LOGINMein Mafia-Ehemann Alessio schlief mit seiner Stiefschwester Sophia. Im Auto, im Arbeitszimmer, im Badezimmer, sogar auf dem Esstisch – überall hinterließen sie Spuren ihrer Affäre. „Sophia, keine Sorge. Sobald ich meine Stellung in der Familie gefestigt habe, werde ich dir alles geben.“ „Blair… sie ist nur ein Werkzeug, um meine Position zu sichern.“ In unseren acht Ehejahren hatte er die süßesten Worte der Welt in mein Ohr geflüstert. Jetzt war seine Hingabe nichts mehr wert. Ich weinte nicht und machte keine Szene. Stattdessen traf ich eine Abmachung auf dem Schwarzmarkt. In zwei Wochen würde Blair Greco für immer aus dieser Welt verschwinden.
View More“Ah… Kak Rafi, lebih cepat...!”
Suara desahan dan erangan yang saling bersahutan dari dalam kamar hotel itu membuat tubuh Ara mematung di depan pintu. Jantungnya berdegup cepat. Dadanya terasa sesak dan tubuhnya langsung bergetar hebat. “Oh… kamu cantik sekali, Sayang. Kamu sangat seksi!” Tangan Ara terkepal kuat mendengar suara familiar itu. Suara yang selama ini memanggil namanya penuh cinta, kini terdengar begitu menjijikkan. Brak! Begitu Ara menyentak pintu hingga terbuka, pemandangan itu menghantamnya seperti petir di siang bolong. Rafi, kekasih yang sudah dijodohkan dengannya sejak kecil, sedang bersenggama mesra di atas ranjang dengan Ana—adik angkat Ara sendiri. Mata Rafi membelalak kaget, sementara Ana hanya menunduk dengan senyum tipis yang justru membuat darah Ara mendidih. “Ini yang kamu bilang nggak enak badan?” tanya Ara dengan suara getir. “A-Ara, ini nggak seperti yang kamu pikir—” Rafi tergagap, segera bangkit dan memungut pakaiannya yang tercecer di lantai. “Stop!” sela Ara sambil mundur satu langkah. Ia menggeleng sambil menahan air mata. “Aku nggak mau dengar apapun.” “Tunggu dulu, Sayang, dengerin penjelasan aku!” teriak Raffi segera mengenakan pakaiannya dan mengejar Ara. Tapi Ara tidak peduli. Ia pergi meninggalkan mereka tanpa menoleh lagi. Langkahnya cepat, hampir berlari menembus koridor hotel. Ia langsung mencegat taksi yang berhenti di lobi. “StarClub!” ucap Ara lirih namun tegas pada sopir taksi, suaranya bergetar seperti menahan sesuatu yang nyaris pecah. Di dalam taksi, Ara menatap kosong ke luar jendela. Bulir-bulir air mata jatuh tanpa ia bisa hentikan. Tangannya gemetar di pangkuan, dan napasnya berat, terputus-putus. Tadinya ia, Rafi, dan Ana menghadiri acara reuni SMA yang diadakan di hotel tersebut. Namun, di tengah acara, Rafi mengeluh tidak enak badan sehingga Ara menyarankannya untuk beristirahat di kamar. Tapi ternyata Rafi malah sibuk bermain api di belakangnya, dengan adik angkatnya sendiri! Tak butuh waktu lama, taksi itu pun tiba di sebuah club. Musik dentuman bass dari dalam terdengar hingga ke jalan, membuat dada bergetar. Ara segera turun setelah membayar, dan melangkah cepat menuju pintu masuk. Aroma parfum bercampur alkohol langsung menyergap hidungnya. Lampu-lampu stroboskop menari di udara, menyorot wajah-wajah orang yang sedang larut dalam musik dan tawa. “Vodka, yang paling kuat,” katanya singkat pada bartender. Gelas pertama ia tenggak habis dalam sekali teguk. Panas alkohol mengalir di tenggorokannya, memberi rasa perih yang entah mengapa terasa cocok dengan hatinya saat ini. “Brengsek! Bajingan! Kalian berdua jahat!” maki Ara di sela isak tangisnya. Ia memesan minuman lagi. Tangannya sedikit gemetar saat menuang. Sesekali ia mengumpat, sesekali ia hanya diam sambil menatap kosong ke arah botol-botol berderet di rak. “Ara?” “Apa?!” jawabnya ketus, suaranya serak. Ia menoleh dan mendapati seorang pria berdiri di sampingnya. “Kamu! Kamu temennya si brengsek itu, ‘kan!?” tudingnya dengan pandangan tidak fokus. “Kamu mau ngetawain aku, iya, hah?!” Namun, pria itu tampak tenang. “Lagi ada masalah sama Rafi?” tanyanya. Suara musik keras di belakang membuatnya sedikit harus membungkuk agar terdengar. “Puas kamu, hah?! Kamu puas?!” racau Ara sambil berteriak. Air mata kembali mengalir, membuat riasan di pipinya semakin berantakan. Aga—pria itu—menggelengkan kepala tidak mengerti. Ia merogoh sakunya untuk mengambil ponsel. “Aku telepon Rafi sekarang.” “Enggak! Jangan!” Ara segera mencengkeram lengan kekar Aga dengan kuat. “Jangan telepon dia… jangan kasih tahu dia aku di sini…” Suaranya pecah di akhir kalimat, seperti tali yang sudah terlalu sering ditarik hingga nyaris putus. “Kamu mabuk, Ra!” suara Aga meninggi, bukan karena marah, tapi karena frustrasi melihat kondisi gadis di hadapannya. “Aku nggak mabuk!” seru Ara, menatapnya tajam walau matanya sudah berat. “Dan aku sadar… aku nggak mau sama bajingan kayak dia!” Aga menghela napas berat. Dia memandang Ara cukup lama, seolah mencoba membaca isi kepalanya yang kusut. Musik, tawa, dan denting gelas di sekitar seperti tak berarti dibanding tatapan dua pasang mata itu. “Aga…” suara Ara lebih pelan kali ini, tapi masih mengandung getir. Ia mengedipkan mata perlahan, mencoba fokus. “Kamu temannya Rafi… apa kamu juga bajingan kayak dia?” Aga mengusap wajahnya kasar, mencoba mengumpulkan kesabaran yang sudah nyaris habis. “Ikut aku sekarang!” Aga langsung menarik lengan Ara. Gadis itu menolak di awal, menggumamkan kata-kata yang tak jelas, tapi akhirnya membiarkan Aga menuntunnya keluar dari klub. “Aku nggak mau pulang! Aku udah nggak punya rumah!” Aga tidak menjawab dan terus menuntun Ara menuju parkiran. “Oh, kamu mau bawa aku check in ya? Sama kayak mereka?” goda Ara sambil terkekeh. “Terserah!” cetus Aga sekadarnya. Ia membawa Ara masuk ke dalam mobil dan memasangkan seat belt. Mobil melaju menembus jalanan kota yang mulai lengang. Sepanjang perjalanan, Ara tak berhenti bicara. Kadang ia mengumpat nama Rafi, kadang ia memuji wajah Aga, kadang ia tertawa sendiri. Tapi yang paling membuat Aga tidak tenang adalah ketika Ara mulai memiringkan tubuhnya, mendekat ke kursi pengemudi. “Aga…” bisiknya, jarak wajah mereka hanya beberapa senti. “Kalau dilihat-lihat, kamu itu ternyata lebih ganteng dari Rafi…” Aga menelan ludah, matanya tetap fokus ke jalan. “Ara, duduk yang benar.” Namun, Ara justru menyentuh lengannya, jemarinya menyusuri perlahan otot di bawah kaus yang tipis. “Wah… keras banget Ga…” katanya sambil tertawa kecil. Suaranya terdengar berat… dan menggoda. “Hentikan, Ra!’’ Aga merapatkan rahangnya. Konsentrasinya buyar. Ia mencoba memusatkan perhatian ke jalan, tapi ketika tangan Ara berpindah menyentuh pahanya, ia spontan menginjak rem. “Arabella!” Ara terkekeh senang melihat Aga tampak panik. Gadis itu semakin memajukan tubuhnya hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti. “Aga, kiss me, please?”Alessio erhob sich von seinem Stuhl; sein Körper zitterte. „Du hast meine Tochter getötet?“„Sie war nicht deine Tochter!“ Sophia lachte hysterisch. „Margaret hat es dir gesagt! Sie war Falcone-Blut!“„Das war eine Lüge!“, sagte ich kalt. „Isabella war Alessios Tochter. Die DNA-Ergebnisse wurden von Margaret gefälscht.“Alessio sah seine Mutter an, seine Augen voller ungläubigen Schmerzes.„Mutter?“Margaret stand auf; ihr Gesicht war eine Maske aus verzerrtem Hass. „Ja! Ich habe alles getan! Für die Familie! Für dich! Diese Schlampe hätte uns zerstört!“Alessio taumelte zurück auf seinen Stuhl, als hätte ihn der Blitz getroffen. „Meine Tochter… Meine Isabella…“Plötzlich schnellte er hoch und riss einem Leibwächter die Waffe aus der Hand.„Alessio, nein!“, schrie Sophia.KRACH!Ein Schuss hallte wider. Eine rote Blüte erschien auf Sophias Brust, und sie brach in einer Blutlache zusammen.„Du hast mein Kind getötet“, sagte Alessio, seine Stimme leer wie der Tod. „Du hast mein
„Köpfe runter!“, brüllte Stephen und drückte mich auf den Sitz.Der Fahrer riss das Lenkrad herum, und die Reifen quietschten auf dem nassen Asphalt. Motorräder preschten an uns vorbei und überschütteten den Wagen mit Dauerfeuer.„Wie viele?“, fragte ich.„Mindestens ein Dutzend“, sagte Stephen und zog seine Pistole. „Profis.“Unsere Begleitfahrzeuge erwiderten das Feuer. Die Nacht erfüllte sich mit einem Inferno aus Schüssen, heulenden Motoren und kreischenden Reifen.„Durchbrechen!“, brüllte Stephen den Fahrer an.Der Wagen beschleunigte, doch die Angreifer kamen näher. Kugeln hagelten auf die Karosserie. Die Heckscheibe zersprang, ließ Glassplitter auf uns niederregnen.Plötzlich raste ein Laster aus einer Seitenstraße und rammte uns frontal.„Festhalten!“Die Welt wirbelte. Ein ohrenbetäubendes Kreischen von verbogenem Metall. Ein Moment der Schwerelosigkeit. Dann der Aufprall. Der Wagen überschlug sich, ehe er mit einer gewaltigen Fontäne im Wasser aufschlug. Eiskaltes Flussw
Stephens Blick verfing sich in meinem. Er gab ein einziges, unheimlich ruhiges Nicken. „Wie du wünschst.“Alessio versuchte erneut anzugreifen, doch ich gab ihm keine Chance.Hinter mir hörte ich ihn zischen: „Ich werde dich zurückholen, Blair. Du gehörst mir.“Im Auto bekam ich keine Luft. Stephens Duft hing immer noch an meiner Haut, und Alessios Stimme hallte wie ein Fluch in meinem Schädel wider. Ich starrte aus dem Fenster und flüsterte: „Stephen, ich brauche eine Weile allein.“Er widersprach nicht. Er öffnete einfach die Tür und ging. Er wusste, wann er Wache stehen musste und wann er mir Raum geben sollte.Ich saß lange da, während meine Finger auf dem Ledersitz zitterten, bevor ich dem Fahrer befahl, mich nach Hause zu bringen.„Vater, ich möchte meine Identität öffentlich machen.“Luciano stellte seinen Whisky ab, und sein Blick wurde scharf. „Bist du dir sicher? Sobald du es tust, gibt es kein Zurück mehr.“Ich stand in seinem Arbeitszimmer. Sonnenlicht fiel durch di
Am nächsten Nachmittag fand die internationale Kunstauktion in Mailand statt. Eigentlich war ich gekommen, um eine Skizze von da Vinci zu erwerben, doch als ich sie sah, war das bedeutungslos.Und sie war nicht allein.Sie hing am Arm eines Mannes – einer mit einer silbernen Maske.Es war Stephen Falcone. Dieses eiskalte Arschloch, das alle fürchteten. Und er hatte sie.Sie trug ein elegantes weißes Kostüm, ihre Haare zu einer kunstvollen Frisur hochgesteckt. Ein völlig anderes Gesicht, doch ich wusste, dass sie es war.„Meine Damen und Herren, das nächste Los ist…“Ich hörte kein Wort des Auktionators. Ich starrte sie nur an.Sie spürte meinen Blick und drehte den Kopf zu mir. Unsere Blicke trafen sich, ein kaltes Lächeln umspielte ihre Lippen.Ich stand auf und trat auf sie zu. „Blair.“„Mein Name ist Blair“, erwiderte sie kühl. „Aber ich kenne Sie nicht.“Bevor ich ein weiteres Wort sagen konnte, ertönte das Auktionsglöckchen. Stephen hob sein Preisschild, schleuderte Millio











