Mag-log inDua orang yang sedang berjalan menuju sebuah angkringan pinggir jalan, siapa sangka keduanya hanya berjalan kaki beberapa puluh meter dari apartemen Dicky yang lingkungannya lebih mewah daripada angkringan yang sangat kecil dan sederhana di pinggir jalan itu. Siapa lagi orang yang Bersama Dicky jika bukan Genta dengan tangan kiri yang ia masukkan ke dalam saku celananya, sedangkan jari-jari tangan kanannya mengampit seputung rokok yang terkadang ia hisap setelah beberapa langkah.
Rutinitas ini selalu Genta lakukan, bagaikan ritual wajib sebelum akhirnya ia pulang ke rumahnya. Tentunya, setelah mengantar sang tuan putri yang selalu mengambil kesempatan untuk menghabiskan waktu Bersama Genta, dengan berbagai alas an yang sangat Genta hafal. Entah Ibunya yang sibuk, atau teman sejalannya yang ada lembur mendadak, bukan hafal lebih tepatnya Genta muak dengan tingkah Zeta.
“Lo kenapa sih Ta nggak pernah langsung pulang selalu mampir ke apartemen gue, dan ngajakin nongkrong di angkringan.” Ucap Dicky yang menggulung lengan bajunya dengan setengah dari tangannya.
“Nggak ada pertanyaan lain?” Tanya Genta dingin, ia mulai kesal dengan pertanyaan yang Dicky lemparkan sebenarnya tidak ada masalah berarti hanya saja bukan salah Dicky sepenuhnya, Genta saja yang terlalu bungkam dan tidak pernah menjawab pertanyaan sahabat karibnya itu.
“Daripada gue bahas Arzeta.” Ledek Dicky membuat Genta berdecak kesal.
“Males aja sih gue di rumah juga mau ngapain sih Dik.” Jawab Genta yang langsung duduk di kursi begitu sampai di angkringan yang mereka tuju, sesekali pandangannya teralih dengan beberapa motor yang berlalu Lalang melintas.
“Emang rumah elu kenapa sih Ta? Kayaknya elo anak kesayangan dah.” Ucap Dicky heran, mengapa sahabatnya itu justru seperti anak yang mengalami masalah sulit melebihi anak yang menanggung beban ketika ayah dan ibunya bercerai.
“Pandangan orang aja itu mah, aslinya lebih bobrok dari elu Dik.” Jawab Genta terus mengalihkan pandangannya dari Dicky yang sejak tadi menatapnya dalam, seperti ingin menyelam lebih dalam pada cerita hidup Genta yang tak jarang dibicarakannya.
“Emang aslinya gimana sih Ta?” Tanya Dicky tanpa rasa sungkan blak-blakan saja ingin menanyakan hal yang sebenarnya kepada Genta.
“Gue, Genta Nugroho anak yang tidak seperti impian orang tua gua.” Ucap Genta dengan senyum iblisnya.
“Ngawur koe!” Ucap Dicky langsung keluar khas jawanya begitu Genta mengucapkan sebuah kalimat dengan sejuta makna.
“Gue serius!” Ucap Genta kali ini berani membalas tatapan Dicky kepadanya.
Tatapannya benar-benar hitam pekat dan tajam bak seekor elang yang mencari mangsa. Dicky bungkam, rupanya Genta tengah serius. Genta tiba-tiba mengatupkan kedua bibirnya rapat begitu abang penjual angkringan mulai mendatangi keduanya.
“Pesan apa Bang?” Tanya sang penjual dengan senyuman ramahnya.
“Gue es good day aja satu bang. Sama si dia juga es good day yang biru. Gue yang merah ya bang!” Tegas Dicky kepada sang penjual yang langsung mengangguk. Sedangkan Genta hanya tertawa hambar, sahabatnya benar-benar hafal sekera minumnya.
“Jadi gimana Ta?” Tanya Dicky kembali teringat dengan ucapan Genta yang sempat terhenti karena ada bang penjual itu.
“Oh masih kepo ternyata ya!” Ucap Genta teringat dirinya yang mengurungkan niat untuk melanjutkan ucapannya.
“Sialan lo!” Ucap Dicky rupanya Genta sengaja tidak melanjutkan ucapannya.
“Iya, gue anak yang nggak sesuai dengan harapan orang tua gue.” Ucap Genta meneguk segelas es miliknya begitu pesanannya begitu cepat datang.
“Iya maksudnya gimana?” Tanya Dicky mulai tidak sabra dengan Genta yang rupanya merupakan tipikal laki-laki yang bertele-tele dalam hal bercerita.
“Bokap sama nyokap gue tuh pengennya gue jadi PNS nggak karyawan swasta yang gajinya nggak gede amat gini.” Ucap Genta mulai kesal sendiri dengan pandangan orang tuanya yang begitu kolot.
Bukannya tidak bersyukur dibesarkan dengan keringat sang ayah dan ibunya hanya saja terkadang pandangan dirinya dan orang tua benar-benar berbeda. Sang ayah selalu ingin semuanya tampak wah dan dipandang beberapa kalangan sebagai orang yang berhasil sedangkan Genta lebih memilih melangkah dengan diam, berhasil menunjukkan kepada orang tanpa ia harus memberi tahu mereka.
“Lah emang apa masalahnya kalua gaji karyawan kayak kita Ta? Nyatanya juga atas keberhasilan dan kompensasi yang elu berhasilkan setiap ada project bisa beli mobil kan lu.” Ucap Dicky merasa tidak benar saja, jika karyawan swasta tidak bisa berpenghasilan lebih besar.
“Nah ! parahnya dari situ Nyokap gue berharap gue sesegera mungkin untuk naik jabatan dengan cepat.” Ucap Genta tertawa sinis melihat reaksi Dicky yang tidak bisa menutupi wajahnya terkejut dengan pandangan orang tua Genta.
“Selalu aja merasa kurang gitu ya.” Ucap Dicky mengalihkan pandangannya dari Genta, pandangannya menerawang jauh sedang membayangkan bagaimana jika justru ia yang berada diposisi Genta, mungkin dia sudah frustrasi bukan main dengan segala tuntutan orang tuanya. Tidak pernah merasa bersyukur.
“Terus elu gimana ?” Tanya Dicky yang melihat Genta yang merasa terbebani tapi berusaha menutupinya dengan sikap pendiamnya.
“Gue? Gue kenapa?” Tanya Genta tertawa hambar mendengar pertanyaan konyol Dicky kepadanya, lebih tepatnya Genta tidak suka ketika ia selesai menceritakan kisah hidupnya dan orang itu akan mengasihaninya.
“Gue yakin sih Ta kalau gue yang ada diposisi elu, gue udah frustrasi.” Ucap Dicky menggeleng-gelengkan kepalanya berkali-kali menghilangkan bayangan jika ia ada diposisi Genta.
“Gue awalnya juga gitu sih Dik. Itu dulu banget sekarang gue bawa santai aja. Capek kalau dipikirin.” Ucap Genta mengepulkan asap rokok yang tinggal setengah, masih setia ia ampit di antara sela-sela jari tangan kanannya.
“Elu berapa sodara sih Ta?” Tanya Dicky penasaran.
“Gue anak tunggal.” Jawab Genta menunduk, ia merasa malas sebenarnya untuk mengatakan jika ia adalah anak semata wayang keluarga Nugroho, begitu memalukan.
“Anak tunggal? Tapi kisah hidup elo nggak kayak anak tunggal. Malah seperti anak sulung yang harus menanggung biaya sekolah adik-adiknya.” Ucap Dicky tertawa canggung karena mulutnya begitu lancer mengutarakan sesuatu yang mengganjal fikirannya.
“Nah itu alasan gue males ngakuin kalau gue anak tunggal di keluarga gue, karena hidup gue nggak kayak khalayak seorang anak yang menjadi anak tunggal, anak kesayangan.” Ucap Genta setuju dengan tanggapan Dicky.
“Memalukan Dik!” Umpat Genta, lebih kepada hidupnya bukan mengumpat untuk Dicky, arti sebenarnya.
Dicky terdiam langsung, ia sendiri bingung harus berbuat bagaimana karena secara tidak langsung ia sendiri yang menggali luka Genta yang telah lama lelaki bujang itu sembunyikan.
“Ya udahlah Ta! Sekarang udah santai, mending tuh respon si Zeta!” Ledek Dicky mencairkan suasana berusaha mengalihkan topik pembicaraan keduanya.
“Kenapa jadi bahas si Zeta sih!” Ucap Genta memutar bolanya malas.
Mendengar nama perempuan yang mengejarnya setiap hari itu saja malas apalagi harus bertemu satu kantor dengannya pula. Demi pekerjaannya yang sudah lama ia tekuni, ia berusaha mengabaikannya.
Sang Mentari seperti tidak memberikan kesempatan untuk bernafas dengan begitu gampang, pada sosok laki-laki yang tengah tertidur kini mulai terjaga, terganggu dengan hiruk pikuk kota yang mulai ramai dengan aktivitas masing-masing. Genta yang masih merasa begitu Lelah memaksakan dirinya untuk segera bangun. Kembali bekerja perbedaannya kini, mimpi buruk tak berani lagi bersinggah dalam tidurnya. Sebab separuh raga yang dulunya benar-benar menyiksa dirinya telah ia temukan di Kota tempat ia menjalankan suatu project, Kota Mataram. Genta meraba permukaan tempat tidurnya, mencari benda pipih yang ia geletakan asal di samping bantalnya semalam. Begitu ketemu, tangannya dengan lincah menari di permukaan layer sentuh miliknya. Mencari nama seorang gadis yang mengobati luka hatinya dulu! Zeta, sejak bertemu gadis itu Genta tidak menepis jika mentalnya perlahan membaik. Bisa berbicara dan melihat senyuman tulus gadis itu begitu menenangkan dan melenyapkan keresahan hatin
Semuanya sudah bergegas dengan koper masing-masing, termasuk Genta yang tampak sudah merasa lega. Wajahnya kini tampak teduh dan damai tak seperti beberapa hari sebelum mereka berangkat melakukan proyek kantor mereka, satu-satunya orang yang menyadari perubahan Genta adalah Sam, lelaki itu sangat merasakan Genta yang tampak tenang dari hari sebelumnya, hari-hari kelam bak mayat hidup dengan pikiran kemana-mana. Apalagi jika bukan berkat Zeta yang mengobati kerinduan yang begitu dalam, hebatnya Genta simpan dengan baik tanpa melakukan sesuatu yang ceroboh demi mendapatkan hati Zeta. Setelah ucapan yang mengganjal hatinya kemarin ia lontarkan kepada Zeta, Genta benar-benar merasa salah satu beban dalam hidupnya hilang. Tidak ada kegelisahan yang begitu berarti. “Ta!” Tegur Sam yang sejak tadi mengamati Genta yang tak bisa berhenti mengulum senyumannya dari wajahnya. “Hm.?” Jawab Genta dengan deheman tanpa mengalihkan pandangannya ke Sam yang tampak penasa
“Genta, nginap sini aja! Hujannya awet sampai nanti malam lo!” Celetuk Mila dari belakang membuat Genta terkejut, mendengar ucapan mamah Zeta, Genta langsung melirik pada Zeta yang rupanya ia juga sedang menatapnya. Rupanya keduanya sama-sama terkejut, Zeta terkejut karena mamahnya menawarkan tumpangan untuk tidur kepada Genta. Jauh dari dugaannya sebelumnya. “Mah!”Tegur Zeta kemudian menghampiri Mila untuk diajak bicara empat mata sebentar, ia membawa mamahnya ke dapur. Mila pun tampak heran dengan tarikan anaknya tapi ia menurutinya. “Kenapa?” Tanya Mila dengan berbisik begitu Zeta menghadap kepadanya dengan tangan berkacak pinggang. “Mamah kok biarin Bang Genta nginep sih? Yang bener aja? Apa kata orang nanti Mah?” Tanya Zeta tidak habis fikir dengan keputusan yang dibuat mamahnya, begitu sangat memperdulikan Genta yang berkunjung ke rumah. “Zeta! Kamu nggak kasian? Diluar hujan deras gimana mau pulang?” Tanya Mila membuat Zeta diam, yang d
Seharian penuh Genta menghabiskan waktu di rumah Zeta, tidak berpergian kemana-mana hanya terus mengobrol satu sama lain berharap Genta ada hal perubahan dari Zeta yang ia harapkan. Kenyataannya, setelah semua yang telah dilalui, keputusan Zeta benar-benar tidak bisa diubah, Zeta tetap tidak bisa niat Genta untuk menikahinya demi bertanggung jawab atas perbuatannya. Ah bukan, bukan lebih tepatnya kesalah mereka di malam itu, kesalahan bersama menghubungkan mereka semua. Genta tengah duduk di balkon tengah bersama Zeta yang menemaninya, mau tidak mau Zeta menemani Genta yang sedang bertamu di rumahnya. Mau tidak mau, meski hatinya mulai rapuh jika terus berdekatan dengan Genta tapi ia tidak menyerah karena ia harus bertahan karena sebentar lagi Genta akan Kembali ke kota, meninggalkan kota Mataram tempat persembunyian Zeta selama ini dari dunianya. “Gue ulangin sekali lagi Ta!” Ucap Genta setelah ia melihat waktu yang ditunjukkan jam arloji yang melingkar di tanga
“Kamu pagi-pagi sudah marah-marah gitu Ta, ayo sarapan!” Ajak Mila dengan senyumannya mengabaikan wajah Zeta yang tampak kesal tapi tak dihiraukan oleh mamahnya. Genta hanya tersenyum menatap Zeta yang duduk disampingnya sedangkan Zeta berdecak kesal karena kehadiran Genta benar-benar merusak mood di pagi harinya. Ia menyuapkan buah ke mulutnya, agar Kembali ke moodnya yang segar seperti ia menyambut pagi sebelum datangnya Genta. “Bang Genta! Zeta sudah bilang berkali-kali kisah kita sudah selesai!” tegas Zeta membuat Genta bungkam, rupanya gadis disampingnya masih belum bisa menerima keberadaannya, berbeda dengan mamahnya yang meski berapi-api hingga kemarahannya meluap tak terkendali, kini tampak menerima Genta dengan tangan terbuka. “Zeta! Mari makan dulu! Nggak baik, menyela waktu sarapan. Kita bicarakan nanti setelah makan!” Tegur Mila pada Zeta yang tidak bisa menahan emosinya kepada Genta yang sejak tadi memilih diam, tak menanggapi ucapan Zeta y
Sang fajar hampir menampakkan diri, Mila bergegas untuk menyiapkan kue yang akan diantar ke rumah pelanggannya. Ia mengeluarkan kotak boxnya hati-hati takut jika putrinya yang sedang terlelap akan terganggu. Ia menutup pintu secara hati-hati, menaruh kunci di bawah pot bunga seperti biasanya. Ini hari libur, swalayan tempatnya bekerja masih buka namun dia sedang mendapat hak untuk cuti. Deggg… Jantung Mila hampir lepas dari tempatnya kala ia berbalik badan dan menemukan Genta yang berdiri di pagar rumahnya. Mila hampir terjungkal jika saja ia lupa bahwa ia sedang membawa pesanan seseorang yang segera diantar. “Pagi tante!” Sapa Genta dengan senyum ramahnya, memberanikan diri menyapa Mila yang sejak tadi memasang wajah kesalnya kepada Genta. Lebih tepatnya, wajah dengan kemarahan yang tidak tahu kapan tersulut. “Mau apa kamu kesini!” Hardik Mila membuat Genta bungkam, pandangannya tertuju pada dua box yang sedang dibawa oleh Mila. “Su
Semilir angin malam menemani seorang lelaki yang sedang menghisap sebatang rokok yang ia ampit diantara jari-jemarinya. Malam yang masih Panjang menurutnya, berlama di Mataram adalah keinginan Genta demi bisa mendapatkan hati Zeta Kembali. Penolakan dari gadis itu tak mengubah tekadnya untuk memu
Zeta hanya tersenyum membalasnya, ia tidak menyangka raut wajah seorang Genta yang tidak peduli kini tampak terkejut. Genta tidak memungkiri, ada sesuatu yang membakar hatinya mendengar Zeta memiliki laki-laki yang ia cintai sekarang. Cemburu? Tentu saja, Genta yang kini sadar akan perasaannya te
Hari masih pagi kicauan burung saling bersahutan terdengar hingga ke dalam kamar Zeta yang masih tertidur pulas, ditambah mendung yang menghalangi sang fajar untuk muncul pun kian menambah suasana menjadi dingin. Membuat beberapa insan malas untuk beranjak dari tempat tidurnya. Zeta menarik Kembali
Memilih menghilang bak ditelan bumi demi tetap bisa hidup dibawah lindungan ibunya yang hatinya benar-benar sekuat baja, Arzeta benar-benar bergantung pada ibunya tidak ada tempat ia bersanding seiiring perutnya yang semakin bucit.Bak sebuah kertas yang menutupi lubang, satu lubang ditutup tumbuhl







