LOGIN***Ketika tiba di rumah sakit, Bima langsung menyambut kedatangan Renaldi dengan perasaan lega. Pikirnya usaha Ambarwati beberapa bulan terakhir sudah cukup untuk membuat Renaldi mengubah keputusannya. Bima mengira Renaldi datang untuk meminta maaf lalu kembali bersama dengan Ambarwati layaknya pasangan suami istri pada umumnya. Melihat Renaldi berjalan mendekatinya, Bima segera datang menghampiri lalu menyentuh lengannya dan menepuk bahu Renaldi seperti dahulu-dahulu saat dia bertemu dengan Renaldi. “Bagaimana kondisi Ambarwati?” tanya Renaldi seraya menatap Ambarwati yang masih belum sadarkan diri sejak pingsan di dalam ruangan kerja Renaldi beberapa hari yang lalu. “Masih sama, belum ada kemajuan sama sekali, aku berharap setelah kedatanganmu kali ini Ambarwati bisa siuman. Dia pasti sangat senang melihatmu datang mengunjunginya,” ujar Bima seraya menghela napas panjang. Renaldi terus menatap ke arah Ambarwati, wanita itu sedang berbaring di ranjang pasie
Sekitar pukul tujuh pagi barulah Renaldi dan Vira keluar dari kamar mereka. Pasangan tersebut bersama-sama melihat kondisi Melati di kamarnya. “Re? Semalam apa yang Mama katakan sebelum aku tiba di rumah?” tanya Vira sambil berjalan di samping Renaldi. Renaldi terus menggamit pinggang Vira sejak mereka berdua keluar dari dalam kamar. Renaldi baru ingat kalau Vira pulang terlambat, dan dia belum mengatakan ke mana perginya semalam sampai pulang dalam keadaan basah kuyup. “Tidak ada yang Mama katakan. Oh, iya, semalam kamu ke mana saja? Aku mencarimu ke sekitar, tapi kamu nggak ada! Aku cemas kalau sampai kamu kenapa-kenapa! Harusnya kamu kirim kabar ke aku kalau pergi!” gerutu Renaldi pada Vira. Vira tidak mungkin menjelaskan tentang dukun yang sudah menculiknya semalam. Vira tidak mau Renaldi cemas karena memikirkan tentang masalah itu. “Ah, itu, semalam aku hanya jalan-jalan saja, aku lupa arah pulang dan aku tersesat. Untungnya a
Mendengar suara keributan dari ruangan utama, Renaldi dan Agung Setiaji segera pergi untuk melihat. Renaldi melihat Vira sedang duduk di samping Melati sambil berusaha membangunkan Melati.“Vira? Mama? Apa yang terjadi?” tanyanya seraya bergegas menggendong Melati lalu merebahkan Melati di dalam kamar. Vira mengikutinya dari belakang. “Aku nggak tahu Re, pas tiba di rumah tadi aku melihat Mama berteriak-teriak sendiri lalu dia pingsan di lantai.” Vira berbohong karena dia sengaja melakukan itu untuk menghukum Melati gara-gara Melati terus berusaha menyingkirkan dirinya dari sisi Renaldi. Renaldi tidak curiga sama sekali. Renaldi juga tidak bertanya tentang Melati pada Vira lagi. Agung Setiaji melihat baju yang Vira pakai sangat kotor dan basah, pikirnya entah dari mana Vira tadi. “Re, kamu bawa Vira untuk beristirahat, sudah larut malam, masalah Mama biarkan aku saja yang mengurusnya. Mungkin Mamamu hanya kelelahan saja jadi pingsan, seharian dia juga pe
Vira tidak mengatakan apapun, dia juga tidak berhenti ketika melewati tubuh dukun tua tersebut. Namun, ketika langkah kakinya sudah sampai di ambang pintu gerbang dia menoleh sebentar ke belakang punggungnya. Tubuh dukun tua itu sudah kejang-kejang lalu mengembuskan napas terakhirnya. “Dia repot-repot membawaku ke sini karena tidak bisa menyelamatkan Ambar, apa dia pikir dia cukup kuat untuk menghancurkanku?” Vira berkata pada dirinya sendiri lalu segera bergegas pergi. ***Di sisi lain, Renaldi masih terlihat cemas dia terus berputar-putar di area sekitar bersama mobilnya. Vira yang ingin dia cari malam itu tak kunjung dia temukan, Renaldi cemas kalau sampai terjadi sesuatu padanya. Karena sudah hampir tengah malam akhirnya Renaldi memutuskan untuk kembali pulang ke rumah. Pada saat tiba di rumah, Renaldi melihat Melati bersama Agung setiaji sedang duduk di sofa ruangan utama. Entah apa yang mereka bicarakan bersama, wajah keduanya tampak serius membahas ses
Pada sore hari Melati sudah bersiap-siap untuk pergi menjenguk Ambarwati, di pintu utama dia berpapasan dengan Agung dan Renaldi. Dua pria itu baru saja kembali dari perusahaan. “Mama mau pergi ke mana?” tanya Renaldi dengan tatapan mata bingung. Apalagi Melati terlihat sangat tergesa-gesa. “Ke mana lagi? Tentu saja pergi melihat kondisi menantu kesayanganku!” jawabnya dengan nada kesal. Renaldi tidak bertanya lagi, dia tahu siapa yang dimaksud oleh Melati tentu saja Ambarwati. Melati tidak pernah menyukai Vira, apalagi memujinya. Renaldi masih tidak tahu apa yang terjadi pada Vira, dia juga tidak bertanya pada Melati karena pikirnya Vira baik-baik saja dan sedang beristirahat di dalam kamarnya. Agung Setiaji masih berdiri di ruang tengah setelah masuk ke dalam rumah, dia merasakan firasat yang buruk semenjak karyawan heboh gara-gara Bima melaporkan pada polisi tentang Ambar yang pingsan di dalam ruangan kerjanya sore ini. Saat dibawa oleh petugas medis sepertiny
Ambarwati mengepalkan kedua tangannya karena kebersamaan antara dirinya dengan Renaldi diganggu oleh orang lain. “Pak Renaldi, ini berkas yang Anda minta, sebentar lagi meeting akan dimulai jadi silakan menuju ke ruangan meeting,” ujar asisten Renaldi sambil menaruh map di atas meja kerja Renaldi.Melihat berkas diletakkan di meja, Renaldi spontan meletakkan gelas minum tersebut kembali ke tempat semula. “Ya, jangan sampai ada kesalahan dalam meeting kali ini, aku tidak ingin investor membatalkan kerjasama antar perusahaan,” jawabnya pada asistennya.Asisten Renaldi menganggukkan kepalanya lalu pergi keluar meninggalkan ruangan kerja Renaldi untuk mengurus persiapan meeting. Ambar sangat geram melihat Renaldi menganggapnya tidak ada di ruangan tersebut. Ambar lebih tidak tahan melihat Renaldi mengacuhkan gelas yang sudah dia siapkan pagi-pagi sekali tadi. Minuman dalam gelas itu masih utuh dan tidak jadi disentuh. Karena tidak sabar Ambar segera berkata pada Renaldi sebelum Renaldi







