Share

38. Jaraknya Sangat Tipis

Author: prasidafai
last update publish date: 2026-04-12 15:00:37

Sendok logam di tangan Nicolle beradu dengan kotak makan, menimbulkan suara yang cukup keras.

Nicolle bahkan tidak berusaha menahannya. Dia menyendok nasi dan lauk dengan sedikit kasar, lalu memasukkan semuanya ke mulut dan mengunyah dengan cepat.

Di seberang meja, Dante mengangkat alis.

“Kamu makan seperti sedang balapan,” komentar Dante.

“Aku berpacu dengan waktu. Beginilah cara residen makan seharusnya,” sahut Nicolle santai.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (5)
goodnovel comment avatar
rianur378
Raiden baru merasa cinta saat ditinggalkan,,, selama ini dia g perduli rasa sakitnya Naomi
goodnovel comment avatar
wh1teF1sh
Dante aja nyadar...
goodnovel comment avatar
wh1teF1sh
dan samaa, lebih suka pahaaa...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   146. Aku Suka Borgol

    Sera memelotot tajam.“Kamu–”“Sera!” bentak Raiden memotong ucapan adiknya.Sera mematung.Semua orang di ruangan itu menoleh ke arah ranjang secara bersamaan.Raiden sudah melepas masker oksigennya lagi. Wajah pria itu tampak pucat, tetapi tatapannya tetap tajam.Naomi melangkah mendekat untuk memasang kembali masker itu.Namun Raiden mengangkat satu tangan, menolaknya.“Sera.” Raiden menatap adiknya lurus. “Kamu baru bertemu dua kali dengan Nicolle, dan kamu sudah menganggap dia punya hati yang kotor.”Sera membuka mulutnya.“Tapi Nicolle tidak pernah sekalipun menjelek-jelekkan kamu dengan rumor sampah.” Raiden melanjutkan sebelum Sera sempat menyela. “Seperti yang kamu lakukan padanya. Jadi sebenarnya, apa masalahmu?”Naomi mengangkat kedua alisnya tipis.Walaupun Raiden membelanya dengan nama Nicolle, tetap saja ada sesuatu berdesir hangat dalam hatinya.Jantung

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   145. Terbagi Dua

    Naomi perlahan menoleh.Tiga pasang mata memindai Naomi dari ujung kepala hingga ujung kaki.Naomi membalas tatapan itu satu per satu.Lucy tampak paling kacau di antara mereka. Rambut wanita itu sedikit berantakan, napasnya terengah, dan kedua matanya sembap seperti habis menangis sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.Berbeda dengan Lucy, Sera berdiri tegak. Tatapan wanita itu langsung tertuju pada Naomi tanpa berusaha menyembunyikan penilaian tajam di matanya.Sementara Tasya justru tampak sibuk memperhatikan Naomi penuh penasaran.“Ini biasa terjadi, Ma,” ucap Raiden pelan dari balik masker oksigennya, suaranya berat dan terdengar terbata-bata. “Tidak perlu sampai ke sini.”“Biasa?” Tasya langsung mendekat ke sisi ranjang. “Bisa-bisanya kamu bilang begitu saat terbaring tidak berdaya seperti ini!”“Mama terlalu panik,” gumam Raiden lemah.“Diam.” Tasya

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   144. Akhirnya Kamu Mengerti

    Naomi membuka mulutnya. Namun tidak ada kata yang keluar.Pertanyaan itu, yang pernah Naomi lempar begitu saja di hari peresmian gedung RSPU II seperti batu yang dibuang ke sungai tanpa tahu ke mana arahnya, sekarang kembali ke permukaan.“Menurutmu kenapa saya sampai memilih mati?”“Apa kamu pikir seseorang akan mengubur identitasnya sendiri kalau dia masih punya alasan untuk bertahan?”Saat itu Naomi tidak mengira Raiden akan benar-benar memikirkan pertanyaan itu.Malam ini, di ruangan yang berbau antiseptik dan hanya diterangi lampu tidur yang redup, pria itu menjawabnya.Suasana ruangan mendadak hening setelah Raiden akhirnya mengakui kegagalannya sebagai suami.Naomi perlahan menundukkan pandangan ke sisi ranjang yang kini digenggamnya tanpa sadar, ujung jarinya memutih.“Dulu, aku terlalu sibuk menyalahkanmu. Tidak pernah sekalipun aku bertanya, seberapa menderitanya

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   143. Jawaban Raiden

    Naomi berhenti mengangguk.Lucy, Sera, dan Tasya akan ke sini?“Dokter Nicolle.”Suara Henry membuat Naomi kembali.“Ya.” Naomi menjawab. “Saya mengerti, Dokter Henry. Saya akan menyampaikannya.”Panggilan itu sudah berakhir. Namun Naomi tidak bergerak.Punggung Naomi masih menempel di dinding lorong yang dingin, matanya tertuju pada layar yang sudah mati di tangannya.Di dalam kepalanya, kalimat terakhir Henry bergema.“Ibu, adik, dan mantan calon istrinya.”Naomi mengembuskan napas panjang.“Sesaat, aku lupa kalau Raiden punya tiga wanita menyebalkan yang mengelilinginya,” gumam Naomi pelan.“Dokter!”Olivia tiba-tiba muncul di ambang pintu.Sebelum Naomi sempat bereaksi, perawat itu langsung menarik tangannya.“Ikut saya!”“Tunggu!”Namun Olivia tidak memberi

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   142. Bukan Salah Aveline

    “Mayor Raiden membutuhkan penanganan secepatnya,” sahut Henry akhirnya dengan rahang mengeras. “Ini bukan waktunya memilih dokter.” “Dokter Henry.” Olivia tiba-tiba menyela. Semua orang menoleh ke arah perawat itu secara bersamaan, termasuk Henry yang tatapannya langsung mengeras. Olivia menelan ludah sebelum melanjutkan dengan nekat. “Dokter Nicolle yang mengoperasi bahu Mayor Raiden waktu itu. Jika harus ada operasi ulang, lebih baik Dokter Nicolle yang melakukannya lagi.” Tatapan Henry langsung berubah tajam. Perawat itu memamerkan giginya dengan canggung. “T-tentu saja, itu semua bisa dilakukan dalam pengawasan Dokter Henry.” “Saya sudah mempelajari seluruh riwayat operasi Mayor Raiden sebelumnya.” Naomi menambahkan tanpa ragu. “Kondisi bahunya bukan sesuatu yang asing bagi saya. Jika ada perubahan sekecil apa pun saat operasi berlangsung, saya bisa langsung mengenalinya lebih cepat dari siapa pun.” Henry mendengkus pelan. Matanya berpindah dari Olivia, ke Naomi

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   141. Dilarang Keras Kepala

    “Mundur!” Suara Raiden menggema keras di tengah koridor yang dipenuhi asap hitam. Namun sebelum Naomi sempat membalas, pria itu sudah lebih dulu menerobos masuk ke area runtuhan. “Mayor!” teriak Naomi panik. Langkah Raiden menghantam pecahan kaca di lantai. Asap tebal membuat mata pria itu perih, tetapi tatapannya tetap lurus tertuju pada tubuh kecil Aveline yang terjebak di balik lemari roboh. Brak! Lemari besar itu bergeser lagi akibat getaran dari langit-langit yang mulai runtuh sedikit demi sedikit. “Paman ….” Aveline menangis semakin keras. Raiden langsung menahan sisi lemari itu dengan tubuhnya sendiri sebelum benda berat tersebut menimpa Aveline sepenuhnya. Otot di bahunya langsung menegang hebat. “Nggh!” Rahang Raiden mengeras saat rasa nyeri menusuk dari bekas operasi di bahu kirinya. Luka yang bahkan belum pulih sempurna itu terasa seperti disobek dari dalam. “Mayor!” Naomi refleks maju satu langkah. “Jangan bergerak!” bentak Raiden. Suara pria itu terdengar be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status