Home / Romansa / Menyimpan Perasaan Untuk Sang Sahabat Masa Kecil / BAB 37: RENCANA JAHAT DI DALAM GELAS

Share

BAB 37: RENCANA JAHAT DI DALAM GELAS

Author: panmie
last update publish date: 2026-10-15 14:28:48

Deru musik instrumental klasik bercampur baur dengan dengung percakapan formal menggema lembut di dalam Sky Lounge—sebuah kelab malam eksklusif berkonsep rooftop premium yang terletak di lantai paling atas hotel bintang lima pusat kota. Ruangan luas berlapis kaca transparan itu menyuguhkan pemandangan kerlip lampu kota yang membentang indah di bawah sana. Malam perayaan organisasi tingkat universitas yang diselenggarakan oleh Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) malam itu tampak begitu mewah, dihad
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menyimpan Perasaan Untuk Sang Sahabat Masa Kecil   BAB 63: KEBEBASAN YANG MENYELAMATKAN

    Suara derit mekanik yang bergesekan di dalam panel kontrol elektronik terdengar nyaring sesaat sebelum mekanisme selot baja utama bergeser terbuka. Klak! Lampu indikator hijau pada panel dinding menyala terang, me

  • Menyimpan Perasaan Untuk Sang Sahabat Masa Kecil   BAB 62: PINTU LAB YANG TERKUNCI OTOMATIS

    Pendar temaram dari deretan layar monitor di ruang laboratorium komputer terpadu Fakultas Ekonomi dan Bisnis masih membiaskan cahaya kebiruan yang dingin. Waktu menunjukkan tepat pukul sepuluh malam. Di tengah keheningan gedung yang mulai mencekam, Rian Pratama mendadak menghentikan instruksi pemrogramannya. Koneksi jaringan lokal yang terhubung ke server utama fakultas tiba-tiba terputus, menghentikan proses pengunggahan modul tugas akhir mereka."Jaringannya

  • Menyimpan Perasaan Untuk Sang Sahabat Masa Kecil   BAB 61: TUGAS KELOMPOK LAB KOMPUTER

    Matahari telah lama tenggelam di balik cakrawala ibu kota, meninggalkan sisa-sisa pekat malam yang merayap turun menyelimuti kawasan kampus Universitas Nusa Bangsa. Jarum jam dinding di lantai dua gedung laboratorium komputer terpadu telah menunjuk tepat pukul sembilan malam. Suasana di dalam gedung berlantai empat itu kini terasa sangat lengang, sunyi, dan sepi, jauh berbeda dari hiruk-pikuk aktivitas akademis pada siang hari. Sebagian besar mahasiswa dan staf pengajar sudah meninggalkan area gedung sejak jam oper

  • Menyimpan Perasaan Untuk Sang Sahabat Masa Kecil   BAB 60: PENJELASAN DI BAWAH POHON RINDANG

    Suasana di taman belakang kampus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nusa Bangsa pada siang hari itu terasa jauh lebih tenang dan teduh dibandingkan area utama yang masih riuh membicarakan berita hangat pagi ini. Deretan pohon angsana yang rindang memayungi bangku-bangku kayu panjang, membiarkan bias sinar matahari menembus dedaunan dan menciptakan bayangan berpola di atas permukaan paving block.Di salah satu bangku sudut yang paling sepi, tertutupi oleh rimbunnya semak hias berdaun hijau gelap, Sisca Kirana duduk sendiri.Gadis berambut panjang itu melipat kedua tangannya di atas lutut, menundukkan wajahnya dalam-dalam. Matanya yang bulat masih menyisakan jejak kemerahan akibat air mata yang sempat tumpah sejak pagi tadi. Ponsel di dalam genggamannya tergeletak diam, menampilkan layar mati setelah ia sengaja mengabaikan puluhan panggilan dan pesan dari orang yang sama sekali tidak ingin ia temui namun sangat ia rindukan di saat yang bersamaan: Rian Pratama."Sisca..."Sebuah sua

  • Menyimpan Perasaan Untuk Sang Sahabat Masa Kecil   BAB 59: FOTO VIRAL YANG MENGHEBOHKAN

    Mentari pagi baru saja menyembulkan sinarnya di balik deretan gedung-gedung tinggi kawasan kampus Universitas Nusa Bangsa, memantulkan bias cahaya keemasan di atas pelataran selasar fakultas. Namun, kehangatan pagi itu sama sekali tidak dirasakan oleh Sisca Kirana. Baru saja gadis berambut panjang itu melangkahkan kakinya melewati gerbang utama menuju area sekretariat BEM, atmosfer di sekitarnya terasa jauh lebih dingin menusuk tulang daripada biasanya.Beberapa mahasiswa yang duduk berkelompok di bangku taman tampak berbisik-bisik sambil sesekali melirik ke arahnya dengan tatapan campur aduk—antara iba, penasaran, dan kasihan.Sisca mengerutkan keningnya, langkah kakinya melambat perlahan. Ia merogoh tas ranselnya, mengeluarkan ponsel pintar berlayar sentuh, dan membuka aplikasi perpesanan grup internal kampus yang mendadak dipenuhi oleh ratusan notifikasi pesan yang belum dibaca.Jari jemari Sisca bergerak cepat mengetuk layar. Dan seketika, detik itu juga, darah di sekujur tubuhnya

  • Menyimpan Perasaan Untuk Sang Sahabat Masa Kecil   BAB 58: JEBAKAN KAMERA MEDIA SOSIAL

    Pesta peluncuran eksklusif yang diadakan di sebuah rooftop lounge mewah kawasan SCBD itu memancarkan kemerlap cahaya lampu sorot, dentuman musik elektronik bertempo lambat, serta aroma parfum mahal yang berpadu dengan udara malam ibu kota. Di antara kerumunan para influencer, model papan atas, dan awak media yang sibuk menenteng kamera berlensa panjang, Rian melangkah masuk dengan postur tegap yang langsung mencuri perhatian banyak pasang mata.Pemuda berusia 21 tahun yang menjabat sebagai Ketua BEM itu mengenakan kemeja katun tipis berwarna hitam arang dengan lengan yang digulung rapi sebatas siku. Garis wajahnya yang tegas, sorot mata elangnya yang dingin dan waspada, serta ketampanan alaminya yang luar biasa membuat Rian tampak begitu menonjol di tengah ruangan yang dipenuhi oleh kemewahan artifisial tersebut. Ia melirik jam tangan di pergelangan tangannya—baru sepuluh menit berlalu sejak ia menginjakkan kaki di tempat ini. Targetnya jelas: memenuhi kehadiran formalitas, memastikan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status