Share

Bab 17

Author: Maufy Izha
last update publish date: 2026-11-01 07:01:52

Keesokan paginya, Nora terbangun di kamar utama mansion—kamarnya dan William.

Entah bagaimana ceritanya ia bisa berpindah dari ruang kerja William ke kamar ini.

Di tengah rasa kantuk dan kelelahan fisik yang dirasakannya, Nora baru menyadari bahwa ia berada di dalam dekapan erat seseorang.

Tentu saja, William.

Punggungnya bersentuhan langsung dengan dada bidang suaminya itu.

Mereka masih tidak mengenakan sehelai benang pun saat ini.

Tiba-tiba bayangan kejadian tadi malam mulai berputar di
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Melepasmu di Pengkhianatan Kedua    Bab 17

    Keesokan paginya, Nora terbangun di kamar utama mansion—kamarnya dan William. Entah bagaimana ceritanya ia bisa berpindah dari ruang kerja William ke kamar ini. Di tengah rasa kantuk dan kelelahan fisik yang dirasakannya, Nora baru menyadari bahwa ia berada di dalam dekapan erat seseorang. Tentu saja, William. Punggungnya bersentuhan langsung dengan dada bidang suaminya itu. Mereka masih tidak mengenakan sehelai benang pun saat ini. Tiba-tiba bayangan kejadian tadi malam mulai berputar di kepala Nora layaknya kaset rusak. William benar-benar lepas kendali dan tidak mau berhenti. Nora bahkan bisa mendengar suara tulang punggungnya yang hampir patah. Bahkan, karena kejadian itu, hati Nora sempat goyah. William memang tidak berselingkuh, tidak bermain wanita di belakangnya seperti yang dilakukan oleh Luca. Tapi, kebohongan William jauh lebih menyakitkan daripada pengkhianatan Luca. "Sudah bangun?" Suara rendah William yang disertai dengan napas hangatnya di telinga Nora memb

  • Melepasmu di Pengkhianatan Kedua    Bab 16

    Cengkeraman di pergelangan tangan Nora terasa begitu kuat, menyalurkan seluruh amarah, kecemburuan, dan ketakutan yang mendadak meledak di dalam dada William. Pria itu menatap Nora dengan mata menyala merah, menuntut sebuah jawaban atas provokasi beracun yang baru saja dilontarkan oleh Zoya. Namun, sebelum Nora sempat membuka mulut untuk menjawab, sebuah suara dingin memecah ketegangan di antara mereka. "Sebastian." Panggilan itu keluar langsung dari bibir William. Tanpa mengalihkan tatapannya dari Nora, pria itu memerintahkan kepala pelayan setianya dengan nada yang begitu rendah dan mengancam. Sebastian, yang sejak tadi berdiri kaku di dekat pintu bersama para staf lainnya, langsung melangkah maju dengan cepat. "Tuan?" "Tolong bawa ibuku dan wanita itu keluar dari rumahku sekarang juga," perintah William mutlak, menunjuk tajam ke arah Clara dan Zoya. Clara langsung membelalakkan matanya tidak percaya, wajah wanita paruh baya itu memerah karena amarah yang teramat sangat. "Will

  • Melepasmu di Pengkhianatan Kedua    Bab 15

    Keesokan paginya, Nora kembali ke mansion utama tempat ia dan William tinggal. Langkah kakinya terasa ringan, jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya saat ia masih mencoba mempertahankan sandiwara pernikahan yang busuk itu.Begitu pintu utama terbuka, Sebastian langsung menyambutnya dengan wajah pucat. "Nyonya Nora... Tuan William ada di ruang kerja. Beliau tidak pergi ke kantor sejak kemarin dan terus mencari Anda.""Terima kasih, Seb," jawab Nora tenang.Ia melepaskan mantelnya, menyerahkannya kepada pelayan tersebut, lalu melangkah mantap menuju ruang kerja pribadi William di lantai dua. Tanpa mengetuk pintu, Nora langsung memutar gagang pintu dan mendorongnya terbuka lebar.Di dalam ruangan yang temaram itu, William tampak duduk di kursi kerjanya dengan penampilan yang sangat berantakan. Kemejanya kusut, rambutnya agak berantakan, dan puntung rokok berserakan di asbak—pemandangan yang tidak pernah dilihat Nora selama tiga tahun pernikahan mereka. Pria itu selalu tampak sempurna, di

  • Melepasmu di Pengkhianatan Kedua    Bab 14

    Sebelum sampai ke mansion keluarga Bennet, Stella mengirimkan sebuah tautan berita yang menampilkan wajah kedua orang tuanya.Dengan cepat, Nora membuka tautan itu.Barulah setelah itu Nora tahu bahwa tadi malam orang tuanya datang menjenguk Clara di rumah sakit dan berakhir dengan keributan.Sekarang, kerja sama antara keluarga Marchetti dan Bennet terancam dibatalkan secara sepihak oleh pihak Marchetti.Nora menggenggam ponselnya dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih.Ternyata Clara begitu terpengaruh oleh Zoya sampai bisa melakukan hal sejauh ini pada orang tuanya.Padahal Clara berteman dengan Elena sudah sejak lama. Namun, pertemanan itu ternyata bisa dengan mudah renggang hanya karena tipu daya seorang Zoya.Sama seperti hubungannya dengan William.Saat membaca nama Elena dalam berita itu, Nora segera kembali ke realitas.Ia meminta sopir taksi yang ditumpanginya agar mempercepat laju mobilnya menuju ke mansion keluarga Bennet.Saat masuk ke dalam mansion, Nora merasa san

  • Melepasmu di Pengkhianatan Kedua    Bab 13

    Langkah kaki Nora terdengar begitu mantap di atas lantai putih rumah sakit. Setiap hentakannya membuat suasana di dalam ruang rawat itu kian menegang. Clara terkesiap, tidak menyangka menantu yang selama ini dikenal pendiam dan kerap diselimuti rasa takut itu kini berani menatap matanya tanpa gentar. Sementara Zoya mengerutkan kening, senyuman remeh di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh rasa tidak nyaman melihat ketenangan di mata Nora. Nora berhenti tepat di samping ranjang, berdiri tegak dengan dagu terangkat. Ia tidak lagi memandang Clara sebagai seorang ibu mertua yang dihormati, melainkan sebagai wanita paruh baya yang telah termakan oleh kebohongan murahan. "Nyonya Marchetti, Anda bilang saya bertingkah seperti korban yang paling menderita di dunia?" Clara mendengkus, mencoba mempertahankan gengsinya meski sorot matanya mulai menyiratkan kebingungan. "Memang benar, kan? Padahal banyak wanita yang pasangannya selingkuh di luar sana, cuma kamu yang sampai depresi berl

  • Melepasmu di Pengkhianatan Kedua    Bab 12

    Zoya tidak tampak terkejut ataupun takut melihat sorot mata membunuh yang dipancarkan oleh William. Wanita itu justru menegakkan punggungnya, memasang senyuman tipis penuh arti sebelum melangkah mendekat dengan langkah anggun yang dibuat-buat. "Tenang dulu, Will. Jangan pasang muka menyeramkan begitu," ucap Zoya santai, lalu melirik sekilas ke arah Nora yang berdiri di belakang William dengan tatapan dingin. "Aku ke sini karena dihubungi oleh Tante Clara. Beliau sendiri yang meminta aku datang menemaninya." William mengerinyitkan keningnya, rahangnya mengeras. "Tidak mungkin." "Oh, benarkah?" Zoya terkekeh kecil, sebuah suara tawa yang mencuatkan rasa jengkel di dada siapa pun yang mendengarnya. "Tante Clara bilang, sejak kamu menikah dengan Nora, kamu jadi jarang berkunjung dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah mertuamu. Beliau merasa kesepian, Will. Dan kebetulan, aku dan Luca sedang berkunjung, jadi... ya, kami memutuskan untuk menemani beliau." Nora yang berdiri di bali

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status