เข้าสู่ระบบTapi baru saja Kama duduk di kursi kebesarannya.
Suara pintu terdengar diketuk.Tok.Tok.“Masuk.”Pintu terbuka pelan.Seorang wanita paruh baya masuk dengan raut wajah tegang. Ia adalah kepala HRD AG Group pusat.“Maaf mengganggu, Pak Kama… ada hal penting yang harus saya sampaikan.”Kama tidak langsung menoleh dari layar MacBook. “Silakan.”Wanita itu melangkah mendekat, membawa sebuah iPad di tangannya.“Barusan kami menerima email dari saSejak kabar bahagia itu muncul—suasana rumah berubah menjadi jauh lebih ramai.Ibu beberapa kali menangis sendiri sambil tersenyum.Bapak berkali-kali mengucap syukur.Ratu bahkan sudah sibuk searching nama bayi padahal usia kandungan Kaluna saja belum jelas berapa minggu.Sedangkan Satria masih terlalu diam.Kaluna yang paling mengenalnya tentu sadar.Pria itu bahagia. Tampak bahagia.Namun di balik sorot mata hangatnya—ada ketakutan besar yang sedang dia sembunyikan.Dan Kaluna tahu persis ketakutan itu berasal dari mana.Kehamilan ektopik sebelumnya masih membekas.Terlalu sulit dilupakan. Siang harinya—mereka memutuskan pergi ke rumah sakit untuk memastikan kondisi kandungan Kaluna.“Aku ikut!” seru Ratu cepat.“Enggak usah.”Satria menjawab tegas sambil mengambil kunci mobil.Ratu mengerucutkan bibir.“Iiih jahat.”Kaluna tertawa kecil. “Doain aja ya.”Ratu akhirnya mengangguk pasrah.
Perjalanan pulang menuju Bandung terasa jauh lebih tenang.Kaluna tertidur di bahu Satria hampir sepanjang penerbangan.Sementara Satria hanya diam menatap keluar jendela kecil pesawat.Langit sore perlahan berubah jingga.Dan setelah sekian lama—dadanya terasa sedikit lebih ringan.Tentang ayah Kama.Tentang pekerjaan.Tentang harga dirinya.Entah kenapa … semua mulai terasa menemukan jalan.***Udara dingin Lembang langsung menyambut ketika mobil yang Satria kemudikan berhenti di depan rumah.Belum sempat Satria turun dengan sempurna—pintu rumah sudah terbuka lebih dulu.“Lunaaa!”Ibu keluar sambil tersenyum lebar.Bahkan celemek masaknya masih menempel di tubuh.Kaluna langsung tertawa kecil.“Buuuu….”Mereka berpelukan hangat.“Aku bawa oleh-oleh untuk Ibu, ayah dan Ratu.” Kaluna mengangkat paperbag di tangannya.“Waa … jadi ngerepotin.” Ibu tampak berbinar.“Enggak lah, ‘kan buat mertua kesayangan.”Sementara bapak menyusul keluar rumah sambil dengan sarung y
Hari terakhir di Bali datang terlalu cepat.Pagi itu langit Pulau Dewata begitu cerah.Langit biru tanpa awan membentang di atas laut yang berkilau terkena matahari.Dari balkon cottage mereka—Kaluna berdiri sambil memeluk tubuhnya sendiri.Dress tidur satin putihnya tertiup angin pantai.Rambut panjangnya bergerak lembut.Matanya menatap laut lepas dengan senyum kecil.Sementara di belakangnya—Satria baru keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut menggunakan handuk.“Kamu ngapain bengong sendiri di sana, sayang?” tanyanya.Kaluna menoleh lalu tersenyum.“Aku lagi nyimpen memori.”Satria mengernyit. “Memori apa?”Kaluna berjalan mendekat.Tangannya melingkar di leher pria itu.“Memori kalau kita pernah bahagia banget di Bali.”Satria tertawa kecil.“Kita memang enggak bahagia di Lembang?”“Bahagia.” Kaluna cepat menjawab. “Banget malah.”“Terus?” Satu alis Satria terangkat.“Tapi ini beda.” Kaluna mendongak. “Ini pertama kalinya aku benar-benar ngerasa .…”
Pagi di villa privat itu dimulai dengan suara deburan ombak dan cahaya matahari Bali yang menembus tirai putih transparan.Satria membuka mata lebih dulu.Tangannya masih melingkar erat di pinggang Kaluna.Wanita itu masih tertidur di dadanya.Rambut panjangnya sedikit berantakan.Bibirnya sedikit terbuka.Dan entah kenapa—setiap pagi melihat wajah itu, dada Satria selalu terasa penuh.Tangannya naik. Menyingkirkan anak rambut di wajah Kaluna. Lalu mengecup keningnya lama.Cup.Kaluna menggeliat pelan. Bulu matanya berkedip.“Sayaang .…” Suaranya masih serak.Membuat Satria tersenyum.“Bangun yuk.”Kaluna justru memeluknya lebih erat. “Lima menit lagi.”Satria terkekeh. “Nanti sepupu kamu nikah tanpa kamu.”Kaluna langsung membuka mata.“Ya ampuuun, enggak boleh!”Dan sukses membuat Satria tertawa.Sekitar pukul empat sore—semua keluarga besar Gunadhya sudah berkumpul di area pantai pribadi.
Sekitar empat puluh menit perjalanan dari bandara—iring-iringan mobil keluarga besar Gunadhya akhirnya memasuki kawasan resort privat di tepi laut Bali bagian selatan.Gerbang kayu ukir khas Bali terbuka perlahan.Patung batu dengan bunga kamboja menghiasi sisi kanan kiri jalan.Suara deburan ombak mulai terdengar semakin jelas.Dan ketika mobil berbelok melewati deretan pohon kelapa—Kaluna sampai membulatkan mata dengan bibir tersenyum.Dia benar-benar merindukan Bali. Di hadapan mereka berdiri sebuah kawasan villa privat yang benar-benar luar biasa.Bukan sekadar resort.Melainkan private estate.Beberapa cottage mewah berdiri berjajar menghadap laut.Dinding kayu ulin berpadu kaca full height.Kolam renang infinity memantulkan cahaya jingga matahari senja.Jembatan-jembatan kayu kecil menghubungkan tiap cottage.Dan yang paling membuat Kaluna terdiam membeku adalah hamparan pasir putih dan pantai pribadi sejauh mata memandang.Satria ikut terdiam menikmati keindahan
Pagi itu udara Lembang terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Mungkin karena musim kemarau akan segera tiba.Kabut masih turun tipis di antara pepohonan ketika lampu kamar Satria dan Kaluna sudah menyala sejak subuh.Kaluna berdiri di depan lemari sambil menggigit bibir bawah.Tangannya sibuk memilih dress.Yang ini terlalu formal.Yang itu terlalu terbuka.Yang satu lagi terlalu mencolok.“Aduh….” Kaluna mendesah pelan.Sementara di atas ranjang—Satria duduk sambil memakai jam tangan.Tatapannya mengawasi tingkah istrinya sejak tadi.“Sayang.”“Hm?”“Kita ke nikahan… bukan fashion week.”Kaluna langsung menoleh.“Eeeh, Iya sih… tapi aku mau keliatan paling keren.”Satria terkekeh pelan. “Apa mau beli yang baru nanti di Jakarta?”Kaluna menggelengkan kepala. “Enggak usah, pemborosan.”Satria bangkit dari tepi ranjang.Langkahnya mendekat.Tangannya naik meraih satu dress satin berwarna sage green dari tangan Kaluna.“Pakai ini saja kalau begitu, ini baru ‘kan… bel
Siang itu langit Jakarta terlihat pucat di balik kaca gedung-gedung tinggi.Mobil sedan hitam mewah CEO anak perusahaan AG Group berhenti perlahan di depan gedung kantor Andre Pratama Group. Bangunan modern dengan fasad kaca itu memantulkan cahaya matahari siang yang terik.Satria turun lebih dul
Satria masih memeluk Kaluna ketika percakapan mereka perlahan menghilang bersama udara malam Lembang yang semakin dingin.Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang nyaman.Kaluna mengangkat kepala sedikit dari dada Satria.“Satria ….”“Hm?”“Aku mau mandi.”Satria
Hening panjang melingkupi usai pergulatan penuh hasrat itu.Satria memeluknya erat tapi kini nafas mereka sudah teratur.“Kenapa kamu seperti menyesal setiap kali kita habis bercinta?” Akhirnya Kaluna memberanikan diri bertanya.Sebagai yang sudah pernah bercinta dengan pria lain—K
Kaluna tahu kalau AG Group memiliki resort di perbatasan antara Lembang dan Subang tapi baru kali ini dia benar-benar menginap di sana.Dulu Kaluna pernah mampir hanya untuk sekedar tahu dan berhubung sejak kuliah, hidupnya dihabiskan di luar Negri, pun keluarganya ketika waktu libur tiba pa







