LOGINKeadilan adalah prioritas utama di rumah kami. Sebab, kakak kembarku akan bertengkar hebat jika melihat tanda-tanda pilih kasih dari orang tua kami. Segala sesuatu di rumah pun dibagi menjadi dua bagian yang sama rata. Satu untuk kakak laki-lakiku, Rey. Satu lagi untuk kakak perempuanku, Rhea. Suatu kali, aku dengan polosnya bertanya pada Ibu, "Gimana dengan bagianku?" Ibu membentakku, "Memangnya kamu masih belum pusing sama kakak-kakakmu yang terus bertengkar? Bisa nggak kamu berhenti tambah beban pikiran kami?" Kemudian, keluarga kami membeli mobil baru. Mobil itu memiliki enam kursi, padahal kami sekeluarga hanya lima orang. Pada hari kami hendak berangkat untuk liburan keluarga, dua kursi yang tersisa sudah terisi. Satu oleh kucing Rhea, sedangkan satu lagi oleh anjing Rey. Aku berdiri canggung di luar pintu mobil. Rey melindungi anjingnya dengan sikap protektif, sementara Rhea memutar bola matanya. "Kita sudah sepakat harus adil. Nggak boleh ada yang ambil jatah kursi kucingku." Ayahku menatapku yang berdiri di tengah hujan dengan kesal. "Nggak ada hal lain yang bisa kamu kerjakan?" Sambil menggigil kedinginan, aku memaksakan senyum. "Ada. Aku nggak jadi ikut." Setelah itu, aku langsung mendaftarkan diri dalam program pertukaran pelajar ke luar negeri. Berhubung aku tidak akan pernah mendapatkan keadilan yang sudah kunantikan selama dua puluh tahun, tidak ada gunanya aku terus tinggal di sini.
View MoreSetelah berpikir dengan cermat, aku masih merasa agak khawatir. Oleh karena itu, aku menghabiskan satu malam untuk menghitung semua biaya makanan dan pakaian yang kuhabiskan di rumah selama bertahun-tahun. Tak disangka, jumlah terakhirnya begitu sedikit, sampai aku ingin tertawa. Hanya 100 juta.Aku membuka blokir WhatsApp mereka, lalu mengirim dokumen itu ke grup keluarga. Segera, aku menerima balasan.[ Ibu: Ayla, kenapa kamu tiba-tiba hitung ini? ][ Ayah: Mana mungkin cuma 100 juta. ]Aku membalas dengan tenang.[ Aku belajar dari kalian. Gimanapun, sejak kecil, kalian berdua selalu hitung segala sesuatu yang kalian berikan padaku. Semua yang ada di rumah kalian bagi jadi dua bagian, tapi nggak pernah ada bagianku. ][ Aku sama sekali nggak kurang hitung. Aku yakin kalian tahu persis berapa jumlah uang yang kalian habiskan untukku. Jadi, soal penyakit Kak Rey, aku nggak akan donorkan ginjalku. Paling-paling, aku akan nabung secepat mungkin untuk kembalikan 100 juta itu. ]Pesan su
Wajah Ibu memucat sedikit demi sedikit. Dia merasa telinganya berdengung, sedangkan tangan dan kakinya terasa dingin. "Apa katamu?"Dosen pembimbingku makin bingung. "Kamu seharusnya tahu. Bukannya waktu itu kamu sudah tandatangani formulir persetujuan orang tua Ayla?"Ibu secara refleks ingin membantah. Namun, sebuah kenangan tiba-tiba terlintas di benaknya. Pada hari itu, dia memaksaku untuk menyerahkan penghargaanku kepada Rhea. Aku memang memberinya sebuah formulir persetujuan orang tua. Namun, dia bahkan tidak membacanya dengan serius.Memikirkan hal ini, Ibu menjadi makin putus asa. Dia bertanya dengan gemetar, "Bu, kalau boleh tahu, kapan Ayla daftarkan diri dalam program itu?"Dosen pembimbingku segera memberitahukan tanggalnya. Setelah mendengarnya, Ibu menyadari sesuatu dan memejamkan matanya dengan putus asa. Kemudian, di depan semua orang di asrama, dia yang telah berbangga diri selama separuh hidupnya tiba-tiba berlutut di depan dosen pembimbingku."Bu, aku mohon. Tolong
Rey tiba-tiba pingsan. Mereka sekeluarga segera membawanya ke rumah sakit. Setelah melakukan beberapa pemeriksaan, dokter berbicara kepada orang tuaku dengan ekspresi serius."Dia mengidap gagal ginjal akut. Kalian sekeluarga perlu jalani pemeriksaan kecocokan donor ginjal secepat mungkin. Operasinya harus segera dijadwalkan."Begitu mendengar Rey perlu menjalani operasi transplantasi ginjal, wajah Rhea langsung menjadi pucat. Dia menggeleng tanpa sadar dan berjalan mundur. "Nggak, aku nggak mau."Dokter melirik Rhea. "Kamu dan pasien itu saudara kembar, 'kan? Kemungkinan ginjalmu cocok lebih tinggi. Saat ini, pasien sedang dalam kondisi kritis. Hal ini nggak bisa ditunda lagi."Ibu sangat panik. Dia segera meraih tangan Rhea. "Sayang, cuma sebuah ginjal kok. Dia itu kakak kandungmu."Namun, Rhea menepis tangan Ibu dengan kuat. Tanpa memedulikan orang-orang yang berlalu-lalang di koridor, dia berseru, "Kenapa? Kenapa aku harus kasih dia ginjalku? Ini sama sekali nggak adil!"Mendengar
Gudang itu kosong melompong. Karton bobrok yang biasa kugunakan untuk menyimpan pakaian dan bukuku sudah kosong. Bahkan aromaku juga sudah nyaris hilang sepenuhnya.Saat ini, orang tuaku baru sadar. Ternyata, aku tidak pernah kembali dari pesta hari itu. Selama beberapa hari terakhir, aku tidak berada di rumah.Ketakutan dan rasa tidak aman mulai menyelimuti hati Ibu. Dia mengeluarkan ponselnya dengan gemetar dan mengirimiku pesan dengan nada marah sekaligus khawatir.[ Ayla, ke mana kamu? Cuma karena masalah sepele, kamu ngambek sampai kabur dari rumah? ]Ayah berdiri di sebelahnya dengan wajah muram, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya terus merokok.Saat menyadari pesan yang dikirimnya tidak dibalas, Ibu akhirnya panik. Dia meraih ujung pakaian Ayah dengan panik. "Johan, cepat pikirkan solusinya. Selama ini, Ayla nggak pernah buat ulah. Ini pertama kalinya dia kabur dari rumah. Dia nggak punya kerabat atau teman di luar. Dia bisa pergi ke mana?"Ayah menggertakkan gigi dan me












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.