Share

Bab 9

Author: Sekar
Sehari sebelum pernikahan Juan dan Raline, undangan telah disebar. Balasan ucapan selamat berdatangan bertubi-tubi. Hanya Anya, Rayan, dan beberapa sahabat lainnya yang sama sekali tidak membalas pesan Juan sejak awal.

Juan tidak mempermasalahkan hal itu. Dia berpikir, selama mereka hadir di pernikahan nanti, membalas pesan atau tidak bukan lagi hal yang penting.

Di hari pernikahan, pagi-pagi sekali Juan sudah menjemput Raline.

Iring-iringan mobil pengantin mulai melaju menuju hotel tempat pernikahan digelar. Namun, baru sampai di tengah perjalanan, konvoi mereka terhalang oleh iring-iringan mobil duka yang datang dari arah berlawanan, dengan kap depan mobil-mobilnya dipenuhi hiasan bunga krisan kuning dan putih.

Iringan mobil pengantin berpapasan dengan iring-iringan mobil jenazah, raut wajah Juan seketika mengeras.

Tak ada satu pun dari kedua belah pihak yang turun untuk bernegosiasi. Kedua konvoi itu saling berhadapan tanpa ada yang mau mengalah. Di tengah raut wajah Juan yang kian muram, tubuh Anya tiba-tiba bergetar hebat, seolah baru menyadari sesuatu.

Dia tanpa sadar melayang sedikit menjauh. Meski jantungnya sudah lama berhenti berdetak, tepat pada saat itu, telinganya tiba-tiba dikejutkan oleh suara dentuman keras bagai genderang.

Karena tak bisa berada terlalu jauh dari Juan, dia pun tak bisa mendekati iring-iringan di seberang. Hingga Raline memegang lengan Juan dengan mata berkaca-kaca, "Juan, kok kita apes banget ya ketemu mobil jenazah ...."

Melihat Raline yang tampak hendak menangis dan mengingat bahwa hari bahagia tak boleh ada air mata, Juan akhirnya memilih turun dari mobil untuk mengurus masalah ini.

Sosok yang duduk di kursi belakang enggan menurunkan kaca jendela. Dia sama sekali mengabaikan ketukan Juan di kaca mobil, dengan jelas menunjukkan sikap tak ingin berbicara.

Kehabisan cara, Juan kembali ke mobil dengan penuh amarah. Anya, yang ikut terseret pergi bersamanya, akhirnya bisa melihat sekilas sosok di dalam mobil melalui celah kaca belakang yang kini sedikit diturunkan.

Ternyata itu ...

Rayan?

Apa ada keluarganya yang meninggal?

Namun, bukankah mereka bersahabat dekat? Pasti Rayan sudah mengenali Juan tadi, lalu mengapa dia tidak turun dari mobil?

Pada akhirnya, Juan mengalah dan memberi jalan pada iring-iringan duka itu lebih dulu. Setelah insiden yang menjengkelkan tersebut, waktu kedatangan rombongan pengantin di hotel pun turut tertunda.

Meski demikian, upacara pernikahan tetap berlangsung lancar. Namun, hingga resepsi dimulai, mereka masih belum juga kedatangan sahabat-sahabat Juan tersebut.

Raline merangkul lengan Juan, raut wajahnya tampak kecewa. "Juan, apa karena aku masih belum cukup baik buat kamu, jadi mereka nggak mau terima aku?"

Segala kejadian yang menimpa hari itu membuat kepala Juan pening. Dia hanya bisa menenangkan Raline terlebih dahulu, dan memutuskan untuk menemui sahabat-sahabatnya setelah resepsi usai agar bisa meminta penjelasan.

Usai resepsi, Juan mengeluarkan ponselnya dan baru hendak menelepon Rayan ketika notifikasi pesan dari Rayan justru lebih dulu masuk. Saat dibuka, ternyata itu adalah sebuah tautan lokasi.

[Datanglah ke sini. Ada yang mau kami bicarakan sama kamu.]

Titik lokasi itu mengarah ke sebuah gunung. Anya segera menyadari bahwa itu adalah gunung tempat para penculik membuang jasadnya.

Mengingat insiden kecil sebelum pernikahan dimulai, Anya akhirnya tersadar sepenuhnya.

Jadi, mobil jenazah yang berpapasan tadi ... ternyata membawa jasadnya?

Apa mereka ... sudah mengetahui kabar kematiannya lebih dulu daripada Juan?

Pantas saja mereka tidak menghadiri pernikahan.

Pantas saja mereka memancing Juan ke gunung terpencil ini.

Namun, Juan sama sekali tidak menyadari hal itu.

Pikirannya hanya dipenuhi oleh rencana untuk menginterogasi sahabat-sahabatnya nanti.

Mereka sudah bersahabat selama belasan tahun. Di hari pernikahannya sendiri, bagaimana bisa tidak ada satu pun dari mereka yang sudi datang?

Dia segera masuk ke dalam mobil. Benar saja, saat tiba di lokasi, dia melihat sahabat-sahabatnya sudah menunggu di puncak bukit. Yang berdiri paling depan adalah Rayan, mengenakan kemeja dan celana panjang serba hitam. Juan mengernyit, baru saja melangkah maju, tinju Rayan sudah mendarat keras di wajahnya, membuatnya tersungkur ke tanah.

"Rayan, kamu gila?"

Dengan tatapan tak percaya, Juan memegangi wajahnya yang sakit. Dia menoleh ke arah sahabat-sahabatnya yang berdiri di samping, memberi isyarat agar mereka segera melerai Rayan. Namun, siapa sangka, saat mereka melangkah maju, mereka justru menghampirinya.

Satu pukulan, dua pukulan, tiga pukulan ....

Hampir setiap orang menghajarnya tanpa ampun.

Juan tak kuasa melawan banyak orang. Tubuhnya babak belur dan dengan sisa tenaga, dia mendorong kerumunan itu. "Udah, berhenti! Berhenti kalian semua, sialan!"

"Kalian udah nggak anggap persahabatan belasan tahun kita lagi, hah? Aku bahkan belum sempat nanyain kenapa kalian nggak datang ke nikahanku, dan sekarang kalian malah gila kayak begini!"

Mendengar kata pernikahan, mata mereka seketika merah. Bibir mereka gemetar, tetapi tak ada satu kata pun yang keluar.

Rayan, yang memukul paling keras, menatapnya dengan mata merah padam. Dia langsung mencengkeram kerah baju Juan, menyeretnya paksa masuk lebih dalam ke area gunung.

"Gila? Dulu kamu sendiri yang bilang, kalau pengantin di nikahanmu bukan Anya, kita nggak usah datang, malah harus menghajarmu sampai mati!"

"Buka matamu lebar-lebar dan lihat baik-baik gunung ini! Pas kamu lagi asyik jadi pengantin baru, cewek yang katanya kamu cintai setengah mati selama sepuluh tahun itu, jasadnya tergeletak di sini selama tiga hari! Waktu ditemukan, bajunya compang-camping dan nggak ada satu pun bagian tubuh bawahnya yang utuh!"

"Juan, orang yang mengkhianati cinta sejati emang paling pantas mati, tapi kenapa yang mati malah Anya?!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Memilih Cinta yang Tepat   Bab 26

    Rayan mengantar Anya sampai ke depan asrama putri, lalu kembali ke asramanya sendiri.Teringat pada pesan dari Juan, Rayan tiba-tiba merasa kesal setengah mati. Dia tidak percaya Juan punya kemampuan sebesar itu hingga bisa memantau kecelakaan kecil di tanah air, padahal di sana sedang tengah malam.Kemungkinan terbesar adalah, di kehidupan sebelumnya, orang tua Anya juga mengalami kecelakaan mobil di waktu-waktu seperti ini. Itulah sebabnya Juan bisa mencari momen yang tepat untuk mengirim pesan.Perasaan mengetahui pacarnya memiliki rahasia dengan pria lain, benar-benar membuat hatinya dongkol.Di sisi lain, Anya tidak menyadari gejolak cemburu di hati Rayan. Baru saja melangkah masuk ke asrama, dia langsung dibuat kaget oleh tatapan dari teman-teman sekamarnya."Anya, aku denger orang tuamu kecelakaan. Parah nggak?"Merasakan kepedulian mereka, perasaan hangat seketika mengalir di lubuk hatinya. Dia menggeleng dan tersenyum pada mereka. "Cuma lecet sedikit, kok, nggak ada yang seriu

  • Memilih Cinta yang Tepat   Bab 25

    Juan tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Dia hanya bisa melihat bahwa mereka tampak sangat bahagia.Itu adalah senyuman Anya yang sekarang tidak akan pernah ditunjukkan lagi di hadapannya.Dengan getir, dia mengalihkan pandangannya, menatap perabotan besar di dalam kamar yang sudah ditutupi kain putih, serta koper-koper yang sudah dikemas dan diletakkan di depan pintu untuk dibawa pergi. Juan pun memendam ucapan perpisahan itu jauh di dalam hati.'Selamat tinggal, Anya.'...Tahun ini, Anya menjadi mahasiswa tahun kedua.Dia menerima pernyataan cinta Rayan dan keduanya menjadi pasangan paling serasi yang terkenal di Universitas Louwe. Dalam hubungan asmara, mereka sangat harmonis dan penuh kasih.Sedangkan dalam akademik, mereka adalah yang terbaik di jurusan masing-masing.Namun, Anya yang di mata orang lain tampak tidak memiliki kekhawatiran apa pun, belakangan ini justru makin dilanda kecemasan.Sebab, di kehidupan sebelumnya, orang tuanya mengalami kecelakaan mobil dan

  • Memilih Cinta yang Tepat   Bab 24

    Suara Anya terdengar jelas di telinga Rayan melalui telepon. Rayan tertegun sejenak, tetapi langsung segera paham.Sepertinya, di kehidupan sebelumnya, dia memilih untuk pergi ke luar negeri.Dia mengiyakan dengan suara pelan, lalu terdengar nada bicaranya yang lembut dan penuh kasih."Anya, aku mau kuliah bareng kamu."'Dan juga ingin bersamamu.'Dia menelan sisa kata-kata itu dan hanya menyuarakan kalimat pertamanya saja. Tak lama kemudian, suara ceria wanita itu pun terdengar dari seberang sana."Boleh! Kalau gitu, kita barengan ya."David dan Farel tidak tetap tinggal di Kota Louwe. Mereka akhirnya memilih universitas yang lebih cocok untuk mereka.Sebelum semua orang berpisah ke tujuan masing-masing, Anya dan teman-temannya mengadakan acara makan bersama untuk terakhir kalinya.Mereka mengobrol tentang kampus, tentang masa depan, dan baru di akhir obrolan mereka menyinggung nama Juan."Kayaknya dia bakal kuliah ke luar negeri, deh. Orang tua Juan udah mulai beres-beres barang dari

  • Memilih Cinta yang Tepat   Bab 23

    Saat kembali ke tempat duduk, suasana di antara mereka kembali berubah. Juan tiba-tiba menyadari bahwa dirinya telah menjadi orang yang tidak dibutuhkan.Semua pesanan barbeku telah disajikan. Anya menerima makanan yang diberikan Rayan, dan sesekali saat menemukan yang sangat enak, dia akan menyodorkannya untuk dibagi bersama yang lain.Seolah semuanya berjalan seperti biasa. David dan Farel sesekali juga membagikan beberapa tusuk sate kepadanya, tetapi Juan selalu merasa, dirinya tidak bisa lagi membaur dengan mereka.Juan akhirnya memutuskan untuk pulang lebih awal dari liburan kelulusan ini. Hanya David dan Farel yang berbasa-basi mencoba menahannya beberapa kali, tetapi melihat Juan bersikeras ingin pergi, mereka pun membiarkannya.Begitu Juan pergi, sisa rombongan itu justru tampak makin menikmati liburan mereka.Setiap hari, mereka mengunggah berbagai foto ke media sosial. Sementara itu, Juan yang telah lebih dulu tiba di rumah, menatap foto-foto yang menampilkan kedekatan antara

  • Memilih Cinta yang Tepat   Bab 22

    Anya mendorongnya keluar dan menutup pintu, membiarkan Juan beranjak pergi dengan raut wajah hampa dan jiwa yang seolah tertinggal.Sementara itu, di sudut lorong, hati Rayan seketika berkecamuk hebat.Sepertinya, dia baru saja mendengar sesuatu yang sangat mengejutkan. Dari percakapan antara Anya dan Juan, sepertinya mereka kembali dari sepuluh tahun di masa depan. Di kehidupan sebelumnya itu, mereka saling mencintai selama sepuluh tahun, tetapi pada akhirnya, Juan mengkhianatinya dan jatuh cinta pada orang lain. Anya bahkan meninggal karena ulah Juan.Teringat pada niatnya untuk pergi ke luar negeri beberapa waktu lalu, Rayan hanya ingin menampar dirinya sendiri dengan keras.Bagaimana mungkin dia rela mundur dan menyerahkan Anya pada pria berengsek seperti itu!Dia berusaha sekuat tenaga menahan amarah di hatinya, menatap lekat-lekat pintu kamar Anya yang tertutup rapat, lalu diam-diam membulatkan tekad."Anya, kali ini, aku nggak bakal mau mengalah dan ngelepasin kamu ke siapa pu

  • Memilih Cinta yang Tepat   Bab 21

    Setelah ujian masuk perguruan tinggi selesai, tiba masa liburan paling santai sekaligus paling panjang sepanjang masa SMA.Saat menghadiri acara kumpul kelas, Anya mendengar beberapa teman dekat sedang berdiskusi untuk pergi berlibur bersama setelah lulus. Bagaimanapun juga, setelah masuk kuliah, waktu bagi mereka untuk berkumpul lagi akan sangat sedikit.Anya memiliki ingatan dari kehidupan sebelumnya. Dia tahu bahwa selain Rayan, semua orang akan tetap tinggal di Kota Louwe. Rayan, satu-satunya yang akhirnya memilih kuliah di luar negeri, tidak mengurangi intensitas komunikasi dengan ketiga sahabatnya. Empat tahun kemudian, dia juga akan kembali ke tanah air. Jadi, bagi mereka, tidak ada istilah berpisah. Meski begitu, saat Rayan mengusulkan pergi liburan kelulusan, Anya tetap tidak menolaknya.Cuaca di bulan Juni belum terlalu panas. Mereka memilih sebuah destinasi wisata tepi laut sebagai tujuan. Begitu pesawat mendarat, mereka langsung bergegas menuju hotel.Karena Anya adalah sat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status