MasukNun di sana, di dalam kantor kelurahan, di ruangan kerja Lurah, Rasak berdiri di sisi jendela dan memandang keluar halaman. Suara mesin ketik dan dengung percakapan ramai terdengar di sekitar, namun Rasak seolah berada di dunianya sendiri. Setelah kematian pak bahar, ia langsung naik pangkat menggantikan posisinya sebagai Lurah. Kini ia menduduki jabatan yang sejak dulu diidamkannya. Namun anehnya, ia sedikit pun tidak merasa bahagia. Mungkin karena kedudukan itu datang berbareng dengan perginya orang - orang yang selama ini dekat dengannya. Ia merasa kesepian. Merasa ditinggalkan. Kematian pak Bahar yang tragis membuatnya hatinya disentil iba dan dihinggapi sedikit rasa bersalah. Ia memang menginginkan kedudukan atasannya itu, tetapi ia tidak pernah mengharapkan kematiannya. Ia harus mengakui, kepergian pak Bahar meninggalkan kekosongan yang besar di kelurahan itu seolah ada bagian gedung itu yang ikut menghilang. Namun kehampaan itu tidak akan begitu mencekik jika saja tidak te
Beberapa saat kemudian. "Baiklah, Om. Aku akan cari waktu berbicara dengan Ibu. Tapi saat itu, Om tidak perlu ikut dulu," ujar gadis itu akhirnya. "Kenapa? Bukankah lebih baik kalau aku ikut? Jadi kamu tidak mesti sendirian menerima cercaran?" "Itu agak...canggung," ucap Ratih likat. Tetapi ia lantas menyambung agak manja. "Ah, pokoknya, Om turut saja perkataanku." 'Baiklah, Sayang. Kalau kau bilang begitu, tentu aku menurut.' Jamal menyahut tertawa. Ratih lalu bangkit berdiri. Berjalan ke kapstok di sudut kamar sambil melepas kancing bajunya. "Aku merasa gerah, hendak mandi. Om sebaiknya cepat keluar. Sebentar Ibu mungkin kembali dari ruang depan." Jamal bangkit perlahan dan beranjak meninggalkan sisi tempat tidur. Tetapi bukannya berjalan ke arah pintu, melainkan ke arah Ratih yang saat itu baru saja meloloskan pakaian dan mengungkap tubuh atasnya yang tertutup BH. "Ah, Om sungguh nekat. Nanti ketahuan Ibu," Bisih Ratih ketika tubuhnya tiba - tiba direngkuh lengan kekar sang
Ratih membuka kisi nako di jendela dalam kamarnya dan membiarkan angin menerobos masuk. Ia memgambil kursi dan duduk di sana mengusir rasa penat dan gerah. Siang ini Ratih baru saja pulang dari tempat pemakaman. Sudah tiga hari ini dia dan para pegawai lain secara berturut - turut nyekar di kuburan pak Bahar. Hari itu, setelah dilarikan ke rumah sakit, pak Bahar hanya mampu bertahan dua jam di sana. Lukanya sangat parah dan kehilangan terlalu banyak darah sehingga nyawanya tidak bisa diselamatkan. Sementara itu Tono sudah ditangani pihak kepolisian dan kasusnya sedang di proses. Pemuda itu datang sendiri ke kantor polisi dan mengakui perbuatannya. Ia mengatakan bahwa alasan perbuatannya adalah atas dendam keluarga yang sudah berlarut - larut. Karena pernyataannya, kini kasus Suriati, kakak perempuan Tono, terpaksa kembali diangkat ke permukaan. Sampai sekarang Ratih masih belum sepenuhnya bisa memahami tragedi berdarah di depan toko kelontong tempo hari. Ia tentu saja tahu Tono
Selama beberapa detik, hening yang mati membungkam suasana di tempat itu. Pak Bahar menatap langsung ke dalam bola mata pemuda itu, lalu menunduk melihat perutnya, tak percaya! Ujung mulutnya berkedutan tanpa henti. Matanya melotot besar. Tubuhnya yang gemetar lantas limbung dan jatuh terpuruk ke bawah. Kedua telapak tangannya mendekap perutnya. Perut yang robek besar dan terus - menerus menyumpitkan cairan merah pekat! Suasana gempar seketika! Teriakan ngeri serentak pecah ke udara! Orang - orang berlarian panik! Ratih berdiri terperangah di tempatnya. Barang belanjaan berserakan di bawahnya. Kedua telapak tangannya membekap mulutnya yang baru saja melepaskan pekikan syok! Matanya terbelalak menatap pemuda itu. Pemuda yang berdiri di sana dengan tangan mencekal belati bersimbah darah. Belati berkilau dengan ujung yang masih menetes - neteskan darah. Wajah pemuda itu pucat, namun tampak beringas! Pemuda itu adalah Tono. Dan pemuda itu balas menatap si gadis dengan dingin.
"Ti..dak ada. Aku tidak menjalin hubungan dengan siapa pun." Ratih menganggap madsud pertanyaan pak Bahar adalah seorang kekasih. Jadi ia tidak merasa sedang berbohong. Hubungannya dengan pamannya toh memang tidak dalam kategori demikian. Lurah itu masih mengawasi si gadis beberapa lamanya, lalu katanya, "Baiklah. Aku bersedia tetap menunggu. Tapi jika kau ingin aku percaya kau tidak sedang memiliki hubungan dengan pria lain, kau tidak boleh menolak ajakanku dan membuatku curiga." Ratih mengerling ke arah Lurah itu. Setelah menarik nafas, akhirnya ia berkata pelan, "Baiklah. Lusa aku akan menemani Bapak." "Nah, begitu baru menjadi anak manis," seringai Lurah itu. Tangannya melingkari pinggang si gadis. Mengelus turun dan meremas buah pantatnya. Saat itu mereka berada di sudut ruangan dan teraling oleh rak - rak jualan. Ratih melihat tidak ada siapa pun di sekitar mereka. Maka ia membiarkannya saja. Namun Ratih dan pak Bahar sama sekali tidak sadar bahwa dari balik rak jualan ta
Jamal mengangguk. "Terima Kasih.' "Abang tak perlu sungkan. Itu sudah menjadi tugasku. Bahkan kalau masih ada pekerjaan lain, Abang tinggal bilang saja." "Memang tujuan utamaku datang malam ini adalah hendak kembali merepotkanmu." "Bilang saja, Bang. Tugas apa kali ini dan di mana?" Doni tampak bersemangat. "Sama seperti sebelumnya. Hanya kali ini lebih ringan karena orangnya ada di sini. Sebenarnya hal ini bisa kukerjakan sendiri. Tapi seperti kau tahu, aku sedang diawasi orang belakangan ini." "Tentu saja Abang tak perlu mengerjakannya sendiri. Apa lagi hanya tugas sepele begini." "Meskipun ringan, tapi kali ini aku tidak ingin kau terlibat secara langsung. Suruh anak - anak atau siapa saja yang tidak terlalu menarik perhatian." "Saya mengerti, Bang. Abang tenang saja. Aku bisa mendatangkan orang luar untuk mengerjakannya," kata Doni meyakinkan. "Tapi siapa orang ini, Bang?" Jamal merogoh saku jaketnya dan meletakkan selembar amplop putih di atas meja. Di atas amplop itu ter







