แชร์

Limapuluh

ผู้เขียน: J. Hanin
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-18 12:30:13

Hari ini, langit tak dihiasi awan hitam. Sang mentari bersinar begitu cerah tanpa halangan. Tapi tidak dengan hati Zeta. Gadis bernama lengkap Arzeta Maharani sedang menangis sesunggukan dibalik pintu kamarnya. Beruntung kamarnya yang kedap suara mampu meredam suara tangisannya yang menggema di sudut ruangan untuk tak terdengar dari luar.

Ia menatap nanar obat yang sejak tadi dalam genggaman tangan kanannya, penuh dengan kekesalan bukan main. Perasaan kecewa, marah, sedih bercampur jadi satu m
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Delapanpuluh

    Sang Mentari seperti tidak memberikan kesempatan untuk bernafas dengan begitu gampang, pada sosok laki-laki yang tengah tertidur kini mulai terjaga, terganggu dengan hiruk pikuk kota yang mulai ramai dengan aktivitas masing-masing. Genta yang masih merasa begitu Lelah memaksakan dirinya untuk segera bangun. Kembali bekerja perbedaannya kini, mimpi buruk tak berani lagi bersinggah dalam tidurnya. Sebab separuh raga yang dulunya benar-benar menyiksa dirinya telah ia temukan di Kota tempat ia menjalankan suatu project, Kota Mataram. Genta meraba permukaan tempat tidurnya, mencari benda pipih yang ia geletakan asal di samping bantalnya semalam. Begitu ketemu, tangannya dengan lincah menari di permukaan layer sentuh miliknya. Mencari nama seorang gadis yang mengobati luka hatinya dulu! Zeta, sejak bertemu gadis itu Genta tidak menepis jika mentalnya perlahan membaik. Bisa berbicara dan melihat senyuman tulus gadis itu begitu menenangkan dan melenyapkan keresahan hatin

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Tujuhpuluh Sembilan

    Semuanya sudah bergegas dengan koper masing-masing, termasuk Genta yang tampak sudah merasa lega. Wajahnya kini tampak teduh dan damai tak seperti beberapa hari sebelum mereka berangkat melakukan proyek kantor mereka, satu-satunya orang yang menyadari perubahan Genta adalah Sam, lelaki itu sangat merasakan Genta yang tampak tenang dari hari sebelumnya, hari-hari kelam bak mayat hidup dengan pikiran kemana-mana. Apalagi jika bukan berkat Zeta yang mengobati kerinduan yang begitu dalam, hebatnya Genta simpan dengan baik tanpa melakukan sesuatu yang ceroboh demi mendapatkan hati Zeta. Setelah ucapan yang mengganjal hatinya kemarin ia lontarkan kepada Zeta, Genta benar-benar merasa salah satu beban dalam hidupnya hilang. Tidak ada kegelisahan yang begitu berarti. “Ta!” Tegur Sam yang sejak tadi mengamati Genta yang tak bisa berhenti mengulum senyumannya dari wajahnya. “Hm.?” Jawab Genta dengan deheman tanpa mengalihkan pandangannya ke Sam yang tampak penasa

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Tujuhpuluh Delapan

    “Genta, nginap sini aja! Hujannya awet sampai nanti malam lo!” Celetuk Mila dari belakang membuat Genta terkejut, mendengar ucapan mamah Zeta, Genta langsung melirik pada Zeta yang rupanya ia juga sedang menatapnya. Rupanya keduanya sama-sama terkejut, Zeta terkejut karena mamahnya menawarkan tumpangan untuk tidur kepada Genta. Jauh dari dugaannya sebelumnya. “Mah!”Tegur Zeta kemudian menghampiri Mila untuk diajak bicara empat mata sebentar, ia membawa mamahnya ke dapur. Mila pun tampak heran dengan tarikan anaknya tapi ia menurutinya. “Kenapa?” Tanya Mila dengan berbisik begitu Zeta menghadap kepadanya dengan tangan berkacak pinggang. “Mamah kok biarin Bang Genta nginep sih? Yang bener aja? Apa kata orang nanti Mah?” Tanya Zeta tidak habis fikir dengan keputusan yang dibuat mamahnya, begitu sangat memperdulikan Genta yang berkunjung ke rumah. “Zeta! Kamu nggak kasian? Diluar hujan deras gimana mau pulang?” Tanya Mila membuat Zeta diam, yang d

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Tujuhpuluh Tujuh

    Seharian penuh Genta menghabiskan waktu di rumah Zeta, tidak berpergian kemana-mana hanya terus mengobrol satu sama lain berharap Genta ada hal perubahan dari Zeta yang ia harapkan. Kenyataannya, setelah semua yang telah dilalui, keputusan Zeta benar-benar tidak bisa diubah, Zeta tetap tidak bisa niat Genta untuk menikahinya demi bertanggung jawab atas perbuatannya. Ah bukan, bukan lebih tepatnya kesalah mereka di malam itu, kesalahan bersama menghubungkan mereka semua. Genta tengah duduk di balkon tengah bersama Zeta yang menemaninya, mau tidak mau Zeta menemani Genta yang sedang bertamu di rumahnya. Mau tidak mau, meski hatinya mulai rapuh jika terus berdekatan dengan Genta tapi ia tidak menyerah karena ia harus bertahan karena sebentar lagi Genta akan Kembali ke kota, meninggalkan kota Mataram tempat persembunyian Zeta selama ini dari dunianya. “Gue ulangin sekali lagi Ta!” Ucap Genta setelah ia melihat waktu yang ditunjukkan jam arloji yang melingkar di tanga

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Tujuhpuluh Enam

    “Kamu pagi-pagi sudah marah-marah gitu Ta, ayo sarapan!” Ajak Mila dengan senyumannya mengabaikan wajah Zeta yang tampak kesal tapi tak dihiraukan oleh mamahnya. Genta hanya tersenyum menatap Zeta yang duduk disampingnya sedangkan Zeta berdecak kesal karena kehadiran Genta benar-benar merusak mood di pagi harinya. Ia menyuapkan buah ke mulutnya, agar Kembali ke moodnya yang segar seperti ia menyambut pagi sebelum datangnya Genta. “Bang Genta! Zeta sudah bilang berkali-kali kisah kita sudah selesai!” tegas Zeta membuat Genta bungkam, rupanya gadis disampingnya masih belum bisa menerima keberadaannya, berbeda dengan mamahnya yang meski berapi-api hingga kemarahannya meluap tak terkendali, kini tampak menerima Genta dengan tangan terbuka. “Zeta! Mari makan dulu! Nggak baik, menyela waktu sarapan. Kita bicarakan nanti setelah makan!” Tegur Mila pada Zeta yang tidak bisa menahan emosinya kepada Genta yang sejak tadi memilih diam, tak menanggapi ucapan Zeta y

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Tujuhpuluh Lima

    Sang fajar hampir menampakkan diri, Mila bergegas untuk menyiapkan kue yang akan diantar ke rumah pelanggannya. Ia mengeluarkan kotak boxnya hati-hati takut jika putrinya yang sedang terlelap akan terganggu. Ia menutup pintu secara hati-hati, menaruh kunci di bawah pot bunga seperti biasanya. Ini hari libur, swalayan tempatnya bekerja masih buka namun dia sedang mendapat hak untuk cuti. Deggg… Jantung Mila hampir lepas dari tempatnya kala ia berbalik badan dan menemukan Genta yang berdiri di pagar rumahnya. Mila hampir terjungkal jika saja ia lupa bahwa ia sedang membawa pesanan seseorang yang segera diantar. “Pagi tante!” Sapa Genta dengan senyum ramahnya, memberanikan diri menyapa Mila yang sejak tadi memasang wajah kesalnya kepada Genta. Lebih tepatnya, wajah dengan kemarahan yang tidak tahu kapan tersulut. “Mau apa kamu kesini!” Hardik Mila membuat Genta bungkam, pandangannya tertuju pada dua box yang sedang dibawa oleh Mila. “Su

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Sembilan

    “Ira!” Panggil Zeta dengan suara yang sedikit bervolume dibandingkan sebelumnya. Membuat sag pemilik nama Ira menghentikan motornya yang baru saja ia akan menancap gas.“Ini, lupa kan?” Tanya Zeta menyodorkan sebuah kotak bekal yang rupanya berisikan bolu yang ditawarkan.“Oh iya lupa Ta!” Ucap Ira

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Delapan

    Hari masih sedikit gelap, sang mentari belum juga menampakkan diri pasanya. Sedangkan perempuan yang tengah memeluk dirinya sendiri dengan selimut itu sedikit terusik tidurnya karena mendengar kebisingan diluar kamarnya. Ia memaksa dirinya untuk membuka matanya. Merenggangkan sedikit ototnya, tidak

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status