Home / Romansa / Melawan Takdir Antagonis / Perjodohan Nara dengan Sydney

Share

Perjodohan Nara dengan Sydney

Author: safanida
last update publish date: 2026-10-06 22:14:25
“Kalau Gea benar-benar hamil anak Zayn, terus aku harus gimana?”

Sydney bergumam pelan sambil memeluk lututnya. Dia duduk sendiri di pool area, pandangannya terpaku pada permukaan air yang tenang. Hari ini terlalu banyak hal terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan. Kepalanya terasa penuh karena setiap jawaban justru membawa pertanyaan baru.

“Aku bahkan nggak tahu harus pergi ke mana kalau semua orang di cerita ini mulai berubah.” Dia mengangkat wajah ketika angin malam menyentuh rambutnya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Melawan Takdir Antagonis    Perjodohan Nara dengan Sydney

    “Kalau Gea benar-benar hamil anak Zayn, terus aku harus gimana?” Sydney bergumam pelan sambil memeluk lututnya. Dia duduk sendiri di pool area, pandangannya terpaku pada permukaan air yang tenang. Hari ini terlalu banyak hal terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan. Kepalanya terasa penuh karena setiap jawaban justru membawa pertanyaan baru. “Aku bahkan nggak tahu harus pergi ke mana kalau semua orang di cerita ini mulai berubah.” Dia mengangkat wajah ketika angin malam menyentuh rambutnya. “Aku nggak bisa terus menghindari mereka.” Dia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, lalu menatap pantulan dirinya di permukaan kolam. “Tapi kalau aku mendekat, semuanya malah semakin rumit. Siapa yang bisa membantu aku tetap aman.” Dia terdiam cukup lama lalu dia mengacak rambutnya karena frustasi. “Ini makin nggak ada solusi yang ada aku malah pusing … paling bener aku pulang ke asal kalo Gea hamil anak Zayn seenggaknya aku masih hidup.” “Mbak Sydney tadi ada yang datang cuma nitip

  • Melawan Takdir Antagonis    Cerita menolak berakhir

    Sejak kejadian di danau, Sydney merasa ada sesuatu yang berubah dalam sikap Nara. Tatapannya terasa lebih sering mengikuti setiap gerak-geriknya. Bahkan setelah dokter mengizinkannya pulang, Nara masih beberapa kali menanyakan kondisinya. “Kamu kenapa liatin aku terus kayak gitu?” Sydney merapikan tali tas di bahunya sambil menatap Nara tidak jauh. Nara memasukkan kedua tangannya ke saku celana. “Aku cuma memastikan kamu benar-benar udah pulih,” jawab Nara datar. Tatapannya turun sebentar ke wajah Sydney sebelum kembali menatap lurus ke depan. “Setelah apa yang terjadi di danau, menurutku wajar kalau aku memperhatikan kondisimu.” Nara menekan tombol lift. Sydney mengernyit mendengar jawaban itu. Perkataan Nara mengingatkannya pada kejadian di tepi danau, terutama kesadaran asli Sydney mengambil alih tubuh kembali. “Aku udah bilang waktu itu, kalau aku bicara aneh anggap aja aku sedang nggak sadar.” Sydney mengangkat telunjuk seolah sedang memberikan peringatan. Nara hanya me

  • Melawan Takdir Antagonis    Tertukar kembali

    “Nara!” Teriak Sydney tidak sempat meraih apapun. Nara melihat Sydney tenggelam semakin dalam melangkah cepat kearah bibir danau. “Pegang tangan aku,” teriak Nara berusaha meraih tangan Sydney sesekali bisa muncul ke permukaan. Tangannya bergerak mencari permukaan, tetapi tubuhnya terasa berat dan nafasnya mulai tersendat. Dari atas, suara Nara terdengar samar memanggil namanya tidak lama bayangan tubuhnya ikut menyusul ke dalam air. Satu tangan meraih pinggang Sydney dan menarik tubuhnya ke atas dengan kuat menuju tepian. “Sydney,” panggil Nara masih dengan nafas terengah-engah. “Sydney, kamu dengar aku, kan.” Nara menepuk pipinya beberapa kali untuk memastikan kesadarannya masih ada. Kelopak mata Sydney bergerak sedikit. Nara menatap wajahnya menunggu kesadaran benar-benar pulih, kemudian memeriksa napasnya yang nyaris tidak terdengar. Untuk pertama kalinya, keraguan terlihat jelas di wajah dinginnya ketika dia menyadari Sydney tidak kunjung bernapas dengan normal. “Sial.

  • Melawan Takdir Antagonis    Bagian Yang Tidak tertulis

    “Kamu benar-benar nggak ingat aku?” Kalimat Elvan masih terngiang di kepala Sydney bahkan setelah malam berganti. "Sebenarnya kamu tuh siapa?" Sydney menghembuskan napas panjang. Dia sudah mencoba mengingat semua bagian cerita yang pernah dibacanya. Nama-nama karakter utama, karakter pendukung, bahkan tokoh yang hanya muncul sebentar. Tidak ada Elvan. Semakin dia mencoba mengingat, semakin kepalanya terasa penuh. Langkahnya terhenti menuju pintu masuk ketika sebuah mobil berhenti tidak jauh darinya. "Nara sama Kei berangkat bareng. Seharusnya aku yang ada di posisi Kei," gumam Sydney, memperhatikan Nara turun dari kursi pengemudi disusul Kei keluar dari samping. Keduanya berjalan berdampingan menuju gedung. Tidak ada percakapan yang bisa didengarnya. Kei hanya sesekali menoleh kepada Nara. "Kalau Elvan memang bukan bagian dari cerita. Kemungkinan ada bagian yang diubah.” Sydney mengerutkan kening. “Barusan yang aku lihat juga bagian dari alur yang diubah?" Sydney menatap Nar

  • Melawan Takdir Antagonis    Bertemu nama dalam mimpi

    Sydney tersentak bangun. Dia menatap sekeliling dengan mata yang masih berkunang. Tirai panjang bergerak pelan terkena hembusan angin dari jendela sedikit terbuka. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Tangannya langsung meraba bagian tubuh yang tadi terkena tembakan. Tidak ada bekas luka ataupun darah yang mengalir. Dia mengusap wajahnya dengan kedua tangan. “Ah … cuma mimpi?” Sydney menelan ludah. Ruangan ini mungkin sepi tapi di luar terdengar samar aktivitas membuat sedikit lega. Tangannya masih gemetar. “Gila ... mimpi apaan tadi,” Sydney menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Namun suara tembakan dalam mimpinya masih terasa terlalu nyata. “Kenapa rasanya nyata banget … cukup Sydney itu cuma mimpi,” gumamnya. Sydney menggeleng cepat. Wajah sosok yang berdiri di ujung lorong itu terus terbayang. Sydney merasa diri cukup tenang, dia buru-buru berdiri lalu menatap sofa tempat dirinya berbaring. “Ini kan, ruangan kerja Nara. Jangan bilang aku pings

  • Melawan Takdir Antagonis    Kematian peran antagonis

    Sydney menghela nafas lega, karena ditempatkan sebagai sekretaris Marketing Director. Dia harga berusaha agar tidak menyela pembicaraan, mencari perhatian, bahkan sengaja menjaga jarak dari Nara dan Kei. Hanya ingin fokus dengan tumpukan berkas di atas meja. Ada jadwal meeting, proposal kerja sama, laporan campaign, dan dokumen internal marketing tersusun di hadapannya. Sydney membuka kalender kerja di komputer.“Meeting dengan klien jam sebelas, evaluasi campaign jam satu, lalu briefing tim jam tiga,” gumamnya sambil mencatat beberapa agenda ke tab. Semua harus diperiksa sebelum diserahkan kepada Marketing Director.“Sydney, ini materi presentasi untuk meeting sore. Pak Direktur minta semuanya sudah siap sebelum jam dua.” Seorang staf marketing datang membawa map, lalu meletakkan di atas meja.“Baik. Aku periksa nanti setelah laporan jadwal meeting.” Sydney berdiri menggenggam tab di tangan.“Kamu bisa kan? aku tinggal dulu kalo butuh bantuan panggil aja.” Staf mengetuk berkas yang t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status