ログインHari-hari berjalan sangat cepat, terutama bagi para panitia acara perpisahan. Masalah lain muncul di tiga hari sebelum acara perpisahan. Seluruh panitia resmi memasuki fase yang paling ditakuti: gladi resik.Menurut teori, gladi resik adalah simulasi terakhir agar acara berjalan lancar. Menurut kenyataan, gladi resik adalah momen ketika semua orang baru menyadari betapa banyak masalah yang belum selesai. Pukul tujuh pagi, aula sekolah sudah ramai. Panitia datang lebih awal. Vendor dekorasi keluar masuk. Tim dokumentasi membawa kamera. MC membawa naskah. Guru-guru mulai melakukan inspeksi. Dan tepat pukul tujuh lewat lima menit... teriakan Anindya sudah terdengar.“KENAPA FOTO ANGKATAN BELUM DIPASANG?!”Seseorang dari tim dokumentasi hampir menjatuhkan laptop. “Anin, file-nya masih direvisi!”“Kenapa masih direvisi tiga hari sebelum acara?!”“Karena ada yang minta ganti foto!”“Siapa?!”Seluruh ruangan langsung menunjuk satu orang. Anak itu mengangkat tangan pelan. “Foto saya yang lama
Ruang panitia masih penuh huru-hara. Para siswa masih sibuk dengan jobdesk masing-masing. Tak terkecuali Anindya. Anindya berjalan ke meja Arkana sambil membawa tiga contoh kain backdrop.“Pilih.”“Apa?”“Warna.”“Itu tugasmu.”“Kamu pacarku. Kontribusi.”Arkana mengangkat mata. Menatap tiga kain itu. “Kanan.”“Kenapa?”“Karena dua lainnya buruk.”“Jawaban kamu selalu menyenangkan.”“Tapi benar.”Anindya melihat lagi kain pilihannya. Diam sejenak.“...Memang paling bagus.”Anindya mendecak kesal, merasa kalah. Panitia sekitar langsung tertawa. Kesibukan semakin menjadi-jadi ketika guru pembina masuk membawa kabar baru.“Ada perubahan susunan tamu undangan.”Satu ruangan menjerit. “LAGI?!”Guru pembina tersenyum kaku. “Kepala yayasan akan hadir.”Kini semua orang benar-benar panik. Berarti tata tempat duduk harus diubah. Protokol diperketat. Dekor panggung harus lebih rapi. MC harus latihan ulang. Dan konsumsi VIP wajib dinaikkan levelnya. Seseorang jatuh terduduk di lantai.“Aku baru
Pembagian tugas panitia perpisahan akhirnya dimulai. Anindya menjadi koordinator dekorasi utama karena seleranya bagus dan ia terlalu suka mengatur. Arkana ditunjuk menjadi penanggung jawab sponsor dan relasi karena semua orang tahu ia bisa membuat vendor mendadak disiplin hanya dengan satu tatapan.“Tidak adil,” protes seseorang.“Mereka jadi divisi pasangan elit.”“Diam,” jawab Anindya.“Kamu iri.”Selama rapat, dinamika baru mereka jadi tontonan gratis.“Arkana, tolong cek proposal ini.”“Hm.”“Arkana, menurutmu warna backdrop apa?”“Yang tidak norak.”“Arkana, aku lapar.”“Itu bukan topik rapat.”Lima menit kemudian, minuman dan roti datang ke meja Anindya. Satu ruangan menatap ngeri.“Aku baru lihat pelayanan secepat ini.”“Dia summon makanan?”“Bukan,” gumam teman sebelah. “Itu namanya pacar perhatian.”Anindya menggigit roti sambil tersenyum puas.“Kamu bilang bukan topik rapat.”“Aku bilang begitu.”“Terus ini?”“Aku mencegah kamu rewel.”“Alasanmu manis.”“Tidak.”“Sedikit.”
Kata-kata Arkana menyentuh ego Rafael. Seketika, ruangan terasa menegang. Arkana mendorong kursi rodanya maju sedikit. Tatapannya tajam, dingin, tenang.“Dengar baik-baik. Aku tahu keluargaku. Aku tahu konsekuensinya. Aku tahu hubungan bukan dongeng.” Setiap kata jatuh jelas. “Aku bahkan memikirkan semua itu jauh sebelum kamu datang.”Rafael terdiam.“Masalah restu keluarga, status, masa depan— Itu urusanku dengan dia. Bukan urusanmu," lanjut Arkana, tenang. Rafael tertawa pendek. “Kamu yakin bisa lindungi dia?”Arkana tak berkedip. “Lebih baik daripada kamu.”Kalimat itu sederhana. Namun telak. Wajah Rafael mengeras.“Aku cuma kasihan kalau dia berharap terlalu banyak,” kata Rafael akhirnya. Arkana menatap tanpa emosi. “Aku justru kasihan padamu.”Rafael mengernyit. “Kenapa?”“Karena bahkan sekarang pun...” Arkana berhenti sebentar. Lalu menyelesaikan dengan tenang. “...kamu masih datang membicarakan perempuan yang katanya sudah tidak penting.”Sunyi. Tak ada jawaban cepat kali i
Gerakan Arkana barusan membuat wajah Anindya memerah, jantungnya berdegup sangat kencang hingga Anindya merasa bisa mendengar detak jantungnya. Hal yang lucu sebenarnya, mengingat Anindya sebetulnya sudah menikah dengan Arkana di kehidupan sebelumnya. “Kamu merah,” kata Arkana tenang.“Kamu juga.”“Aku tidak.”“Di dalam.”Arkana hampir tersenyum lagi. Hampir. Dari dalam rumah, nenek Anindya kembali melihat dari jendela.“Kali ini resmi?” tanya asisten rumah tangga.“Melihat wajah cucu saya, iya.”“Apakah saya tetap bawa camilan?”“Sekarang bawa.”“Kenapa sekarang?”“Pacaran butuh gula darah stabil.”Saat pelayan keluar membawa teh dan kudapan, Anindya langsung mundur satu langkah. Wajahnya kembali angkuh seperti biasa. Arkana menatap perubahan itu dengan geli.“Kamu malu?”“Aku menjaga citra.”“Gagal.”“Diam.”Pelayan meletakkan nampan sambil tersenyum sopan.“Selamat sore, Tuan Arkana. Lama tidak melihat Anda.”Anindya langsung menoleh. “Lama tidak melihat?”Pelayan salah tingkah. “
Jawaban Arkana barusan membuat dada Anindya bergetar. Nadanya penuh kejujuran, kaki Anindya terasa lemas tiba-tiba. Arkana mengangkat tangan perlahan. Sedikit ragu. Seolah belum terbiasa meminta.Anindya menatap tangan itu. Lalu meletakkan tangannya di sana tanpa menunggu dua kali. Jemari mereka bertaut. Hangat. Nyata. Arkana menggenggam lebih erat.“Aku tidak menjanjikan hidup mudah," kata Arkana, suaranya bergetar. “Aku juga tidak minta.”“Aku kadang sulit diajak bicara.”“Sudah tahu.”“Aku banyak kekurangan.”“Daftarnya panjang.”Arkana menatap gadis itu lama. “Tapi kalau kamu benar-benar memilih...” Suara Arkana rendah dan dalam. “...aku akan belajar jadi seseorang yang layak dipilih.”Mata Anindya langsung memanas.“Jangan romantis mendadak,” gumamnya.“Kamu menangis?”“Tidak.”“Kamu selalu bohong saat hampir menangis.”“Diam.”Dari balik jendela dalam rumah, nenek Anindya melihat pemandangan itu sambil menyeruput teh.“Ah,” gumamnya puas. “Akhirnya anak keras kepala dapat pasan
Kesempatan itu datang saat jam istirahat. Kelas mulai kosong. Beberapa siswa ke kantin, beberapa ke lapangan. Anindya sedang merapikan buku catatan di meja belakang sambil bersenandung kecil. Arkana berada di dekat jendela, membaca file di tablet dengan wajah datar seperti biasa.Rafael berdiri dar
Citra Anggraini cukup cerdas untuk tahu kapan harus menyerang. Dan lebih cerdas lagi untuk tahu kapan harus diam. Menuduh langsung hanya akan membuat Rafael Mahendra defensif. Mendesak terlalu keras hanya akan membuatnya menjauh. Jadi Citra memilih cara yang lebih halus. Citra tidak pernah bertany
Hari-hari setelah itu bergerak cepat. Terlalu cepat bagi sebagian orang. Namun terlalu lambat bagi yang sedang gelisah.Di Nusantara Academy, banyak siswa mulai terbiasa melihat satu pemandangan baru: Anindya Wijaya di dekat Arkana Pratama. Kadang membawa buku. Kadang membawa camilan. Kadang hanya
Pagi itu, Anindya Wijaya datang ke sekolah dengan semangat yang terlalu terang untuk ukuran hari Senin. Ia membawa tas lebih berat dari biasanya, rambut diikat rapi, dan di tangan kirinya ada buku ekonomi tebal yang semalam ia bungkus sampul baru. Begitu turun dari mobil, sopir keluarga menatap her







