LOGINSydney tersentak bangun. Dia menatap sekeliling dengan mata yang masih berkunang. Tirai panjang bergerak pelan terkena hembusan angin dari jendela sedikit terbuka. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Tangannya langsung meraba bagian tubuh yang tadi terkena tembakan. Tidak ada bekas luka ataupun darah yang mengalir. Dia mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
“Ah … cuma mimpi?” Sydney menelan ludah. Ruangan ini mungkin sepi tapi di luar terdengar samar aktivitas membuat sedikit lega. Tangannya masih gemetar. “Gila ... mimpi apaan tadi,” Sydney menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Namun suara tembakan dalam mimpinya masih terasa terlalu nyata. “Kenapa rasanya nyata banget … cukup Sydney itu cuma mimpi,” gumamnya. Sydney menggeleng cepat. Wajah sosok yang berdiri di ujung lorong itu terus terbayang. Sydney merasa diri cukup tenang, dia buru-buru berdiri lalu menatap sofa tempat dirinya berbaring. “Ini kan, ruangan kerja Nara. Jangan bilang aku pingsan di sini.” “Ya ampun kok bisa, kamu bukan makin jauh tapi malah tambah deket sama Nara,” ucapnya kesal pada dirinya, ingatan terakhirnya perlahan kembali. Sebelum keluar, pandangannya tanpa sengaja jatuh pada meja kerja Nara yang kosong. "Jangan ketemu dia lagi.” Sydney melangkah cepat menuju pintu “Kamu mau ke mana?” celetuk Nara melihat Sydney hampir menyentuh gagang pintu. Sydney membeku, perlahan dia menoleh. Nara berdiri di dekat rak dokumen dengan beberapa berkas di tangannya. Tatapannya tenang, tetapi cukup untuk membuat Sydney merasa seperti baru saja tertangkap basah melakukan sesuatu. "Bukanya tadi ga ada orang." Sydney memegang kepala masih terasa pusing. "Jawab pertanyaan aku." Nara berjalan mendekat ke arah meja. “Aku mau balik ke meja kerja.” Sydney meremas ujung jari menahan gugup. “Bagus, kalo tetap mengingat tugas kamu di sini.” Nara meletakkan berkas di atas meja. “Ini orang dari tadi merhatiin aku dong, kirain bakal di suruh pulang.” batin Sydney menghembuskan nafas kesal. “Kenapa masih disini?” Nara melirik sekilas lalu melanjutkan tanda tangan diatas materai. “Eh, iya, aku kembali ke meja kerja dulu, Pak Nara. Kalau begitu, aku permisi.” Sydney mengangguk kecil sebagai tanda pamit. Nara memutar kursi membelakangi Sydney tanpa jawaban. “Terima kasih sudah mengizinkan saya istirahat sebentar.” Sydney melirik Nara yang tetap duduk tenang di balik meja kerjanya. “Silahkan.” Sydney membuka pintu perlahan, lalu melangkah keluar. Begitu pintu tertutup di belakangnya, akhirnya bisa menghembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan. Dia segera berjalan menyusuri lorong menuju area marketing. Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya sempat menundukkan kepala memberi salam. “Kenapa setiap ngobrol sama Nara rasanya kayak lagi interview kerja?” gumamnya sambil menggeleng kecil, pikirannya masih dipenuhi kejadian tadi. Sesampainya di meja kerja, Sydney langsung menarik kursinya dan duduk. “Baru beberapa jam kerja, sudah pingsan di ruangan Nara. Rekor macam apa ini,” keluhnya pelan. “Mbak Sydney, maaf mengganggu. Tadi ada pengajuan meeting untuk membahas perubahan konsep campaign yang sedang berjalan. Mereka ingin mengajukan beberapa revisi setelah melihat hasil evaluasi sebelumnya.” Seorang staf marketing menghampiri mejanya. “Meeting dengan siapa? Dan mereka mengajukanya untuk hari apa?” Sydney menerima tablet yang disodorkan kepadanya. “Dengan tim dari Aruna Creative. Mereka minta jadwalnya besok siang sekitar pukul dua.” “Besok jam dua masih kosong, tetapi saya perlu cek jadwal Bu Yoriko dulu sebelum mengonfirmasi. Apa ada agenda lain yang masuk setelah ini?” Sydney langsung memeriksa detail pengajuan rapat, mulai dari nama perusahaan, agenda pembahasan, sampai daftar orang yang akan hadir. Staf marketing itu membuka catatan di tabletnya dan menggeleng pelan. “Sejauh ini belum ada. Tapi mereka minta kepastian jadwalnya sebelum sore karena beberapa orang dari tim mereka harus menyesuaikan.” Sydney mengangguk sambil mencatat informasi tersebut ke dalam kalender kerja. “Sekalian minta mereka kirimkan materi presentasi dan poin pembahasannya sebelum rapat, supaya Bu Yoriko bisa mempelajarinya terlebih dahulu.” “Baik, Mbak. Saya sampaikan ke tim mereka sekarang.” Staf itu mengangguk dan mencatat permintaan Sydney. “Terima kasih, udah membantu nanti kalau ada perubahan dari pihak mereka, langsung kabari saya juga.” “Siap, Mbak. Saya permisi dulu.” Setelah staf tersebut pergi, Sydney kembali menatap kalender di layar komputernya. Jarinya bergerak memeriksa satu per satu agenda yang sudah tersusun. “Kepala aku masih agak sakit, apa karena laper juga.” Kepala Sydney tertunduk di atas kedua lengan yang terlipat. “Sydney. Keadaanmu sudah membaik?” Panggil Yoriko kebetulan keluar dari ruangan. Sydney yang sedang duduk langsung berdiri dan menghadap atasannya. “Iya, Bu. Sudah jauh lebih baik.” Yoriko mengangguk kecil, memperhatikan wajah Sydney beberapa saat. “Bagus kalau begitu. Tapi jangan terlalu memaksakan diri dan kamu bisa pulang karena meeting sore ini sudah di ajukan.” “Maaf, Tim dari Aruna Creative meminta jadwal meeting besok jam dua siang membahas perubahan konsep campaign. Apa bisa Bu Yoriko?” “Bisa, kamu masukkan ke daftar jadwal. Kalau begitu saya pergi dulu.” “Baik, Bu Yoriko.” Perutnya kembali berbunyi pelan, membuatnya mengangkat kepala dengan wajah pasrah. “Oke, aku menyerah. Kalau terus dipaksa kerja dalam keadaan lapar, nanti aku malah pingsan lagi.” Setelah memastikan semua dokumen yang diminta sudah berada di tempatnya, dia mengambil dompet dan ponsel dari dalam tas. “Sebelum pulang lebih baik mampir dulu ke cafe atau restoran. Sekalian cari udara.” Sydney meninggalkan gedung, dia bisa menjauh dari meja kerja, dokumen, dan terutama seseorang yang sejak tadi berhasil membuat pikirannya tidak tenang. Di luar, jalanan cukup ramai. Sydney berjalan menyusuri trotoar sambil memperhatikan deretan restoran dan kedai kopi yang memenuhi sisi jalan. “Kenapa semua kelihatan enak kalau lagi lapar?” Dia berhenti di depan sebuah kafe kecil yang berada sedikit masuk dari jalan utama. Bangunannya sederhana dengan jendela kaca besar dan beberapa tanaman yang diletakkan di dekat pintu. Sydney memperhatikan papan nama kafe itu. “Ini baru apa gimana … kayaknya tempat ini nggak pernah disebut.” Sydney mencoba mengingat kembali isi cerita yang pernah dibacanya, tempat ini tidak muncul dalam ingatannya sama sekali. “Berarti aman.” Sydney tersenyum kecil kali ini langkahnya terasa lebih ringan. Dia masuk ke dalam kafe dan langsung disambut aroma kopi serta musik yang terdengar pelan dari sudut ruangan. Suasananya jauh lebih tenang dibandingkan kantor. Beberapa orang duduk sendiri sambil bekerja, sementara beberapa lainnya berbincang dengan suara rendah. “Ini baru namanya istirahat.” Sydney memilih meja di dekat jendela. Tidak ada orang yang mengenalnya sebagai Sydney. Untuk beberapa saat, Sydney bisa berpura-pura bahwa dirinya hanyalah perempuan biasa yang sedang menikmati makan siang. Makanan yang dipesannya datang tidak lama kemudian. “Harusnya dari tadi makan,” gumamnya. Sydney langsung menyantapnya. “Kelihatannya kamu memang kelaparan.” Sydney mendongak. Seorang pria berdiri di samping meja dengan sebuah gelas minuman di tangannya. Wajahnya terlihat santai, tidak menunjukkan ekspresi menghakimi seperti kebanyakan orang yang selama ini ditemuinya sejak masuk ke dunia ini. “Kelihatan banget, ya?” Sydney tersenyum canggung. Laki-laki itu tertawa kecil. “Lumayan. Dari cara kamu makan saja sudah ketahuan.” Sydney melihat makanannya, lalu kembali menatap orang itu. “Kalau kamu mau duduk, cari meja lain. Aku nggak terlalu suka makan sambil diperhatikan.” “Tenang. Aku juga nggak berniat mengganggu. Meja di sebelahmu kosong, kan?” Laki-laki itu mengangguk dengan santai. “Kalau cuma duduk, silakan.” Sydney melirik kursi di depannya. “Terima kasih.” Dia menarik kursi dan duduk dengan jarak yang cukup. “Kamu kelihatan seperti orang yang habis dikejar sesuatu.” Orang itu membuka obrolan setelah beberapa menit hening diantara mereka berdua. Sydney berhenti mengunyah. “Kenapa kesimpulannya begitu?” “Wajahmu kelihatan capek, tapi kamu terus lihat jam dan ponsel,” ucap orang itu dengan senyum di akhir kalimat. Sydney terdiam. Anehnya, keberadaan orang itu tidak membuatnya merasa terganggu. “Kamu kira aku maling, cuma lagi banyak pikiran doang,” ucap Sydney ketus lalu mengusap mulut dengan tisu “Kamu mikir kerjaan?” Sydney mengangguk. “Bisa dibilang begitu.” Orang itu tidak memaksa bertanya lebih jauh. Dia hanya menyeruput minumannya. “Kalau terlalu banyak pikiran, biasanya aku pergi ke tempat yang nggak banyak orang kenal.” “Seperti cafe ini?” Sydney menatapnya. “Salah satunya disini.” “Berarti kita sama.”Sydney tersenyum tipis. Pria itu ikut tersenyum. “Namaku Elvan.” Sydney yang sedang memainkan gelas langsung berhenti. Elvan, nama yang dia sebut dalam mimpinya. Dia berusaha menyembunyikan keterkejutannya dengan meneguk minuman. “Sydney.” Elvan memanggilnya setelah menyadari ada perubahan pada raut wajah Sydney. “Aku tahu.” Sydney langsung mengernyit. “Kamu tahu apa? kelihatannya seperti baru ingat sesuatu yang penting.” Elvan tertawa kecil melihat reaksinya. “Enggak. Cuma kaget saja.” Sydney tertawa canggung. “Kukira kamu lupa nama sendiri.” “Kalau sampai lupa nama sendiri, mungkin aku harus pulang dan tidur.” Sydney akhirnya ikut tertawa. Percakapan mereka berlanjut tanpa terasa. Tidak ada pertanyaan yang terlalu pribadi dan tidak ada rasa ingin tahu yang berlebihan. Elvan hanya mendengarkan ketika Sydney tentang bagaimana hari pertamanya terasa melelahkan. Dia hanya memilih bagian-bagian kecil yang aman untuk diceritakan. “Aku cuma merasa semuanya berubah terlalu cepat. Kadang aku nggak tahu harus mengikuti keadaan atau malah melawannya.” ujar Sydney sambil mengaduk minumannya. Elvan menatapnya beberapa saat. “Kalau kamu terus mengikuti sesuatu yang membuat kamu nggak nyaman, lama-lama kamu bakal kehilangan diri sendiri.” “Kamu ngomong seperti pernah mengalaminya.” Sydney menghembuskan nafas berat. Kalimat itu sederhana, tetapi entah kenapa terasa tepat. “Mungkin memang pernah. Aku punya keluarga yang cukup rumit.” Elvan menyandarkan tubuhnya di kursi. Nada suaranya berubah sedikit lebih berat. “Rumit bagaimana?” Sydney menopang dagunya dengan telapak tangan. “Nanti aku bercerita terlalu jauh.” Elvan tertawa jail. “Apa sih udah serius tau buat dengerin.” Sydney berdecak kesal. “Kamu tuh ya terlalu serius.” Elvan tertawa lepas melihat Sydney dengan muka ditekuk. Justru di tempat yang tidak pernah ditulis itu, Sydney merasa sedikit lebih aman. Sampai pandangan Elvan tiba-tiba berubah ketika melihat wajahnya. “Kamu benar-benar nggak ingat aku?” “Apa maksudmu?” “Tidak apa-apa.” Elvan kembali menunduk pada minumannya. Namun kali ini Sydney tidak bisa mengabaikannya. Ada sesuatu yang tidak dikatakan Elvan. Dia merasa mungkin bukan hanya dirinya yang membawa rahasia ke dunia ini.Sejak kejadian di danau, Sydney merasa ada sesuatu yang berubah dalam sikap Nara. Tatapannya terasa lebih sering mengikuti setiap gerak-geriknya. Bahkan setelah dokter mengizinkannya pulang, Nara masih beberapa kali menanyakan kondisinya.“Kamu kenapa liatin aku terus kayak gitu?” Sydney merapikan tali tas di bahunya sambil menatap Nara tidak jauh. Nara memasukkan kedua tangannya ke saku celana.“Aku cuma memastikan kamu benar-benar udah pulih,” jawab Nara datar. Tatapannya turun sebentar ke wajah Sydney sebelum kembali menatap lurus ke depan. “Setelah apa yang terjadi di danau, menurutku wajar kalau aku memperhatikan kondisimu.”Sydney mengernyit mendengar jawaban itu. Perkataan Nara mengingatkannya pada kejadian di tepi danau, terutama saat dia mengatakan ada beberapa hal yang cukup sulit dilupakan. Sydney masih belum tahu apa saja yang didengar Nara ketika kesadaran asli Sydney mengambil alih tubuh kembali.“Aku udah bilang waktu itu, kalau aku bicara aneh anggap aja aku sedang n
“Nara!” Teriak Sydney tidak sempat meraih apapun. Nara melihat Sydney tenggelam semakin dalam melangkah cepat kearah bibir danau. “Pegang tangan aku,” teriak Nara berusaha meraih tangan Sydney sesekali bisa muncul ke permukaan. Tangannya bergerak mencari permukaan, tetapi tubuhnya terasa berat dan nafasnya mulai tersendat. Dari atas, suara Nara terdengar samar memanggil namanya tidak lama bayangan tubuhnya ikut menyusul ke dalam air. Satu tangan meraih pinggang Sydney dan menarik tubuhnya ke atas dengan kuat menuju tepian. “Sydney,” panggil Nara masih dengan nafas terengah-engah. “Sydney, kamu dengar aku, kan.” Nara menepuk pipinya beberapa kali untuk memastikan kesadarannya masih ada. Kelopak mata Sydney bergerak sedikit. Nara menatap wajahnya menunggu kesadaran benar-benar pulih, kemudian memeriksa napasnya yang nyaris tidak terdengar. Untuk pertama kalinya, keraguan terlihat jelas di wajah dinginnya ketika dia menyadari Sydney tidak kunjung bernapas dengan normal. “Sial.
“Kamu benar-benar nggak ingat aku?” Kalimat Elvan masih terngiang di kepala Sydney bahkan setelah malam berganti. "Sebenarnya kamu tuh siapa?" Sydney menghembuskan napas panjang. Dia sudah mencoba mengingat semua bagian cerita yang pernah dibacanya. Nama-nama karakter utama, karakter pendukung, bahkan tokoh yang hanya muncul sebentar. Tidak ada Elvan. Semakin dia mencoba mengingat, semakin kepalanya terasa penuh. Langkahnya terhenti menuju pintu masuk ketika sebuah mobil berhenti tidak jauh darinya. "Nara sama Kei berangkat bareng. Seharusnya aku yang ada di posisi Kei," gumam Sydney, memperhatikan Nara turun dari kursi pengemudi disusul Kei keluar dari samping. Keduanya berjalan berdampingan menuju gedung. Tidak ada percakapan yang bisa didengarnya. Kei hanya sesekali menoleh kepada Nara. "Kalau Elvan memang bukan bagian dari cerita. Kemungkinan ada bagian yang diubah.” Sydney mengerutkan kening. “Barusan yang aku lihat juga bagian dari alur yang diubah?" Sydney menatap Nar
Sydney tersentak bangun. Dia menatap sekeliling dengan mata yang masih berkunang. Tirai panjang bergerak pelan terkena hembusan angin dari jendela sedikit terbuka. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Tangannya langsung meraba bagian tubuh yang tadi terkena tembakan. Tidak ada bekas luka ataupun darah yang mengalir. Dia mengusap wajahnya dengan kedua tangan. “Ah … cuma mimpi?” Sydney menelan ludah. Ruangan ini mungkin sepi tapi di luar terdengar samar aktivitas membuat sedikit lega. Tangannya masih gemetar. “Gila ... mimpi apaan tadi,” Sydney menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Namun suara tembakan dalam mimpinya masih terasa terlalu nyata. “Kenapa rasanya nyata banget … cukup Sydney itu cuma mimpi,” gumamnya. Sydney menggeleng cepat. Wajah sosok yang berdiri di ujung lorong itu terus terbayang. Sydney merasa diri cukup tenang, dia buru-buru berdiri lalu menatap sofa tempat dirinya berbaring. “Ini kan, ruangan kerja Nara. Jangan bilang aku pings
Sydney menghela nafas lega, karena ditempatkan sebagai sekretaris Marketing Director. Dia harga berusaha agar tidak menyela pembicaraan, mencari perhatian, bahkan sengaja menjaga jarak dari Nara dan Kei. Hanya ingin fokus dengan tumpukan berkas di atas meja. Ada jadwal meeting, proposal kerja sama, laporan campaign, dan dokumen internal marketing tersusun di hadapannya. Sydney membuka kalender kerja di komputer.“Meeting dengan klien jam sebelas, evaluasi campaign jam satu, lalu briefing tim jam tiga,” gumamnya sambil mencatat beberapa agenda ke tab. Semua harus diperiksa sebelum diserahkan kepada Marketing Director.“Sydney, ini materi presentasi untuk meeting sore. Pak Direktur minta semuanya sudah siap sebelum jam dua.” Seorang staf marketing datang membawa map, lalu meletakkan di atas meja.“Baik. Aku periksa nanti setelah laporan jadwal meeting.” Sydney berdiri menggenggam tab di tangan.“Kamu bisa kan? aku tinggal dulu kalo butuh bantuan panggil aja.” Staf mengetuk berkas yang t
Uap hangat masih memenuhi kamar mandi saat Sydney mematikan keran shower. Dia mengusap embun yang menempel di cermin besar di depannya. Pantulan wajah itu membuat sedikit tersentak, lalu terdiam terdiam."Aku masih belum terbiasa.” Dia menghela napas panjang, lalu meraih handuk putih tebal yang tergantung di samping wastafel. Setelah membungkus rambut dan tubuhnya, Sydney menggeser pintu bergeser pelan.Langkahnya langsung terhenti. Sydney berkedip beberapa kali karena kaget ada dua orang pembantu sudah berdiri rapi di dalam kamar. Di atas tempat tidur terbentang beberapa set pakaian dari berbagai merek ternama. Di sampingnya berjejer tas kulit, sepatu hak tinggi, perhiasan sederhana, hingga jam tangan yang masih berada di dalam kotak beludru."Ini semuanya disiapin buat aku." Sydney menatap wajah mereka bergantian. Salah satu dari mereka tersenyum sopan."Selamat pagi, Nona Sydney. Kami sudah menyiapkan pakaian untuk kegiatan hari ini." Sydney masih memandangi deretan barang itu."







