Short
Hidup dalam Ketidakadilan Selama 20 Tahun

Hidup dalam Ketidakadilan Selama 20 Tahun

By:  BinjaCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Chapters
3views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Keadilan adalah prioritas utama di rumah kami. Sebab, kakak kembarku akan bertengkar hebat jika melihat tanda-tanda pilih kasih dari orang tua kami. Segala sesuatu di rumah pun dibagi menjadi dua bagian yang sama rata. Satu untuk kakak laki-lakiku, Rey. Satu lagi untuk kakak perempuanku, Rhea. Suatu kali, aku dengan polosnya bertanya pada Ibu, "Gimana dengan bagianku?" Ibu membentakku, "Memangnya kamu masih belum pusing sama kakak-kakakmu yang terus bertengkar? Bisa nggak kamu berhenti tambah beban pikiran kami?" Kemudian, keluarga kami membeli mobil baru. Mobil itu memiliki enam kursi, padahal kami sekeluarga hanya lima orang. Pada hari kami hendak berangkat untuk liburan keluarga, dua kursi yang tersisa sudah terisi. Satu oleh kucing Rhea, sedangkan satu lagi oleh anjing Rey. Aku berdiri canggung di luar pintu mobil. Rey melindungi anjingnya dengan sikap protektif, sementara Rhea memutar bola matanya. "Kita sudah sepakat harus adil. Nggak boleh ada yang ambil jatah kursi kucingku." Ayahku menatapku yang berdiri di tengah hujan dengan kesal. "Nggak ada hal lain yang bisa kamu kerjakan?" Sambil menggigil kedinginan, aku memaksakan senyum. "Ada. Aku nggak jadi ikut." Setelah itu, aku langsung mendaftarkan diri dalam program pertukaran pelajar ke luar negeri. Berhubung aku tidak akan pernah mendapatkan keadilan yang sudah kunantikan selama dua puluh tahun, tidak ada gunanya aku terus tinggal di sini.

View More

Chapter 1

Bab 1

Saat berjalan pulang sendirian, tubuhku sudah nyaris basah kuyup. Begitu sampai di rumah, ponselku bergetar.

Ibu menandai namaku di grup keluarga, menanyakan bagaimana aku akan mengurus makan selama tinggal sendirian di rumah selama beberapa hari ke depan. Rasa getir membuncah di hatiku, sedangkan mataku juga terasa perih.

Namun, sebelum aku sempat membalas, Ibu mengirim pesan lagi.

[ Jangan sentuh barang di kulkas. Semuanya barang Rey dan Rhea. Kami sudah bagi dua dengan adil. Kalau kamu sentuh, keseimbangannya akan rusak. ]

Sedikit rasa hangat dan haru yang baru saja muncul di hatiku seketika lenyap tak bersisa. Aku secara refleks ingin bertanya, "Bagaimana denganku?"

Namun pada akhirnya, aku hanya mengetik sepatah kata balasan.

[ Oke. ]

Bagaimanapun juga, aku sudah menanyakan hal itu berkali-kali sebelumnya. Tak ada seorang pun yang peduli. Rasanya seperti sudah wajar meskipun tak ada satu pun hal di rumah ini yang benar-benar menjadi milikku.

Aku menyimpan ponselku, lalu mencari makanan di rumah. Yang kutemukan hanyalah sekotak roti di sudut ruangan, yang sudah kedaluwarsa dan mulai berjamur.

Akhirnya, aku berhasil tertidur dalam keadaan kedinginan dan kelaparan. Namun, di tengah malam, aku terbangun karena ada orang yang melemparkan pakaian basah ke kepalaku.

Aku membuka mata dengan terkejut, lalu menyadari lampu di luar menyala dan ruang tamu terlihat riuh. Orang tuaku sedang mengeluh soal hujan deras yang membuat akses jalan ditutup saat mereka hendak keluar kota.

Rhea berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat di depan dada. Dia mendesakku dengan tidak sabar, "Kenapa masih bengong? Kok males banget sih? Nggak lihat aku butuh kamu bantu aku cuci baju?"

Mantelnya terkena cipratan lumpur. Tadi, dia langsung melempar mantel itu ke kepalaku, sehingga rambutku terasa lengket.

Aku terlalu mengantuk untuk membuka mata. Jadi, aku menyahut dengan lemah, "Kak, biarkan aku tidur dulu. Aku akan cuci besok pagi. Oke?"

Suara Rhea langsung meninggi. "Kalau nggak mau cuci, bilang saja. Jangan cari-cari alasan!"

Pada saat ini, Rey juga datang. Dengan raut wajah dingin, dia melemparkan sepasang sepatu yang penuh lumpur ke lantai. "Kalau mau cuci punya dia, kamu harus cuci punyaku juga. Jangan lama-lama."

Ibu berjalan melewati kami sambil membawa tumpukan cucian. Melirik penampilanku yang berantakan, dia mengernyitkan dahi dan langsung membentakku.

"Kalian bertiga harus menjunjung tinggi keadilan. Kakak-kakakmu sudah sibuk beraktivitas seharian, sementara kamu enak-enakan di rumah. Memangnya kenapa meski mereka suruh kamu cuci sedikit barang?"

Menghadapi tatapan menuduh semua orang, aku tiba-tiba ingin tertawa. Ternyata, keadilan di keluarga ini bergantung pada situasinya. Dalam hal berbagi hak, Rey dan Rhea selalu diperlakukan secara adil. Namun, saat tiba giliran memikul tanggung jawab, semua beban hanya akan jatuh ke pundakku.

Aku tidak lagi membuang-buang napas, hanya berjongkok dalam diam, lalu mengumpulkan barang-barang berlumpur itu dan pergi ke ruang cuci baju. Butuh waktu tiga atau empat jam bagiku untuk menyelesaikan pekerjaan itu.

Kemudian, pandanganku mulai menggelap. Itu adalah tanda-tanda gula darah turun akibat kelaparan. Aku berusaha bertahan dan berjalan ke ruang tamu, berharap bisa meneguk sedikit air hangat.

Tak disangka, aku berpapasan dengan ayahku yang sedang membawa kantong berisi sate masuk ke rumah. Saat melihatku, dia secara refleks menyembunyikan kantong itu di balik punggungnya dan tersenyum canggung.

"Makanannya sudah pas untuk dibagi jadi empat porsi, jadi kami nggak panggil kamu. Kalau pembagiannya nggak rata, kakak-kakakmu pasti akan ribut lagi. Tapi, penjualnya kasih kacang rebus bumbu kecap. Mereka nggak suka."

Aku tersenyum dan menghindari uluran tangan ayahku. "Ayah, aku alergi kacang."

Ayahku terdiam sesaat, tetapi hanya sesaat. Begitu Rhea memanggilnya dengan nada manja, dia menjawab sambil melangkah melewatiku.

Saat dia pergi, aku tak kuasa menahan gejolak dalam hatiku. Tangan di sisi tubuhku terkepal erat. Hatiku terasa nyeri, seolah ditusuk-tusuk jarum. Namun, aku bahkan tak punya tenaga untuk sekadar meneteskan air mata.

Setelah akhirnya merasa lebih baik usai minum air, aku kembali ke gudang untuk beristirahat. Namun, aku justru mendapati ruangan itu penuh dengan koper-koper milik Rey dan Rhea yang belum dibereskan.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status