LOGINRian menghela napas panjang, mencoba menata kembali detak jantungnya yang masih terpacu liar. Pemuda berusia 21 tahun itu membetulkan posisi kaus abu-abu polosnya yang sedikit kusut di bagian dada, melangkah terburu-buru melintasi karpet, lalu memutar gagang pintu kayu kamar kosnya.
Klek. Begitu daun pintu terbuka, sosok Sisca sudah berdiri di ambang lorong. Gadis berusia 21 tahun yang menjabat sebagai Sekretaris BEM itu memegang wadah bekal makanan bertingkat di tangan kirinya. Wajah manisnya dilipat sepenuhnya; keningnya berkerut dalam, bibirnya memanyun tajam, dan sepasang matanya menatap Rian seolah hendak memancarkan sinar laser. "Rian! Kenapa lama sekali membuka pintunya?! Kamu sedang—" Kalimat Sisca terhenti seketika. Rian yang berdiri di depannya tampak mengusap tengkuk dengan napas yang masih sedikit memburu dan leher yang memerah. Namun sebelum Rian sempat bicara, embusan udara dari dalam kamar keluar menerpa wajah Sisca. Hidung mungil Sisca mengendus pelan. Seketika itu juga, pupil matanya membesar. Aroma parfum manis karamel dan vanila yang sangat menyengat—aroma asing milik Clara—menusuk indra penciumannya dengan amat nyata. "Udara kamar ini..." bisik Sisca dengan nada suara yang mendadak turun, berubah menjadi sangat dingin dan berbahaya. Tanpa menunggu izin, Sisca langsung menerobos masuk. Langkah kakinya menghentak kencang sebelum terhenti mendadak di tengah ruangan. Di sisi meja kayu, Clara sedang terburu-buru memasang kembali outer rajut kremnya di atas tanktop spandeks tipis. Rambut bergelombangnya masih sedikit berantakan di sekitar bahu. Atmosfer di dalam kamar empat kali empat meter itu seketika membeku. Sisca berdiri kaku, memegang wadah bekalnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya menyapu penampilan Clara dari ujung kepala hingga ujung kaki. Clara menata keberaniannya, lalu melempar tatapan tak kalah dingin ke arah Sisca. "Oh... Hai," sapa Clara dengan nada suara sinis. "Kamu... sahabat kecilnya Rian yang tadi di koridor kampus, kan?" Sisca melangkah satu tapak ke depan, menaruh wadah bekal makanan di atas rak buku Rian dengan dentuman pelan. "Iya. Aku Sisca," sahutnya tegas. "Dan seingatku, jam berkunjung untuk tamu luar di kos ini sudah lewat dari pukul lima sore." Clara terkekeh pelan, tawa yang sengaja dibuat-buat. "Aku cuma sedang minta diajari materi Logika oleh Rian. Soalnya Rian pintar sekali dan... sangat ramah pada teman seangkatannya. Iya kan, Rian?" Rian mengusap wajahnya, merasakan ketegangan emosional di kamarnya sudah mencapai titik didih. "Clara, kurasa materi sore ini sudah cukup. Seperti yang kubilang tadi, aku ada urusan lain." Clara memiringkan kepalanya, sengaja melangkah pelan melewati Sisca hingga bahu mereka hampir bergesekan. Saat berdiri di sebelah Sisca, Clara membisikkan sesuatu yang cukup keras. "Terima kasih untuk pelajaran sore ini ya, Rian... Sentuhanmu tadi benar-benar membantuku paham," goda Clara seraya melempar kerlingan manja. Sisca mengepalkan kedua tangannya, matanya menajam bagai mata pisau. Clara mengulas senyum kemenangan, lalu melangkah keluar dari kamar kos Rian. Brak! Rian baru saja menutup pintu kamar ketika Sisca bergerak secepat kilat. Gadis mungil itu menerjang maju dan menyudutkan tubuh tinggi Rian rapat-rapat ke dinding kayu. TAK! Sisca menghantamkan telapak tangan kirinya ke dinding persis di samping kepala Rian (kabedon). Tubuh mungilnya berdiri sangat dekat, menolak memberikan ruang gerak bagi Rian. Wajahnya mendongak tajam menatap langsung ke dalam mata Rian dengan jarak hanya belasan sentimeter. "Jelaskan padaku sekarang, Rian Pratama!" tuntut Sisca dengan suara melengking. "Kenapa kamar kosmu berbau parfum wanita lain?! Kenapa bajunya terbuka begitu?! Dan apa maksud kalimat 'sentuhanmu' tadi, hah?!" Rian menahan napas sejenak. Terkurung oleh sahabat masa kecilnya yang sedang murka adalah kombinasi berbahaya sekaligus menggemaskan. Aroma alami tubuh Sisca—wangi sabun mandi dan bunga lili—kini kembali mendominasi indranya. "Aku datang ke sini membawakan makan malam untukmu, tapi apa yang kudapat?!" seru Sisca makin menyudutkan tubuhnya maju. "Kamu malah berduaan di kamar remang-remang dengan maba yang pakaiannya kekurangan bahan itu!" "Dia datang sendiri menagih janji mengajari materi Logika—" "Mengajari materi Logika atau mengajari cara melepas kancing baju?!" potong Sisca tajam. "Kalau aku tidak mengetok pintu tadi, kalian sudah mau melakukan apa, Rian?! Jawab aku!" Rian menatap sepasang mata bulat Sisca yang bergetar. Di balik amukannnya, Rian menangkap kilatan cemburu dan rasa takut kehilangan yang amat jujur. Perlahan, ukiran senyum tipis yang hangat menggaris di sudut bibirnya. "Kenapa tersenyum?! Aku sedang serius, Rian!" ketus Sisca. Sebelum tangan Sisca memukul dadanya, kedua tangan Rian melingkari pinggang ramping Sisca dan menarik tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. Srett. Sisca tersentak kaget saat tubuhnya membentur dada tegap Rian. Rian menundukkan kepalanya perlahan hingga hembusan napas hangatnya membelai pipi dan cuping telinga Sisca. "Aku tidak melakukan apa-apa dengannya, Sisca," bisik Rian dengan suara berat dan jernih. "Aku bahkan sibuk menahan diri agar tidak mengusirnya secara kasar." Pipi Sisca yang memerah karena amarah kini berubah membara akibat malu dan detak jantung yang melompat gila-gilaan. "Kamu... kamu bohong..." gumam Sisca pelan, suaranya mendadak kehilangan taji. "Aku tidak pernah membohongimu," Rian menatap tepat ke dalam manik mata Sisca. "Bau parfum mereka membuatku risih. Satu-satunya aroma yang ingin kuhirup di kamar ini cuma aroma darimu." Sisca menggigit bibir bawahnya rapat-rapat, melumpuhkan seluruh pertahanannya. "Tapi... tadi kamu membiarkannya masuk..." cicit Sisca pelan. "Salahku. Tapi makasih ya, Tuan Putri... Ketukan pintu kerasmu tadi benar-benar menyelamatkanku," ujar Rian lembut seraya merapikan helaian rambut di dahi Sisca. Sisca mendongak menatap Rian. Rasa cemburu di dadanya meleleh menjadi kehangatan manis. "Lain kali... kalau ada wanita lain yang datang bawa parfum menyengat... panggil aku. Biar aku yang tendang dia keluar." Rian tertawa renyah. "Siapa takut, Manajer Pribadi." Rian merenggangkan pelukannya, lalu Sisca berbalik mengambil wadah bekal makanan di atas rak. "Cepat makan ini! Aku sudah capek-capek memasakkan ayam goreng mentega untukmu!" seru Sisca membelakangi Rian untuk menyembunyikan rona merah di pipinya. Rian mengulas senyum paling manis, menyadari betapa dalamnya ikatan yang terkunci di antara mereka berdua—ikatan yang tak akan mampu ditembus oleh wanita mana pun.Sinar jingga kemerahan perlahan surut di ufuk barat, digantikan oleh langit malam akhir pekan yang bertabur bintang tipis di atas kawasan kampus Universitas Nusa Bangsa. Suasana akhir pekan selalu membawa ritme hidup yang lebih santai bagi sebagian besar mahasiswa. Namun, bagi Rian dan Sisca, malam minggu memiliki arti yang jauh lebih sakral—sebuah waktu rutin yang biasanya mereka habiskan berdua untuk menikmati udara malam kota sambil mencari jajanan favorit.Rian berdiri di depan pintu kamar kos Sisca, mengetuk permukaan kayu dengan ketukan teratur. Pemuda berusia 21 tahun yang menjabat sebagai Ketua BEM itu mengenakan kemeja katun lengan panjang berwarna hitam legam yang digulung rapi hingga siku, dipadukan dengan celana jins gelap. Penampilannya tampak begitu memukau; garis wajahnya yang tegas, postur tubuhnya yang tinggi tegap, serta aura karismatiknya berpadu sempurna, menciptakan pesona luar biasa seorang pemuda jenius yang selalu berhasil memikat perhatian siapapun.Klek.Pint
Pagi berganti dengan pendar sinar matahari yang hangat, menyapu sudut-sudut pelataran dan gazebo utama Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nusa Bangsa. Kantin kampus yang berkonsep outdoor itu sudah dipenuhi hiruk-pikuk mahasiswa yang menikmati sarapan atau sekadar mengobrol sebelum jam kuliah pertama dimulai.Rian duduk di salah satu meja kayu panjang di bawah naungan pohon rindang. Pemuda berusia 21 tahun yang menjabat sebagai Ketua BEM itu mengenakan kemeja putih kasual berkerah rapi dengan lengan tergulung sebatas siku. Garis rahangnya yang tegas, sorot mata elangnya yang tenang, serta ketampanannya yang luar biasa tak pelak kembali menjadi pusat perhatian. Beberapa mahasiswi dari meja seberang tampak berbisik-bisik sembari mencuri pandang ke arahnya, mengagumi pembawaannya yang cerdas dan karismatik.Rian yang sedang membaca draf dokumen laporan BEM di ponselnya hanya menghembuskan napas halus. Ia sudah terbiasa menjadi pusat perhatian, namun kesendirian di meja itu tak berta
Lorong gedung kesenian Universitas Nusa Bangsa tampak lengang pada sore menjelang senja itu. Sebagai Ketua BEM yang selalu bertanggung jawab penuh terhadap koordinasi acara antar-UKM, Rian terpaksa menyetujui permintaan pengurus Klub Teater untuk membantu memindahkan beberapa kotak besar berisi kostum pementasan lama ke ruang penyimpanan bagian belakang.Rian berjalan mantap dengan langkah tegap, membawa kardus besar di tangan kanannya. Di depannya, Mila—senior Klub Teater yang tadi sempat bersitegang dengan Sisca—berjalan memimpin jalan sambil membawa kunci akses ruangan tersebut. Penampilan Mila tampak semakin mencolok dengan balutan busana ketat berpotongan asimetris yang membalut lekuk tubuhnya dengan sempurna."Taruh saja kotaknya di dekat rak besi sudut itu, Rian," ujar Mila dengan suara lembut yang mendayu-dayu, menunjuk area paling dalam dari ruang penyimpanan yang temaram. Ruangan berukuran tiga kali empat meter itu dipenuhi aroma kain beludru tua, debu halus, dan deretan kos
Suasana pelataran utama Universitas Nusa Bangsa mendadak berubah riuh dan berwarna. Memasuki minggu pendaftaran Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), deretan stan dari berbagai klub—mulai dari seni, olahraga, sastra, hingga sains—berjejer rapi di sepanjang jalan setapak kampus. Spanduk warna-warni berkibar tertiup angin siang, disertai alunan musik dan suara pameran dari pengeras suara yang bersahutan.Di tengah lautan mahasiswa baru yang sibuk memperebutkan brosur pendaftaran, sebuah titik keramaian tampak mencolok di dekat area stan pusat. Titik pusat perhatian itu tidak lain adalah Rian.Sebagai Ketua BEM sekaligus mahasiswa berprestasi yang namanya tengah naik daun, kehadiran Rian di area pendaftaran langsung menarik magnet dari berbagai penjuru klub. Rian berdiri tenang dengan mengenakan kemeja putih kasual yang digulung rapi hingga siku dan celana jins gelap. Garis rahangnya yang tegas, postur tubuhnya yang tinggi tegap, serta sorot mata elang yang teduh membuatnya tampak begitu menonj
Sinar matahari pagi di lantai tiga gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nusa Bangsa terasa begitu menyengat, namun sama sekali tidak menyurutkan langkah gelisah yang sedari tadi mondar-mandir di depan jendela kaca buram ruang dosen. Sisca. Gadis berusia 21 tahun yang menjabat sebagai Sekretaris BEM itu berdiri resah di balik dinding luar kaca jendela ruangan Bu Dian. Rambut panjangnya yang terikat setengah berayun setiap kali ia menghentakkan kaki kecilnya dengan perasaan tak keruan. Kedua tangannya terlipat erat di depan dada, sementara matanya yang bulat jengkel taksi menyipit tajam menembus kaca, berusaha mengawasi setiap gerak-gerik di dalam ruangan tersebut. Bagaimana Sisca tidak cemas? Sejak sepuluh menit lalu, Rian—sahabat masa kecil sekaligus pria yang sudah mengunci hatinya—dipanggil sendirian ke ruangan dosen muda berparas jelita yang terkenal paling sensual seantero kampus. Dan sialnya lagi, posisi meja kerja Bu Dian berada persis di sudut yang membuat bay
Suasana di dalam ruangan dosen berpendingin udara itu terasa mendadak sunyi, hanya menyisakan desing halus dari pendingin ruangan dan debar napas yang tertahan. Aroma parfum beraroma vanilla musk dan bunga anggrek yang pekat masih mengepung udara di sekeliling meja kerja. Jemari lentik Bu Dian—dengan cat kuku senada—masih menggenggam erat dan mengelus perlahan punggung tangan Rian, menawarkan sebuah jalan pintas akademis yang diidam-idamkan oleh banyak mahasiswa.Rian menatap tangan mereka yang bersentuhan sejenak. Pemuda berusia 21 tahun itu sama sekali tidak menunjukkan kepanikan, keterkejutan, ataupun kegugupan yang biasanya dialami mahasiswa lain saat menghadapi dosen idola berpenampilan sensual. Garis wajahnya tetap tenang, tegas, dan memancarkan wibawa alami yang luar biasa.Dengan gerakan yang sangat halus, terukur, dan penuh kesopanan, Rian perlahan menarik punggung tangannya dari genggaman Bu Dian. Ia merenggangkan jarak duduknya sedikit, lalu meletakkan kedua tangannya di at







