Share

Chapter 86

Author: Nyctus
last update publish date: 2026-06-25 17:26:11

Hari acara perpisahan akhirnya tiba. Setelah berminggu-minggu rapat. Setelah puluhan revisi. Setelah pertengkaran soal dekorasi, konsumsi, rundown, dan warna pita. Akhirnya aula sekolah berdiri dalam bentuk terbaiknya. Lampu-lampu menyala hangat. Backdrop megah memenuhi panggung. Deretan kursi tamu tertata rapi. Foto-foto kenangan angkatan terpajang di berbagai sudut. Bahkan Anindya yang terkenal perfeksionis pun akhirnya mengakui hasilnya cukup memuaskan. Meskipun tentu saja ia tetap menemukan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 86

    Hari acara perpisahan akhirnya tiba. Setelah berminggu-minggu rapat. Setelah puluhan revisi. Setelah pertengkaran soal dekorasi, konsumsi, rundown, dan warna pita. Akhirnya aula sekolah berdiri dalam bentuk terbaiknya. Lampu-lampu menyala hangat. Backdrop megah memenuhi panggung. Deretan kursi tamu tertata rapi. Foto-foto kenangan angkatan terpajang di berbagai sudut. Bahkan Anindya yang terkenal perfeksionis pun akhirnya mengakui hasilnya cukup memuaskan. Meskipun tentu saja ia tetap menemukan lima belas hal yang menurutnya bisa diperbaiki.***Sejak pagi seluruh panitia sudah sibuk. Sebagian mengatur registrasi tamu. Sebagian memeriksa konsumsi. Sebagian memastikan seluruh peserta hadir tepat waktu. Guru-guru terlihat jauh lebih santai dibanding hari-hari sebelumnya. Karena untuk pertama kalinya, semuanya tampak berjalan sesuai rencana. Atau setidaknya belum ada bencana.Anindya berdiri di dekat panggung sambil memegang clipboard. "Banner sponsor sudah dicek?""Sudah.""Slide alumni

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 85

    Hari-hari berjalan sangat cepat, terutama bagi para panitia acara perpisahan. Masalah lain muncul di tiga hari sebelum acara perpisahan. Seluruh panitia resmi memasuki fase yang paling ditakuti: gladi resik.Menurut teori, gladi resik adalah simulasi terakhir agar acara berjalan lancar. Menurut kenyataan, gladi resik adalah momen ketika semua orang baru menyadari betapa banyak masalah yang belum selesai. Pukul tujuh pagi, aula sekolah sudah ramai. Panitia datang lebih awal. Vendor dekorasi keluar masuk. Tim dokumentasi membawa kamera. MC membawa naskah. Guru-guru mulai melakukan inspeksi. Dan tepat pukul tujuh lewat lima menit... teriakan Anindya sudah terdengar.“KENAPA FOTO ANGKATAN BELUM DIPASANG?!”Seseorang dari tim dokumentasi hampir menjatuhkan laptop. “Anin, file-nya masih direvisi!”“Kenapa masih direvisi tiga hari sebelum acara?!”“Karena ada yang minta ganti foto!”“Siapa?!”Seluruh ruangan langsung menunjuk satu orang. Anak itu mengangkat tangan pelan. “Foto saya yang lama

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 84

    Ruang panitia masih penuh huru-hara. Para siswa masih sibuk dengan jobdesk masing-masing. Tak terkecuali Anindya. Anindya berjalan ke meja Arkana sambil membawa tiga contoh kain backdrop.“Pilih.”“Apa?”“Warna.”“Itu tugasmu.”“Kamu pacarku. Kontribusi.”Arkana mengangkat mata. Menatap tiga kain itu. “Kanan.”“Kenapa?”“Karena dua lainnya buruk.”“Jawaban kamu selalu menyenangkan.”“Tapi benar.”Anindya melihat lagi kain pilihannya. Diam sejenak.“...Memang paling bagus.”Anindya mendecak kesal, merasa kalah. Panitia sekitar langsung tertawa. Kesibukan semakin menjadi-jadi ketika guru pembina masuk membawa kabar baru.“Ada perubahan susunan tamu undangan.”Satu ruangan menjerit. “LAGI?!”Guru pembina tersenyum kaku. “Kepala yayasan akan hadir.”Kini semua orang benar-benar panik. Berarti tata tempat duduk harus diubah. Protokol diperketat. Dekor panggung harus lebih rapi. MC harus latihan ulang. Dan konsumsi VIP wajib dinaikkan levelnya. Seseorang jatuh terduduk di lantai.“Aku baru

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 83

    Pembagian tugas panitia perpisahan akhirnya dimulai. Anindya menjadi koordinator dekorasi utama karena seleranya bagus dan ia terlalu suka mengatur. Arkana ditunjuk menjadi penanggung jawab sponsor dan relasi karena semua orang tahu ia bisa membuat vendor mendadak disiplin hanya dengan satu tatapan.“Tidak adil,” protes seseorang.“Mereka jadi divisi pasangan elit.”“Diam,” jawab Anindya.“Kamu iri.”Selama rapat, dinamika baru mereka jadi tontonan gratis.“Arkana, tolong cek proposal ini.”“Hm.”“Arkana, menurutmu warna backdrop apa?”“Yang tidak norak.”“Arkana, aku lapar.”“Itu bukan topik rapat.”Lima menit kemudian, minuman dan roti datang ke meja Anindya. Satu ruangan menatap ngeri.“Aku baru lihat pelayanan secepat ini.”“Dia summon makanan?”“Bukan,” gumam teman sebelah. “Itu namanya pacar perhatian.”Anindya menggigit roti sambil tersenyum puas.“Kamu bilang bukan topik rapat.”“Aku bilang begitu.”“Terus ini?”“Aku mencegah kamu rewel.”“Alasanmu manis.”“Tidak.”“Sedikit.”

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 82

    Kata-kata Arkana menyentuh ego Rafael. Seketika, ruangan terasa menegang. Arkana mendorong kursi rodanya maju sedikit. Tatapannya tajam, dingin, tenang.“Dengar baik-baik. Aku tahu keluargaku. Aku tahu konsekuensinya. Aku tahu hubungan bukan dongeng.” Setiap kata jatuh jelas. “Aku bahkan memikirkan semua itu jauh sebelum kamu datang.”Rafael terdiam.“Masalah restu keluarga, status, masa depan— Itu urusanku dengan dia. Bukan urusanmu," lanjut Arkana, tenang. Rafael tertawa pendek. “Kamu yakin bisa lindungi dia?”Arkana tak berkedip. “Lebih baik daripada kamu.”Kalimat itu sederhana. Namun telak. Wajah Rafael mengeras.“Aku cuma kasihan kalau dia berharap terlalu banyak,” kata Rafael akhirnya. Arkana menatap tanpa emosi. “Aku justru kasihan padamu.”Rafael mengernyit. “Kenapa?”“Karena bahkan sekarang pun...” Arkana berhenti sebentar. Lalu menyelesaikan dengan tenang. “...kamu masih datang membicarakan perempuan yang katanya sudah tidak penting.”Sunyi. Tak ada jawaban cepat kali i

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 81

    Gerakan Arkana barusan membuat wajah Anindya memerah, jantungnya berdegup sangat kencang hingga Anindya merasa bisa mendengar detak jantungnya. Hal yang lucu sebenarnya, mengingat Anindya sebetulnya sudah menikah dengan Arkana di kehidupan sebelumnya. “Kamu merah,” kata Arkana tenang.“Kamu juga.”“Aku tidak.”“Di dalam.”Arkana hampir tersenyum lagi. Hampir. Dari dalam rumah, nenek Anindya kembali melihat dari jendela.“Kali ini resmi?” tanya asisten rumah tangga.“Melihat wajah cucu saya, iya.”“Apakah saya tetap bawa camilan?”“Sekarang bawa.”“Kenapa sekarang?”“Pacaran butuh gula darah stabil.”Saat pelayan keluar membawa teh dan kudapan, Anindya langsung mundur satu langkah. Wajahnya kembali angkuh seperti biasa. Arkana menatap perubahan itu dengan geli.“Kamu malu?”“Aku menjaga citra.”“Gagal.”“Diam.”Pelayan meletakkan nampan sambil tersenyum sopan.“Selamat sore, Tuan Arkana. Lama tidak melihat Anda.”Anindya langsung menoleh. “Lama tidak melihat?”Pelayan salah tingkah. “

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 57

    Kerumunan di sudut ballroom semakin padat. Musik masih mengalun. Lampu masih berkilau. Pelayan masih berjalan membawa nampan minuman. Namun perhatian sebagian besar tamu telah berpindah. Bukan pada perayaan lima puluh tahun. Melainkan pada seorang perempuan yang terlalu keras bicara di tempat yang

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 56

    Perayaan lima puluh tahun perusahaan Mahendra berjalan semakin ramai. Musik berganti lebih hangat. Para tamu mulai berpindah dari meja formal ke kelompok-kelompok kecil. Bisnis dibicarakan sambil tersenyum. Aliansi lama diperkuat dengan gelas anggur. Dan gosip sosial mulai bergerak sama cepatnya de

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 54

    Libur semester memasuki minggu kedua. Bagi banyak siswa, itu berarti waktu bersantai. Tapi bagi Rafael Mahendra, itu berarti lebih banyak rapat, proposal, dan tekanan dari keluarganya.Di kantor pusat keluarga Mahendra, suasana selalu cepat dan padat. Semua orang berjalan dengan tujuan jelas. Semua

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 53

    Setelah hari pembagian nilai, seluruh siswa Nusantara Academy menyambut libur semester seperti tahanan yang dibebaskan. Grup kelas penuh rencana liburan. Ada yang ke luar negeri. Ada yang marathon drama. Ada yang tidur tiga hari tanpa bangun. Ada juga yang memamerkan nilai sambil pura-pura rendah h

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status