Se connecterDokter itu melirik Naomi, seolah memastikan apakah wanita itu boleh mendengar tentang kondisi Vance atau tidak.“Dia aman,” sela Brandon meyakinkan.Dokter itu akhirnya menganggguk.“Jenderal Vance sudah melewati masa kritis.”Naomi mengembuskan napas lega.Namun sebelum rasa lega itu benar-benar terbentuk, dokter tersebut melanjutkan kalimatnya.“Tetapi sampai sekarang beliau masih belum sadarkan diri.”Naomi terdiam beberapa detik di depan pintu ruang VVIP itu.Setelah dokter itu pergi, Brandon mempersilakan, “Silakan.”Naomi mengangguk sambil mengerjapkan mata beberapa kali.Wanita itu menggenggam erat handle pintu, sementara napasnya terasa sedikit berat di balik masker.Di sampingnya, Aveline mendongak bingung.“Mama?” panggil gadis kecil itu pelan.Naomi akhirnya tersadar dari lamunannya. Wanita it
Naomi mengangkat kedua alisnya. “Pindah rumah sakit?” ulang wanita itu pelan, jelas terkejut. Tatapan Naomi langsung beralih pada Brandon, meminta penjelasan lebih lanjut. “Tidak dijelaskan alasan dan ke mana Mayor dipindahkan. Data seorang Mayor pasti bersifat rahasia,” jelas Brandon. Naomi terdiam beberapa detik. Wanita itu melirik Aveline yang masih berdiri di depannya dengan wajah kecewa. Naomi mengembuskan napas perlahan. “Mama juga tidak tahu, Ave.” Aveline langsung menegakkan badannya dengan wajah penuh solusi yang dia pikir sangat jenius. “Coba telepon, Ma!” usul Aveline. Naomi refleks melirik ponselnya sendiri yang tergeletak di atas meja. Brandon ikut melirik, diam-diam penasaran apakah Naomi benar-benar akan melakukannya. Aveline menggu
Brandon menatap pintu kamar Naomi yang masih tertutup rapat.Tidak ada suara dari balik pintu itu.Brandon teringat ucapan Naomi semalam bahwa wanita ingin tidur lama sebelum berangkat ke Lavel.Brandon melirik jam di dinding. Pukul lima lewat tujuh menit.Lalu melirik ke bawah.Aveline mendongak ke arahnya dengan mata berbinar penuh harap dan pipi yang menggemaskan seolah sudah tahu bahwa wajah itu adalah senjata paling ampuh untuk mendapatkan keinginannya.“Bagaimana, Paman?”Brandon mengusap wajahnya kasar.Beberapa menit kemudian, Aveline sudah duduk rapi di kursi belakang mobil dengan sabuk pengaman terpasang.Gadis kecil itu tersenyum lebar.Brandon menghidupkan mesin sambil menatap pintu rumah sekali lagi dari kaca spion.“Paman Blandon, cepat!” Aveline mengayunkan kakinya.“Paman tahu.” Brandon menarik tuas pe
Naomi menatap Lucy beberapa detik tanpa berkedip.Senyum tipis di bibir wanita itu tidak berubah sedikit pun, tetapi justru itulah yang membuat Lucy perlahan kehilangan kata-kata.Koridor rumah sakit mendadak terasa sunyi.Lucy yang biasanya selalu pandai memainkan ekspresi manis dan suara lembut kini hanya berdiri kaku dengan tenggorokan tercekat.Jemari wanita itu mencengkeram tas kecil di tangannya semakin erat.Sementara Naomi sama sekali tidak berniat melanjutkan percakapan itu.“Aku lelah, Lucy,” ucap Naomi akhirnya dengan suara datar. “Jadi kalau kamu mau mengancamku, lakukan lain kali saat aku tidak mengantuk.”Setelah itu Naomi langsung berbalik.Lucy tidak mengejarnya.Wanita itu hanya terpaku sambil menatap punggung Naomi yang berjalan menjauh tanpa sedikit pun terlihat terganggu.Ruang residen masih cukup ramai meski hari sudah larut
Sera memelotot tajam.“Kamu–”“Sera!” bentak Raiden memotong ucapan adiknya.Sera mematung.Semua orang di ruangan itu menoleh ke arah ranjang secara bersamaan.Raiden sudah melepas masker oksigennya lagi. Wajah pria itu tampak pucat, tetapi tatapannya tetap tajam.Naomi melangkah mendekat untuk memasang kembali masker itu.Namun Raiden mengangkat satu tangan, menolaknya.“Sera.” Raiden menatap adiknya lurus. “Kamu baru bertemu dua kali dengan Nicolle, dan kamu sudah menganggap dia punya hati yang kotor.”Sera membuka mulutnya.“Tapi Nicolle tidak pernah sekalipun menjelek-jelekkan kamu dengan rumor sampah.” Raiden melanjutkan sebelum Sera sempat menyela. “Seperti yang kamu lakukan padanya. Jadi sebenarnya, apa masalahmu?”Naomi mengangkat kedua alisnya tipis.Walaupun Raiden membelanya dengan nama Nicolle, tetap saja ada sesuatu berdesir hangat dalam hatinya.Jantung
Naomi perlahan menoleh.Tiga pasang mata memindai Naomi dari ujung kepala hingga ujung kaki.Naomi membalas tatapan itu satu per satu.Lucy tampak paling kacau di antara mereka. Rambut wanita itu sedikit berantakan, napasnya terengah, dan kedua matanya sembap seperti habis menangis sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.Berbeda dengan Lucy, Sera berdiri tegak. Tatapan wanita itu langsung tertuju pada Naomi tanpa berusaha menyembunyikan penilaian tajam di matanya.Sementara Tasya justru tampak sibuk memperhatikan Naomi penuh penasaran.“Ini biasa terjadi, Ma,” ucap Raiden pelan dari balik masker oksigennya, suaranya berat dan terdengar terbata-bata. “Tidak perlu sampai ke sini.”“Biasa?” Tasya langsung mendekat ke sisi ranjang. “Bisa-bisanya kamu bilang begitu saat terbaring tidak berdaya seperti ini!”“Mama terlalu panik,” gumam Raiden lemah.“Diam.” Tasya







