Home / Romansa / Melepasmu di Pengkhianatan Kedua / Bab 5 : Mendapatkan Bukti

Share

Bab 5 : Mendapatkan Bukti

Author: Maufy Izha
last update publish date: 2026-10-28 15:20:52

"William benar-benar bajingan. Dia enggak ada bedanya sama Luca."

Stella sudah memaki William sebanyak seratus kali, namun Nora hanya menanggapinya dengan senyuman pahit.

Baru satu hari menikah, malah dapat kejutan seperti ini.

Sebenarnya, saat bersama William dan dua orang pengkhianat tadi, Nora masih memiliki sedikit harapan pada William.

Berharap bahwa suaminya itu setidaknya menunjukkan kemarahan atau kebencian pada Luca dan Zoya, seperti dirinya yang membenci kedua orang itu.

Namun, William justru tampak biasa saja. Malahan, Nora merasa bahwa suaminya itu berada di pihak Zoya dan Luca.

Nora menarik napas dalam-dalam.

"Itu sebabnya, aku ingin bercerai."

"Kamu... yakin? Maksudku, dulu saat gagal menikah dengan Luca, kamu hampir saja mengakhiri hidupmu sendiri."

Nora tersenyum, ia tidak menyangkalnya. Namun, kali ini ia bukan lagi Nora yang impulsif seperti dulu.

"Kamu benar. Tapi kali ini, aku janji, aku enggak akan bertindak bodoh seperti dulu lagi."

"Bagaimana dengan William? Dia pasti tidak akan mau bercerai begitu saja, apalagi kalian baru menikah satu hari."

"Aku tahu. Itu sebabnya, aku berpikir untuk mendapatkan tanda tangannya secara diam-diam, lalu menghilang."

Stella mengerucutkan bibirnya, tampak berpikir keras.

"Tapi sebelum itu, apa kamu yakin aku benar-benar bisa mengajukan pembatalan pernikahan? Karena staf kantor catatan sipil bilang..."

"Bisa. Asalkan kamu bisa mendapatkan bukti yang meyakinkan bahwa pernikahan itu tidak sah karena William menjadikan pernikahan kalian sebagai taruhan demi mendapatkan uang."

Nora mengangguk, kemudian berkata, "Aku akan mendapatkan buktinya. Jadi, tolong buatkan aku surat pernyataan pembatalan pernikahanku, sisanya biar aku yang tangani."

***

Nora sampai di mansion tepat pukul lima sore. Saat masuk ke dalam rumah, William masih belum pulang.

Nora sudah bisa menebak keberadaan suaminya itu saat ini. Dan Nora sudah tidak ingin tahu.

Wanita itu menyeret tubuhnya yang lelah menuju kamar utama, lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Selesai mengeringkan rambutnya, Nora merasa sangat mengantuk, jadi dia naik ke atas ranjang dan tertidur.

Entah sudah berapa lama tertidur pulas, Nora tiba-tiba merasakan gerakan dari sisi ranjangnya. Tak lama kemudian, sesuatu yang kokoh dan berat melingkari pinggangnya.

William pulang.

Nora seketika menegang. Namun, ia memutuskan untuk tetap berpura-pura tidur meskipun jari-jari William mulai bergerilya menjelajahi tubuhnya sambil memberikan kecupan-kecupan basah di punggung hingga ke lehernya.

Nora membeku seperti batu. Sentuhan William saat ini terasa begitu mengganggu.

Nora mengepalkan jarinya di balik selimut, menahan napas sekuat tenaga agar William tidak curiga bahwa ia telah terjaga. Meskipun rasa mual kembali membumbung sampai ke tenggorokannya, Nora berusaha agar tubuhnya tidak sampai bergetar karena setiap sentuhan bibir William yang hangat di lehernya kini terasa begitu beracun dan menjijikkan.

"Sayang... kamu sudah tidur?" bisik William serak. Suaranya bergema begitu dekat di telinga Nora, disusul oleh hembusan napas hangatnya yang menerpa kulit lehernya.

Nora sengaja tidak menjawab. Ia tetap memejamkan mata erat-erat, mengatur ritme napasnya seolah-olah ia tengah terlelap dalam tidur nyenyak.

William terkekeh pelan. Pria itu menyusupkan tangannya lebih dalam, memeluk pinggang Nora hingga tidak ada jarak di antara tubuh mereka. Pria itu menyandarkan dagunya di bahu Nora, lalu mengecup pelipisnya dengan sangat lembut—kelembutan palsu yang kini membuat Nora merasa ingin melarikan diri dari sisinya.

"Maafkan aku untuk yang tadi siang," gumam William pelan, nadanya terdengar penuh penyesalan yang sangat meyakinkan. "Aku tidak berniat mengabaikanmu. Pertemuan tadi memang mendadak..."

Nora mempertahankan posisinya, tetapi pikirannya berputar cepat.

Dia masih terus berbohong, bahkan saat memelukku seperti ini.

Nora menggigit bibirnya hingga nyaris berdarah. Rasa sedih dan kecewa yang teramat sangat memenuhi dadanya.

"Aku tahu kamu marah," lanjut William sambil mengusap lembut perut Nora di balik piyama sutranya. "Tapi percaya padaku, Nora. Semua yang aku lakukan adalah demi kita. Aku hanya ingin memastikan kamu aman dan selalu berada di sisiku."

Ucapan William hampir saja membuat Nora tertawa getir. Meskipun sudah memutuskan untuk berpisah dengan William, mendengar pernyataan yang masih terasa sangat tulus itu membuat luka hati Nora kembali berdarah. Nora sadar, ia masih sangat mencintai William. Namun, kenyataan bahwa pria itu menjadikannya bahan taruhan—apalagi bersama Zoya dan Luca—tidak bisa menghapus kekecewaan di dalam hatinya.

Tak lama kemudian, usapan William perlahan melambat. Napas pria itu mulai teratur dan berat di tengkuk Nora. William akhirnya tertidur, memeluknya bagai barang berharga yang tak boleh terlepas.

Nora menunggu sekitar lima belas menit hingga yakin William benar-benar terlelap.

Saat dengkuran halus William terdengar, Nora membuka matanya perlahan di dalam cahaya temaram kamar.

Ini saat yang tepat untuk mendapatkan buktinya.

Nora mengedarkan pandangannya, lalu menemukan ponsel William yang tergeletak di atas nakas.

Sorot matanya pun tidak lagi dipenuhi kecemasan, melainkan penuh dengan tekad.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Mariam Marife
ikut deg degan nich
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Melepasmu di Pengkhianatan Kedua    Bab 13

    Langkah kaki Nora terdengar begitu mantap di atas lantai putih rumah sakit. Setiap hentakannya membuat suasana di dalam ruang rawat itu kian menegang. Clara terkesiap, tidak menyangka menantu yang selama ini dikenal pendiam dan kerap diselimuti rasa takut itu kini berani menatap matanya tanpa gentar. Sementara Zoya mengerutkan kening, senyuman remeh di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh rasa tidak nyaman melihat ketenangan di mata Nora. Nora berhenti tepat di samping ranjang, berdiri tegak dengan dagu terangkat. Ia tidak lagi memandang Clara sebagai seorang ibu mertua yang dihormati, melainkan sebagai wanita paruh baya yang telah termakan oleh kebohongan murahan. "Nyonya Marchetti, Anda bilang saya bertingkah seperti korban yang paling menderita di dunia?" Clara mendengkus, mencoba mempertahankan gengsinya meski sorot matanya mulai menyiratkan kebingungan. "Memang benar, kan? Padahal banyak wanita yang pasangannya selingkuh di luar sana, cuma kamu yang sampai depresi berl

  • Melepasmu di Pengkhianatan Kedua    Bab 12

    Zoya tidak tampak terkejut ataupun takut melihat sorot mata membunuh yang dipancarkan oleh William. Wanita itu justru menegakkan punggungnya, memasang senyuman tipis penuh arti sebelum melangkah mendekat dengan langkah anggun yang dibuat-buat. "Tenang dulu, Will. Jangan pasang muka menyeramkan begitu," ucap Zoya santai, lalu melirik sekilas ke arah Nora yang berdiri di belakang William dengan tatapan dingin. "Aku ke sini karena dihubungi oleh Tante Clara. Beliau sendiri yang meminta aku datang menemaninya." William mengerinyitkan keningnya, rahangnya mengeras. "Tidak mungkin." "Oh, benarkah?" Zoya terkekeh kecil, sebuah suara tawa yang mencuatkan rasa jengkel di dada siapa pun yang mendengarnya. "Tante Clara bilang, sejak kamu menikah dengan Nora, kamu jadi jarang berkunjung dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah mertuamu. Beliau merasa kesepian, Will. Dan kebetulan, aku dan Luca sedang berkunjung, jadi... ya, kami memutuskan untuk menemani beliau." Nora yang berdiri di bali

  • Melepasmu di Pengkhianatan Kedua    Bab 11

    Mendengar tawaran ibu mertuanya, William langsung menoleh ke arah Nora. Ada secercah harapan di mata pria itu, mengira bahwa menginap di rumah orang tua Nora bisa menjadi kesempatan emas untuk meredakan kemelut di antara mereka berdua. Namun, sebelum William sempat membuka mulut untuk menjawab, Nora lebih dulu menyela dengan suara tenang namun tegas. "Tidak, Mom. Kami harus pulang malam ini." Elena mengerjap pelan, tampak terkejut dengan penolakan yang begitu cepat. "Loh, kenapa buru-buru? Besok kan akhir pekan, William juga pasti libur, kan, Will?" Elena beralih menatap menantunya untuk mencari dukungan. William tersenyum kaku, melirik sekilas ke arah Nora yang memasang wajah sedingin es. "Ah... iya, Mom. Sebenarnya tidak masalah, tapi sepertinya Nora benar-benar lelah..." "Ya, kami ada urusan penting besok pagi," potong Nora tanpa memberi kesempatan William menyelesaikan kalimatnya. Melihat Nora yang bersikeras, William pun akhirnya mengalah. Pria itu kemudian diam. Se

  • Melepasmu di Pengkhianatan Kedua    Bab 10 : Mereka yang Terbaik

    Nora menggeleng pelan."William tidak ikut."Nora menjawab dengan singkat, tidak seperti biasanya.Meskipun setelah sembuh dari depresinya Nora hampir setiap hari bersama dengan William hingga jarang berkumpul bersama orang tuanya, namun setiap kali mereka bertemu Nora hanya akan menceritakan segala sesuatu tentang William.William begini.William begitu.Tiba-tiba, hari ini putri mereka tampak enggan saat menyebut nama William.Elena sedikit mengerutkan keningnya dan bertanya dengan hati-hati, "Kalian bertengkar?"Nora terdiam, namun tidak menyangkal."Mom, Dad... aku ingin mengatakan sesuatu."Pengakuan Nora membuat Sergio dan Elena saling menatap, wajah mereka dipenuhi kekhawatiran.Namun, mereka tidak ingin mendesak putri mereka. Melihat wajah murung Nora sudah cukup membuat mereka sedih."Kita makan malam dulu, baru cerita, oke?""Ayahmu benar, curhat juga butuh energi."Mendengar jawaban ayah ibunya, Nora pun tidak kuasa menahan tawanya.Orang tuanya paling tahu cara membuatnya

  • Melepasmu di Pengkhianatan Kedua    Bab 9 : Perang Dingin

    Clara melangkah mendekat, tangannya terangkat seolah ingin melayangkan sebuah tamparan keras ke pipi Nora. Nora tidak menghindar. Ia berdiri tegak, menatap lurus mata ibu mertuanya dengan sorot penuh perlawanan, siap menerima apa pun untuk membuktikan bahwa dia tidak akan membiarkan siapapun menginjak-injak harga dirinya, terutama di hadapan Zoya dan Luca. Namun, sebelum tangan Clara sempat menyentuh wajahnya, sebuah gerakan cepat terjadi di samping Nora. William dengan sigap menepis tangan sang ibu, berdiri tepat di antara Nora dan Clara. Napas pria itu memburu, sorot matanya menatap sang ibu dengan kilatan emosi yang sulit diartikan. "Cukup, Ma!" suara William memecah keheningan ruangan VVIP itu. Semua orang tertegun. Bahkan Zoya dan Luca tampak terkejut melihat William membela Nora di hadapan ibunya sendiri. Clara membelalakkan mata tidak percaya. "William! Kamu membela perempuan ini dan membentak Mama?!" William menatap Nora sekilas, lalu kembali menatap sang ibu den

  • Melepasmu di Pengkhianatan Kedua    Bab 8 : Depresiku adalah Lelucon?

    William baru saja akan membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, namun Zoya lebih dulu bersuara, "Nora, jangan marah sama William. Tante Clara lah yang mengundang kami makan malam bersama hari ini." Wanita berambut pendek itu tersenyum ceria, Nora bisa melihat bahwa Zoya sangat menikmati ekspresinya yang berubah murung. Saat itu, ibu mertuanya, Clara Marchetti, ikut menatap Nora. Tatapannya tampak dingin dan tidak sabar. Padahal, Clara dulu sangat baik dan hangat kepadanya. Entah kenapa, selama setahun belakangan, sikap ibu mertuanya sedikit berubah. Sekarang, setelah melihat Zoya yang tampak begitu akrab dengannya, Nora seketika paham dengan perubahan ibu mertuanya. Tanpa sadar, sudut bibir Nora terangkat sedikit, menyunggingkan senyuman tipis penuh sindiran. "Nora, duduklah. Jangan menatapku dan Zoya seperti musuh. Yang lalu biarlah berlalu, kenapa kamu tidak bisa melepaskan masa lalu?" "Tante Clara benar. Dan lagi, biar ku ulangi, kalau nggak ada kejadian hari itu,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status