Share

Chapter 82

Author: Nyctus
last update publish date: 2026-06-20 22:11:14

Kata-kata Arkana menyentuh ego Rafael. Seketika, ruangan terasa menegang. Arkana mendorong kursi rodanya maju sedikit. Tatapannya tajam, dingin, tenang.

“Dengar baik-baik. Aku tahu keluargaku. Aku tahu konsekuensinya. Aku tahu hubungan bukan dongeng.” Setiap kata jatuh jelas. “Aku bahkan memikirkan semua itu jauh sebelum kamu datang.”

Rafael terdiam.

“Masalah restu keluarga, status, masa depan— Itu urusanku dengan dia. Bukan urusanmu," lanjut Arkana, tenang.

Rafael tertawa pendek. “Kamu yakin
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 151

    Kursi roda Arkana akhirnya berhenti di tengah kerumunan. Kehadirannya membuat suasana yang sejak tadi riuh mendadak sedikit mereda. Rafael yang masih menahan Citra menoleh. Begitu melihat Arkana, ekspresi wajahnya berubah."Arkana..."Namun Arkana tidak menjawab. Tatapannya hanya tertuju kepada Anindya. Perempuan itu masih berdiri di tempatnya. Wajahnya pucat, satu tangannya masih berada di pipi yang baru saja ditampar. Matanya terus menatap Arkana seolah-olah hanya keberadaan lelaki itu yang mampu membuatnya kembali sadar pada keadaan di sekelilingnya.Arkana mendekat. Anindya tidak bergerak. Ia bahkan tidak menyadari ketika Arkana mengangkat tangannya dan menyentuh pipinya dengan hati-hati."Apakah sakit?" Suara Arkana terdengar rendah.Anindya masih terdiam. Matanya berkedip pelan. Seolah-olah otaknya membutuhkan waktu untuk memproses pertanyaan sederhana itu. Arkana mengusap sangat pelan bagian pipi Anindya yang memerah."Anindya?"Baru kali ini Anindya seperti tersadar. "Ah..."S

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 150

    "Menurutku, kalian masih bisa memperbaikinya."Rafael yang sejak tadi mendengarkan Anindya akhirnya mengangkat wajah. "Memperbaiki apa?""Hubunganmu dengan Citra." Anindya tersenyum tipis. "Kalian mungkin hanya kurang komunikasi."Rafael terdiam.Anindya melanjutkan, "Dari ceritamu, kalian sama-sama sedang lelah. Kamu merasa Citra terlalu menuntut, sementara Citra mungkin merasa kamu tidak cukup menjelaskan apa yang sebenarnya kamu rasakan."Rafael memainkan sendok di tangannya. "Aku sudah mencoba bicara.""Mungkin belum dengan cara yang tepat."Rafael menatap Anindya. "Kamu pikir begitu?""Iya." Anindya mengangguk. "Kalau kalian memang masih ingin mempertahankan hubungan itu, kalian harus membicarakannya dengan baik. Jangan menunggu sampai salah satu dari kalian benar-benar menyerah."Rafael terdiam cukup lama. Ia tidak tahu mengapa mendengar nasihat itu dari Anindya terasa berbeda. Perempuan itu tidak sedang menghakiminya. Tidak pula terlihat menikmati masalah dalam hubungannya. Jus

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 149

    Citra baru saja keluar dari ruang dosen ketika ponselnya bergetar. Ia baru selesai melakukan bimbingan. Seharusnya setelah ini ia bisa langsung pulang, tetapi sebuah pesan yang masuk membuat langkahnya terhenti.'Cit, bukannya ini pacarmu?'Citra mengerutkan kening. Ia membuka pesan tersebut. Sebuah foto dikirimkan kepadanya. Begitu foto itu terbuka, napas Citra seolah tertahan. Rafael. Duduk di sebuah meja, sedang berhadapan dengan Anindya. Mereka sedang makan berdua.Untuk beberapa detik, Citra hanya menatap layar ponselnya. Tidak bergerak. Tidak berkedip. Kemudian tangannya perlahan mengepal.'Di mana ini?' Pesan itu ia kirimkan singkat.Temannya membalas beberapa saat kemudian.'Sebentar, aku cari tahu. Tadi aku lihat dari grup bersama temanku dan merasa mengenalnya. Setelah kuingat-ingat, ternyata pacarmu kan?'Citra tidak menjawab. Ia hanya menatap foto itu lagi. Rafael. Anindya. Berdua. Tidak ada orang lain di meja mereka. Tidak ada Arkana. Entah mengapa pemandangan itu terasa

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 148

    Rafael masih terlihat ragu untuk melanjutkan pembicaraan. Namun setelah beberapa saat, akhirnya ia menghela napas."Sebetulnya ada satu hal lagi yang ingin kuceritakan."Anindya mengangkat wajah. "Apa?"Rafael memainkan gelas di tangannya. "Aku dan Citra bertengkar setelah acara kemarin."Anindya tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Rafael, memberinya kesempatan untuk bercerita."Awalnya cuma karena aku diam sepanjang perjalanan pulang." Rafael tersenyum hambar. "Dia bertanya apa yang kupikirkan. Aku tidak bisa menjawab.""Kenapa?""Aku sendiri tidak tahu."Anindya tetap diam. Rafael kemudian menceritakan pertengkaran mereka. Tentang Citra yang merasa dirinya terus melakukan kesalahan. Tentang bagaimana Citra merasa sudah berusaha menyesuaikan diri dengan dunia Rafael. Tentang Rafael yang semakin lelah karena terus diminta menjelaskan sesuatu yang bahkan tidak mampu ia jelaskan kepada dirinya sendiri. Anindya mendengarkan tanpa menyela.Sampai akhirnya Rafael mengatakan, "Ibuku j

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 147

    Setelah makanan mereka datang, Anindya akhirnya meletakkan catatan bimbingannya ke dalam tas. Sejak tadi Rafael terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu.Ia beberapa kali membuka mulut, kemudian mengurungkan niatnya.Anindya akhirnya tersenyum kecil. "Jadi?"Rafael mengangkat wajah. "Jadi apa?""Kenapa kamu datang ke sini?"Rafael terdiam. Anindya menatapnya dengan ekspresi tenang."Maksudku, kamu bukan mahasiswa di universitas ini," kata Anindya memperjelas maksudnya. "Iya.""Kamu juga tidak memberi tahu aku sebelumnya.""Iya.""Dan kamu menunggu hampir satu jam hanya untuk bertemu denganku."Rafael mengusap tengkuknya. "Kalau kamu menjelaskannya seperti itu, kedengarannya memang agak aneh."Anindya tertawa kecil. "Makanya aku bertanya."Rafael ikut tersenyum, tetapi kemudian kembali diam. Sebenarnya ia sudah memikirkan percakapan ini sejak tadi malam. Ia tahu apa yang ingin ditanyakan. Namun ketika sudah berhadapan langsung dengan Anindya, semuanya terasa jauh lebih sulit."Sebetu

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 146

    Hampir satu jam berlalu, namun Rafael masih duduk di tempat yang sama. Beberapa kali ia membuka ponselnya, memeriksa pesan yang masuk, lalu kembali meletakkannya. Ia sempat menerima beberapa telepon dari rekan kerja, tetapi semuanya ia selesaikan dengan singkat.Selebihnya, ia menunggu. Entah mengapa, menunggu Anindya menyelesaikan bimbingan terasa lebih mudah daripada meninggalkan kampus dan kembali memikirkan semuanya sendirian.Ketika akhirnya pintu gedung terbuka, Rafael mengangkat wajah. Anindya keluar sambil membawa beberapa lembar dokumen. Begitu melihat Rafael masih berada di sana, langkahnya melambat."Kamu masih di sini?"Rafael berdiri. "Iya."Anindya melihat jam. "Sudah hampir satu jam.""Aku tahu."Anindya menghela napas kecil. "Maaf membuatmu menunggu.""Tidak apa-apa.""Bimbingannya ternyata lebih lama dari yang kukira.""Bagaimana?"Anindya tersenyum. "Baik. Ada beberapa bagian yang harus diperbaiki, tapi setidaknya sekarang aku tahu apa yang harus dikerjakan."Rafael

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 5

    Kabar tentang senyum tipis Arkana Pratama menyebar lebih cepat daripada gosip apa pun di Nusantara Academy. Bukan karena senyumnya luar biasa manis, justru sebaliknya. Karena hampir tak seorang pun percaya pria sedingin itu bisa tersenyum. Sepanjang pagi, bisik-bisik terdengar di setiap sudut korid

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 4

    Sejak istirahat siang berakhir, suasana kelas XI-A tidak pernah benar-benar tenang. Tatapan siswa terus berpindah antara Anindya Wijaya dan Arkana Pratama. Namun, tidak ada yang bisa menyalahkan mereka.Pagi tadi Anindya mendorong kursi roda siswa pindahan itu masuk kelas seolah hal paling normal d

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 3

    Begitu kata-kata Anindya jatuh di udara, halaman sekolah yang tadi sudah sunyi menjadi semakin hening. Beberapa siswa menatapnya seolah baru saja melihat orang gila, bahkan Rafael yang biasanya penuh percaya diri terlihat membeku di tempat. “Mulai hari ini... tolong biasakan dirimu membelaku.” Ka

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 2

    Suara ramai memenuhi telinga Anindya sebelum ia sempat membuka mata sepenuhnya.Teriakan siswa, langkah kaki berlarian, dan tawa remaja yang bercampur dengan suara bel masuk pagi. Angin menerpa wajahnya, membuat Anindya bertanya-tanya berada di manakah dia. Anindya membuka matanya, ia mengerjap pe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status