LOGINBuat pembaca tercinta yang bingung, kenapa kalau malam hari hanya satu bab? Jadi gini,3 bab terbitnya pagi hingga siang, 1 bab nya malam, jadi totalnya 4 bab perhari, lebih dari itu pala author berbintang ria cari inspirasi, hehe, salam MRD_BB
Untuk redakan jakunnya yang naik tak beraturan, Mamon bikin kopi dan sengaja ke bagian belakang penginapan ini, ada balkon kecilnya sehingga dia bisa merokok di sini.Tak mungkin dia merokok di kamar, ada Listi dan bayinya. “Ada-ada saja kelakuan si Listi, bikin aku puyeng saja,” batin Mamon senyum sendiri.“Om Mamon nggak ngantuk?” Listi keluar dan kini dia sudah berganti pakaian, tapi pakaiannya justru dasteran dan duduk di dekat Mamon yang hanya berjarak meja kecil.Nggak makai beha lagi,sehingga ujungnya terlihat menonjol di dasternya tipisnya, juga dalemannya terlihat jelas. Tapi Mamon tetap berlaku sopan tidak mau memandang berlebihan ke tubuh Listi.“Aku biasa tidur di atas pukul 00.00, ini…oh iya hampir pukul 12 malam ya!” sahut Mamon, yang buru-buru matikan rokoknya.“Makasih lo Om, aku tak pernah mimpi akan di bantu segitu banyaknya, sampai gemetaran aku pegang tu duit,” kata Listi lugu sambil tertawa kecil.Mamon ikutan senyum, dalam hati menyebut tolol si Yono, bini begini
“Aku tak mau ikutin kemauan kamu mas, aku nggak mau di jual ke lelaki hidung belang, malam ini aku mau ambil anakku dan pergi dari rumah kontrakan kita, kita cerai saja,” balas Listi yang jadi berani karena ada Mamon di dekatnya.“Ihh perempuan sialan, kamu berani ngelunjak yaa,” suami Listi mencoba raih tangan istrinya dengan kasar.“Tahan, sabar bung, begini saja, kamu lepaskan Listi dan sebutkan saja kamu mau minta berapa,” sela Mamon kalem, sebab ia lihat para warga, tetangga Listi dan suaminya ini mulai menonton mereka, sehingga Mamon gerah juga.“Ihh kamu mau beli bini aku, boleh sekali, kamu bayar 50 jutaa sekarang juga, setelahnya silahkan kamu pakai sepuasnya istriku ini,” seru si lelaki muda ini tanpa malu-malu.“Gila kamu mas, kamu mau jual aku?” cetus Listi terkejut dengan ulah gila suaminya.“Ahh cerewet kamu, setelah laki-laki ini bayar aku, terserah kamu mau pergi sama dia, kita cerai malam ini juga tak masalah, bawa tuh sekalian anak kita!” sahut suaminya dengan suara
Mamon merebahkan tubuhnya yang terasa lelah di penginapan yang hanya bertarif 150 ribu satu malam. Baru saja ingin memejamakan mata, Mamon mendengar ada suara keributan kecil di depan kamarnya.Awalnya Mamon tak gubris suara ribut itu, tapi dia kaget ketika ada gedoran di pintunya, hingga ia terkejut juga, sekaligus ingin marah."Aku pingin istirahat, ada saja gangguan!" dengus Mamon menahan mangkel.Dengan cepat Mamon bangkit dan berpakaian, lalu buru-buru buka pintu kamarnya, dia makin terkejut saat seseorang tanpa ba bi bu nyelonong masuk ke kamarnya.Mamon yang masih berdiri di depan pintu melihat bayangan dua orang yang berlari ke arah kamarnya.Mamon tetap berdiri tenang, sampai dua orang tadi sampai di depannya.Orang yang nyelonong masuk kamarnya tadi kini sembunyi di sisi ranjang, hingga tubuhnya tak terlihat.Satu orang agaknya seumuran dengan Mamon dan satu orang lagi agak tua, pakaiannya juga terlihat perlente.“Apakah kamu melihat seorang wanita berlari ke sini tadi,” sa
Mamon heran melihat wanita ini malah tertawa di saat terluka parah, akibat tembakan anggota kepolisian yang mengejar mereka sebelumnya.“Hei Mamon, kamu boleh tertawa sekarang, tapi ingat akan ada kelak seseorang yang membuat kamu menyesal pernah tidak bertanggung jawab denganku,” dengus Madam B.Nafasnya sengal – sengal menahan sakit, seolah-olah ingin sampaikan sebuah pesan berbau ancaman.“Apa maksud kamu Bressia,” sahut Mamon dingin, walaupun hatinya kaget juga.“Dia akan menjadi musuh besarmu kelak, saat ini dia masih anak-anak, tapi aku sudah menanamkan kebencian pada kamu dan keluargamu sejak dia bisa bicara,” sentak Madam B, sambil memicingkan satu matanya, seakan ingin menelan bulat-bulat saja Mamon di depannya saat ini."Kenapa kamu begitu benci dengan aku dan keluargaku Bressia?" tanya Mamon kalem."Tanyalah pada kakek moyang dan leluhurmu...!" dengus Madam B dengan satu matanya menatap wajah Mamon enuh kebencian.Namun itulah ucapan terakhir Bressia atau Madam B, usai meng
Baru saja Mamon akan bergerak untuk keluar dari persembunyianya, tiba-tiba masuk anak buah Cak Koso dengan langkah tergesa-gesa dan wajah pucat.“Gawatt Madam, kepolisian datang ke sini untuk bekuk Madam,” kata anak buah Cak Koco ini, Cak Koso pn ikutan terkejut tak kepalang."Bangsat, jejak aku sudah di ketahui aparat!" dengus Madam B, dia kontan bangkit dan dua pengawalnya seketika ikutan bangkit dan mereka menuju ke mobilnya di halaman bangunan ini.“Berhenti jangan ada yang kabur,” bentak seseorang berbaju preman.Namun orang yang Mamon duga polisi itu kalang kabut bersembunyi, saat salah satu pengawal Madam B menembaknya hingga 3X.Lalu mereka buru-buru masuk ke mobil dan tancap gas.Dua bua buah motor yang halangi pelarian mobil ini, pengendaranya langsung kocar kacir melompat, saat mobil SUV ini tak ragu tabrak motor tersebut.Brakkk...!Bunyi nyaring terdengar jelas, dua buah motor itu penyok berat dan terlempar di kiri dan kanan, tapi SUV ini tetap tancap gas.Bunyi rentetan
Paginya…Wiwi kaget, saat tempat kencingnya di sedot-sedot, ketika melihat siapa pelakunya, Wiwi terkekeh dan langsung mendesah ke enakan.“Terusin Om…enak banget,” desah Wiwi dan kini dia tak malu-malu minta gaya 69, dia gemas ingin gigaiii pelatuk gede Mamon.Mamon gantian rebahan dan Wiwi tak malu-malu lagi berada di atas tubuh Mamon sambil sodorkan pantat gemoynya ke wajah Mamon.Puas foreplay yang bikin Wiwi klimaks, mereka kembali berlayar di pagi yang dingin ini, kali ini bukan hanya di kasur, gaya berdiri hingga di kamar mandi pun mereka lakukan untuk lanjutkan percintaan panas ini.Wiwi dan Mamon tak keluar kamar 2 hari 2 malam, keduanya mabuk bercinta saja, makanan pun mereka pesan dari kamar ini.Tapi hari ke 3, Mamon ingat kalau hari ini Madam B akan tiba di kota ini.Juga Wiwi mulai merasakan capek sangat di hajar sang pejantan bangor siang malam ini, sampai Wiwi bilang sang bangor ini kalau kelak punya bini lagi, nggak cukup satu, minimal 3 orang sekaligus.“Kalau dua ka







