LOGINMantemans yang cantik dan tampan, dapat long weekend gak nih? Atau besok tetap masuk? hihi
Pintu ruangan tertutup pelan setelah dokter itu keluar.Suasana mendadak terasa jauh lebih sempit.Lucy masih berdiri di dekat ranjang pemeriksaan sambil memegangi tas kecilnya.Senyum manis sempat terbit di bibir wanita itu, seolah berharap Raiden akan mengatakan sesuatu yang menenangkan setelah mereka ditinggal berdua.Namun senyum itu perlahan memudar.Raiden justru turun dari ranjang pemeriksaan. Pria itu berjalan menuju kursi dokter di sudut ruangan.Raiden duduk di sana sambil menatap Lucy lekat.“Duduk, Lucy,” pinta Raiden sambil menunjuk kursi di hadapannya. “Banyak yang harus kita bicarakan.”Jantung Lucy langsung berdegup tidak nyaman.Tetap saja wanita itu menurut. Lucy berjalan mendekat lalu duduk perlahan di kursi yang ditunjuk Raiden.“Apa yang ingin Kak Raiden bicarakan?” tanya Lucy pelan.Raiden menyipitkan mata.“Kamu memajukan jadwal pernikahan tanpa sepengetahuanku,” jawab Raiden penuh penekanan. “Minggu depan, Lucy. Minggu depan!”Lucy tersentak.“Kak–”“Pernikahan
“Benar juga,” sahut Raiden pelan seakan baru menyadarinya.Nicolle tersenyum tipis. Alasan itu rupanya cukup logis untuk mengalihkan fokus Raiden.Pukul satu siang.Langit di atas posko enam berawan tipis, cukup untuk menghalangi panas tanpa benar-benar menutupi cahaya.Kendaraan militer sudah terparkir di ujung jalur tanah yang membelah area posko, mesinnya menyala sejak tadi.Dua prajurit mengangkut perlengkapan terakhir ke bagian belakang, sementara beberapa orang berdiri di sekitar untuk melepas kepergian.Nicolle berjalan di samping Raiden. Di tangannya ada map terakhir yang berisi ringkasan kondisi medis Raiden untuk diserahkan ke tim dokter di Lavel.Semuanya terasa sangat prosedural.Sampai mereka hampir tiba di dekat kendaraan dan mendapati pemandangan yang sama sekali tidak prosedural.Olivia berdiri dengan wajah basah oleh air mata, sementara Alex
Nicolle membaca surat penugasan Raiden yang sudah berpindah ke tangannya, dengan wajah datar sambil berdiri di sudut posko enam yang agak sepi, jauh dari hiruk-pikuk tenaga medis yang masih bergerak di lorong utama.Cahaya pagi yang jatuh tepat di atas kertasnya, membuat tinta hitam di sana terlihat sangat jelas.[Mulai hari ini, Mayor Raiden Vargas ditugaskan kembali di Lavel.]“Bukankah kondisi Mayor Raiden belum memungkinkan untuk banyak bergerak, Dokter?” tanya Olivia yang mengantarkan surat itu dari Raiden ke Nicolle. “Operasi patah tulang di bahunya masih butuh pemantauan berkala.”Nicolle tidak langsung menjawab. Tatapan wanita itu berpindah ke map catatan medis Raiden yang dia pegang di tangan satunya, menelusuri baris demi baris.Kemudian wanita itu bersuara, “Mayor Raiden akan mendapatkan perawatan yang lebih baik dan dokter yang lebih hebat di Lavel.”Olivia membuka mulutnya, lalu menutupnya lagi. Wanita itu jelas ingin membantah, tetapi tidak menemukan celah untuk melakuka
Tatapan Raiden perlahan berubah.Pria itu tidak langsung menjawab ucapan Olivia. Namun sorot matanya yang semula dingin mulai melemah sedikit demi sedikit, seolah ada sesuatu yang berhasil menembus pertahanannya.Olivia menarik napas pelan sebelum kembali bicara.“Saya tidak bermaksud lancang, Mayor. Namun menurut saya, menjalankan perintah dan memperjuangkan seseorang yang Mayor cintai bukanlah dua hal yang harus saling mengalahkan.”Alex refleks melirik Olivia sekilas.Tatapan pria itu penuh keterkejutan, tidak percaya Olivia benar-benar cukup nekat mengatakan semua itu langsung di depan Raiden Vargas.Apalagi di tengah kondisi seperti sekarang.“Kadang …” Wanita itu berkata lebih pelan, “seseorang menyesal bukan karena pernah melawan keadaan. Tapi karena terlambat menyadari siapa yang sebenarnya paling ingin dia pertahankan.”Suasana di dalam tenda mendadak sunyi.
Raiden menoleh pelan ke arah Nicolle. Entah kenapa, kalimat terakhir Nicolle terasa seperti tamparan baginya.“Pria yang katanya sangat mencintai saya, ternyata sibuk menyenangkan wanita lain, sementara saya dan anaknya tengah berjuang untuk tetap hidup.”Raiden memperhatikan Nicolle cukup lama sebelum akhirnya bertanya pelan, “Ayah kandung Aveline?”Nicolle mengangguk. Senyum penuh ejekan terbit di bibir wanita itu.“Namun kalau dipikir-pikir, Mayor dan Lucy memang sangat cocok.”“Maksud Dokter?” Raiden langsung menatap tajam.Nicolle terkekeh pelan.“Mayor juga sibuk mendekati wanita lain, bahkan menciumnya dan mengatakan wanita itu adalah permen favorit Mayor, saat calon istri Mayor sibuk mengurus berkas pernikahan kalian.” Tatapan Nicolle berubah sinis.Raiden mendengkus kasar.Tatapan pria itu berubah gelap sebelum akhirnya membalas tidak
“Wajah Naomi … sama persis dengan wajah Dokter Nicolle.”Kalimat itu terus berdengung di kepala Nicolle.Namun beberapa detik kemudian, wanita itu memaksa dirinya menarik napas pelan. Jemarinya mengepal samar di balik map pasien sebelum akhirnya dia membuka suara.“Mungkin itu hanya efek trauma pascaluka. Mayor baru melewati kondisi kritis. Halusinasi atau distorsi ingatan bisa saja terjadi.”Raiden langsung menggeleng pelan.“Tidak. Kali ini saya sangat yakin.” Tatapan gelap Raiden kembali mengunci wajah Nicolle. “Dokter sangat mirip Naomi.”Nicolle kehilangan kata-kata.Untuk sesaat, wanita itu hanya mampu duduk diam sambil menahan napas yang mulai terasa berat.“Dan sebenarnya …” Pria itu berkata pelan sambil mengernyit menahan nyeri di kepalanya, “saya juga merasa aneh saat pertama kali melihat Aveline.”Jantung Nicolle langsung berdetak keras.







