LOGIN
“Bagaimana saksi, sah?”
Begitu penghulu mengatakannya, status Aeri berubah.
Dia bukan lagi teman Arvan, melainkan istrinya.
Aeri lantas menoleh pada pria di sampingnya itu yang terlihat tampan dan mengenakan setelan baju pengantin warna putih–senada dengan gaun yang digunakan Aeri saat ini.
Meski terlihat cantik, tetapi Aeri merasa tidak nyaman.
Ini bukan gaun miliknya–melainkan milik perempuan lain: pengantin wanita yang seharusnya menikah dengan Arvan.
Tadi pagi, Aeri akan bekerja sebagai fotografer pernikahan. Karena tahu kalau Arvan adalah mempelai prianya, Aeri tidak lupa membawakan hadiah. Tapi, siapa sangka? Baru aja dia akan masuk ke aula pernikahan, seseorang tiba-tiba menculiknya untuk menjadi pengantin pengganti di samping Arvan karena pengantin wanita yang asli tiba-tiba menghilang.
“Salam,” lirih Arvan pada Aeri yang sudah mengulurkan tangannya pada Aeri.
Dengan cepat, perempuan itu pun menyalami tangan Arvan.
Penghulu kini membacakan doa. Namun, dari ujung mata, Aeri menyadari bahwa hanya Papa Arvan yang terlihat bahagia di sini. Bahkan, Mama dari pria itu memalingkan wajahnya saat acara ijab qobul putranya.
Aeri tidak tahu apa yang ia lakukan ini adalah hal yang benar.
Selain itu, bukan gayanya memakai jilbab dan pakaian syar’i, seperti ini.
“Van, sumpah … aku sesak pakai cadar. Ini kapan acaranya selesai?” bisik Aeri pada Arvan di atas pelaminan. Dia sudah tidak kuat memakai cadar ini. Memakai masker saja Aeri sesak, apalagi cadar.
“Kamu tahan aja dulu. Acaranya masih lama, mungkin sampai nanti malam.”
“Kamu mau aku mati, Van?” Aeri menekan suaranya agar tidak terdengar oleh orang lain.
Namun, Arvan tidak segera membalas ucapannya.
Seorang tamu undangan tampak naik ke atas pelaminan menyalami keduanya.
Begitu tamu tersebut turun, barulah Arvan menatap Aeri lagi.
“Kamu lihat perempuan di sana?” tanya Arvan sambil menunjuk perempuan bercadar yang tengah berbicara di telepon dengan dagunya. “Dia tidak mati, kan? Jadi, tahan saja.”
*****
“Selamat bro! Sekarang, kamu bisa bebas dari perjodohan buatan mamamu,” kata Idris–salah satu tokoh penting dari pernikahan ini–datang menyalami Arvan di atas pelaminan.
“Ya, sekarang kamu bebas juga mendekati dia.”
Ucapan datar Arvan membuat Idris tersenyum sedikit malu-malu. “Itu pasti.”
Aeri yang tidak tahu siapa yang mereka maksud, sontak penasaran dengan kode-kode yang dilontarkan sepasang sahabat di hadapannya ini.
“Hallo, semua! Kalian nggak lupa kan aku di sini? Setelah acara ini berakhir, aku mau kalian menjelaskan dengan rinci serinci-rincinya soal pernikahan ini.”
“Dan ceritakan juga soal ‘dia’ ini, oke?” tambah Aeri lagi.
Arvan dan Idris sontak menoleh pada Aeri.
Saat meminta Aeri menikah dengan Arvan, mereka memang berjanji akan menceritakan rencanakan mereka tentang pernikahan ini.
Idris tiba-tiba meninju pelan dada Arvan. “Jangan lupa, Bro! Jelaskan ke dia.”
Arvan memutar bola matanya malas. “Kamu juga harus ikut menjelaskan. Bagaimanapun juga, ini semua adalah rencanamu, Dris.”
“Rencana kita,” ralat Idris, “tapi, sorry. Aku tidak bisa. Kamu tahu kan aku sibuk? Aku juga harus buru-buru pergi sekarang.”
Dengan cepat, pria itu berlalu dari hadapan Arvan.
Namun sebelum pergi, Idris sedikit menunduk dan berbisik pada Aeri. “Selamat juga atas pernikahanmu!” Idris tersenyum, yang dibalas tabokan di wajah oleh Aeri.
“Diam, kau!”
Aeri sedikit keras saat mengumpat pada Idris. Kalau bukan karena laki-laki itu yang menculiknya, tidak akan dia ada di sini.
Namun, tanpa disangka, orang-orang yang kebetulan naik ke atas pelaminan–mendengarnya, termasuk mama Arvan dan teman-teman sosialitanya.
“Apa mengumpat adalah kelakuan perempuan baik-baik Arvan?”
Aeri mengarahkan senyumnya melihat kedatangan tidak terduga perempuan itu.Begitupun Arvan, namun tidak halnya dengan Senopati. Seakan papa-nya itu sudah menduga kedatangannya.“Hai,” sapa Frisya tanpa canggung ketika masuk tadi langsung menjadi pusat perhatian. “Mm ... maaf aku telat, karena masih ada kerjaan,” jelasnya.“Tidak apa-apa, kamu duduk di sini, Sya.” Rullistya tersenyum pada perempuan itu sebelum menyuruhnya duduk di sampingnya.“Kenapa dia ada di sini?” tanya Arvan bersikap dingin saat Frisya memberinya senyum.Arvan meminta penjelasan dari Senopati yang nampak tidak terlalu peduli.“Mama yang mengajaknya ikut serta.” Malah Rullistya yang menjawab.Bagaimana makan malam ini sampai terjadi meski awalnya Rullistya tidak setuju, karena Senopati berjanji untuk mengizinkan Frisya ikut serta.Bagi Senopati keberadaan perempuan itu bukanlah ancaman, karena itu d
Semua orang menoleh pada Alvin, dibanding semua orang di sana, dialah yang paling menikmati keributan kecil ini.“Alvin kalau makannya sudah selesai, balik belajar sana.” Sayangnya dia malah diusir oleh sang papa.“Tapi aku belum selesai makan.” Kenyataannya dia sengaja menambah makanannya agar ada alasan untuk tetap di sana.“Alvin.” Namun satu kata penuh ketegasan dari sang Mama membuatnya langsung beranjak.Saat ini Mama-nya sedang sensitif, Alvin tidak mau menggali kuburannya sendiri dengan membuat marah sang Mama.Seusai kepergian Alvin, Arvan menyentil dahi istrinya itu. “Kalau ngomong jangan sembarangan.”“Makanya jangan sembarangan juga meremas pahaku.” Aeri menggeser kursinya agak menjauh dari Arvan. “Dikira nggak geli, apa,” lanjutnya membuat Arvan ingin sekali menjitaknya lagi.“Aeri itu istri pilihan Arvan. Pasti ada alasannya kenapa dia memilih Aeri. Lagipula Aeri adalah anak yang baik.” Ucapan Senopati membuat Rullistya menggebrak meja.“Baik apanya perempuan itu, malah
Sebenarnya dalam rangka apa makan malam itu diadakan?Suasananya saat makan terasa mencekam. Selain bunyi sendok dan piring beradu, tidak ada lagi suara yang terdengar.Aeri mengedarkan pandangannya memperhatikan semua orang di ruangan itu. Sepertinya memang tradisi di rumah ini untuk tidak bicara saat makan.Tapi bukan berarti suasana harus sesunyi ini. Kembali dadanya merasa sesak, sama sesaknya saat alerginya kumat."Uhuk ..., uhuk ...." Sialnya lagi dia harus tersedak di situasi sekarang.Arvan segera menyodorkan air putih padanya. Suaminya itu dengan lembut menepuk punggungnya."Kamu nggak apa-apa, Ri?" tanya Arvan.Aeri menunjuk pada punggungnya, "B ... huk ... biha lebih ... huk dikherasin?" pinta Aeri saat suaranya belum sepenuhnya jelas.Mengikuti perkataan Aeri, Arvan memukul punggungnya lebih keras lagi. Sayangnya dia terlalu mengerahkan tenaga, sampai-sampai badan Aeri terdorong ke depan."Sialan!" Tanpa sengaja umpatan itu lolos dari mulutnya.Rullistya yang mendengarnya,
“Halo Bumer ketemu lagi kita, rasanya baru sebentar deh kita berpisah, kok, Bumer sudah di sini lagi, kangen, ya?”Rullistya memutar bola matanya, saat ini dia sedang menghubungi seseorang namun tidak kunjung di angkat. “Ini rumahku, terserah aku mau di mana, saja,” ketus Rullistya yang akhirnya duduk di sofa panjang agak jauh dari Aeri.Aeri manggut-manggut sambil mengulas tipis senyum jail. “Jadi Bumer di sini karena bosen tidak ada temannya, kayak aku?”Rullistya menghela napas, sebenarnya dia pun tidak mau satu tempat dengan perempuan kurang ajar ini. Namun, dia tidak bisa membiarkan Aeri sendirian di rumahnya, bisa-bisa perempuan itu benar-benar akan meracuninya dan anggota keluarganya. Dia tidak mau hal itu terjadi.Dan melihat bagaimana perlakuan Aeri pada Ratih tadi, menyuruh salah seorang pembantunya untuk mengawasi perempuan itu akan membahayakan mereka. Rullistya tidak sampai hati menyuruh mereka mengawasi perempuan berbahaya ini. Akhirnya, meski enggan, dia lah yang harus m
“Kamu ini-.” Ucapan Rullistya terhenti saat Aeri menunjukkan ponselnya yang sedang menelpon. Tertera di layar nama PapMer (Senopati) yang di bawahnya menunjuk angka 05.30.Aeri memencet tombol pengeras suara saat Senopati akhirnya bicara juga dari seberang setelah 5 menit lamanya hanya diam saja.“Mama mertuamu itu sebenarnya orang yang baik, kamu jangan masukkan ke dalam hati ucapan kasarnya itu, ya, Nak?” Berbeda dengan Rullistya yang selalu berapi-api, Senopati malah seperti pegunungan yang menyejukkan.“Papa?” ujar Rullistya.Aeri mengangguk, “Iya Bumer, dia Papa, suami Bumer, Papa mertuaku, Papanya suami ber...belahan jiwaku.” Hampir Aeri keceplosan bilang brengsek.Kali ini dia sedang bermain peran sebagai menantu menyebalkan di depan bumer sekaligus menantu yang baik untuk papmer. Jadi untuk hari ini tidak boleh ada kata kasar yang dia tujukan untuk anak mereka.Aeri tersenyum, meski jujur ingin sekali dia muntah mengatakan kalimat menggelikan itu.“Pap, jadikan makan malam kita
“Kamu, apa yang kamu lakukan di rumahku?!”Tanpa dipersilahkan, Aeri begitu saja masuk ke dalam rumah ini.“Aku nggak nyangka loh, ternyata Bumer sendiri yang bukakan pintu, terima kasih.”“Aeri!” teriak Rullistya saat Aeri tidak mengindahkan kata-katanya dan malah seenaknya menaruh semua bawaannya di meja sofa.Dahi Rullistya mengerut, melihat air dari daging membasahi meja.“Bisa nggak, sih, Bumer nggak usah teriak-teriak.” Aeri mengorek telinganya dengan jari.Rullistya memindahkan plastik berisi daging itu ke lantai. “Kamu nggak mau diteriakin, tapi di rumah orang kurang ajar begini.” Rullistya menunjuk pada genangan kecil air dari daging, membuat Aeri memutar matanya.“Hanya masalah kecil itu.”Tangan Rullistya mengepal, mencoba bersikap sabar. “Apa yang kamu lakukan di rumahku?!” Kembali Rullistya bertanya.Aeri melepas jaket yang sejak tadi dia kenakan, kini dia hanya memakai tanktop hitam dan celana jeans pendek berumbai. Penampilannya sontak membuat mata Rullistya akan keluar.







