LOGINLanjutannya, besok lagi yah seperti biasa 4 bab. Author semedi dulu, biar kisahnya makin asyikkk, salam MRD_BB
5X panggilan Mamon belum di jawab Adelia, tapi dia lalu tinggalkan pesan buat si artis itu dan sebutkan Putri Intan ada di rumahnya, sekaligus kirim sherlock-nya dan minta agar segera di jemput.“Mungkin dia lagi sibuk syuting, masa sepupu sendiri ngilang dia nggak panik, aneh saja si Adelia ini” batin Mamon, hibur hatinya.Kini Mamon kembali ke kamar dan menatap wajah jelita si gadis kecil ini. Putri Intan nyenyak sekali bobok chantiiik-nya, sudah satu jam belum juga bangun, saking nyenyaknya.Tiba-tiba ponsel Mamon bunyi, ternyata Adelia yang telpon balik, Mamon pun geser ke balkon dan menerima telpon si artis ini, agar tak ganggu boboknya Putri Intan.“Heii Mamooooonn…duehh tumben nih setelah sekian tahun baru nelpon akiuuuu, mentang-mentang udah duren, makin sombioooong nihhh,” terdengar suara Adelia, bukannya tanyakan soal Putri Intan, Adelia malah nyerocos soal Mamon.“Adelia, kamu udah kelar syutingnya? Nih sepupu kamu Putri Intan, si gadis cilik ada di tempat aku, dia nyasar k
“Woww…ini rumah milik Om, ini istana apa rumah sih?” ceplos Putri Intan polos dan terkagum-kagum, melihat kemewahan dan besarnya rumah bercat putih ini.“Rumahlah, masa istana…ayo masuk, kamu bisa makan sepuasnya di dalam,” ajak Mamon, sambil tarik tangan Putri Intan yang masih terbengong - bengong dengan kemewahan rumah ini.Tapi soal rumah seketika di lupakan Putri Intan, si gadis cilik ini makan dengan sangat lahap, semua menu dia cicipin, tak ada yang tidak dia rasain.“Den bagus ini anak siapa sih? Cakep benar kayak anak bule ajee?” Mbok Imah bertanya sambil menatap si Putri makan tanpa malu-malu dan kadang berseru wowww kalau lauknya sedap.“Katanya dia sepupunya artis, nggak tau siapa namanya, pas sepupunya lagi syuting dia malah jalan-jalan dan nyasar. Lalu minta duit karena lapar, ya udah aku bawa aja ke sini,” sahut Mamon, yang ikutan menatap kelakuan si Putri Intan ini makan.“Pasti ortunya atau sepupunya panik dia ngilang! Ni anak bukan anak orang biasa agaknya, lihat ajah
Sepanjang jalan sejak pisah dengan Listi, Mamon jadi sering senyum, selain ingat Listi, dia juga ingat Wiwi.Kalau Wiwi punya apem mulus tanpa rumput, milik Listi rimbun dan ASI-nya yang bikin Mamon sering senyum sendiri, apalagi kalau lihat ibu-ibu kasih ASI pada bayinya.“Ahh kacau, gara-gara aku duda dan kumat lagi nakalku, ya gini jadinya,” keluh Mamon dan geber motor gedenya menuju ke Jawa Timur.Anehnya…gara-gara kembali kumat dengan dua wanita strata biasa, Mamon jadi nggak begitu selera dengan wanita higtclass, apalagi yang suka oplas-oplas dan maunya perawatan mulu di salon mehong.“Mereka lebih alami dan jujur, nggak malu-malu ungkapkan perasaannya, beda dengan wanita di kota, banyak kamuplase dan banyak tuntutan. Itunya juga wangi alami” gumam Mamon, lalu tertawa sendiri.Mamon akhirnya sampai di Surabaya, kali ini dia tak perlu nginap di hotel-hotel murah, di sini ada rumah mewah dan gede milik keluarganya, tapi Mamon pilih ke Malang, ia bosan di kota pahlwan ini, kemana-ma
Tangan Mamon bergerak dan…bless, Listri kaget dan menjerit lirih, tapi setelahnya merem melek saat miliknya terasa sangat penuh plus senat senut yang bikin dirinya merasakan kenikmatan tiada tara.Tarikan Mamon di pingganya, membuat dua kutub min dan plus ini langsung merapat penuh.“Enak gaa…?” bisik Mamon tertawa, sambil remas-remas melon Listi yang penuh ASI.“Bukan enak lagi…komplet, enak, perih dikit, dan aduuhh Bang…pingin keluar nih,” balas Listi dan tubuhnya membungkuk karena di tarik Mamon dan sesaat keduanya saling berbagi air liur di sisi bayi Listi.Listi pun tak ragu mulai gerakan pinggulnya bergoyang pargoy di atas kuda jantan nan tangguh dan perkisong ini.Desahannya di tambah bunyi jalan berlumpur, jadi musiik indah persenggamaan keduanya. Listi ternyata nggak nahan di atas, dia cepat keluar tanpa bisa di tahan lagi, sehingga miliknya yang awalnya sesak, kini sangat lancar, olie pelumas Listi yang tiada henti keluar membuat jalannya semakin mulus. Si baby ini tak terg
Untuk redakan jakunnya yang naik tak beraturan, Mamon bikin kopi dan sengaja ke bagian belakang penginapan ini, ada balkon kecilnya sehingga dia bisa merokok di sini.Tak mungkin dia merokok di kamar, ada Listi dan bayinya. “Ada-ada saja kelakuan si Listi, bikin aku puyeng saja,” batin Mamon senyum sendiri.“Om Mamon nggak ngantuk?” Listi keluar dan kini dia sudah berganti pakaian, tapi pakaiannya justru dasteran dan duduk di dekat Mamon yang hanya berjarak meja kecil.Nggak makai beha lagi,sehingga ujungnya terlihat menonjol di dasternya tipisnya, juga dalemannya terlihat jelas. Tapi Mamon tetap berlaku sopan tidak mau memandang berlebihan ke tubuh Listi.“Aku biasa tidur di atas pukul 00.00, ini…oh iya hampir pukul 12 malam ya!” sahut Mamon, yang buru-buru matikan rokoknya.“Makasih lo Om, aku tak pernah mimpi akan di bantu segitu banyaknya, sampai gemetaran aku pegang tu duit,” kata Listi lugu sambil tertawa kecil.Mamon ikutan senyum, dalam hati menyebut tolol si Yono, bini begini
“Aku tak mau ikutin kemauan kamu mas, aku nggak mau di jual ke lelaki hidung belang, malam ini aku mau ambil anakku dan pergi dari rumah kontrakan kita, kita cerai saja,” balas Listi yang jadi berani karena ada Mamon di dekatnya.“Ihh perempuan sialan, kamu berani ngelunjak yaa,” suami Listi mencoba raih tangan istrinya dengan kasar.“Tahan, sabar bung, begini saja, kamu lepaskan Listi dan sebutkan saja kamu mau minta berapa,” sela Mamon kalem, sebab ia lihat para warga, tetangga Listi dan suaminya ini mulai menonton mereka, sehingga Mamon gerah juga.“Ihh kamu mau beli bini aku, boleh sekali, kamu bayar 50 jutaa sekarang juga, setelahnya silahkan kamu pakai sepuasnya istriku ini,” seru si lelaki muda ini tanpa malu-malu.“Gila kamu mas, kamu mau jual aku?” cetus Listi terkejut dengan ulah gila suaminya.“Ahh cerewet kamu, setelah laki-laki ini bayar aku, terserah kamu mau pergi sama dia, kita cerai malam ini juga tak masalah, bawa tuh sekalian anak kita!” sahut suaminya dengan suara







