LOGINSuara derit mekanik yang bergesekan di dalam panel kontrol elektronik terdengar nyaring sesaat sebelum mekanisme selot baja utama bergeser terbuka. Klak! Lampu indikator hijau pada panel dinding menyala terang, me
Pendar temaram dari deretan layar monitor di ruang laboratorium komputer terpadu Fakultas Ekonomi dan Bisnis masih membiaskan cahaya kebiruan yang dingin. Waktu menunjukkan tepat pukul sepuluh malam. Di tengah keheningan gedung yang mulai mencekam, Rian Pratama mendadak menghentikan instruksi pemrogramannya. Koneksi jaringan lokal yang terhubung ke server utama fakultas tiba-tiba terputus, menghentikan proses pengunggahan modul tugas akhir mereka."Jaringannya
Matahari telah lama tenggelam di balik cakrawala ibu kota, meninggalkan sisa-sisa pekat malam yang merayap turun menyelimuti kawasan kampus Universitas Nusa Bangsa. Jarum jam dinding di lantai dua gedung laboratorium komputer terpadu telah menunjuk tepat pukul sembilan malam. Suasana di dalam gedung berlantai empat itu kini terasa sangat lengang, sunyi, dan sepi, jauh berbeda dari hiruk-pikuk aktivitas akademis pada siang hari. Sebagian besar mahasiswa dan staf pengajar sudah meninggalkan area gedung sejak jam oper
Suasana di taman belakang kampus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nusa Bangsa pada siang hari itu terasa jauh lebih tenang dan teduh dibandingkan area utama yang masih riuh membicarakan berita hangat pagi ini. Deretan pohon angsana yang rindang memayungi bangku-bangku kayu panjang, membiarkan bias sinar matahari menembus dedaunan dan menciptakan bayangan berpola di atas permukaan paving block.Di salah satu bangku sudut yang paling sepi, tertutupi oleh rimbunnya semak hias berdaun hijau gelap, Sisca Kirana duduk sendiri.Gadis berambut panjang itu melipat kedua tangannya di atas lutut, menundukkan wajahnya dalam-dalam. Matanya yang bulat masih menyisakan jejak kemerahan akibat air mata yang sempat tumpah sejak pagi tadi. Ponsel di dalam genggamannya tergeletak diam, menampilkan layar mati setelah ia sengaja mengabaikan puluhan panggilan dan pesan dari orang yang sama sekali tidak ingin ia temui namun sangat ia rindukan di saat yang bersamaan: Rian Pratama."Sisca..."Sebuah sua
Mentari pagi baru saja menyembulkan sinarnya di balik deretan gedung-gedung tinggi kawasan kampus Universitas Nusa Bangsa, memantulkan bias cahaya keemasan di atas pelataran selasar fakultas. Namun, kehangatan pagi itu sama sekali tidak dirasakan oleh Sisca Kirana. Baru saja gadis berambut panjang itu melangkahkan kakinya melewati gerbang utama menuju area sekretariat BEM, atmosfer di sekitarnya terasa jauh lebih dingin menusuk tulang daripada biasanya.Beberapa mahasiswa yang duduk berkelompok di bangku taman tampak berbisik-bisik sambil sesekali melirik ke arahnya dengan tatapan campur aduk—antara iba, penasaran, dan kasihan.Sisca mengerutkan keningnya, langkah kakinya melambat perlahan. Ia merogoh tas ranselnya, mengeluarkan ponsel pintar berlayar sentuh, dan membuka aplikasi perpesanan grup internal kampus yang mendadak dipenuhi oleh ratusan notifikasi pesan yang belum dibaca.Jari jemari Sisca bergerak cepat mengetuk layar. Dan seketika, detik itu juga, darah di sekujur tubuhnya
Pesta peluncuran eksklusif yang diadakan di sebuah rooftop lounge mewah kawasan SCBD itu memancarkan kemerlap cahaya lampu sorot, dentuman musik elektronik bertempo lambat, serta aroma parfum mahal yang berpadu dengan udara malam ibu kota. Di antara kerumunan para influencer, model papan atas, dan awak media yang sibuk menenteng kamera berlensa panjang, Rian melangkah masuk dengan postur tegap yang langsung mencuri perhatian banyak pasang mata.Pemuda berusia 21 tahun yang menjabat sebagai Ketua BEM itu mengenakan kemeja katun tipis berwarna hitam arang dengan lengan yang digulung rapi sebatas siku. Garis wajahnya yang tegas, sorot mata elangnya yang dingin dan waspada, serta ketampanan alaminya yang luar biasa membuat Rian tampak begitu menonjol di tengah ruangan yang dipenuhi oleh kemewahan artifisial tersebut. Ia melirik jam tangan di pergelangan tangannya—baru sepuluh menit berlalu sejak ia menginjakkan kaki di tempat ini. Targetnya jelas: memenuhi kehadiran formalitas, memastikan







