ホーム / Romansa / Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku / 2. Lingerie untuk Mayor Raiden

共有

2. Lingerie untuk Mayor Raiden

作者: prasidafai
last update 公開日: 2026-03-24 15:12:31

Upacara pemakaman militer akhirnya dilakukan dengan khidmat.

Tidak pernah terbayangkan dalam 25 tahun hidupnya, Naomi akan datang ke upacara pemakamannya sendiri.

Raiden mendapatkan banyak ucapan belasungkawa dari para perwira. Baik yang mengucapkannya secara langsung, lewat karangan bunga duka, atau pun keduanya.

“Kami turut berduka cita, Mayor Raiden.”

“Ada karangan bunga duka yang baru datang dari Jenderal Viktor, Mayor.”

Air mata Naomi menetes saat tatapannya mengikuti Raiden. Pikirannya kembali ke masa lalu.

Hubungan Naomi dan Raiden awalnya sangat manis. Mereka sudah saling mencintai sejak Naomi masih kuliah.

Begitu Naomi lulus, Raiden langsung menikahinya.

“Aku tidak mau kau keburu diambil orang,” ucap Raiden sambil menyentil manja ujung hidung Naomi.

Satu setengah tahun pernikahan yang sangat membahagiakan, meski anak tidak kunjung hadir di antara mereka.

Sampai tugas negara memanggil Raiden untuk pergi ke medan perang. Raiden pergi hanya enam bulan, tetapi dia menjadi sosok yang 180 derajat berbeda bagi Naomi.

“Aku ingin cokelat di minimarket depan,” pinta Naomi sambil menatap Raiden penuh harap.

Dulu, jangankan di minimarket, di ujung bumi sekali pun Raiden akan menyanggupi permintaan Naomi.

Namun sekarang, yang Naomi dapatkan hanya kata-kata menyakitkan.

“Beli saja sendiri. Kau masih punya kaki.”

Suatu malam, Naomi mendapati dirinya sedang subur. Dia mengambil lingerie terbaru yang seksi dan memakainya.

Naomi berdiri di balik pintu utama rumah mereka saat jam Raiden biasanya pulang.

Namun hingga dua jam berlalu, Raiden tidak kunjung pulang. Meninggalkan Naomi yang kedinginan karena hanya memakai pakaian tipis.

Pintu utama rumah akhirnya terbuka beberapa saat kemudian. Raiden berdiri di sana dan tertegun melihat Naomi.

“Kau terlambat,” ucap Naomi sambil menggoda Raiden dengan meraba pahanya sendiri.

Raiden segera kembali memasang wajah datar. “Tidurlah. Ini sudah malam. Jangan lagi pakai pakaian seperti itu.”

Naomi yang kesal bertanya, “Kenapa? Dulu kau suka aku pakai lingerie seperti ini. Sudah satu bulan kamu tidak menyentuhku. Hari ini tanggal suburku!”

“Kubilang tidur, tidur, Naomi!” Raiden justru membentaknya.

Mata Naomi berkaca-kaca. Hatinya teriris mendapat penolakan dari pria yang dulu begitu memuja dirinya.

Sikap Raiden justru hanya mengingatkan Naomi pada semakin seringnya terdengar bisikan-bisikan tentang dirinya yang belum kunjung hamil.

“Bisa kan buatnya? Percuma loh kalau cantik, tapi tidak bisa memuaskan suami!”

“Mayor Raiden itu tampan, gagah, dan terbukti sehat. Kalau kalian belum juga punya anak, berarti masalahnya ada di kamu, Naomi.”

Meski sakit, Naomi berusaha tidak terlalu memikirkan apa kata orang luar. Namun saat mendapatkan perlakuan Raiden yang dingin seperti ini, hati istri mana yang tidak teriris?

Raiden terpejam tidur. Tidak lama, Naomi dapat mendengar dengkuran halusnya.

Namun Raiden tetaplah seorang pria yang butuh memuaskan kebutuhan batinnya.

Malam berikutnya, Raiden mendatangi Naomi.

“Ayo, kita memiliki anak,” bisik Raiden sambil meraba lengan Naomi yang putih mulus.

Naomi pikir, Raiden-nya sudah kembali. Namun saat matahari terbit, Raiden kembali menjadi pria yang dingin.

Bahkan kabar kehamilan Naomi yang datang satu bulan kemudian, tidak juga mengetuk hati Raiden yang membeku.

“Berarti tugasku sudah selesai. Sekarang giliranmu menjalankan tugas untuk membesarkan dan melahirkan anak itu dalam keadaan sehat,” tukas Raiden.

“Raiden, ini anak kita bersama. Aku butuh pemeriksaan rutin setiap bulan dan pendampingan selama kehamilan,” sergah Naomi berusaha menjelaskan. “Bagaimana kalau aku juga mengalami ngidam? Kau harus menjadi suami siaga.”

“Aku sibuk. Jangan terus-terusan menuntutku!” bentak Raiden sambil menatap Naomi tajam. “Sudah kubilang, selama anggota tubuhmu masih lengkap dan bisa digunakan dengan baik, kau harus jadi istri yang mandiri. Jangan apa-apa bergantung padaku!”

Raiden tidak pulang selama dua hari setelah pertengkaran itu.

Sementara Naomi tidak berani membahas soal kehamilannya lagi dengan Raiden. Sehingga saat Naomi menginginkan sesuatu karena ngidam, dia harus mengatasi hal itu sendiri.

Walaupun itu berarti, berjalan kaki keluar kompleks perumahan saat tengah malam untuk membeli nasi goreng dari penjual kaki lima.

Naomi juga terpaksa membuang malu demi meminta mangga muda dari pohon tetangga di sebelah rumahnya.

Raiden tidak mau melakukan itu semua.

Pada bulan kelima kehamilannya, Naomi ditemukan pendarahan di dalam kamar mandi oleh Tasya, ibu Raiden, yang datang menjenguk.

“Mama … tolong aku …..” mohon Naomi dengan wajah yang sudah sangat pucat.

Di rumah sakit.

“Kandungan Nyonya Naomi masih sangat rawan, harus dijaga dengan baik. Untungnya bayi Nyonya dapat dipertahankan dan pendarahannya tidak terlalu serius,” ucap dokter kandungan yang memeriksa Naomi.

Dokter pergi dari ruangan, meninggalkan Naomi dan ibu mertuanya.

“Kamu itu bagaimana sih, Naomi? Kok bisa sampai jatuh di kamar mandi begitu? Bagaimana kalau tadi Mama tidak datang?!” seru Tasya yang masih tampak panik.

“Kalau bisa pilih, aku juga tidak mau jatuh, Ma,” jawab Naomi yang masih berbaring di ranjang sambil mengusap perutnya.

“Kamu dibilangin, masih saja jawab!” cecar Tasya. “Kamu sudah periksa jenis kelamin anakmu belum?”

“Sudah, Ma,” jawab Naomi pelan.

“Apa jenis kelaminnya?” tanya Tasya tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya.

“Perempuan, Ma.”

Seketika itu raut wajah Tasya berubah menjadi masam.

“Ah, kalau tahu begitu Mama tidak usah panik. Cuma anak perempuan,” gumam Tasya sambil membuang muka.

“Apa Mama bilang?” tanya Naomi.

Naomi berharap pendengarannya salah.

Namun Tasya tanpa rasa bersalah mengulang ucapannya dengan lebih yakin, “Kalau tahu begitu, Mama tidak perlu terlalu panik. Cuma anak perempuan. Kecuali kalau anak laki-laki, itu baru harus sangat dijaga.”

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   7. Identitas Baru

    Pukul tujuh malam. Tatapan Naomi masih tertuju pada nisan putih yang berdiri tegak di hadapannya. Nisan yang terukir namanya sendiri, Naomi Vargas. Beserta nama lain, Everly Vargas. Aneh rasanya membaca nama sendiri di atas batu mati. Naomi menarik napas perlahan, lalu mengembuskannya bersama segala sesuatu yang tidak bisa lagi dia ucapkan. Semua pelayat sudah pergi sejak lama. Hanya dia yang tersisa, berdiri di atas tanah basah pemakaman militer dengan mantel hitam yang terlalu besar untuk tubuhnya yang kini semakin kurus. “Nona.” Suara bariton itu memecah kesunyian. Naomi tidak menoleh, tetapi dia tahu siapa yang berbicara. Pria jangkung itu telah berdiri tiga langkah di belakangnya sejak tadi. “Kita harus segera pergi,” lanjut Brandon, bawahan Vance Frances yang diminta untuk mengawal Naomi hari ini. Naomi mengangguk sekali. Wanita itu membalikkan badan dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Brandon mengikutinya dua langkah di belakang. Di dalam mobil, Na

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   6. Tamu Laki-Laki Naomi

    Raiden berjalan menaiki tiga anak tangga menuju pintu utama. Dia sempat berhenti di gagang pintu, mendadak ragu untuk masuk. Biasanya, Naomi akan berdiri di balik pintu utama setiap kali Raiden pulang. Wanita itu akan tersenyum lembut, lalu mengatakan sesuatu. “Raiden? Kau pulang lebih cepat hari ini? Atau mungkin …. “Jangan duduk dulu. Cuci tanganmu, Sayang. Makan malam hampir siap.” Namun kali ini Raiden tidak melihat siapa pun di sana. Raiden melepas dasinya sambil berjalan ke ruang tamu. Aroma cokelat manis yang selalu identik dengan kehadiran Naomi di rumah ini, kini tidak tercium lagi. Raiden menyapu pandangannya ke sekeliling rumah dengan raut wajah datar. Tidak ada air mata di wajahnya, tetapi dada pria itu terasa kosong, seperti lubang besar yang tidak bisa diisi apa pun. Raiden pernah berpikir bahwa dia sudah tidak lagi mencintai Naomi. Sejak hari dia mengetahui bahwa Naomi mengandung anak pria lain, hatinya terasa mati. Perasaan yang dulu hangat beruba

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   5. Kau Masih Istriku!

    “Mama, Sera, jangan bicara seperti itu pada Kak Naomi.” Lucy mencoba melerai. “Kak Naomi sudah sangat baik padaku.”Lucy mengalihkan tatapannya pada Naomi.“Kak Naomi, maaf jadi seperti ini. Aku sebenarnya tidak berniat memberitahu soal tamu laki-laki Kak Naomi, hanya saja waktu itu aku mengigau dan keceplosan memberitahu Kak Raiden,” lanjut Lucy dengan mata berkaca-kaca.“Tidak perlu meminta maaf pada Naomi, Lucy,” tegur Raiden lembut. “Memang sudah seharusnya kau memberitahuku, bahwa istri yang aku nikahi ini, bukan lagi wanita yang dulu aku cintai.”Fitnah keji Lucy menyebar dengan cepat hingga ke telinga para istri perwira.Saat ada kegiatan khusus istri perwira, Naomi tidak lagi mendapat sambutan hangat dari mereka.“Ya, begitulah wanita licik. Dia selingkuh dengan pria lain hingga hamil, dan memanfaatkan statusnya sebagai istri Mayor Raiden. Kita semua tahu, perceraian dalam keluarga militer hampir mustahil dikabulkan,” bisik salah satu istri perwira.Mereka berbisik dengan suar

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   4. Kamar Bayi Kita Bagaimana?

    Lucy mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Naomi. Senyum gadis yang berusia tiga tahun lebih muda dari Naomi itu begitu lebar dan cerah.Namun Naomi tidak tergerak untuk menyambut uluran tangannya. Tatapan Naomi kembali ke manik cokelat Raiden.“Bagaimana dengan aku?” tanya Naomi menahan tangis.“Apa maksudmu?” Raiden mengernyitkan dahi. “Biarkan Lucy masuk lebih dulu. Kita bicara di dalam.”“Kenapa? Kau malu kalau tetangga tahu kau membawa seorang gadis yang bukan keluarga, tinggal di sini?” cetus Naomi seraya mengangkat kedua alisnya.“Naomi!” tegur Raiden, matanya menyalang penuh amarah. “Kantor sudah setuju. Untuk apa aku malu?”“Bagaimana dengan aku?” Naomi mengulang pertanyaannya. “Apa aku setuju Lucy tinggal di sini?”Raiden tertegun.Sementara mata Lucy menjadi berkaca-kaca. Dia sedikit terisak.Saat Naomi melihat Lucy yang sedang menahan tangis, sesuatu dalam dadanya terasa tidak nyaman. Lucy punya mata dan raut wajah yang mengundang iba saat gadis itu menangis.Bah

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   3. Gadis Itu Datang

    “Apa anak perempuan tidak perlu dijaga, Ma? Apa Raiden juga berpikir seperti Mama?” tanya Naomi lagi sambil menatap ibu mertuanya tidak percaya.“Apa maksudmu?” Tasya justru balik bertanya dan menatap Naomi dengan tatapan yang sama. “Kau sedang menyalahkan Mama dan Raiden? Kau yang tidak hati-hati sampai terpleset di kamar mandi!”“Mama yang bicara seolah anak perempuan tidak perlu dijaga dan diperhatikan. Dan asal Mama tahu, aku terpleset karena aku sudah mulai kesulitan membersihkan kamar mandi. Aku sudah minta tolong Raiden, tetapi dia terlalu sibuk bekerja.”Tasya menatap tajam Naomi.“Sekarang Mama paham kenapa Raiden mengabaikan kamu. Kamu tidak pernah mau salah dan selalu membolak-balikkan perkataan orang tua!” tegur Tasya dengan napas yang mulai memburu.Tasya mengambil tasnya di atas nakas dan melanjutkan, “Kamu itu istri seorang abdi negara, Naomi! Raiden baru saja diangkat menjadi Mayor, tentu saja dia sibuk mengabdi pada negara. Itu risiko yang harus kamu tanggung sejak ka

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   2. Lingerie untuk Mayor Raiden

    Upacara pemakaman militer akhirnya dilakukan dengan khidmat. Tidak pernah terbayangkan dalam 25 tahun hidupnya, Naomi akan datang ke upacara pemakamannya sendiri. Raiden mendapatkan banyak ucapan belasungkawa dari para perwira. Baik yang mengucapkannya secara langsung, lewat karangan bunga duka, atau pun keduanya. “Kami turut berduka cita, Mayor Raiden.” “Ada karangan bunga duka yang baru datang dari Jenderal Viktor, Mayor.” Air mata Naomi menetes saat tatapannya mengikuti Raiden. Pikirannya kembali ke masa lalu. Hubungan Naomi dan Raiden awalnya sangat manis. Mereka sudah saling mencintai sejak Naomi masih kuliah. Begitu Naomi lulus, Raiden langsung menikahinya. “Aku tidak mau kau keburu diambil orang,” ucap Raiden sambil menyentil manja ujung hidung Naomi. Satu setengah tahun pernikahan yang sangat membahagiakan, meski anak tidak kunjung hadir di antara mereka. Sampai tugas negara memanggil Raiden untuk pergi ke medan perang. Raiden pergi hanya enam bulan, tetapi dia menja

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status