Share

Empat

Author: J. Hanin
last update Petsa ng paglalathala: 2025-10-09 13:07:41

Sebuah motor yang tadinya melaju dengan kecepatan sedang, perlahan menepi setelah menyalakan lampu sen kirinya. Sang pengemudi tidak sendiri, ada sosok perempuan yang duduk di jok belakangnya. Raut wajahnya tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya setiap kali laki-laki itu mengantarnya pulang. Ia turun, tadinya ia masih tersenyum begitu menatap mata elang lelaki itu, senyumnya luntur begitu saja.

“Terima…”

Ucapannya terpotong karena lelaki itu langsung menancap gas begitu memastikan jika perempuan yang ia antar sudah turun. Arzeta hanya tersenyum masam menatap kepergian Genta, lelaki itu sengaja segera pergi.

“Kasih…” Lanjut Arzeta melanjutkan ucapannya yang sempat terpotong.

Arzeta melangkahkan kakinya menuju rumah kontrakannya, baru saja ia membuka pintu sudah dikejutkan dengan ibunya yang sudah berdiri di ambang pintu, melihat anaknya yang sedikit tersentak kebelakang ibunya hanya tersenyum tanpa dosa.

“Tadi siapa Ta?” Tanya Mila yang rupanya sejak tadi melihat interaksi antara Genta dan Arzeta.

“Temen kamu?” Tanya Mila begitu tak mendapat jawaban dari sang anak yang sMamah melepas sepatu kantornya.

“Bukan.” Bantah Zeta dengan kata yang begitu singkat.

“Terus? Pacar kamu?” Tanya Mila dengan senyumannya yang mengembang.

“Bukan, ih!” Pekik Zeta mendengar tebakan ibunya yang semakin menjadi-jadi itu.

“Iya masa orang yang kamu nggak kenal? Ibu sering loh lihat kamu dianter sama itu cowok!” Ucap ibunya, terus mendesak anaknya sampai Zeta mengambil air di kulkas pun ibunya tetap membuntutinya dari belakang.

“Senior aku!” Jawab Arzeta membuat ibunya mengangguk-angguk pelan.

“Dia suka sama kamu!”

“Uhukk…” pernyataan ibunya membuat Arzeta yang sedang meminum seketika langsung tersedak.

“Hati-hati dong Ta!” Ucap Mila dengan tatapan khawatirnya.

“Mamah ini yang aneh, bisa-bisanya berpikiran begitu.” Ucap Zeta memandang ibunya dengan kerutan di keningnya, ia kesal rupanya.

“Ya kan kali aja! Lagian senior mau nganterin pulang.” Ucap Mila menunduk semakin memelankan ucapannya.

“Enggak! Nggak ada. Aku bareng sama Bang Genta karena rumahnya searah aja udah.” Jawab Arzeta dengan Panjang lebar, menegaskan jika Genta tidak mungkin ada perasaan dengan dirinya. Lebih tepatnya Zeta mengulang ucapan Genta kemarin yang menggebu-gebu.

Ibunya hanya tersenyum mendengar Zeta yang menegaskan hubungan mereka, kemudian Zeta berbalik badan dan menuju kamarnya. Tubuhnya sudah lengket meski ia bekerja di ruangan ber-AC tetap saja keringatnya keluar ketika siang hari.

Bukannya bergegas menuju kamar mandi, ia merebahkan tubuhnya terlebih dahulu. Memainkan ponselnya berharap ada pesan entah dari siapa. Ia melihat kontak Genta yang sedang online. Arzeta tersenyum kemudian jari-jemarinya mengetikkan sesuatu disana.

Arzeta : Makasih Bang Genta!

Pesan itu tidak dibaca, ah bukan lebih tepatnya pesan-pesan dahulu sudah berbulan-bulan pun tidak dibaca. Notifikasi yang tadinya online berubah menjadi terakhir dilihat. Arzeta menghela nafasnya kasar, ia masih saja percaya jika suatu hari akan ada satu hari dimana Genta akan membaca pesannya satu demi satu.

“Ah tauk ah!” Umpat Zeta entah kepada siapa, ia membuang ponselnya asal di tempat tidur.

Kemudian beranjak pergi menuju kamar mandi dengan sehelai handuk yang ia ambil dari gantungan belakang pintu. Ia membersihkan dirinya, ia sedang mandi tapi pikirannya kemana-mana. Bukan masalah pekerjaan tapi Genta, laki-laki yang tadinya menjadi senior yang mengajarkan ini itu berubah menjadi satu-satunya orang yang membenci dirinya.

Terkadang, pernahkah berfikir? Ketika kita melakukan segalanya kepada seseorang akankah mereka melakukannya juga kepada kita, kalaupun tidak! Karma biasanya tetap saja terjadi pada mereka. Meski bukan kita yang membalas tapi justru orang lain.

“Siapa yang tahu!” Desis Arzeta mengangkat kedua bahunya.

Melanjutkan acara mandinya bak ritual malam sebelum pergi tidur, sedangkan ibunya sedang menonton acara televisi sambil menunggu Arzeta selesai mandi. Semua makanan telah ia hangatkan untuk putri semata wayangnya. Ia bekerja di salah satu took besar, di pasar tepatnya menjadi pelayan disana. Ia tidak mau putrinya menjadi tulang punggung keluarga. Ia masih kuat, kenyataannya menghidupi Arzeta selama berpuluh tahun ia masih sanggup meski tanpa ada suami di sisinya.

Tak berapa lama, Arzeta keluar dengan rambut yang sudah ia sisir meski masih basah. Menggunakan baju babydoll ia masih pantas justru terlihat seperti anak remaja. Arzeta melihat satu persatu lauk yang disediakan ibunya.

“Banyak banget?” Tanya Arzeta pada ibunya yang duduk disebelahnya namun matanya menyimak acara sinema di televisi.

“Iya, tadi dikasih tetangga ada acara hajatan katanya.” Ucap Mila dengan senyum namun tak mengalihkan pandangan matanya.

“Bohong!” Desis Arzeta membuat Mila menoleh dengan wajah sedikit gugup bak tertangkap basah bahwa ia sedang berbohong.

“Iya, dikasih tetangga.” Ucap pendek Mila membuat Arzeta menghela nafas Panjang.

“Mamah itu nggak udah bohong, pake acara hajatan segala. Zeta tahu kalau ini tuh dikasih tetangga karena mereka kasian sama kita!” Ucap Zeta kesal membuat ibunya yang tadinya sMamah dengan sinema di televisi kini mulai tertanggu dengan omelan anak semata wayangnya.

“Kalau mereka kasian kenapa? Mamah harus menolak? Zeta ! Mamah nggak meminta-minta.” Tegas Mila membuat Arzeta mengatupkan dengan rapat kedua bibirnya. Ia kalah, lagi pula memang tidak ada yang salah hanya Arzeta saja yang terlalu sombong. Merasa ia sudah menjadi seseorang yang terpandang.

“Kamu harusnya bersyukur! Dikelilingi orang-orang baik! Nggak seperti kontrakan kita sebelumnya yang…”

“Cukup!” potong Arzeta dengan nada tingginya membuat ibunya tersentak kaget.

“Iya! Zeta salah. Sudah nggak usah ngungkit masa lalu!” Ucap Arzeta kemudian menyuapkan satu sendok nasinya dengan sedikit kasar ke dalam mulutnya.

Mila pun memilih diam, sejak dulu Arzeta selalu tidak mau lebih tepatnya menghindar setiap kali Mila membicarakan masa lalu mereka. Ia tidak menutup telinga pada gunjingan-gunjingan tetangga bahkan keluarga besarnya. Itu alasan mengapa Mila dan Arzeta memilih hidup di kota orang tanpa mau pulang ke kota kelahiran mereka.

“Mamah udah bayar kontrakan?” Tanya Zeta begitu ponselnya menyala, matanya menangkap tanggal jatuh tempo ia harus membayar kontrakan.

“Sudah barusan! Sebelum kamu pulang.” Jawab Mila dengan senyum meski Zeta tidak melihatnya, perempuan itu sibuk dengan ponselnya.

Beginilah kehidupan ibu dan anak, terkadang berselisih paham, saling bersitegang adalah sesuatu gelombang penghias dalam hubungan. Bukankah hubungan yang selalu baik-baik saja tidak menandakan yang sebenarnya justru ada yang disembunyikan.

Zeta kembali melihat kontak Genta yang kembali online, seperti biasa pesan yang Zeta kirimkan tidak pernah dibaca dan juga story pun tak pernah Genta lihat. Arzeta yakin jika kontaknya tidak disimpan oleh lelaki berumur 27 tahun itu.

Ia meletakkan ponselnya memilih focus pada makan malamnya, mencintai seorang Genta memang butuh tenaga yang cukup rupanya ya.

***

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Delapanpuluh

    Sang Mentari seperti tidak memberikan kesempatan untuk bernafas dengan begitu gampang, pada sosok laki-laki yang tengah tertidur kini mulai terjaga, terganggu dengan hiruk pikuk kota yang mulai ramai dengan aktivitas masing-masing. Genta yang masih merasa begitu Lelah memaksakan dirinya untuk segera bangun. Kembali bekerja perbedaannya kini, mimpi buruk tak berani lagi bersinggah dalam tidurnya. Sebab separuh raga yang dulunya benar-benar menyiksa dirinya telah ia temukan di Kota tempat ia menjalankan suatu project, Kota Mataram. Genta meraba permukaan tempat tidurnya, mencari benda pipih yang ia geletakan asal di samping bantalnya semalam. Begitu ketemu, tangannya dengan lincah menari di permukaan layer sentuh miliknya. Mencari nama seorang gadis yang mengobati luka hatinya dulu! Zeta, sejak bertemu gadis itu Genta tidak menepis jika mentalnya perlahan membaik. Bisa berbicara dan melihat senyuman tulus gadis itu begitu menenangkan dan melenyapkan keresahan hatin

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Tujuhpuluh Sembilan

    Semuanya sudah bergegas dengan koper masing-masing, termasuk Genta yang tampak sudah merasa lega. Wajahnya kini tampak teduh dan damai tak seperti beberapa hari sebelum mereka berangkat melakukan proyek kantor mereka, satu-satunya orang yang menyadari perubahan Genta adalah Sam, lelaki itu sangat merasakan Genta yang tampak tenang dari hari sebelumnya, hari-hari kelam bak mayat hidup dengan pikiran kemana-mana. Apalagi jika bukan berkat Zeta yang mengobati kerinduan yang begitu dalam, hebatnya Genta simpan dengan baik tanpa melakukan sesuatu yang ceroboh demi mendapatkan hati Zeta. Setelah ucapan yang mengganjal hatinya kemarin ia lontarkan kepada Zeta, Genta benar-benar merasa salah satu beban dalam hidupnya hilang. Tidak ada kegelisahan yang begitu berarti. “Ta!” Tegur Sam yang sejak tadi mengamati Genta yang tak bisa berhenti mengulum senyumannya dari wajahnya. “Hm.?” Jawab Genta dengan deheman tanpa mengalihkan pandangannya ke Sam yang tampak penasa

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Tujuhpuluh Delapan

    “Genta, nginap sini aja! Hujannya awet sampai nanti malam lo!” Celetuk Mila dari belakang membuat Genta terkejut, mendengar ucapan mamah Zeta, Genta langsung melirik pada Zeta yang rupanya ia juga sedang menatapnya. Rupanya keduanya sama-sama terkejut, Zeta terkejut karena mamahnya menawarkan tumpangan untuk tidur kepada Genta. Jauh dari dugaannya sebelumnya. “Mah!”Tegur Zeta kemudian menghampiri Mila untuk diajak bicara empat mata sebentar, ia membawa mamahnya ke dapur. Mila pun tampak heran dengan tarikan anaknya tapi ia menurutinya. “Kenapa?” Tanya Mila dengan berbisik begitu Zeta menghadap kepadanya dengan tangan berkacak pinggang. “Mamah kok biarin Bang Genta nginep sih? Yang bener aja? Apa kata orang nanti Mah?” Tanya Zeta tidak habis fikir dengan keputusan yang dibuat mamahnya, begitu sangat memperdulikan Genta yang berkunjung ke rumah. “Zeta! Kamu nggak kasian? Diluar hujan deras gimana mau pulang?” Tanya Mila membuat Zeta diam, yang d

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Tujuhpuluh Tujuh

    Seharian penuh Genta menghabiskan waktu di rumah Zeta, tidak berpergian kemana-mana hanya terus mengobrol satu sama lain berharap Genta ada hal perubahan dari Zeta yang ia harapkan. Kenyataannya, setelah semua yang telah dilalui, keputusan Zeta benar-benar tidak bisa diubah, Zeta tetap tidak bisa niat Genta untuk menikahinya demi bertanggung jawab atas perbuatannya. Ah bukan, bukan lebih tepatnya kesalah mereka di malam itu, kesalahan bersama menghubungkan mereka semua. Genta tengah duduk di balkon tengah bersama Zeta yang menemaninya, mau tidak mau Zeta menemani Genta yang sedang bertamu di rumahnya. Mau tidak mau, meski hatinya mulai rapuh jika terus berdekatan dengan Genta tapi ia tidak menyerah karena ia harus bertahan karena sebentar lagi Genta akan Kembali ke kota, meninggalkan kota Mataram tempat persembunyian Zeta selama ini dari dunianya. “Gue ulangin sekali lagi Ta!” Ucap Genta setelah ia melihat waktu yang ditunjukkan jam arloji yang melingkar di tanga

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Tujuhpuluh Enam

    “Kamu pagi-pagi sudah marah-marah gitu Ta, ayo sarapan!” Ajak Mila dengan senyumannya mengabaikan wajah Zeta yang tampak kesal tapi tak dihiraukan oleh mamahnya. Genta hanya tersenyum menatap Zeta yang duduk disampingnya sedangkan Zeta berdecak kesal karena kehadiran Genta benar-benar merusak mood di pagi harinya. Ia menyuapkan buah ke mulutnya, agar Kembali ke moodnya yang segar seperti ia menyambut pagi sebelum datangnya Genta. “Bang Genta! Zeta sudah bilang berkali-kali kisah kita sudah selesai!” tegas Zeta membuat Genta bungkam, rupanya gadis disampingnya masih belum bisa menerima keberadaannya, berbeda dengan mamahnya yang meski berapi-api hingga kemarahannya meluap tak terkendali, kini tampak menerima Genta dengan tangan terbuka. “Zeta! Mari makan dulu! Nggak baik, menyela waktu sarapan. Kita bicarakan nanti setelah makan!” Tegur Mila pada Zeta yang tidak bisa menahan emosinya kepada Genta yang sejak tadi memilih diam, tak menanggapi ucapan Zeta y

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Tujuhpuluh Lima

    Sang fajar hampir menampakkan diri, Mila bergegas untuk menyiapkan kue yang akan diantar ke rumah pelanggannya. Ia mengeluarkan kotak boxnya hati-hati takut jika putrinya yang sedang terlelap akan terganggu. Ia menutup pintu secara hati-hati, menaruh kunci di bawah pot bunga seperti biasanya. Ini hari libur, swalayan tempatnya bekerja masih buka namun dia sedang mendapat hak untuk cuti. Deggg… Jantung Mila hampir lepas dari tempatnya kala ia berbalik badan dan menemukan Genta yang berdiri di pagar rumahnya. Mila hampir terjungkal jika saja ia lupa bahwa ia sedang membawa pesanan seseorang yang segera diantar. “Pagi tante!” Sapa Genta dengan senyum ramahnya, memberanikan diri menyapa Mila yang sejak tadi memasang wajah kesalnya kepada Genta. Lebih tepatnya, wajah dengan kemarahan yang tidak tahu kapan tersulut. “Mau apa kamu kesini!” Hardik Mila membuat Genta bungkam, pandangannya tertuju pada dua box yang sedang dibawa oleh Mila. “Su

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Empatpuluh Delapan

    Menjadi langganan setiap hari sebelum pulang, Zeta akan muntah-muntah di toilet terlebih dahulu. Benar-benar hadirnya janin dalam kandungannya membuatnya merasa lemas dan merasakan bagaimana kodratnya seorang perempuan. Genta memejamkan matanya, sebelum pulang ia selalu melihat wajah pucat Zeta yan

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Empatpuluh Tujuh

    Hujan deras lagi-lagi mengguyur kota di jam ketika para manusia berhamburan untuk pulang ke rumah masing-masing tak terkecuali Genta yang sejak tadi terdiam di dalam ruangan menatap Zeta yang sudah berjalan menghampiri sahabatnya yang sudah menjemputnya. Ucapan perempuan itu tentang keadaan diriny

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Empatpuluh Enam

    Cahaya matahari yang sudah berada di ufuk timur, semakin meninggi dengan sinarnya yang tanpa ragu menembus rumah-rumah penduduk kota. Tidak terkecuali kamar seorang gadis yang masih dengan mata terpejam. Sela-sela jendelanya mulai diterobos sinar sang surya, matanya yang perlahan terjada dari tidur

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Empatpuluh Lima

    “Gue mau ngomong!” Ucap Genta tiba-tiba sudah berdiri di samping meja Zeta. Zeta mendongak menunggu Genta mengucapkan sepatah kata, namun tiba-tiba Genta justru menarik Zeta untuk berdiri kemudian keluar masuk ke dalam lift. Zeta benar-benar ketakutan, jika Genta sudah dibawah pengaruh sikap tempe

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status