مشاركة

Lamaran

مؤلف: Erna Azura
last update تاريخ النشر: 2026-03-23 13:25:00

Mobil melaju kencang bahkan terlalu kencang.

Jalanan Jakarta seperti kabur di mata Kaluna.

Air mata mengalir tanpa henti. Tangannya mencengkeram setir.

Dadanya naik turun tidak teratur.

“Kenapa .…?” Suaranya bergetar.

“Kenapa harus aku lagi .…?”

Ia tertawa sumbang yang malah terdengar hancur.

“Kenapa sih…?” Air mata Kaluna semakin deras.

Semua kenangan kembali.

Brian. Amanda. Pengkhianatan. Rasa sakit.

Dan sekarang terulang lagi.

“Aku bod
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق
تعليقات (6)
goodnovel comment avatar
eLLy aprilia
Lama bgt update nya ga tiap hri yaa
goodnovel comment avatar
sevenseasof7
lanjut yukkk
goodnovel comment avatar
sevenseasof7
iih.. koq sama...
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Menantang Kasta   Sudah Saatnya

    Tapi baru saja Kama duduk di kursi kebesarannya.Suara pintu terdengar diketuk.Tok.Tok.“Masuk.”Pintu terbuka pelan.Seorang wanita paruh baya masuk dengan raut wajah tegang. Ia adalah kepala HRD AG Group pusat.“Maaf mengganggu, Pak Kama… ada hal penting yang harus saya sampaikan.”Kama tidak langsung menoleh dari layar MacBook. “Silakan.”Wanita itu melangkah mendekat, membawa sebuah iPad di tangannya.“Barusan kami menerima email dari salah satu karyawan anak perusahaan.”Kama akhirnya mengangkat pandangan.Tatapannya tajam.“Email seperti apa?”Wanita itu menelan ludah sebentar. “Sebuah laporan, Pak.”“Laporan?” Satu alis Kama naik.“Iya… terkait dugaan pelanggaran etika di lingkungan kerja.”Alis Kama sedikit mengernyit.“Siapa yang dilaporkan?”Wanita itu ragu sepersekian detik.Lalu berkata pelan, “Bu Kaluna … dan sekretarisnya, pak Satria.”Sunyi.Udara di ruangan

  • Menantang Kasta   Bisikan Andre

    Di sebuah ruang meeting eksklusif dengan dinding kaca, tiga pria duduk berhadapan.Di tengah—pria berwibawa dengan rambut yang mulai memutih di sisi pelipis. Tatapannya tajam, tenang, dan penuh kendali.Kama Gunadhya, pewaris sekaligus pimpinan tertinggi AG Group.Di hadapannya, duduk seorang pria seusia dengannya dengan aura tak kalah kuat—ayah Andre dari Pratama Group. Di sampingnya, Andre duduk dengan postur santai, tapi sorot matanya menyimpan sesuatu yang tidak bisa diabaikan.“Untuk proyek pesisir itu,” ucap Kama tenang sambil membuka dokumen di depannya, “anak perusahaan saya sudah menyelesaikan tahap pembebasan lahan. Tinggal finalisasi kerja sama teknis dengan pihak kalian.”Ayah Andre mengangguk. “Kami sudah review proposalnya. Secara struktur, bagus.”Andre menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap ke arah Kama.“Kaluna yang handle langsung.”Kama mengangkat pandangan. “Benar. Ada masalah?”Andre tersenyum tipis. “Enggak. Justru menarik. Dia berkembang jauh lebih cep

  • Menantang Kasta   Tidak Akan Mudah

    Ting ….Suara denting terdengar pertanda pintu lift akan terbuka.Davanka keluar dari dalam lift kemudian menderapkan langkah menuju ruangan CEO.Dari jauh, Satria sudah menangkap sosok Davanka.Dia keluar dari mejanya menyambut pria itu yang datang tanpa pemberitahuan, karena biasanya jika ada kunjungan dari Davanka maupun Kama pasti sekretaris mereka akan menghubungi Satria.Namun kali ini tidak ada, Satria bisa menduga kalau Davanka datang untuk urusan pribadi.Dan urusan pribadi itu pasti ada sangkut paut dengan dirinya.“Siang Pak Kama.” Satria menyapa begitu langkah Davanka hampir sampai di depannya.“Luna ada?” Davanka langsung bertanya tanpa membalas sapaan Satria.Nada suaranya dingin sedingin tatapannya.“Ada Pak, silahkan.” Satria membukakan pintu untuk Davanka.Davanka masuk baru setelah itu Satria menuntup pintu ruangan Kaluna kembali.“Abang?” Di dalam sana Kaluna menyapa setelah mendongak dari deretan angka di layar MacBook.Kedua alisnya terangkat bingung

  • Menantang Kasta   Menjatuhkan Kaluna

    “Kamu sadar enggak kalau ucapan kamu tadi sore seakan membenarkan kalau kita memang ada hubungan?” Satria memecah hening dalam perjalanan pulang tapi tatapan fokus ke jalanan di depan.“Iya … aku sadar … biarin aja … kamu udah ngelamar aku, kita pasti nikah dan semua orang akan tahu … lagian kita enggak merugikan perusahaan … beruntungnya kita mendapat profit besar tahun ini.”Satria menoleh, dia tersenyum.“Aku dengar mereka bergosip … kehebatan kamu katanya enggak lepas dari bantuan aku … mereka enggak tahu kalau kamu memang hebat … kamu mewarisi darah Gunadhya sang pebisnis ulung.”Kaluna tersenyum lebar. “Ah kamu bisa aja bikin aku seneng.”Satria menggelengkan kepala. “Kamu enggak sadar ya kalau kamu itu hebat. Pembawaan kamu tenang di depan klien … kamu juga selalu bisa menjawab pertanyaan klien dengan jawaban masuk akal padahal pertanyaan itu enggak ada dalam briefing kita sebelum rapat … Kamu cerdas … Kamu hebat.” Satria memuji.“Tapi aku enggak

  • Menantang Kasta   Cara Kaluna Menghadapi Barisan Patah Hati

    Cahaya matahari menembus tirai tipis ruang kerja Kaluna di lantai sembilan belas.Terasa Hangat menenangkan.Hatinya masih berbunga-bunga sejak Satria melamarnya.Kaluna yang duduk di kursi kerjanya tersenyum sembari menggelengkan kepala.Namun fokus Kaluna masih belum juga tertuju pada layar MacBook di depannya.Melainkan kini beralih pada cincin di jari manis.Berlian itu berkilau halus ketika terkena cahaya. Tidak berlebihan.Namun cukup untuk membuat siapa pun yang melihatnya tahu kalau itu bukan sekadar perhiasan tapi sebuah janji.Kaluna mengangkat tangannya sedikit.Memutar cincin itu perlahan.Senyum semakin lebar muncul tanpa sadar.“Gila…,” gumamnya pelan. “Aku dilamar…”Ia menunduk, menahan tawa kecil yang terdengar seperti bisikan kebahagiaan.Ketika pintu terbuka—Satria masuk seperti biasa.Membawa iPad dan dunia seketika kembali ke realita.Tatapan mereka bertemu dan tanpa kata mereka sama-sama tersenyum.Senyum yang hanya dimiliki dua orang yang tahu rah

  • Menantang Kasta   Dugaan Yang Menjadi Nyata

    Sore itu Zevanya sibuk menyiapkan makan malam, merapikan susunan piring dengan teliti di meja makan.Gaun rumahnya sederhana namun tetap memperlihatkan kelas seorang istri konglomerat.Rambutnya diikat rapi, beberapa helai jatuh lembut di sisi wajahnya.Dari kejauhan terdengar suara langkah kecil berlari.“Bundaaa … aku mau duduk sini!” seru seorang anak laki-laki dengan suara riang.Namanya Aksara. Putra pertama Davanka dan Zevanya yang baru berusia lima tahun.Ia berlari kecil sambil menyeret kursinya sendiri.Zevanya tersenyum. “Iya, sayang. Tapi pelan-pelan, nanti jatuh.”Di sisi lain, seorang anak perempuan kecil dengan dress pastel duduk manis di kursi makan khusus anak.Namanya Ashera. Putri kedua mereka yang baru berusia tiga tahun.Ia sibuk memainkan sendoknya sendiri, sesekali menggumam tidak jelas.Rumah itu terasa hangat dan lengkap.Lalu—suasana itu berubah ketika suara pintu utama terbuka.Davanka pulang. Langkahnya tegas memasuki rumah. Jasnya masih rapi, m

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status