seperti dihantam palu berkali-kali, sementara bau asap memenuhi paru-parunya setiap kali dia mencoba bernapas. Di sekelilingnya terdengar jeritan, suara benda runtuh, tangisan, juga langkah kaki orang-orang yang berlari panik tanpa arah. Lampu di langit-langit berkedip tidak stabil. Separuh unit gawat darurat sudah hancur. Kaca berserakan di lantai bersama bercak darah dan alat medis yang terlempar dari tempatnya. “Aaah ….” Naomi mengerang pelan sambil memaksakan tubuhnya bangkit. Cairan hangat masih mengalir dari pelipisnya. Begitu berhasil duduk, insting pertama yang muncul di kepalanya hanya satu. “Aveline!” Napas Naomi langsung memburu. Wanita itu buru-buru berdiri meski tubuhnya limbung hebat. “Aveline!” Suara Naomi pecah di tengah kepulan asap. Tidak ada jawaban. Naomi mulai berjalan tertatih keluar dari area unit gawat darurat yang
Malam itu rumah terasa jauh lebih hangat dibanding kepala Naomi yang dipenuhi kekacauan.Pintu rumah baru saja tertutup ketika langkah tergesa terdengar dari ruang tengah.“Bu Dokter, akhirnya pulang juga.”Mia berjalan mendekat sambil menggendong Aveline yang sudah setengah mengantuk.Rambut anak kecil itu berantakan, pipinya sedikit memerah karena terlalu banyak bermain.Begitu melihat Naomi, mata Aveline langsung terbuka lebih lebar.“Mama ….”Kedua tangan kecil itu langsung terulur.Beban yang sejak tadi membebani dada Naomi luruh seketika.Naomi segera meraih putrinya dari gendongan Mia. Pelukannya sedikit lebih erat dari biasanya.Aveline tidak protes. Gadis kecil itu justru membenamkan kepalanya ke lekukan leher Naomi.Naomi mengusap rambut putrinya perlahan lalu mengecup kepalanya lama.Mia yang sejak tadi mem
Henry tidak langsung menjawab. Dia mengambil napas pendek, memandang sebentar ke arah jendela, sebelum akhirnya kembali menatap Raiden.“Tidak bisa.”Kening Raiden berkerut. Rahangnya menegang tipis. “Kenapa, Dokter?”“Karena Dokter Nicolle akan segera kembali ke RSPU di pusat kota.” Henry bersandar di kursinya. “Dia perlu fokus menyelesaikan jurnal ilmiah untuk pendidikan spesialisnya.”Ruangan itu mendadak terasa lebih sempit.Tatapan Raiden turun sesaat ke meja di depan Henry.Kembali ke pusat kota.Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi entah kenapa membuat dada Raiden terasa tidak nyaman.Artinya Naomi akan pergi lagi. Menjauh lagi.Henry mengamati perubahan kecil di wajah Raiden sebelum akhirnya berkata tanpa ragu, “Mayor, saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian.”Raiden mengangkat pandangan.“Tapi sejak
Napas Raiden melambat. Kalimat itu, hidung yang mulai memerah, air mata yang ditahan dengan susah payah, semuanya terlalu familiar untuk diabaikan. Wanita yang sedang berbicara di hadapannya, jelas bukan Nicolle. Raiden menatap wanita itu tanpa berkedip. Paru-paru pria itu bekerja lebih keras kala sosok di hadapannya tidak lagi menyembunyikan dirinya sendiri, Naomi. Sementara itu, Naomi perlahan mulai sadar dirinya terlalu emosional. Terlalu banyak pertahanan yang runtuh sekaligus hanya karena beberapa kalimat Raiden. Wanita itu langsung memalingkan wajah. Jemari Naomi mengepal kuat di sisi tubuh sampai ruas-ruasnya memutih. “Naomi sudah mati,” ucapnya dingin sambil menahan napas agar suaranya tidak bergetar lagi. “Jangan terobsesi mencarinya lagi.” Namun suara Naomi tidak lagi setegas sebelumnya. Ada retakan kecil di tepinya
Nama itu menghantam seperti sesuatu yang jatuh dari ketinggian, tidak besar dan keras, tetapi cukup untuk membuat segalanya retak.Tubuh Nicolle menegang dari ujung kepala sampai telapak kaki. Satu per satu, jemarinya melepaskan genggaman pada tangan Raiden yang masih melingkari dadanya.Wanita itu mundur setengah langkah, cukup untuk membalikkan badan, dan menatap Raiden.“Bukankah saya sudah pernah mengatakan kalau saya adalah Nicolle?” tanya Nicolle. “Saya bukan Naomi.”Raiden tidak langsung menjawab.Pria itu hanya menatap Nicolle lekat, tidak berkedip, dengan tatapan yang berbeda dari semua tatapan sebelumnya.Tidak ada kebimbangan di sana. Hanya ada keyakinan yang membuat tengkuk Nicolle perlahan terasa dingin.Jantung Nicolle berdetak kacau. Untuk beberapa detik, dia bahkan lupa cara bernapas dengan benar.Raiden mengangkat kedua tangannya, memegang bahu Nicolle den







