Share

Tertukar kembali

Penulis: safanida
last update Tanggal publikasi: 2026-09-16 23:17:33
“Nara!” Teriak Sydney tidak sempat meraih apapun. Nara melihat Sydney tenggelam semakin dalam melangkah cepat kearah bibir danau.

“Pegang tangan aku,” teriak Nara berusaha meraih tangan Sydney sesekali bisa muncul ke permukaan.

Tangannya bergerak mencari permukaan, tetapi tubuhnya terasa berat dan nafasnya mulai tersendat. Dari atas, suara Nara terdengar samar memanggil namanya tidak lama bayangan tubuhnya ikut menyusul ke dalam air. Satu tangan meraih pinggang Sydney dan menarik tubuhnya ke
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Melawan Takdir Antagonis    Cerita menolak berakhir

    Sejak kejadian di danau, Sydney merasa ada sesuatu yang berubah dalam sikap Nara. Tatapannya terasa lebih sering mengikuti setiap gerak-geriknya. Bahkan setelah dokter mengizinkannya pulang, Nara masih beberapa kali menanyakan kondisinya.“Kamu kenapa liatin aku terus kayak gitu?” Sydney merapikan tali tas di bahunya sambil menatap Nara tidak jauh. Nara memasukkan kedua tangannya ke saku celana.“Aku cuma memastikan kamu benar-benar udah pulih,” jawab Nara datar. Tatapannya turun sebentar ke wajah Sydney sebelum kembali menatap lurus ke depan. “Setelah apa yang terjadi di danau, menurutku wajar kalau aku memperhatikan kondisimu.”Sydney mengernyit mendengar jawaban itu. Perkataan Nara mengingatkannya pada kejadian di tepi danau, terutama saat dia mengatakan ada beberapa hal yang cukup sulit dilupakan. Sydney masih belum tahu apa saja yang didengar Nara ketika kesadaran asli Sydney mengambil alih tubuh kembali.“Aku udah bilang waktu itu, kalau aku bicara aneh anggap aja aku sedang n

  • Melawan Takdir Antagonis    Tertukar kembali

    “Nara!” Teriak Sydney tidak sempat meraih apapun. Nara melihat Sydney tenggelam semakin dalam melangkah cepat kearah bibir danau. “Pegang tangan aku,” teriak Nara berusaha meraih tangan Sydney sesekali bisa muncul ke permukaan. Tangannya bergerak mencari permukaan, tetapi tubuhnya terasa berat dan nafasnya mulai tersendat. Dari atas, suara Nara terdengar samar memanggil namanya tidak lama bayangan tubuhnya ikut menyusul ke dalam air. Satu tangan meraih pinggang Sydney dan menarik tubuhnya ke atas dengan kuat menuju tepian. “Sydney,” panggil Nara masih dengan nafas terengah-engah. “Sydney, kamu dengar aku, kan.” Nara menepuk pipinya beberapa kali untuk memastikan kesadarannya masih ada. Kelopak mata Sydney bergerak sedikit. Nara menatap wajahnya menunggu kesadaran benar-benar pulih, kemudian memeriksa napasnya yang nyaris tidak terdengar. Untuk pertama kalinya, keraguan terlihat jelas di wajah dinginnya ketika dia menyadari Sydney tidak kunjung bernapas dengan normal. “Sial.

  • Melawan Takdir Antagonis    Bagian Yang Tidak tertulis

    “Kamu benar-benar nggak ingat aku?” Kalimat Elvan masih terngiang di kepala Sydney bahkan setelah malam berganti. "Sebenarnya kamu tuh siapa?" Sydney menghembuskan napas panjang. Dia sudah mencoba mengingat semua bagian cerita yang pernah dibacanya. Nama-nama karakter utama, karakter pendukung, bahkan tokoh yang hanya muncul sebentar. Tidak ada Elvan. Semakin dia mencoba mengingat, semakin kepalanya terasa penuh. Langkahnya terhenti menuju pintu masuk ketika sebuah mobil berhenti tidak jauh darinya. "Nara sama Kei berangkat bareng. Seharusnya aku yang ada di posisi Kei," gumam Sydney, memperhatikan Nara turun dari kursi pengemudi disusul Kei keluar dari samping. Keduanya berjalan berdampingan menuju gedung. Tidak ada percakapan yang bisa didengarnya. Kei hanya sesekali menoleh kepada Nara. "Kalau Elvan memang bukan bagian dari cerita. Kemungkinan ada bagian yang diubah.” Sydney mengerutkan kening. “Barusan yang aku lihat juga bagian dari alur yang diubah?" Sydney menatap Nar

  • Melawan Takdir Antagonis    Bertemu nama dalam mimpi

    Sydney tersentak bangun. Dia menatap sekeliling dengan mata yang masih berkunang. Tirai panjang bergerak pelan terkena hembusan angin dari jendela sedikit terbuka. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Tangannya langsung meraba bagian tubuh yang tadi terkena tembakan. Tidak ada bekas luka ataupun darah yang mengalir. Dia mengusap wajahnya dengan kedua tangan. “Ah … cuma mimpi?” Sydney menelan ludah. Ruangan ini mungkin sepi tapi di luar terdengar samar aktivitas membuat sedikit lega. Tangannya masih gemetar. “Gila ... mimpi apaan tadi,” Sydney menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Namun suara tembakan dalam mimpinya masih terasa terlalu nyata. “Kenapa rasanya nyata banget … cukup Sydney itu cuma mimpi,” gumamnya. Sydney menggeleng cepat. Wajah sosok yang berdiri di ujung lorong itu terus terbayang. Sydney merasa diri cukup tenang, dia buru-buru berdiri lalu menatap sofa tempat dirinya berbaring. “Ini kan, ruangan kerja Nara. Jangan bilang aku pings

  • Melawan Takdir Antagonis    Kematian peran antagonis

    Sydney menghela nafas lega, karena ditempatkan sebagai sekretaris Marketing Director. Dia harga berusaha agar tidak menyela pembicaraan, mencari perhatian, bahkan sengaja menjaga jarak dari Nara dan Kei. Hanya ingin fokus dengan tumpukan berkas di atas meja. Ada jadwal meeting, proposal kerja sama, laporan campaign, dan dokumen internal marketing tersusun di hadapannya. Sydney membuka kalender kerja di komputer.“Meeting dengan klien jam sebelas, evaluasi campaign jam satu, lalu briefing tim jam tiga,” gumamnya sambil mencatat beberapa agenda ke tab. Semua harus diperiksa sebelum diserahkan kepada Marketing Director.“Sydney, ini materi presentasi untuk meeting sore. Pak Direktur minta semuanya sudah siap sebelum jam dua.” Seorang staf marketing datang membawa map, lalu meletakkan di atas meja.“Baik. Aku periksa nanti setelah laporan jadwal meeting.” Sydney berdiri menggenggam tab di tangan.“Kamu bisa kan? aku tinggal dulu kalo butuh bantuan panggil aja.” Staf mengetuk berkas yang t

  • Melawan Takdir Antagonis    Wajah milik antagonis

    Uap hangat masih memenuhi kamar mandi saat Sydney mematikan keran shower. Dia mengusap embun yang menempel di cermin besar di depannya. Pantulan wajah itu membuat sedikit tersentak, lalu terdiam terdiam."Aku masih belum terbiasa.” Dia menghela napas panjang, lalu meraih handuk putih tebal yang tergantung di samping wastafel. Setelah membungkus rambut dan tubuhnya, Sydney menggeser pintu bergeser pelan.Langkahnya langsung terhenti. Sydney berkedip beberapa kali karena kaget ada dua orang pembantu sudah berdiri rapi di dalam kamar. Di atas tempat tidur terbentang beberapa set pakaian dari berbagai merek ternama. Di sampingnya berjejer tas kulit, sepatu hak tinggi, perhiasan sederhana, hingga jam tangan yang masih berada di dalam kotak beludru."Ini semuanya disiapin buat aku." Sydney menatap wajah mereka bergantian. Salah satu dari mereka tersenyum sopan."Selamat pagi, Nona Sydney. Kami sudah menyiapkan pakaian untuk kegiatan hari ini." Sydney masih memandangi deretan barang itu."

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status