Share

3. Gadis Itu Datang

Author: prasidafai
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-24 15:14:25

“Apa anak perempuan tidak perlu dijaga, Ma? Apa Raiden juga berpikir seperti Mama?” tanya Naomi lagi sambil menatap ibu mertuanya tidak percaya.

“Apa maksudmu?” Tasya justru balik bertanya dan menatap Naomi dengan tatapan yang sama. “Kau sedang menyalahkan Mama dan Raiden? Kau yang tidak hati-hati sampai terpleset di kamar mandi!”

“Mama yang bicara seolah anak perempuan tidak perlu dijaga dan diperhatikan. Dan asal Mama tahu, aku terpleset karena aku sudah mulai kesulitan membersihkan kamar mandi. Aku sudah minta tolong Raiden, tetapi dia terlalu sibuk bekerja.”

Tasya menatap tajam Naomi.

“Sekarang Mama paham kenapa Raiden mengabaikan kamu. Kamu tidak pernah mau salah dan selalu membolak-balikkan perkataan orang tua!” tegur Tasya dengan napas yang mulai memburu.

Tasya mengambil tasnya di atas nakas dan melanjutkan, “Kamu itu istri seorang abdi negara, Naomi! Raiden baru saja diangkat menjadi Mayor, tentu saja dia sibuk mengabdi pada negara. Itu risiko yang harus kamu tanggung sejak kamu mengiyakan lamarannya. Mama pergi sekarang, kamu pulang sendiri saja. Dari dulu kalau diajak bicara, kamu tidak pernah mau kalah! Cuma bikin emosi saja!”

Setelah Tasya pergi, air mata Naomi mengalir deras. Dia ingin meminta Raiden untuk menjemputnya, tetapi kata-kata Tasya terus berputar dalam kepalanya.

Akhirnya Naomi terpaksa menyimpan kembali ponselnya. Naomi hanya akan mendapat penolakan, jika menghubungi Raiden.

Naomi sudah cukup menerima segala penolakan Raiden sebelumnya. Apalagi Raiden juga sempat menegaskan bahwa membesarkan dan melahirkan anak ini dalam keadaan sehat adalah tanggung jawab Naomi.

Saat Naomi pulang, Raiden belum tiba di rumah. Padahal jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.

Ponsel Naomi berdenting. Naomi segera memeriksa pesan dari Raiden.

[Aku lembur dan sudah makan malam. Tidak perlu menungguku.]

Naomi menghela napas panjang. Namun malam itu, dia tidak langsung tidur.

Wanita itu pergi ke kamar mandi dan membersihkan lantai supaya tidak licin. Walaupun terkadang perutnya terasa kram atau kepalanya berputar, Naomi tetap melanjutkan pekerjaannya.

“Sayang,” ucap Naomi sambil mengelus perutnya saat kram kembali menyerang. “Mama bisa menjagamu sendirian. Jadi percayalah kalau Mama bisa menjadi orang tuamu, lahirlah ke dunia dengan sehat.”

Walaupun Tasya tidak antusias dengan kehamilan Naomi, wanita paruh baya itu tetap mengadakan perayaan untuk kehamilan menantunya saat Raiden punya waktu luang.

Rumah dinas Raiden menjadi pilihan Tasya untuk mengadakan acara perayaan itu. Dia mengundang beberapa tetangga yang merupakan istri perwira, sanak saudara, dan kenalan dekat.

Walaupun tajuk acara tersebut adalah perayaan kehamilan Naomi, tetapi pesta itu lebih terlihat seperti ajang Tasya memamerkan keberhasilan Raiden. Sementara Naomi hanya menjadi pajangan yang tidak penting dalam acara itu.

“Senyum, Naomi. Kau daritadi cemberut terus,” tegur Raiden yang berdiri di sebelahnya.

Tanpa menoleh, Naomi menjawab sambil tersenyum, “Mayor Raiden rupanya masih memperhatikanku, ya?”

Raiden mengernyitkan dahi. Pria itu menatap Naomi yang tengah merapikan rambut hitam panjangnya ke belakang telinga.

“Kenapa kau selalu cari ribut denganku?” tanya Raiden. “Ini acara yang keluargaku siapkan untukmu, tapi kau bahkan tidak bisa menghargaiku.”

Naomi akhirnya menoleh. Air mata sudah berkumpul di pelupuk matanya.

“Oh ya, apa benar ini acara untukku? Orang-orang terus memujimu, tapi di belakangmu, mereka berbisik bahwa aku adalah istri yang tidak dianggap oleh suaminya. Bahkan mungkin mereka tengah menonton kita dan menyaksikan secara langsung bahwa apa yang mereka katakan benar. Kau menatapku seperti menatap seorang musuh, Raiden!” Naomi tidak bisa menahan badai yang melanda hatinya.

Tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang, Naomi beranjak dari tempat utama acara dan pergi keluar.

Sera Vargas, adik kandung perempuan Raiden, segera menghampiri Naomi.

“Bertengkar lagi?” tanyanya. “Kalau aku jadi Kak Naomi, aku tidak akan membebani Kak Raiden dengan mengeluh. Tugas negara sudah menyulitkannya, Kak Naomi seharusnya lebih pengertian, sebelum wanita lain yang melakukannya.”

Tanpa menunggu respons Naomi, Sera pergi ke dalam. Seolah dia mengatakan itu memang hanya untuk semakin menekan posisi Naomi.

Setelah perayaan usai, Tasya dan Sera langsung kembali ke rumahnya. Sementara Raiden dipanggil bertugas.

Lagi-lagi Naomi sendiri yang harus membersihkan rumah yang sangat berantakan dan penuh dengan sampah.

Saat melihat dekorasi dinding dari balon huruf bertuliskan ‘Perayaan Kehamilan Naomi dan Raiden’, Naomi menjadi sensitif. Hatinya seperti tersayat-sayat.

“Di mana letak perayaannya, jika aku sama sekali tidak bahagia?” tanya Naomi dengan suara bergetar menahan tangis. “Kehamilan Naomi dan Raiden? Apa bisa disebut seperti itu, jika mengusap perutku dan merasakan gerakan anaknya saja, Raiden tidak pernah.”

Penderitaan Naomi tidak berhenti sampai di situ.

Suatu siang saat Naomi sedang memasak, Raiden tiba-tiba pulang. Entah mengapa, jantung Naomi berdetak tidak karuan saat mendapati ketukan pintu dari suaminya.

“Ini aku Raiden. Bukakan pintunya, Naomi.”

Naomi bergegas mematikan kompor dan melangkah cepat untuk membukakan pintu.

Pintu terbuka. Baru saja Naomi hendak bertanya ada apa Raiden pulang siang hari, tetapi kata-kata itu segera tertelan di kerongkongannya saat melihat ada seorang gadis yang berdiri di sebelah Raiden.

“Naomi, ini Lucy. Mulai hari ini, Lucy akan tinggal bersama kita,” tukas Raiden dengan tegas.

“Aku juga sudah laporan dan kantor setuju Lucy tinggal di sini,” sambung Raiden tanpa rasa bersalah.

“Apa?” Naomi mengernyitkan dahi.

“Halo? Kak Naomi, ya?” Gadis di sebelah Raiden menyapa Naomi sambil melambaikan tangan dengan ceria. “Aku Lucy Miller, adik dari sahabat Kak Raiden yang gugur di medan perang beberapa waktu lalu. Aku janji, aku tidak akan merepotkan Kakak!”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   215. Tukang Ngambek

    “Tante ....”Suara Naomi nyaris tidak terdengar.Melihat wanita yang selama bertahun-tahun selalu tampak tegar kini menangis tanpa mampu mengendalikan diri, dada Naomi terasa sesak.Tanpa berpikir panjang, Naomi bangkit dari kursinya. Dia perlaahan memeluk Tasya.Pelukan itu membuat Tasya sesaat membeku. Detik berikutnya, seluruh pertahanan wanita paruh baya itu runtuh.“Maaf ... maaf ....” Isaknya pecah semakin keras.Tasya membalas pelukan Naomi sambil menangis tanpa suara. Bahunya bergetar hebat. Air mata terus mengalir hingga membasahi bahu dan dada pakaian Naomi.Naomi hanya mengusap pelan punggung wanita paruh baya itu.Tidak ada lagi kata-kata yang perlu diucapkan. Kadang, tangisan adalah cara terbaik untuk mengeluarkan semua penyesalan yang terlalu lama dipendam.Naomi memejamkan mata.Selama ini Naomi selalu berpikir bahwa orang-orang yang menyakitinya harus menerima balasan dari tanga

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   214. Dihukum

    Naomi perlahan meletakkan sendoknya.“Papa hanya ingin Raiden fokus pada kasus,” ucap Naomi tenang. “Dan supaya Raiden bisa fokus, tentu Papa harus melindungi orang-orang yang Raiden sayang.”Tasya mengangguk pelan.Senyum tipis muncul di bibir wanita paruh baya itu, tetapi matanya masih menyimpan kesedihan yang sulit disembunyikan.“Ya,” balas Tasya lirih. “Untuk itu saya sangat berterima kasih. Namun tetap saja, sepertinya sebanyak apa pun kami meminta maaf dan berterima kasih, itu tetap tidak akan setimpal dengan apa yang terjadi pada Naomi.”Naomi hanya membalas dengan senyum tipis yang terasa canggung.Bagaimanapun juga, orang yang sedang meminta maaf kepadanya tidak tahu bahwa Naomi yang dibicarakan sedang duduk tepat di depannya.Keheningan kembali memenuhi meja makan.“Kenapa saya merasa Tante seperti orang yang berbeda dibanding saat hari pemakaman Lucy, bahkan dibanding saat kita bertemu di rumah sakit

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   213. Seperti Putri Sendiri

    Pisau di tangan Tasya berhenti tepat di tengah potongan wortel. Bahu Tasya sedikit menegang. Mata yang tadi tenang kini tampak berkaca-kaca.Tasya berbalik menatap Naomi sambil tersenyum. Senyum yang begitu tulus hingga membuat Naomi sedikit kehilangan kata-kata.“Tidak perlu,” jawab Tasya lembut. “Kecuali kamu mau istirahat, silakan pakai kamar depan.”Naomi berkedip. Reaksi itu sama sekali tidak sesuai dengan yang dia bayangkan.Kalau ini terjadi sembilan tahun lalu, Tasya mungkin sudah menyerahkan sapu, pel, lap meja, dan daftar pekerjaan rumah lain sebelum Naomi sempat duduk.Namun sekarang? Wanita paruh baya itu justru mempersilahkannya beristirahat.“Kenapa kami diperlakukan berbeda?”Pertanyaan itu keluar begitu saja.Tasya terdiam.Sementara Naomi menggenggam sandaran kursi. Sebenarnya bukan itu yang ingin dia tanyakan.Yang ingin Naomi ketahui adalah kenapa Tasya berubah? Kenapa wanita

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   212. Menjadi Tamu

    “Dokter Nicolle mengenalnya?” Bisikan itu muncul tepat di belakang telinga Naomi.“Ah!” Naomi tersentak keras. Jantung Naomi seperti melonjak ke tenggorokan. Secara refleks dia melompat menjauh sambil memegangi dada.Beberapa langkah darinya, Tasya berdiri dengan wajah penuh penyesalan.“Maaf.” Wanita paruh baya itu mengangkat kedua tangannya. “Saya tidak bermaksud membuat Dokter kaget.”Naomi mengembuskan napas panjang. Dadanya masih naik turun akibat kejutan mendadak itu.“Tidak apa-apa,” jawab Naomi setelah napasnya kembali normal.Naomi melihat Tasya membawa sebuket bunga mawar putih segar. Tampaknya wanita paruh baya itu hendak mengunjungi makam Lucy.Pandangan Naomi kembali mengarah ke makam Lucy.Dante masih berada di sana.Pria itu berdiri membelakangi mereka. Bahunya sesekali bergetar. Entah sedang menangis atau tenggelam dalam pikirannya sendiri. Yang jelas, dia sama sekali tidak men

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   211. Sebelum Hari Kematian

    Senyum mengejek Viktor tidak langsung menghilang.Pria itu bersandar santai di kursinya, seolah posisi sebagai narapidana yang menunggu hukuman mati tidak mengubah apa pun.Namun Naomi tetap tenang.“Tidak,” jawab Naomi pelan. “Ada hal lain yang ingin saya ketahui.”Viktor mendengkus.“Kamu pikir saya akan memberitahumu?” tanya Viktor sinis. “Apa pun yang ingin kamu ketahui itu, Naomi Frances?”Nada suaranya dipenuhi ejekan, seolah nama keluarga Frances adalah sesuatu yang menjijikkan.Naomi memejamkan mata sesaat. Wanita itu menarik napas panjang.Dia datang bukan untuk bertengkar. Apalagi membiarkan Viktor mengendalikan emosinya.Saat membuka mata kembali, Naomi langsung menatap pria itu.“Soal Lucy,” ucap Naomi. “Apa benar bukan Anda yang melakukannya?”Tatapan Viktor spontan menajam. Senyum mengejek di bibirnya perlahan memudar.“Seperti hasil persidangan.” Viktor akhirnya

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   210. Dua Anak Berbakat

    Gideon berdeham pelan sambil menatap satu per satu orang yang masih berada di halaman belakang. Semua mata tertuju kepadanya, menunggu apa pun yang akan keluar dari mulutnya.Semua orang, kecuali Vance. Karena hanya mereka berdua yang selama ini mengetahui cerita itu.Gideon akhirnya menoleh pada bawahan paling setianya itu.“Bagaimana, Vance?” tanya Gideon pelan. “Ini cerita tentang kedua putrimu. Saya akan menghormati keputusanmu sebagai ayah mereka.”Seketika seluruh perhatian beralih kepada Vance.Pria itu diam cukup lama. Lalu mendengkus.“Rencananya, cerita ini tidak akan disembunyikan selama ini,” ucap Vance akhirnya. “Perasaan bersalah saya pada Naomi begitu besar. Sampai-sampai saya takut menceritakan kondisi kesehatan adiknya.”Vance menatap putrinya.Jantung Naomi berdegup lebih cepat.“Sekitar 28 tahun lalu,” lanjut Vance pelan, “saat Naomi berusia tiga tahun, Nicolle yang baru berusia satu

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   52. Aveline Aman Di Sini

    Baru kali ini Nicolle melihat Henry membeku. Walaupun hanya sesaat, sebelum pria itu akhirnya bersuara. “Sejak kapan Dokter Nicolle punya pikiran buruk seperti itu pada saya?” Kali ini giliran Nicolle yang membeku.

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   51. Keputusan Nicolle

    Nicolle tidak segera membalas. Ponsel itu masih terbuka di tangannya dengan layar menyala. Pesan dari Henry tergantung tanpa jawaban. Nicolle menggigit ujung kukunya beberapa kali, kebiasaan buruk yang selalu muncul ketika pikirannya sedang berp

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   50. Raiden atau Aveline?

    “Saya tidak tahu, Dokter Henry,” sahut Nicolle tidak bisa memberikan jawaban langsung seperti Olivia. Suara Nicolle terdengar pelan, tetapi cukup tegas untuk menghentikan udara di ruangan itu sejenak. Henry menatap Nicolle tanpa berkedip. Nicolle menggeleng perlahan. “Saya punya seorang putri

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   49. Bertemu Raiden Lagi?

    “Lepaskan saya! Kalian tidak punya hak!” Suara Brad menggema di ruang IGD. Dua polisi memegang lengannya dari kedua sisi. Brad meronta, wajahnya memerah, dan urat di lehernya menegang. Seorang perawat perlu melipatgandakan fokusnya saat mencabut infus dari

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status