Share

Bab 8

Penulis: Sekar
Anya tidak menyangka Juan ternyata masih menyimpan sebuah album foto.

Dia sungguh tidak paham. Jelas-jelas pria itu sudah melupakannya dan memusatkan seluruh hatinya pada Raline. Lalu, untuk apa dia diam-diam membuka album foto mereka di belakang Raline?

Yang bisa dia lihat hanyalah satu hal, perilaku Juan hari ini sangat aneh.

Juan sama sekali tidak menyadari bahwa setiap gerak-geriknya diawasi oleh Anya. Dia membuka album foto itu, yang isinya penuh dengan kenangan mereka selama sepuluh tahun terakhir.

Dia masih ingat, foto pertama di dalam album itu diambil saat mereka berusia 18 tahun.

Hari itu adalah malam tahun baru, ada perayaan kembang api, dan Juan menciumnya di bawah cahaya kembang api.

Dia berkata, "Anya, aku cinta kamu. Keberuntungan terbesar dalam hidupku adalah bisa ketemu sama kamu."

Foto kedua, diambil saat peringatan satu tahun jadian mereka.

Wajahnya coreng-moreng terkena krim, terlihat sangat lucu, sambil memegang kue buatan Juan yang bentuknya agak seadanya. Saat itu, tatapan mereka satu sama lain penuh dengan cinta.

Dia berkata, "Anya, kita harus bareng selamanya, ya."

Memasuki tahun ketiga, tahun ketiga kebersamaan mereka.

Baru saja mencapai usia legal untuk menikah, Juan langsung melamarnya. Waktu itu dia belum punya banyak uang, hanya membelikan cincin polos tanpa ukiran apa-apa. Namun, Anya tidak merasa keberatan dan langsung menerima cincin itu.

Dia berkata, "Anya, kamu itu hebat banget. Aku takut kalau nggak buru-buru mengikatmu, kamu malah kabur sama cowok lain."

Memasuki tahun keempat, perusahaannya mulai menunjukkan perkembangan. Mereka merayakan pencapaian itu dengan makan malam mewah dan di tahun itu pula, Juan berjanji bahwa nanti setelah dia sukses besar, dia akan memberikan sebuah pernikahan yang megah untuk Anya.

...

Foto-foto di dalam album itu terus berlanjut hingga tahun kesembilan kebersamaan mereka. Setiap tahunnya, mereka mengabadikan begitu banyak momen seperti ulang tahun, hari jadian, dan berbagai perayaan hari besar.

Anya masih ingat, Juan sangat suka memberikan kejutan. Hampir di setiap hari spesial, pria itu selalu menyiapkan sesuatu yang istimewa, dan selama sembilan tahun, tak ada satu pun kejutan yang pernah diulang.

Jika dia memiliki penyesalan, itu pasti ada di tahun kesepuluh.

Karena di tahun kesepuluh mereka, hadirlah sosok Raline.

Di tahun itulah, pria itu mengingkari semua janji yang pernah dia ucapkan, dan jatuh cinta pada wanita lain.

Udara di ruangan itu seolah dipenuhi oleh kesedihan yang sunyi. Namun, keheningan itu tidak bertahan lama, langsung pecah oleh Raline yang tiba-tiba terbangun dan menyadari Juan tidak ada di sampingnya.

Gadis itu mendorong pintu dan masuk ke ruang kerja, lalu dengan sangat wajar duduk di pangkuan pria itu. Kedua tangannya melingkar di bahu Juan, dan bertanya, "Juan, kok kamu belum tidur?"

Setelah itu, Raline melepaskan pelukannya. Memanfaatkan tangan Juan yang secara refleks menurunkan album dan beralih memeluk pinggangnya, Raline memutar tubuhnya. Pandangannya jatuh pada album yang tergeletak di meja. Begitu membukanya dan melihat isinya, raut wajahnya seketika berubah.

"Juan, kok kamu masih nyimpen barang-barang yang ada hubungannya sama dia sih?"

Raline menekan dalam-dalam rasa cemburu dan benci di hatinya, lalu menoleh dan memasang ekspresi seolah hendak menangis. "Kamu masih belum bisa lupain dia, ya? Aku udah tahu, perasaan kalian yang udah terjalin sepuluh tahun mana bisa gampang dilupain. Tapi, kalau emang kamu nggak bisa lupain dia, ngapain sih kamu dekatin aku?"

Raut wajah sedih itu membuat Juan merasa sangat tidak tega. Sambil mengusap air mata gadis itu, dia mencium bibirnya. "Ngawur, kamu 'kan tahu sendiri, orang yang paling aku cintai itu cuma kamu."

Namun, Raline tetap tidak mau mengalah. Dia menunjuk album foto yang disimpan terpisah oleh Juan. "Aku nggak percaya. Kalau nggak, ngapain kamu simpan album ini? Kamu mau mengenang Anya, 'kan?"

"Kecuali ... kamu serahin album ini ke aku buat aku urus, baru aku percaya omongan kamu."

Anya menatap Juan. Meski tahu hal itu mustahil, Anya tetap berharap pria itu bersedia menolak. Namun, Juan tak bisa mendengar pikiran Anya. Kalaupun bisa, besar kemungkinan pria itu tidak akan menolak Raline demi dirinya.

Anya mendengar jawaban pria itu tanpa sedikit pun keraguan, "Oke, terserah kamu."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Memilih Cinta yang Tepat   Bab 26

    Rayan mengantar Anya sampai ke depan asrama putri, lalu kembali ke asramanya sendiri.Teringat pada pesan dari Juan, Rayan tiba-tiba merasa kesal setengah mati. Dia tidak percaya Juan punya kemampuan sebesar itu hingga bisa memantau kecelakaan kecil di tanah air, padahal di sana sedang tengah malam.Kemungkinan terbesar adalah, di kehidupan sebelumnya, orang tua Anya juga mengalami kecelakaan mobil di waktu-waktu seperti ini. Itulah sebabnya Juan bisa mencari momen yang tepat untuk mengirim pesan.Perasaan mengetahui pacarnya memiliki rahasia dengan pria lain, benar-benar membuat hatinya dongkol.Di sisi lain, Anya tidak menyadari gejolak cemburu di hati Rayan. Baru saja melangkah masuk ke asrama, dia langsung dibuat kaget oleh tatapan dari teman-teman sekamarnya."Anya, aku denger orang tuamu kecelakaan. Parah nggak?"Merasakan kepedulian mereka, perasaan hangat seketika mengalir di lubuk hatinya. Dia menggeleng dan tersenyum pada mereka. "Cuma lecet sedikit, kok, nggak ada yang seriu

  • Memilih Cinta yang Tepat   Bab 25

    Juan tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Dia hanya bisa melihat bahwa mereka tampak sangat bahagia.Itu adalah senyuman Anya yang sekarang tidak akan pernah ditunjukkan lagi di hadapannya.Dengan getir, dia mengalihkan pandangannya, menatap perabotan besar di dalam kamar yang sudah ditutupi kain putih, serta koper-koper yang sudah dikemas dan diletakkan di depan pintu untuk dibawa pergi. Juan pun memendam ucapan perpisahan itu jauh di dalam hati.'Selamat tinggal, Anya.'...Tahun ini, Anya menjadi mahasiswa tahun kedua.Dia menerima pernyataan cinta Rayan dan keduanya menjadi pasangan paling serasi yang terkenal di Universitas Louwe. Dalam hubungan asmara, mereka sangat harmonis dan penuh kasih.Sedangkan dalam akademik, mereka adalah yang terbaik di jurusan masing-masing.Namun, Anya yang di mata orang lain tampak tidak memiliki kekhawatiran apa pun, belakangan ini justru makin dilanda kecemasan.Sebab, di kehidupan sebelumnya, orang tuanya mengalami kecelakaan mobil dan

  • Memilih Cinta yang Tepat   Bab 24

    Suara Anya terdengar jelas di telinga Rayan melalui telepon. Rayan tertegun sejenak, tetapi langsung segera paham.Sepertinya, di kehidupan sebelumnya, dia memilih untuk pergi ke luar negeri.Dia mengiyakan dengan suara pelan, lalu terdengar nada bicaranya yang lembut dan penuh kasih."Anya, aku mau kuliah bareng kamu."'Dan juga ingin bersamamu.'Dia menelan sisa kata-kata itu dan hanya menyuarakan kalimat pertamanya saja. Tak lama kemudian, suara ceria wanita itu pun terdengar dari seberang sana."Boleh! Kalau gitu, kita barengan ya."David dan Farel tidak tetap tinggal di Kota Louwe. Mereka akhirnya memilih universitas yang lebih cocok untuk mereka.Sebelum semua orang berpisah ke tujuan masing-masing, Anya dan teman-temannya mengadakan acara makan bersama untuk terakhir kalinya.Mereka mengobrol tentang kampus, tentang masa depan, dan baru di akhir obrolan mereka menyinggung nama Juan."Kayaknya dia bakal kuliah ke luar negeri, deh. Orang tua Juan udah mulai beres-beres barang dari

  • Memilih Cinta yang Tepat   Bab 23

    Saat kembali ke tempat duduk, suasana di antara mereka kembali berubah. Juan tiba-tiba menyadari bahwa dirinya telah menjadi orang yang tidak dibutuhkan.Semua pesanan barbeku telah disajikan. Anya menerima makanan yang diberikan Rayan, dan sesekali saat menemukan yang sangat enak, dia akan menyodorkannya untuk dibagi bersama yang lain.Seolah semuanya berjalan seperti biasa. David dan Farel sesekali juga membagikan beberapa tusuk sate kepadanya, tetapi Juan selalu merasa, dirinya tidak bisa lagi membaur dengan mereka.Juan akhirnya memutuskan untuk pulang lebih awal dari liburan kelulusan ini. Hanya David dan Farel yang berbasa-basi mencoba menahannya beberapa kali, tetapi melihat Juan bersikeras ingin pergi, mereka pun membiarkannya.Begitu Juan pergi, sisa rombongan itu justru tampak makin menikmati liburan mereka.Setiap hari, mereka mengunggah berbagai foto ke media sosial. Sementara itu, Juan yang telah lebih dulu tiba di rumah, menatap foto-foto yang menampilkan kedekatan antara

  • Memilih Cinta yang Tepat   Bab 22

    Anya mendorongnya keluar dan menutup pintu, membiarkan Juan beranjak pergi dengan raut wajah hampa dan jiwa yang seolah tertinggal.Sementara itu, di sudut lorong, hati Rayan seketika berkecamuk hebat.Sepertinya, dia baru saja mendengar sesuatu yang sangat mengejutkan. Dari percakapan antara Anya dan Juan, sepertinya mereka kembali dari sepuluh tahun di masa depan. Di kehidupan sebelumnya itu, mereka saling mencintai selama sepuluh tahun, tetapi pada akhirnya, Juan mengkhianatinya dan jatuh cinta pada orang lain. Anya bahkan meninggal karena ulah Juan.Teringat pada niatnya untuk pergi ke luar negeri beberapa waktu lalu, Rayan hanya ingin menampar dirinya sendiri dengan keras.Bagaimana mungkin dia rela mundur dan menyerahkan Anya pada pria berengsek seperti itu!Dia berusaha sekuat tenaga menahan amarah di hatinya, menatap lekat-lekat pintu kamar Anya yang tertutup rapat, lalu diam-diam membulatkan tekad."Anya, kali ini, aku nggak bakal mau mengalah dan ngelepasin kamu ke siapa pu

  • Memilih Cinta yang Tepat   Bab 21

    Setelah ujian masuk perguruan tinggi selesai, tiba masa liburan paling santai sekaligus paling panjang sepanjang masa SMA.Saat menghadiri acara kumpul kelas, Anya mendengar beberapa teman dekat sedang berdiskusi untuk pergi berlibur bersama setelah lulus. Bagaimanapun juga, setelah masuk kuliah, waktu bagi mereka untuk berkumpul lagi akan sangat sedikit.Anya memiliki ingatan dari kehidupan sebelumnya. Dia tahu bahwa selain Rayan, semua orang akan tetap tinggal di Kota Louwe. Rayan, satu-satunya yang akhirnya memilih kuliah di luar negeri, tidak mengurangi intensitas komunikasi dengan ketiga sahabatnya. Empat tahun kemudian, dia juga akan kembali ke tanah air. Jadi, bagi mereka, tidak ada istilah berpisah. Meski begitu, saat Rayan mengusulkan pergi liburan kelulusan, Anya tetap tidak menolaknya.Cuaca di bulan Juni belum terlalu panas. Mereka memilih sebuah destinasi wisata tepi laut sebagai tujuan. Begitu pesawat mendarat, mereka langsung bergegas menuju hotel.Karena Anya adalah sat

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status