로그인Suatu siang, Rafael baru saja keluar dari perpustakaan ketika seorang teman berlari kecil menghampirinya. "Raf!""Apa lagi?""Citra di depan."Rafael langsung berhenti. "Di depan mana?""Depan perpustakaan."Rafael menoleh. Benar. Citra berdiri di dekat pintu. Matanya langsung menemukan Rafael."Rafael!"Rafael berbalik. "Astaga." Ia masuk kembali ke perpustakaan.Temannya tertawa kecil. "Ini serius?""Menurutmu?""Kalian seperti sedang main petak umpet.""Ini tidak lucu." Rafael berjalan menuju tangga belakang.Namun dari kejauhan, suara Citra masih terdengar. "Rafael! Tunggu!"Rafael mempercepat langkah. Ia tidak ingin bertengkar. Tidak ingin mendengarkan permintaan maaf lagi. Tidak ingin membuka kembali pembicaraan yang sudah ia tutup. Ia hanya ingin hidupnya kembali tenang.Pengejaran itu akhirnya mulai membawa konsekuensi bagi Citra sendiri. Semakin sering ia terlihat menunggu Rafael di kampus, semakin banyak mahasiswa yang mulai memperhatikan. Awalnya hanya bisik-bisik. Kemudian
Sejak Rafael mengakhiri hubungannya dengan Citra, hidupnya justru terasa lebih ramai. Bukan karena pekerjaan. Bukan karena keluarga. Melainkan karena Citra.Hari pertama setelah mereka putus, ponsel Rafael tidak berhenti bergetar. Pesan masuk satu demi satu.'Rafael, kita perlu bicara.''Rafael, tolong angkat teleponku.''Aku tahu kamu masih marah.''Beri aku kesempatan untuk menjelaskan.'Rafael membaca beberapa pesan itu tanpa membalas. Awalnya ia masih berusaha mengabaikannya. Ia berharap Citra akan menerima keputusan tersebut setelah beberapa hari. Namun ternyata tidak.Hari kedua. Hari ketiga. Hari keempat. Pesannya justru semakin banyak. Bahkan ketika Rafael tidak menjawab, Citra tetap mengirimkan pesan baru.'Kenapa kamu tidak membalas?''Setidaknya jawab aku.''Aku cuma ingin bertemu.''Lima menit saja.'Rafael mulai merasa terganggu. Ia sudah menjelaskan semuanya ketika mereka bertemu. Ia sudah mengatakan bahwa hubungan mereka berakhir. Apa lagi yang harus dijelaskan? Namun C
Citra tahu, kalau seperti ini terus Rafael akan pergi dan Citra tidak bisa membiarkan ini terjadi.Citra mulai berkaca-kaca. "Aku hanya ingin merasa aman.""Aku juga ingin merasa tenang dalam hubungan."Citra terdiam.Rafael melanjutkan, "Hubungan seharusnya menjadi tempat dua orang merasa nyaman. Bukan tempat aku merasa harus terus berhati-hati agar tidak memicu kecurigaanmu."Air mata Citra mulai jatuh. "Aku bisa berubah."Rafael menggeleng. "Aku tidak meminta kamu berubah demi aku.""Aku bisa belajar percaya.""Aku tidak ingin kamu menjalani hubungan ini dengan terus memaksa dirimu untuk menjadi orang lain.""Aku akan berusaha.""Aku tahu." Rafael menatapnya dengan ekspresi yang semakin serius. "Tapi aku juga harus jujur kepada diriku sendiri."Citra menahan napas."Aku sudah tidak bahagia," kata Rafael dengan wajah penuh rasa bersalah.Kalimat itu membuat Citra membeku."Aku tidak merasa tenang dalam hubungan ini. Aku tidak lagi menantikan waktu bersama seperti dulu. Setiap kali p
Rafael akhirnya memutuskan untuk mengangkat telepon Citra, ketika Citra sudah mencoba menghubunginya entah keberapa kali. Kali ini, Rafael berjanji akan menemui Citra di rumahnya. Bukan untuk bertengkar. Bukan pula untuk menyalahkannya atas semua yang telah terjadi. Ia hanya ingin menyelesaikan hubungan mereka dengan baik-baik.Sudah terlalu banyak hal yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Pertengkaran yang terus berulang, kejadian di kampus, video yang tersebar di media sosial, masalah dengan keluarga Mahendra, sampai hubungannya dengan Anindya yang ikut terseret.Rafael lelah. Namun kali ini, ia tidak ingin mengakhiri semuanya dengan kemarahan. Ia ingin berbicara dengan tenang.Ketika Rafael tiba di rumah Citra, Citra sudah menunggunya dan membukakan pintu dengan senyum lembut terpatri di wajahnya. Senyum yang dulu Rafael sukai dari Citra."Kamu akhirnya datang," kata Citra sambil mengajak Rafael duduk.Rafael duduk di hadapannya. "Iya."Beberapa saat mereka hanya terdiam.Cit
Rafael adalah pasangan yang lebih sepadan bagi Anindya. Ia sehat. Ia bisa berjalan. Ia bisa mengemudi. Ia bisa membawa Anindya ke mana pun. Kalau Anindya membutuhkan sesuatu, Rafael bisa langsung melakukannya. Ia tidak perlu menunggu bantuan orang lain. Tidak perlu memikirkan akses kursi roda. Tidak perlu menyesuaikan begitu banyak hal dalam kehidupan sehari-hari.Rafael bahkan bisa membayangkan dirinya berjalan berdampingan dengan Anindya, menggandeng tangannya, membawanya ke tempat-tempat yang ia inginkan. Bukankah itu lebih mudah? Bukankah Anindya akan lebih bahagia dengan kehidupan seperti itu?Rafael mengangkat dagunya sedikit. Dan bukan hanya itu. Ia adalah pewaris tunggal keluarga Mahendra. Meskipun keluarga Pratama memiliki akses, relasi, dan bisnis di atas keluarga Mahendra, namun keluarga Mahendra lebih sejajar dengan keluarga Wijaya. Keluarga Mahendra juga tidak memiliki jurang yang terlalu jauh dengan keluarga Pratama. Ia punya kemampuan. Punya koneksi. Punya kekayaan. Pun
Sejak menyadari perasaannya kepada Anindya, Rafael justru merasa semakin tidak tenang. Bukan karena ia tidak yakin dengan perasaannya. Justru sebaliknya. Untuk pertama kalinya, Rafael benar-benar yakin.Ia mencintai Anindya. Masalahnya sekarang adalah bagaimana cara mendapatkannya kembali. Rafael tidak bisa langsung mendatangi Anindya. Ia masih memiliki masalah dengan Citra yang belum selesai. Hubungan mereka belum resmi berakhir, sementara Anindya sudah menarik batas yang sangat jelas.Anindya bahkan sudah mengatakan bahwa ia tidak ingin lagi menjadi tempat Rafael melarikan diri setiap kali hubungannya dengan Citra bermasalah. Rafael memahami itu. Setidaknya secara logika. Tetapi secara perasaan, ia tidak bisa menerimanya begitu saja.Selama bertahun-tahun, Anindya selalu ada. Dan Rafael terbiasa dengan hal itu. Sejak dulu, ia sudah terbiasa menjadi seseorang yang dicari. Kalau ada rencana, teman-temannya akan menunggunya. Kalau ada keputusan, pendapatnya akan dipertimbangkan. Kalau
Perubahan sikap Anindya Wijaya menjadi bahan pembicaraan paling panas di Nusantara Academy selama seminggu terakhir. Dulu, semua orang tahu siapa yang selalu mengelilingi Rafael Mahendra.Anindya, wanita kaya yang keras kepala itu akan datang membawa kopi saat Rafael begadang mengerjakan tugas, men
Begitu kata-kata Anindya jatuh di udara, halaman sekolah yang tadi sudah sunyi menjadi semakin hening. Beberapa siswa menatapnya seolah baru saja melihat orang gila, bahkan Rafael yang biasanya penuh percaya diri terlihat membeku di tempat. “Mulai hari ini... tolong biasakan dirimu membelaku.” Ka
Suara ramai memenuhi telinga Anindya sebelum ia sempat membuka mata sepenuhnya.Teriakan siswa, langkah kaki berlarian, dan tawa remaja yang bercampur dengan suara bel masuk pagi. Angin menerpa wajahnya, membuat Anindya bertanya-tanya berada di manakah dia. Anindya membuka matanya, ia mengerjap pe
Sorot lampu memenuhi ballroom Grand Meridia Hotel, memantul dari kristal di langit-langit dan meja-meja kaca yang tersusun mewah. Tepuk tangan bergema ketika pembawa acara mengangkat kartu pemenang dan tersenyum lebar ke arah kamera. “Pemenang Aktris Terbaik tahun ini adalah... Anindya Wijaya!” R







