Share

Dua

Penulis: J. Hanin
last update Tanggal publikasi: 2025-10-09 13:04:03

Sang mentari masih menyembunyikan cahayanya di pagi hari, kehangatan tak juga mau menjalar melalui sela-sela kamar seseorang yang masih bergulat dengan selimut tebalnya. Lelaki itu mulai terusik ketika ponselnya berdering, bukan dari sebuah panggilan melainkan alarm jamnya yang semakin keras begitu tak juga dimatikan.

Lelaki itu perlahan membuka matanya, mengerjapkannya berkali-kali mengumpulkan setengah nyawanya yang belum sadar. Ia segera beranjak untuk bersiap-siap pergi berangkat bekerja, memakai pakaian yang sudah disiapkan oleh ibunya. Ia melihat langit yang tertutup awan hitam pantas saja ia merasa masih terlalu pagi untuk pergi bekerja sedangkan alarmnya sudah berbunyi.

Genta Nugroho, laki-laki berumur 28 tahun yang bekerja di sebuah perusahaan. Ia menatap kaca, menghela nafas pelan untuk sarapan pagi dengan keluarganya. Genta segera turun duduk di meja makan menatap wajah papah dan mamahnya secara bergantian dengan senyum, berpura-pura seolah rutinitas yang ia laksanakan bertahun-tahun ini begitu indah.

“Kamu sudah kerja bertahun-tahun kok nggak naik jabatan juga Ta?” Tanya papah Genta dengan wajah yang tanpa bersalah, seolah tidak mengetahui jika pertanyaannya itu menyinggung perasaan anaknya.

“Genta udah ngelakuin segalanya dengan baik kok Pah, tapi ya nggak tahu!” Ucap Genta seolah sudah mengikuti apa yang dikatakan orang tuanya namun tak juga membuahkan hasil.

“Apa orderannya lagi sepi ya Ta?” Tanya mamah Genta gentian membuat mood Genta di pagi hari selalu buruk dan berimpas pada pekerjaannya terlebih pada rekan kerjanya.

Genta lebih banyak diam di kantor karena ia harus meredam amarahnya terlebih dahulu. Genta menuruni tangga teras rumahnya kemudian melesat pergi dengan motor dan tas ransel di punggungnya. Genta melaju dengan kecepatan lumayan, ia melirik rumah gadis yang merupakan rekan kerjanya juga, ah sudahlah.

Ia melihat sosok gadis yang berdiri di depan rumahnya sedang naik motor dengan rekannya, bukannya menatap justru Genta segera mengalihkan pandangannya sebelum gadis itu menyadari jika Genta sedang menatapnya dari kejauhan. Genta pun melintas pura-pura tidak melihat ada rekan kerja yang ia kenal meski sangat terlihat jelas dari ekor matanya, gadis itu menatapnya berharap ada kontak mata yang terjadi.

Ia menepi sebentar ke pom bensin untuk mengisi bahan bakarnya, ia tidak bisa memungkiri reflek matanya menatap jalan memastikan jika rekan kerjanya sudah melintas. Dan benar saja tak berapa lama, gadis itu melintas tentunya tidak menyadari keberadaan Genta disana.

Sesampainya di kantor Genta memarkirkan motornya, ia melihat gadis yang ia temui itu sedang berdiri mematung menatapnya. Sebelum ada interaksi Genta segera berlari kecil menyusul sahabat karibnya yang rupanya juga baru datang.

“Dicky!” Panggil Genta kemudian berjalan menyamai langkah sahabat karibnya.

Dicky menyipitkan matanya, sangat langka dimana seorang Genta menyapanya terlebih dahulu. Dicky menengok ke belakang dan tersenyum rupanya adanya gadis di belakang membuat Genta segera menyingkir. Tidak ada yang tidak mengetahui bagaimana perasaan gadis itu kepada Genta.

Dan itu mulai mengganggu Genta, awalnya ia berpura-pura untuk biasa saja namun sikap Zeta yang tidak tahu diri dan juga kini cerita itu menjadi lelucon di antara rekan kerjanya membuat Genta benar-benar geram dan rasanya ingin meluapkan emosinya saja.

“Yaelah Ta! Udah pacarin aja napa, ntar kalau sudah beberapa minggu tinggal putusin.” Ucap Dicky dengan gamblangnya tanpa beban menyuruh Genta untuk menerima pernyataan cinta Zeta.

“Ya nggak bisa dong Ky!” Bantah Genta dengan wajah sewot.

“Coba aja dulu!” Bujuk Dicky dengan senyuman liciknya, siapa yang tidak mengenal Dicky sahabat Genta dua orang dengan kepribadian berbeda bisa berteman awet dari bangku kuliah sampai sekarang. Dicky yang selalu dikelilingi wanita, hebatnya ia mampu menyakinkan beberapa perempuan bahwa hubungan mereka hanya sebatas pertemanan tidak lebih.

“Gila ya lo!” Umpat Genta membantingkan bokongnya ketika duduk di kursinya.

“Lah coba aja dulu, Ta! Kali aja cocok kali, sekalinya nggak cocok tinggal putusin kan udah! Selesai!” Ucap Dicky yang masih saja setia dengan pendapat konyolnya itu.

“Dari awal udah nggak suka ya dipaksain kayak apa tetep bakal nggak suka lah!” Tegas Genta bersungut menatap Dicky.

Dicky baru saja akan membuka mulut untuk membantah ucapan Genta, namun seseorang masuk membawa dua cangkir kopi hangat membuat Dicky mengurungkan niatnya dan justru menatap Genta dengan senyuman aneh.

“Ta! Dicari bang Genta tuh!” Ledek Dicky pada Zeta yang menyodorkan kopi hangat.

Zeta hanya menatap Genta yang mengalihkan pandangannya dengan kesal, tentu saja ia tahu jika Dicky hanya sedang bercanda tidak mungkin pula jika seorang Genta mencarinya. Dicky hanya tersenyum melihat pemandnagan yang disuguhkan mereka berdua di pagi hari, satunya sangat mengharapkan untuk satu langkah lebih dekat. Satunya lagi mengharapkan untuk segera menyingkirkan.

“Ini Bang Genta! Kopinya!” Ucap Zeta dengan senyumannya yang tampak tulus, sedangkan Genta diam bak seperti tidak mendengar sesuatu pun. Benar-benar tidak menganggap Zeta masih berdiri di sampingnya.

Kalau sudah begini Dicky hanya bisa menunduk, ia juga tidak bisa memaksa sahabatnya untuk lebih tampak biasa saja pada Zeta terlebih Zeta adalah anak magang dulu yang dibimbing Genta sendiri, sehingga Zeta mulai menyimpan perasaan pada seniornya itu.

“Yah sosokan jual mahal segala!” Cibir Dicky begitu Genta yang tampak temperamen pada Zeta, tentunya Dicky mengatakan demikian setelah perempuan itu berlalu keluar ruangan. Zeta dan Genta berbeda ruangan namun cukup bertemu karena bagian mereka saling berhubungan.

“Berisik lu!” Ucap Genta kesal karena setiap pagi harus bersikap seolah biasa saja dengan ledekan Dicky kepadanya.

Genta dan Dicky mulai serius dengan pekerjaan mereka, suasana kantor cukup hening. Sedangkan Zeta yang rupanya sejak tadi berada di depan ruangan kantor hanya menunduk lemah. Ia sedang menunggu dokumen yang ia fotocopy cepat selesai.

Sayangnya ia tidak mendengar obrolan yang terjadi di ruangan Genta, telinganya terpasang earphone, ia sedang mendengarkan lagu kesukaannya. Lagu dari beberapa soundtrack film, ia sangat menyukai sesuatu yang mellow.

Genta yang keluar ruangan, menuju mesin fotocopy menghela nafas begitu mendapati gadis yang berusaha ia hindari sedang disana juga. Ia melintas pura-pura tidak mengetahuinya, sedangkan Zeta mendongak tampak senang karena Genta juga ada satu tempat dengannya.

“Bang Genta! Mau Zeta bawain?” Tanya Zeta menawarkan untuk membawakan dokumen fotocopy Genta sekalian.

“Nggak perlu!” Ucap Genta tegas membuat Zeta mengurungkan niatnya. Lagi-lagi selalu saja nada pedas yang ia dengar.

Genta melesat pergi, sedangkan Zeta hanya diam sambil memandang kepergian laki-laki itu. sebenarnya tidak ada yang menyuruh Zeta untuk membeli kopi setiap pagi, itu hanya kebiasaan Zeta menyukai kopi hangat dan keterusan teman sekantornya selalu ikut membelinya. Lebih tepatnya, menitipkan kepadanya. Bagian Genta, itu hanya inisiatif Zeta agar bisa lebih dekat dengan Genta, padahal setelah sekian lama ia tahu jika tidak ada perkembangan diantara hubungan mereka.

"Ta!" Panggil rekan kerja Zeta membuyarkan lamunannya. 

Zeta tersenyum dan memilih menghampirinya, jujur saja ia sedikit tersentak karena panggilan dari rekan kerjanya. tertuliskan nama, Lili di kartu tanda pengenal perempuan yang memanggil Zeta itu. dengan dokumen yang dibawanya ia pun berjalan menuju Zeta yang juga berjalan menuju ke arahnya. 

"Ada apa Li?" Tanya Zeta spontan membaca dokumen yang dibawa Lili, ia mengerutkan keningnya bukankah itu adalah proposal yang ia ajukan kepada manager mengapa ada ditangan Lili. 

"Proposal elo diterima!" Ucap Lili dengan senyuman yang tak kalah senang karena proposal yang dibuat sahabatnya akhinya membuahkan hasil. 

"Serius!" Ucap Zeta yang langsung dibalas anggukan Lili. ia tersenyum puas bayangan kedepannya apa yang akan ia lakukan pun langsung tergambar jelas dalam angan-angannya. senyumnya tidak terlalu lama, begitu bayangan Genta mengambil dokumen yang ia fotokopi melintas begitu saja seperti biasa tidak menganggap keberadaannya. 

"Udah deh Ta! nggak usah diliatin!" Ucap Lili selalu kesal sendiri melihat tingkah Zeta mendadak murung hanya gara-gara laki-laki bernama Genta. 

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Delapanpuluh

    Sang Mentari seperti tidak memberikan kesempatan untuk bernafas dengan begitu gampang, pada sosok laki-laki yang tengah tertidur kini mulai terjaga, terganggu dengan hiruk pikuk kota yang mulai ramai dengan aktivitas masing-masing. Genta yang masih merasa begitu Lelah memaksakan dirinya untuk segera bangun. Kembali bekerja perbedaannya kini, mimpi buruk tak berani lagi bersinggah dalam tidurnya. Sebab separuh raga yang dulunya benar-benar menyiksa dirinya telah ia temukan di Kota tempat ia menjalankan suatu project, Kota Mataram. Genta meraba permukaan tempat tidurnya, mencari benda pipih yang ia geletakan asal di samping bantalnya semalam. Begitu ketemu, tangannya dengan lincah menari di permukaan layer sentuh miliknya. Mencari nama seorang gadis yang mengobati luka hatinya dulu! Zeta, sejak bertemu gadis itu Genta tidak menepis jika mentalnya perlahan membaik. Bisa berbicara dan melihat senyuman tulus gadis itu begitu menenangkan dan melenyapkan keresahan hatin

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Tujuhpuluh Sembilan

    Semuanya sudah bergegas dengan koper masing-masing, termasuk Genta yang tampak sudah merasa lega. Wajahnya kini tampak teduh dan damai tak seperti beberapa hari sebelum mereka berangkat melakukan proyek kantor mereka, satu-satunya orang yang menyadari perubahan Genta adalah Sam, lelaki itu sangat merasakan Genta yang tampak tenang dari hari sebelumnya, hari-hari kelam bak mayat hidup dengan pikiran kemana-mana. Apalagi jika bukan berkat Zeta yang mengobati kerinduan yang begitu dalam, hebatnya Genta simpan dengan baik tanpa melakukan sesuatu yang ceroboh demi mendapatkan hati Zeta. Setelah ucapan yang mengganjal hatinya kemarin ia lontarkan kepada Zeta, Genta benar-benar merasa salah satu beban dalam hidupnya hilang. Tidak ada kegelisahan yang begitu berarti. “Ta!” Tegur Sam yang sejak tadi mengamati Genta yang tak bisa berhenti mengulum senyumannya dari wajahnya. “Hm.?” Jawab Genta dengan deheman tanpa mengalihkan pandangannya ke Sam yang tampak penasa

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Tujuhpuluh Delapan

    “Genta, nginap sini aja! Hujannya awet sampai nanti malam lo!” Celetuk Mila dari belakang membuat Genta terkejut, mendengar ucapan mamah Zeta, Genta langsung melirik pada Zeta yang rupanya ia juga sedang menatapnya. Rupanya keduanya sama-sama terkejut, Zeta terkejut karena mamahnya menawarkan tumpangan untuk tidur kepada Genta. Jauh dari dugaannya sebelumnya. “Mah!”Tegur Zeta kemudian menghampiri Mila untuk diajak bicara empat mata sebentar, ia membawa mamahnya ke dapur. Mila pun tampak heran dengan tarikan anaknya tapi ia menurutinya. “Kenapa?” Tanya Mila dengan berbisik begitu Zeta menghadap kepadanya dengan tangan berkacak pinggang. “Mamah kok biarin Bang Genta nginep sih? Yang bener aja? Apa kata orang nanti Mah?” Tanya Zeta tidak habis fikir dengan keputusan yang dibuat mamahnya, begitu sangat memperdulikan Genta yang berkunjung ke rumah. “Zeta! Kamu nggak kasian? Diluar hujan deras gimana mau pulang?” Tanya Mila membuat Zeta diam, yang d

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Tujuhpuluh Tujuh

    Seharian penuh Genta menghabiskan waktu di rumah Zeta, tidak berpergian kemana-mana hanya terus mengobrol satu sama lain berharap Genta ada hal perubahan dari Zeta yang ia harapkan. Kenyataannya, setelah semua yang telah dilalui, keputusan Zeta benar-benar tidak bisa diubah, Zeta tetap tidak bisa niat Genta untuk menikahinya demi bertanggung jawab atas perbuatannya. Ah bukan, bukan lebih tepatnya kesalah mereka di malam itu, kesalahan bersama menghubungkan mereka semua. Genta tengah duduk di balkon tengah bersama Zeta yang menemaninya, mau tidak mau Zeta menemani Genta yang sedang bertamu di rumahnya. Mau tidak mau, meski hatinya mulai rapuh jika terus berdekatan dengan Genta tapi ia tidak menyerah karena ia harus bertahan karena sebentar lagi Genta akan Kembali ke kota, meninggalkan kota Mataram tempat persembunyian Zeta selama ini dari dunianya. “Gue ulangin sekali lagi Ta!” Ucap Genta setelah ia melihat waktu yang ditunjukkan jam arloji yang melingkar di tanga

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Tujuhpuluh Enam

    “Kamu pagi-pagi sudah marah-marah gitu Ta, ayo sarapan!” Ajak Mila dengan senyumannya mengabaikan wajah Zeta yang tampak kesal tapi tak dihiraukan oleh mamahnya. Genta hanya tersenyum menatap Zeta yang duduk disampingnya sedangkan Zeta berdecak kesal karena kehadiran Genta benar-benar merusak mood di pagi harinya. Ia menyuapkan buah ke mulutnya, agar Kembali ke moodnya yang segar seperti ia menyambut pagi sebelum datangnya Genta. “Bang Genta! Zeta sudah bilang berkali-kali kisah kita sudah selesai!” tegas Zeta membuat Genta bungkam, rupanya gadis disampingnya masih belum bisa menerima keberadaannya, berbeda dengan mamahnya yang meski berapi-api hingga kemarahannya meluap tak terkendali, kini tampak menerima Genta dengan tangan terbuka. “Zeta! Mari makan dulu! Nggak baik, menyela waktu sarapan. Kita bicarakan nanti setelah makan!” Tegur Mila pada Zeta yang tidak bisa menahan emosinya kepada Genta yang sejak tadi memilih diam, tak menanggapi ucapan Zeta y

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Tujuhpuluh Lima

    Sang fajar hampir menampakkan diri, Mila bergegas untuk menyiapkan kue yang akan diantar ke rumah pelanggannya. Ia mengeluarkan kotak boxnya hati-hati takut jika putrinya yang sedang terlelap akan terganggu. Ia menutup pintu secara hati-hati, menaruh kunci di bawah pot bunga seperti biasanya. Ini hari libur, swalayan tempatnya bekerja masih buka namun dia sedang mendapat hak untuk cuti. Deggg… Jantung Mila hampir lepas dari tempatnya kala ia berbalik badan dan menemukan Genta yang berdiri di pagar rumahnya. Mila hampir terjungkal jika saja ia lupa bahwa ia sedang membawa pesanan seseorang yang segera diantar. “Pagi tante!” Sapa Genta dengan senyum ramahnya, memberanikan diri menyapa Mila yang sejak tadi memasang wajah kesalnya kepada Genta. Lebih tepatnya, wajah dengan kemarahan yang tidak tahu kapan tersulut. “Mau apa kamu kesini!” Hardik Mila membuat Genta bungkam, pandangannya tertuju pada dua box yang sedang dibawa oleh Mila. “Su

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Limapuluh Enam

    “Kamu benar-benar mau resign Ta?” Tanya Adi memandang tidak percaya pada Zeta yang tiba-tiba mengajukan surat pengunduran diri kepadanya. Zeta tersenyum kemudian menunduk membenarkannya. Ia sudah memantapkan hatinya untuk mengundurkan diri saja, terlebih begitu mamahnya mengetahui kehamilannya. Me

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Limapuluh Lima

    Zeta membuka matanya perlahan karena suara ibunya tak kunjung ia dengar. Zeta tercengang, mamahya terdiam dan menatapnya nanar, dari sudut matanya yang berapi-api menyimpan kemarahan di atas ubun-ubun, air matanya yang mengalir dalam diam mencurahkan rasa kecewanya pada anaknya. “Mah Zeta!”PLAAKK

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Limapuluh Empat

    Semua yang berangkat dalam perjalanan bisnis, menyelesaikan tugasnya lebih awal daripada deadline yang diberikan. Tentu saja menjadi momen yang sangat berharga, semuanya mengadakan pesta untuk merayakan keberhasilan mereka, tak tanggung-tanggung mereka berani memesan sebuah bir dengan kadar alcohol

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Limapuluh Tiga

    Lelaki itu menunggu seseorang di dalam toilet perempuan, berkali-kali ia mengigit kukunya matanya menatap cemas sekitar. Seperti seseorang yang mengalami depresi ia mondar-mandir dengan setia menunggu seseorang di dalam untuk keluar. Mata Genta merah, ia tidak kuasa menahan emosinya yang meledak-le

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status