Share

129. Sudah Dibuang

Penulis: prasidafai
last update Tanggal publikasi: 2026-05-15 18:09:32

Mobil itu melaju di jalan lurus menuju pusat kota Lavel, dan untuk beberapa detik setelah Raiden mengucapkan kalimat terakhirnya, satu-satunya suara di dalam adalah dengung mesin dan angin yang menerobos celah jendela.

Tasya tidak langsung merespons. Namun senyumnya hilang.

“Apa maksudmu?” tanya Tasya. “Persis seperti Naomi?”

“Wajahnya sangat mirip Naomi.” Raiden menjawab datar, matanya tetap pada jalanan. “Bukan sedikit, tapi sangat mirip.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   130. Pria yang Tepat

    “Mama akan mencarikan pria yang tepat untuk menikahi Lucy.”Suara Tasya terdengar lembut.Lucy yang berdiri di balik pintu setengah terbuka langsung membeku.Di halaman belakang itu, Tasya sedang duduk di kursi rotan sambil mengusap rambut panjang Sera dengan penuh kasih sayang.Matahari pagi menembus sela dedaunan dan jatuh di wajah keduanya dengan damai.Berbanding terbalik dengan dada Lucy yang terasa seperti diremas.“Kasihan Lucy kalau terus berharap pada kakakmu,” lanjut Tasya pelan. “Raiden itu keras kepala. Kalau dia sudah memilih sesuatu, sulit diubah.”“Tapi Lucy benar-benar mencintai Kak Raiden, Ma.” Sera tampak ragu.Tasya mengembuskan napas. “Cinta saja tidak cukup untuk mempertahankan pernikahan, apalagi yang bertepuk sebelah tangan.”Kalimat itu menghantam Lucy telak. Wanita itu buru-buru mundur sebelum keberadaannya ketahuan.Air matanya mulai jatuh satu per satu. Lucy berjalan cepat kembali ke kamarnya sambil menahan napas yang terasa sesak.Begitu pintu kamar tertutu

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   129. Sudah Dibuang

    Mobil itu melaju di jalan lurus menuju pusat kota Lavel, dan untuk beberapa detik setelah Raiden mengucapkan kalimat terakhirnya, satu-satunya suara di dalam adalah dengung mesin dan angin yang menerobos celah jendela.Tasya tidak langsung merespons. Namun senyumnya hilang.“Apa maksudmu?” tanya Tasya. “Persis seperti Naomi?”“Wajahnya sangat mirip Naomi.” Raiden menjawab datar, matanya tetap pada jalanan. “Bukan sedikit, tapi sangat mirip.”Tasya membelalak.Beberapa detik Tasya hanya menatap wajah putranya dengan campuran emosi yang bergejolak dalam dadanya.“Kamu sudah bisa mengingat wajah Naomi?” tanya Tasya akhirnya.Raiden mengangguk singkat. “Ingatan itu baru kembali setelah aku terluka di pedalaman Palvenia.”Tasya perlahan bersandar ke sandaran joknya. Napas panjang keluar dari bibir wanita paruh baya itu.“Mama berharap kamu tidak pernah mengingat w

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   128. Batal

    Hari kedua Raiden berada di Lavel, barulah pria itu mendapat kesempatan menemui Jenderal Viktor yang baru kembali dari Palvenia pagi tadi.Raiden berhenti tepat di depan ruangan Jenderal Viktor.Di sampingnya, Tasya berdiri sambil melipat kedua tangan di dada. Wanita paruh baya itu tampak gelisah sejak mereka turun dari mobil.“Jujur saja, Mama masih tidak habis pikir denganmu, Raiden,” gerutu Tasya pelan sambil mengipasi wajahnya menggunakan kipas tradisional yang selalu dia bawa.“Tiba-tiba ingin membatalkan pernikahan saat kenaikan pangkatmu sudah ada di depan mata.” Tasya mendecakkan lidah pelan. “Mama tidak yakin Jenderal Viktor akan memberimu kesempatan naik pangkat setelah ini.”Raiden tidak menjawab. Tatapannya lurus ke depan.“Kamu bahkan tidak peduli Lucy sampai masuk rumah sakit kemarin,” lanjut Tasya tidak percaya. “Dia dehidrasi karena menangis seharian.”Rahang Raiden meng

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   127. Undangan Sudah Disebar

    Pintu ruangan tertutup pelan setelah dokter itu keluar.Suasana mendadak terasa jauh lebih sempit.Lucy masih berdiri di dekat ranjang pemeriksaan sambil memegangi tas kecilnya.Senyum manis sempat terbit di bibir wanita itu, seolah berharap Raiden akan mengatakan sesuatu yang menenangkan setelah mereka ditinggal berdua.Namun senyum itu perlahan memudar.Raiden justru turun dari ranjang pemeriksaan. Pria itu berjalan menuju kursi dokter di sudut ruangan.Raiden duduk di sana sambil menatap Lucy lekat.“Duduk, Lucy,” pinta Raiden sambil menunjuk kursi di hadapannya. “Banyak yang harus kita bicarakan.”Jantung Lucy langsung berdegup tidak nyaman.Tetap saja wanita itu menurut. Lucy berjalan mendekat lalu duduk perlahan di kursi yang ditunjuk Raiden.“Apa yang ingin Kak Raiden bicarakan?” tanya Lucy pelan.Raiden menyipitkan mata.“Kamu memajukan jadwal pernikahan tanpa sepengetahuanku,” jawab Raiden penuh penekanan. “Minggu depan, Lucy. Minggu depan!”Lucy tersentak.“Kak–”“Pernikahan

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   126. Kita Pasti Bertemu Lagi

    “Benar juga,” sahut Raiden pelan seakan baru menyadarinya.Nicolle tersenyum tipis. Alasan itu rupanya cukup logis untuk mengalihkan fokus Raiden.Pukul satu siang.Langit di atas posko enam berawan tipis, cukup untuk menghalangi panas tanpa benar-benar menutupi cahaya.Kendaraan militer sudah terparkir di ujung jalur tanah yang membelah area posko, mesinnya menyala sejak tadi.Dua prajurit mengangkut perlengkapan terakhir ke bagian belakang, sementara beberapa orang berdiri di sekitar untuk melepas kepergian.Nicolle berjalan di samping Raiden. Di tangannya ada map terakhir yang berisi ringkasan kondisi medis Raiden untuk diserahkan ke tim dokter di Lavel.Semuanya terasa sangat prosedural.Sampai mereka hampir tiba di dekat kendaraan dan mendapati pemandangan yang sama sekali tidak prosedural.Olivia berdiri dengan wajah basah oleh air mata, sementara Alex

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   125. Pikiran Kotor

    Nicolle membaca surat penugasan Raiden yang sudah berpindah ke tangannya, dengan wajah datar sambil berdiri di sudut posko enam yang agak sepi, jauh dari hiruk-pikuk tenaga medis yang masih bergerak di lorong utama. Cahaya pagi yang jatuh tepat di atas kertasnya, membuat tinta hitam di sana terlihat sangat jelas. [Mulai hari ini, Mayor Raiden Vargas ditugaskan kembali di Lavel.] “Bukankah kondisi Mayor Raiden belum memungkinkan untuk banyak bergerak, Dokter?” tanya Olivia yang mengantarkan surat itu dari Raiden ke Nicolle. “Operasi patah tulang di bahunya masih butuh pemantauan berkala.” Nicolle tidak langsung menjawab. Tatapan wanita itu berpindah ke map catatan medis Raiden yang dia pegang di tangan satunya, menelusuri baris demi baris. Kemudian wanita itu bersuara, “Mayor Raiden akan mendapatkan perawatan yang lebih baik dan dokter yang lebih hebat di Lavel.” Olivia membuka mulutnya, lalu menutupnya lagi. Wanita itu jelas ingin membantah, tetapi tidak menemukan celah untuk mel

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status