Share

Bab 3

Author: Lintang
Setelah bercerai dari Ayah, Ibu membesarkanku seorang diri.

Sejak kecil, kondisi tubuhku memang kurang baik. Demi bisa merawatku dengan lebih baik, Ibu yang sebenarnya merupakan dokter bedah andalan malah rela pindah ke poli anak dan bekerja sebagai asisten.

Sementara itu, Raditya tinggal di sebelah rumahku. Sejak kecil, dia sering kali berdiri di depanku untuk melindungiku.

Pernah suatu kali saat Ibu sedang bertugas malam, aku tiba-tiba demam tinggi. Raditya bersikeras menjagaku semalaman. Tak peduli siapa pun yang membujuk, dia tetap tidak mau pergi.

Saat kuliah, Raditya bahkan menolak tawaran dari universitas-universitas ternama dan tetap memilih masuk kedokteran. Dia kemudian menjadi murid terakhir Ibu.

"Claudia, aku ingin menjagamu seumur hidup."

Lantas, sejak kapan semuanya mulai berubah?

Mungkin semuanya bermula sejak Ibu mengangkat Jemima, teman sekamarku di asrama yang berasal dari keluarga kurang mampu, sebagai anak.

Jemima berkulit pucat dan cantik. Tubuhnya terlihat begitu rapuh, seolah tertiup angin sedikit saja dia bisa tumbang. Meski begitu, dia selalu berusaha terlihat tegar dan berkata dengan tabah, "Aku baik-baik saja!"

Awalnya, Ibu hanya berkata seperti ini kepadaku.

"Mima sudah nggak punya orang tua. Kesehatannya juga kurang baik. Kamu harus lebih perhatian padanya!"

Namun lama-kelamaan, Ibu mulai merangkul Jemima sambil menatapku dengan kening berkerut.

"Lihat Mima. Dia begitu pengertian dan kuat. Apa kamu nggak bisa belajar lebih mandiri? Jangan sedikit-sedikit bersikap manja cuma karena masalah kecil!"

Melihat aku sedih karena hal itu, Raditya justru makin tidak menyukai Jemima.

"Temanmu itu jago banget pura-puranya. Dia selalu cari muka di depan ibumu!"

Namun perlahan, pandangan Raditya mulai makin sering tertuju pada Jemima.

"Sebenarnya hidupnya juga nggak mudah, tapi dia masih bisa setegar itu. Siapa yang nggak iba melihatnya .... Claudia, mengalah sedikitlah padanya."

Bahkan hari ini, saat aku dan Raditya hendak mendaftarkan pernikahan kami, Jemima tiba-tiba merengek ingin pergi membeli kue viral untuk merayakannya.

Tanpa berkata apa-apa, Raditya langsung mengambil jalan memutar. Demi mengejar waktu, dia bahkan menerobos lampu merah hingga akhirnya mobil kami bertabrakan dengan truk besar.

Sesaat sebelum tabrakan terjadi, Raditya membanting setir hingga posisi mobil berputar menyamping.

Dia dan Jemima tidak mengalami luka serius.

Hanya saja, bagian belakang tempatku duduk justru dihantam dan remuk oleh bagian depan truk yang beratnya berton-ton. Pecahan kaca menggores kulitku dan menancap jauh ke dalam tubuhku.

Mungkinkah pecahan kaca itu menembus jantungku? Kalau tidak, kenapa rasanya sakit sekali sampai jantungku seperti hampir berhenti berdetak?

Bau darah terus memenuhi hidungku. Rasa sakit yang hebat dari perut mulai menjalar ke seluruh tubuh.

Keinginan kuat untuk tetap hidup membuat pikiranku justru makin jernih.

Aku tidak boleh mati di sini ....

Aku mengangkat tangan dan berpegangan pada tepi konter perawat, lalu sedikit demi sedikit mencoba menopang tubuhku.

"Tolong ... bantu aku pindah ke rumah sakit lain ...."

Perawat itu mendongak dengan kesal.

"Tanpa diagnosis dari dokter, Anda nggak memenuhi prosedur untuk dipindahkan ke rumah sakit lain."

Aku menelan rasa logam yang memenuhi mulutku.

"Kalau begitu, tolong panggilkan ambulans ... buat antar aku ke rumah sakit lain ...."

"Boleh!" Akhirnya perawat itu berdiri. Dia mengetuk-ngetuk kode QR di atas meja sambil melontarkan pertanyaan.

"Biaya ambulans 1,2 juta. Anda mau bayar pakai apa?"

Aku langsung terdiam. Dompetku benar-benar kosong.

Sejak Jemima menjadi bagian dari keluarga kami, Ibu tiba-tiba mulai menuntutku untuk meniru gaya hidupnya yang sederhana dan hemat.

Jemima mendapat uang saku 20 juta setiap bulan, sementara aku harus mengajukan permohonan setiap kali ingin menggunakan uang, bahkan untuk jumlah yang sangat kecil.

Kemarin, aku mengajukan biaya taksi untuk pergi ke kantor catatan sipil. Ibu hanya melirik sekilas, lalu melemparkan permohonan itu kembali ke arahku.

"Cuma beberapa langkah, masih perlu keluar uang juga? Dulu, Mima berjalan 30 kilometer setiap hari buat pergi sekolah, tapi dia nggak pernah mengeluh sekali pun lho!"

Itu sebabnya, Raditya yang datang menjemputku hari ini. Sementara itu, ponselku sendiri entah hilang ke mana saat kecelakaan tadi.

Melihatku tidak bereaksi, perawat itu mendengus sinis.

"Lebih baik Anda menunggu saja. Bukannya Bu Diana sudah bilang? Setelah semua pasien selesai diperiksa, dia bakal menangani Anda."

"Bu Diana sudah berkali-kali menegaskan bahwa semuanya harus mengikuti prosedur. Nggak ada siapa pun yang boleh mendapat perlakuan khusus!"

Kedua kakiku gemetar hebat. Lututku tiba-tiba kehilangan tenaga dan tubuhku nyaris jatuh berlutut.

Hanya saja, tangan seseorang segera menopangku dengan kuat.

Melinda berdiri di sampingku dengan mata memerah dan raut wajah penuh kecemasan.

"Biar saya yang bayar biaya ambulansnya!"

Perawat di seberang langsung panik.

"Melinda, kenapa kamu malah ikut campur sekarang? Kamu juga mau dipindahkan ke bagian logistik untuk mencuci seprai ya?"

Melinda merangkul tubuhku lebih erat agar aku tidak jatuh.

"Aku belajar kedokteran untuk menyelamatkan orang, bukan cuma berdiri diam melihat orang kesakitan tanpa berbuat apa-apa!"

Melinda menopangku dan perlahan membawaku berjalan keluar.

Namun, tiba-tiba suara Ibu terdengar dari belakang.

"Claudia, mau ke mana kamu? Mima kehilangan cukup banyak darah. Pergi donor darah buat dia!"

Aku hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.

"Lukanya cuma sepanjang lima sentimeter ...."

"Mima memang sudah anemia sejak awal. Setiap tetes darah sangat berharga baginya!" Nada suara Ibu tegas dan tidak memberi ruang untuk dibantah.

"Kamu anak seorang dokter, jadi harus punya kesadaran buat bantu orang lain!"

Aku menarik napas dalam-dalam. Saat berbicara, suaraku sudah serak dan nyaris tak terdengar.

"Bu, hasil pemeriksaan kesehatanku yang kutaruh di meja Ibu, sudah dibaca belum?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Membiarkanku Jadi Pasien Terakhir   Bab 10

    Semua orang langsung terdiam, termasuk aku yang masih melayang di udara.Bukannya aku tidak pernah menyadari bahwa Raditya lebih perhatian pada Jemima. Hanya saja, selama ini aku terus menipu diri sendiri.Aku terus meyakinkan diri bahwa semua itu hanya bentuk kasih sayang seorang kakak kepada adiknya.Wajah Ibu memerah karena marah. Jari yang menunjuk Jemima sampai gemetar hebat."Aku sudah memperlakukanmu seperti anak kandung sendiri! Semua yang dimiliki Claudia bahkan sudah kurencanakan untuk dibagi rata denganmu!""Aku nggak pernah memperlakukanmu dengan buruk! Kalau kamu punya masalah denganku, seharusnya kamu melampiaskannya padaku! Kenapa kamu malah membunuh anakku?"Ekspresi Jemima berubah makin liar dan penuh kebencian."Nggak pernah memperlakukanku dengan buruk? Itu cuma karena kamu kasihan padaku!""Kenapa sejak lahir aku dibuang orang tuaku di toilet, lalu tumbuh seperti pengemis yang harus menumpang makan dari satu rumah ke rumah lain dan dipandang rendah oleh semua orang?

  • Membiarkanku Jadi Pasien Terakhir   Bab 9

    Di antara pasien yang sedang mengantre di aula, kebetulan ada seseorang yang menjadi informan bagi wartawan berita sosial.Berhubung sudah menunggu terlalu lama dan mulai tidak sabar ....Dia menempelkan telinga ke pintu ruang gawat darurat saking penasaran dengan apa sebenarnya yang sedang terjadi di dalam.Namun bukannya mendengar suasana penanganan pasien yang teratur, dia justru menangkap suara pertengkaran sengit.Di sela-sela keributan itu, samar-samar terdengar kata-kata seperti meninggal, pemalsuan, dan balas dendam.Naluri yang terbentuk dari pengalamannya selama bertahun-tahun langsung membuatnya curiga bahwa rumah sakit ini mungkin sedang berusaha menutupi sebuah insiden medis serius.Orang itu segera menghubungi wartawan yang biasa bekerja dengannya.Kebetulan, mereka tiba hampir bersamaan dengan polisi lalu lintas yang datang ke rumah sakit untuk menangani tindak lanjut kecelakaan tadi.Polisi yang memimpin rombongan menyapu ruangan dengan pandangan, lalu tatapannya berhen

  • Membiarkanku Jadi Pasien Terakhir   Bab 8

    Beberapa menit kemudian, pintu ruang gawat darurat kembali terbuka.Lisa masuk dengan pakaian petugas kebersihan dan masih membawa alat pel di tangannya.Begitu melihatnya, Ibu langsung menerjang maju dan mencengkeram kerah bajunya erat-erat."Beri tahu aku, sebenarnya gimana hasil pemeriksaan Claudia? Kenapa dia bisa mengalami gangguan pembekuan darah?"Lisa melihat tubuhku yang terbaring di genangan darah. Sedikit keterkejutan dan rasa iba melintas di matanya.Namun sesaat kemudian, dia justru mencibir pada Ibu."Bu Diana, dari pemeriksaan pranikah memang diketahui bahwa Claudia terinfeksi virus langka yang menyebabkan gangguan pembekuan darah.""Tapi, ini juga bukan penyakit mematikan yang sulit diobati. Selama ditangani sejak awal, bagi dokter bedah sehebat Anda, kondisi seperti ini paling cuma perlu beberapa jenis obat."Lisa menatap Ibu dari atas ke bawah."Kenapa? Sudah selama ini, Anda masih nggak tahu kondisi kesehatan putri Anda sendiri?"Tubuh Ibu langsung bergetar hebat.Se

  • Membiarkanku Jadi Pasien Terakhir   Bab 7

    Ujung jari Ibu merasakan dingin dan kaku yang membuat jantungnya seolah berhenti sesaat.Rona di wajahnya langsung menghilang. Pupil matanya mengecil tajam."Claudia ... kamu ... jangan menakuti Ibu ...."Tanpa sadar, dia kembali mendorong tubuhku, kali ini dengan tenaga yang lebih kuat.Tubuhku yang sudah kaku dan sejak tadi hanya terbaring di separuh ranjang, langsung terguling jatuh ke lantai setelah didorongnya.Tubuhku menghantam lantai dengan bunyi berat, lalu terbalik hingga wajahku menghadap ke atas.Wajahku sudah pucat kebiruan tanpa sedikit pun tanda kehidupan. Kedua mataku masih terbuka sedikit, dengan sorot bingung dan penuh kesakitan.Darah di sudut bibirku sudah mengering dan menghitam."Ah!"Jeritan memilukan memecah suasana ruang gawat darurat.Kaki Ibu langsung lemas dan dia pingsan di tempat.Keributan itu akhirnya menarik perhatian Raditya. Dia bergegas menghampiri. Begitu melihat jelas wajahku yang terbaring di lantai, seluruh tubuhnya seketika kaku karena syok.Rad

  • Membiarkanku Jadi Pasien Terakhir   Bab 6

    Raditya berdiri diam di tempat dan ragu sejenak. Pada akhirnya, dia tetap melangkah ke arahku.Namun baru satu langkah, tiba-tiba terdengar seruan panik dari belakang."Mima! Mima, kamu kenapa?"Jemima memejamkan mata, lalu tubuhnya lunglai dan nyaris ambruk ke ranjang.Raditya yang semula hendak pergi langsung berbalik arah. Tanpa ragu, dia bergegas menghampiri Jemima.Dia segera meraih tubuh Jemima dan menariknya ke dalam pelukan.Tak lama kemudian, Jemima perlahan membuka mata. Dengan lemah, dia mencengkeram lengan baju Raditya. Matanya berkaca-kaca."Kak Raditya, gunting sama alat-alat itu seram banget .... Kamu temani aku sebentar ya?"Jemima lalu memandang ke arahku dari balik bahu Raditya dan berujar."Kak Claudia, aku benar-benar takut. Aku cuma ingin merepotkan Kak Raditya sebentar saja. Tolong maklumi aku ...."Raditya mengikuti arah pandangannya, lalu menoleh padaku. Nada suaranya pun melunak."Claudia, penanganan Mima sudah mau selesai. Tunggu sebentar lagi. Setelah ini, ak

  • Membiarkanku Jadi Pasien Terakhir   Bab 5

    Rasa sesak itu akhirnya menghilang.Rasa sakit yang menyiksa di punggungku juga lenyap dalam sekejap.Tubuhku terasa begitu ringan, bahkan lebih ringan daripada yang pernah kurasakan sebelumnya.Aku sudah tidak sakit lagi.Dengan bingung, aku melayang di udara lalu menunduk ke bawah.Di atas ranjang yang berada di sudut ruangan, terbaring sesosok tubuh yang persis seperti diriku.Tubuh itu terbaring diam di tempat yang remang-remang, sementara wajahnya miring menghadap dinding. Kulitnya pucat kebiruan, cukup menyeramkan untuk dilihat.Bibirnya sudah berubah menjadi ungu kehitaman.Tak ada lagi tanda-tanda kehidupan pada dirinya.Aku menatap tubuhku sendiri dalam diam, lalu tersenyum getir.Jadi, seperti inilah rasanya mati.Sementara itu di sisi lain, di tengah ruang gawat darurat yang terang benderang.Jemima sedang bersandar nyaman dalam pelukan Ibu. Wajahnya sudah kembali merona dan matanya terlihat berbinar.Ibu mengangkat lengan Jemima yang sudah dibalut, lalu mengusapnya perlahan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status