Share

Bab 4

Author: Lintang
Seminggu lalu, saat menjalani pemeriksaan pranikah, aku diketahui mengalami gangguan pembekuan darah yang penyebabnya belum diketahui.

Aku membawa hasil pemeriksaan itu untuk menemui Ibu. Sayangnya, sebelum aku sempat mengatakan apa-apa ....

Jemima sudah menelepon dan membuat Ibu buru-buru pergi.

"Gula darahmu turun lagi? Jangan takut, Ibu segera pulang!"

Ibu langsung mengambil tasnya, lalu berjalan melewatiku tanpa menoleh sedikit pun.

"Taruh saja di laci. Nanti setelah kembali, Ibu akan membacanya!"

Melihat ekspresi bingung di wajah Ibu sekarang, sepertinya hasil pemeriksaan itu masih tergeletak begitu saja di dalam laci meja.

Aku terengah-engah dan berusaha menjelaskan dengan suara yang sudah sangat lemah.

"Bu, aku punya gangguan pembekuan darah .... Aku nggak bisa donor darah ...."

Ibu sempat tertegun.

Tangannya menyentuh pakaianku sebentar, lalu dia malah tertawa dingin.

"Darah di bajumu saja sudah hampir mengering. Gangguan pembekuan darah? Bisa-bisanya kamu mencari alasan seperti itu!"

"Itu karena pecahan kacanya ...."

"Cukup!" Ibu memotong ucapanku dengan keras. Tatapannya luar biasa dingin.

"Mima terluka gara-gara melindungimu, tapi cuma diminta donor sedikit darah saja kamu sudah mencari berbagai alasan!"

"Kamu benar-benar membuatku kecewa!"

Ibu pun melambaikan tangan ke arah petugas keamanan.

"Bawa dia masuk ke ruang gawat darurat!"

Tubuhku yang sudah lemas segera diseret, lalu dilemparkan ke atas ranjang.

Begitu melihat wajahku, Raditya langsung mengernyit.

"Bu Diana, wajah Claudia memang kelihatannya kurang sehat ...."

"Dia begitu karena kebohongannya terbongkar dan sekarang lagi ketakutan!" Ibu sibuk mengutak-atik peralatan medis di atas baki tanpa menoleh sedikit pun.

"Aku sudah menjadi dokter selama bertahun-tahun. Orang yang benar-benar terluka dan orang yang cuma merasa bersalah bisa kubedakan hanya dengan sekali lihat!"

Jemima duduk setengah bersandar di ranjang VIP yang dilengkapi berbagai peralatan medis. Dia dikelilingi dokter-dokter kepala dari berbagai poli rumah sakit.

Berbeda denganku yang tubuhnya kotor dan berlumuran darah, pakaian Jemima tetap bersih dan rapi. Luka di lengannya pun sudah dibalut dengan baik.

Dengan wajah pucat, Jemima menatapku lalu menundukkan kepala seakan sedang menahan sesuatu.

"Kalau Kak Claudia memang nggak mau, nggak apa-apa. Ibu sudah menghidupiku selama ini. Jangankan hari ini aku duduk di kursi penumpang depan dan terluka menggantikan Kak Claudia, bahkan kalau harus menukar nyawaku dengan nyawanya pun aku rela."

Ucapan Jemima terdengar begitu mulia, tetapi nada suaranya sarat dengan rasa sedih dan kecewa.

Seolah-olah bukan dirinya yang tadi dengan senang hati merebut kursi penumpang depan dariku.

Ibu buru-buru merangkul dan menenangkan Jemima, lalu menoleh padaku dengan tatapan penuh kekecewaan.

"Kalau kamu bisa sedikit saja sepengertian Mima, Ibu sudah bersyukur!"

Raditya lalu berjalan menghampiriku dan menggenggam tanganku.

"Claudia, jangan takut. Cuma ambil sedikit darah. Setelah selesai, aku akan langsung merawat lukamu."

Nada suara Raditya terdengar lembut, tetapi sama sekali tidak memberi ruang untuk membantah. Tangannya mencengkeram lenganku begitu kuat hingga aku tak bisa melepaskan diri.

Darah hangat mengalir perlahan melalui selang.

Tubuhku makin dingin, begitu pula hatiku.

"Sudah!" Ibu mengangkat dua kantong darah yang masih terasa hangat, lalu berucap dengan nada datar.

"Lihat? Bukannya nggak terjadi apa-apa? Sesekali mengeluarkan darah segar malah bagus untuk tubuhmu!"

"Raditya, tolong buatkan dia air gula merah!"

Air gula merah disodorkan ke bibirku. Jangankan meminumnya, aku bahkan tidak berani menelan seteguk pun. Bagi seseorang yang mengalami perdarahan dalam, minum air dalam keadaan seperti ini hanya akan memperburuk keadaan.

Melihatku memejamkan mata dan tidak bergerak, Ibu kembali marah.

"Kamu sengaja ngambek lagi ya? Claudia, apa kamu nggak bisa nurut sedikit? Raditya, paksa dia minum!"

Raditya sempat ragu. Namun, pada akhirnya dia tetap mencubit rahangku dan menuangkan air gula merah itu ke dalam mulutku. Aku langsung tersedak dan batuk hebat.

"Claudia, jangan keras kepala. Kamu baru saja diambil darahnya. Air gula merah bisa membantumu cepat memulihkan tenaga."

Raditya menepuk tanganku pelan.

"Setelah Mima dipasangi kantong darah, aku dan Bu Diana bakal langsung kembali untuk menangani lukamu."

Tak lama kemudian, area di sekitar ranjangku kembali sunyi. Dalam keadaan setengah sadar, aku masih bisa mendengar suara ramai dari arah ranjang VIP yang terasa makin jauh.

"Mima hebat banget. Waktu dijahit tadi, dia sama sekali nggak menangis!"

"Raditya, bukannya Mima mau makan kue dari toko dessert yang sedang viral itu? Nanti jangan lupa belikan ya."

"Baik, Bibi. Tenang saja. Nanti, aku belikan semua rasanya untuk Mima."

....

Mereka bertiga berbicara begitu akrab dan hangat, seolah-olah mereka barulah satu keluarga.

Sementara itu, aku terbaring sendirian di sudut yang gelap. Tiba-tiba, aku memuntahkan darah dalam jumlah banyak.

Saat itulah aku teringat, hari ini seharusnya aku pergi mendaftarkan pernikahan ....

Monitor jantung di sampingku mengeluarkan bunyi panjang. Kemudian, garis di layar perlahan berubah menjadi lurus.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Membiarkanku Jadi Pasien Terakhir   Bab 10

    Semua orang langsung terdiam, termasuk aku yang masih melayang di udara.Bukannya aku tidak pernah menyadari bahwa Raditya lebih perhatian pada Jemima. Hanya saja, selama ini aku terus menipu diri sendiri.Aku terus meyakinkan diri bahwa semua itu hanya bentuk kasih sayang seorang kakak kepada adiknya.Wajah Ibu memerah karena marah. Jari yang menunjuk Jemima sampai gemetar hebat."Aku sudah memperlakukanmu seperti anak kandung sendiri! Semua yang dimiliki Claudia bahkan sudah kurencanakan untuk dibagi rata denganmu!""Aku nggak pernah memperlakukanmu dengan buruk! Kalau kamu punya masalah denganku, seharusnya kamu melampiaskannya padaku! Kenapa kamu malah membunuh anakku?"Ekspresi Jemima berubah makin liar dan penuh kebencian."Nggak pernah memperlakukanku dengan buruk? Itu cuma karena kamu kasihan padaku!""Kenapa sejak lahir aku dibuang orang tuaku di toilet, lalu tumbuh seperti pengemis yang harus menumpang makan dari satu rumah ke rumah lain dan dipandang rendah oleh semua orang?

  • Membiarkanku Jadi Pasien Terakhir   Bab 9

    Di antara pasien yang sedang mengantre di aula, kebetulan ada seseorang yang menjadi informan bagi wartawan berita sosial.Berhubung sudah menunggu terlalu lama dan mulai tidak sabar ....Dia menempelkan telinga ke pintu ruang gawat darurat saking penasaran dengan apa sebenarnya yang sedang terjadi di dalam.Namun bukannya mendengar suasana penanganan pasien yang teratur, dia justru menangkap suara pertengkaran sengit.Di sela-sela keributan itu, samar-samar terdengar kata-kata seperti meninggal, pemalsuan, dan balas dendam.Naluri yang terbentuk dari pengalamannya selama bertahun-tahun langsung membuatnya curiga bahwa rumah sakit ini mungkin sedang berusaha menutupi sebuah insiden medis serius.Orang itu segera menghubungi wartawan yang biasa bekerja dengannya.Kebetulan, mereka tiba hampir bersamaan dengan polisi lalu lintas yang datang ke rumah sakit untuk menangani tindak lanjut kecelakaan tadi.Polisi yang memimpin rombongan menyapu ruangan dengan pandangan, lalu tatapannya berhen

  • Membiarkanku Jadi Pasien Terakhir   Bab 8

    Beberapa menit kemudian, pintu ruang gawat darurat kembali terbuka.Lisa masuk dengan pakaian petugas kebersihan dan masih membawa alat pel di tangannya.Begitu melihatnya, Ibu langsung menerjang maju dan mencengkeram kerah bajunya erat-erat."Beri tahu aku, sebenarnya gimana hasil pemeriksaan Claudia? Kenapa dia bisa mengalami gangguan pembekuan darah?"Lisa melihat tubuhku yang terbaring di genangan darah. Sedikit keterkejutan dan rasa iba melintas di matanya.Namun sesaat kemudian, dia justru mencibir pada Ibu."Bu Diana, dari pemeriksaan pranikah memang diketahui bahwa Claudia terinfeksi virus langka yang menyebabkan gangguan pembekuan darah.""Tapi, ini juga bukan penyakit mematikan yang sulit diobati. Selama ditangani sejak awal, bagi dokter bedah sehebat Anda, kondisi seperti ini paling cuma perlu beberapa jenis obat."Lisa menatap Ibu dari atas ke bawah."Kenapa? Sudah selama ini, Anda masih nggak tahu kondisi kesehatan putri Anda sendiri?"Tubuh Ibu langsung bergetar hebat.Se

  • Membiarkanku Jadi Pasien Terakhir   Bab 7

    Ujung jari Ibu merasakan dingin dan kaku yang membuat jantungnya seolah berhenti sesaat.Rona di wajahnya langsung menghilang. Pupil matanya mengecil tajam."Claudia ... kamu ... jangan menakuti Ibu ...."Tanpa sadar, dia kembali mendorong tubuhku, kali ini dengan tenaga yang lebih kuat.Tubuhku yang sudah kaku dan sejak tadi hanya terbaring di separuh ranjang, langsung terguling jatuh ke lantai setelah didorongnya.Tubuhku menghantam lantai dengan bunyi berat, lalu terbalik hingga wajahku menghadap ke atas.Wajahku sudah pucat kebiruan tanpa sedikit pun tanda kehidupan. Kedua mataku masih terbuka sedikit, dengan sorot bingung dan penuh kesakitan.Darah di sudut bibirku sudah mengering dan menghitam."Ah!"Jeritan memilukan memecah suasana ruang gawat darurat.Kaki Ibu langsung lemas dan dia pingsan di tempat.Keributan itu akhirnya menarik perhatian Raditya. Dia bergegas menghampiri. Begitu melihat jelas wajahku yang terbaring di lantai, seluruh tubuhnya seketika kaku karena syok.Rad

  • Membiarkanku Jadi Pasien Terakhir   Bab 6

    Raditya berdiri diam di tempat dan ragu sejenak. Pada akhirnya, dia tetap melangkah ke arahku.Namun baru satu langkah, tiba-tiba terdengar seruan panik dari belakang."Mima! Mima, kamu kenapa?"Jemima memejamkan mata, lalu tubuhnya lunglai dan nyaris ambruk ke ranjang.Raditya yang semula hendak pergi langsung berbalik arah. Tanpa ragu, dia bergegas menghampiri Jemima.Dia segera meraih tubuh Jemima dan menariknya ke dalam pelukan.Tak lama kemudian, Jemima perlahan membuka mata. Dengan lemah, dia mencengkeram lengan baju Raditya. Matanya berkaca-kaca."Kak Raditya, gunting sama alat-alat itu seram banget .... Kamu temani aku sebentar ya?"Jemima lalu memandang ke arahku dari balik bahu Raditya dan berujar."Kak Claudia, aku benar-benar takut. Aku cuma ingin merepotkan Kak Raditya sebentar saja. Tolong maklumi aku ...."Raditya mengikuti arah pandangannya, lalu menoleh padaku. Nada suaranya pun melunak."Claudia, penanganan Mima sudah mau selesai. Tunggu sebentar lagi. Setelah ini, ak

  • Membiarkanku Jadi Pasien Terakhir   Bab 5

    Rasa sesak itu akhirnya menghilang.Rasa sakit yang menyiksa di punggungku juga lenyap dalam sekejap.Tubuhku terasa begitu ringan, bahkan lebih ringan daripada yang pernah kurasakan sebelumnya.Aku sudah tidak sakit lagi.Dengan bingung, aku melayang di udara lalu menunduk ke bawah.Di atas ranjang yang berada di sudut ruangan, terbaring sesosok tubuh yang persis seperti diriku.Tubuh itu terbaring diam di tempat yang remang-remang, sementara wajahnya miring menghadap dinding. Kulitnya pucat kebiruan, cukup menyeramkan untuk dilihat.Bibirnya sudah berubah menjadi ungu kehitaman.Tak ada lagi tanda-tanda kehidupan pada dirinya.Aku menatap tubuhku sendiri dalam diam, lalu tersenyum getir.Jadi, seperti inilah rasanya mati.Sementara itu di sisi lain, di tengah ruang gawat darurat yang terang benderang.Jemima sedang bersandar nyaman dalam pelukan Ibu. Wajahnya sudah kembali merona dan matanya terlihat berbinar.Ibu mengangkat lengan Jemima yang sudah dibalut, lalu mengusapnya perlahan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status