เข้าสู่ระบบPada hari ketika kedua orang tuaku datang dari jauh untuk membicarakan tentang urusan pernikahan, keluarganya Arga Pradipta justru datang terlambat. Setelah panggilan ketiga tidak dijawab, ibuku tersenyum sambil menenangkanku. "Mungkin terjebak macet. Tidak apa-apa, ayah dan ibu akan menunggu." Penantian itu pun berlangsung hingga tiga jam lamanya. Raut wajah ayah dan ibuku yang semula penuh harapan dan kebahagiaan menjadi sedih dan pilu. Ayah berulang kali merapikan setelan jasnya yang terasa serba salah, dan akhirnya tak bisa menahan diri lagi. Matanya memerah, lalu bertanya dengan suara bergetar. "Nak, apa ... benar-benar harus dia?" "Ayah tidak bermaksud memisahkan kalian, Ayah hanya khawatir, tempat ini jaraknya ribuan kilometer dari rumah." "Kalau nanti kau diperlakukan tidak baik, aku dan ibumu … tidak akan bisa segera datang untukmu." Kukuku tertancap di telapak tangan. Sambil tersenyum, aku menuntun mereka berdiri, lalu berkata pada keduanya. "Ayah, Ibu, ayo kita pulang saja. Aku sudah tidak inginkan pernikahan ini lagi!"
ดูเพิ่มเติมAku tidak menyangka akan bertemu Arga lagi.Juga tidak menyangka, dia akan muncul dengan penampilan seperti ini.Dia berdiri dengan bertumpu pada tongkat dan mengenakan mantel tebal, tak lagi memancarkan pesona gagah dan menawan seperti dulu.Dia terlalu kurus hingga tulang pipinya menonjol, membuat wajah tampannya itu tampak agak suram. Begitu melihatku, dia bertumpu pada tongkatnya dan melangkah maju dua langkah dengan penuh haru.Sorot matanya berkilau, lalu dia berbicara dengan suara serak. "Rania ....""Di acara pertunangan waktu itu, tidak ada campur tangan Maya sama sekali.""Sembilan ratus sembilan puluh sembilan tangkai mawar merah kupilih satu per satu dengan tanganku sendiri.""Undangan yang dikirim, aku tulis satu per satu dengan tanganku sendiri sampai begadang.""Lokasi acaranya juga kupilih sendiri. Aku bolak-balik mencarinya sampai akhirnya menemukan tema langit berbintang yang paling kau sukai.""Aku kira ... kau akan datang."Aku berdiri di tempat, terdiam sejenak,
Di sisi lain, ibunya Arga memandang kosong ponselnya sendiri yang baru saja diputus panggilannya.Di telinganya, suara tangisan nyaring Maya terus terdengar.Dia mengangkat kepala, melirik sekilas, lalu mencibir dengan nada sinis. "Arga sedang operasi, dia tidak bisa melihat kepura-puraanmu itu. Jadi, tidak perlu akting lagi!"Wajah Maya langsung membeku, matanya berkaca-kaca. Dia menoleh ke arah ibunya Arga, dan berkata pelan."Tante, apa maksudnya? Aku cuma khawatir pada Kak Arga."Ibunya Arga menatapnya sambil tertawa dingin, lalu mencibir."Kau benar-benar mengira aku tidak bisa melihat aktingmu yang payah itu?""Dulu aku tidak suka dengan Rania, jadi aku sengaja memihakmu untuk membuatnya kesal.”"Sekarang kalau dipikir-pikir, apa yang kulakukan itu benar-benar tidak sebanding. Membuang mutiara, hanya demi memungut ...."Maya masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi pada saat itu, pintu ruang operasi terbuka dari dalam.Seketika, ibunya Arga tidak lagi memedulikan Maya dan langsung
Pikiranku ditarik kembali dari kenangan masa lalu yang jauh. Di ujung telepon, suara makian ibunya Arga sudah berubah menjadi permohonan."Rania, Tante yang salah. Semuanya adalah kesalahanku.""Di acara pertunangan, kau tidak datang, lalu cincin dan gaunmu semuanya diberikan pada Maya.""Arga menunggumu sangat lama dan tidak kunjung datang, lalu dia melihat Maya memakai barang-barangmu.""Dia marah dan menghancurkan seluruh tempat acara. Maya bilang kau sudah pergi, tapi Arga berteriak tidak percaya.""Dia berlari keluar dari tempat acara, bilang mau mencarimu, lalu, lalu … terjadi kecelakaan ....""Sebelum pingsan, dia masih terus memanggil namamu.""Rania, tolonglah, anggap saja Tante memohon padamu. Tolong datang dan temui Arga, ya?""Dia ... kali ini, mungkin tidak akan bisa bertahan ...."Di ujung telepon, tak ada lagi kata-kata yang terucap, hanya tersisa isakan pilu.Aku menggenggam ponsel erat, jari-jariku menegang hingga memutih.Saat kuku hampir menusuk telapak tangan, seseo
Aku membuka suara dan memotong perkataannya."Tante, aku sudah putus dengan Arga.""Kalau ada apa-apa, cari Maya saja! Tidak usah cari aku.""Lagipula, dari dulu Tante juga selalu meremehkan keluarga kami, kan?"Dari seberang telepon, terdengar suara teguran tajam yang penuh amarah. "Rania, apa maksudmu?""Berapa banyak yang telah dikorbankan putraku demi kau?""Demi tetap menikahimu, dia bahkan hampir putus hubungan dengan keluarganya. Sekarang Arga kecelakaan, tapi kau bersikap begini?"Aku terdiam, teringat saat-saat awal aku bersama Arga.Saat itu, aku hanya mengira kondisi ekonomi keluarganya sedikit lebih baik, tidak menyangka dia adalah anak orang kaya.Pada bulan ketiga hubungan kami, ibunya Arga datang menemuiku. Tidak seperti adegan klise di novel yang melemparkan cek.Dia hanya duduk di sana dan menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki.Lalu, dia mengangkat cangkir kopi, menyesapnya, dan berkata dengan anggun. "Rania, kudengar kau berasal dari sebuah desa di wilayah s






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.