LOGIN“Nginep di mana malam ini?” tanya tante Zara kepada tante Kalila.
“Langsung pulang ….” Tante Kalila menjawab santai.“Hah? Lo ke sini cuma buat datang ke acara nikahan Luna doank?” Om Kana berkomentar.Kalila mengangguk sembari meneguk tehnya.“Dan kasih dia hadiah ….” Kalila menambahkan. Dia sedang menyindir adik-dianya.“Bukan apa-apa ya Kak, gue itu takut Satria dan Luna yang malah kena sama abang Kama kalau dapet hadiah … gue juga inginnya kasih rumah buat mereka.Pintu kamar terbuka pelan.Aroma sabun dan udara dingin seketika ikut masuk bersama langkah Satria.Rambut pria itu masih sedikit basah.Kaos hitam membalut tubuh atletisnya yang baru selesai mandi.Sementara handuk kecil masih tersampir di bahunya.Kaluna yang sejak tadi berbaring sambil scroll media sosial refleks mendongak.Matanya berubah lembut.“Hai ganteng.” Kaluna menyapa.Satria tersenyum. “Kalau sekarang, kamu mau dipeluk?” sindir Satria karena tadi saat pulang, Kaluna mengatainya bau ketek dan memaksanya untuk mandi, katanya baby yang meminta.Kaluna tertawa, merentang kedua tangan. “Mauuuuu.” Satria tersenyum sembari mendekat, duduk di tepi ranjang lalu memeluk Kaluna.“Malem banget sih pulangnya, sayang.” Kaluna menggerutu.“Macet tadi dari Ciwidey.”Kaluna menjauhkan tubuhnya sedikit. Dia mendongak.“Capek banget ya?”Satria tidak langsung menjawab, dia menatap hangat Kaluna selama beberapa det
“Pak, istirahat dulu.”Satria menurunkan topinya lalu masuk ke dalam gazebo jati yang ada di pinggir ladang.Matahari siang itu cukup terik meski udara Lembang tetap terasa dingin.Beberapa pekerja mulai berkumpul untuk makan siang.Tak lama kemudian—seorang pegawai datang membawa rantang besar dan termos teh hangat.“Titipan dari ibu sama neng Luna.”Bapak tersenyum kecil mendengarnya.“Wah pasti enak-enak ini makan siang kita.” “Kalau ibu sama Kaluna masak mah enggak pernah gagal.” Satria menimpali.Pegawai itu membantu menurunkan rantang.Aroma ayam goreng lengkuas langsung menyeruak begitu tutupnya dibuka.Ditambah sambal terasi, tumis genjer, tahu goreng, dan lalapan segar.“Kaluna enggak ikut?” tanya bapak sambil mengambil nasi.Satria menggeleng pelan.“Tadi pagi mual lagi.”Raut wajah bapak berubah khawatir.“Ngidam?”“Mungkin kecapekan.” Satria mengembuskan napas pelan. “Kemarin masih maksa bantu sortir.”“Makanya jangan dibiarin.”Satria terkekeh kecil.
“Pak Tisnaaa!”Suara seorang pria membuat bapak yang sedang memeriksa selang irigasi refleks mengangkat pandangan. “Oh Mang Ujang.”Pria paruh baya itu berjalan mendekat sambil tertawa lebar. “Wah sekarang mah kebun-kebun di sini jadi sibuk terus ya.”Bapak balas terkekeh kecil. “Syukurlaaaah.”Pagi itu suasana perkebunan memang jauh lebih hidup dibanding biasanya.Beberapa petani terlihat mondar-mandir membawa hasil panen.Ada yang sedang memetik paprika.Ada yang menyortir lettuce.Sebagian lagi sibuk memasukkan tomat cherry ke box ventilasi khusus.Dan hampir semua pembicaraan mereka sekarang hanya tentang satu nama.Satria.“Anak pak Tisna ayeuna mah hebat pisan.”“Katanya kirim sayur sampai Amerika.”“Stroberi mang Darsa kemarin habis semua diborong.”“Harganya juga bagus.”Bahkan beberapa petani yang dulu sempat hampir menyerah berkebun kini mulai semangat lagi.Karena setelah sekian lama—akhirnya sekarang hasil panen mereka dihargai layak.Satria tidak pernah m
Dan kini tinggal Satria, Kaluna, dan Ratu di meja makan.Sunyi cukup lama. Di bawah meja, Kaluna menggenggam tangan Satria.Satria menoleh dan melalui tatapan, Kaluna meminta Satria mengambil peran.Tiba-tiba Ratu tertawa kecil, suaranya terdengar pecah.“Kayanya aku terlalu banyak mimpi ya?”“Jangan ngomong begitu.” Satria menimpali cepat.Ratu mengangkat pandangan. Pipinya sudah basah, berulang kali dia mengusapnya kasar. Marah.“Aku cuma pengen jadi wanita karir sukses, A.”Satria menatap adiknya lama.“Buat apa aku mati-matian kuliah kalau ujungnya cuma sampai sini.”Satria mengusap kepala adiknya. “Kalau itu memang yang kamu mau .…”Ratu menahan napas. “… Aa dukung.”“Serius?” Sorot mata Ratu kini lebih kuat,Satria mengangguk.“Serius.”“Tapi bapak enggak akan setuju.” Ratu merengek.“Biar Aa yang ngomong.”Kaluna tersenyum.Sementara Ratu benar-benar tampak ingin meraung.Satria melanjutkan dengan tenang.“Kamu enggak salah punya mimpi besar.”Ratu mengan
“Sayaaang ….”Satria yang baru saja mengambil nasi langsung menoleh menatap istrinya. “Kenapa sayang?”Kaluna tersenyum kecil sambil menunjuk lauk di meja makan. “Kayanya sayur asem ibu hari ini enak banget.”Ibu sedang menuang teh dan beliau langsung terkekeh. “Loh baru juga lihat belum nyobain.”“Feeling baby.” Kaluna mengusap perutnya santai.Seketika meja makan dipenuhi tawa kecil.Suasana rumah malam itu memang terasa hangat.Weekend membuat semuanya sedikit lebih santai.Hari ini Satria akhirnya pulang lebih cepat dari workshop.Bapak juga tidak pergi lagi ke ladang selepas magrib.Mereka akhirnya benar-benar makan malam lengkap bersama setelah sebulan lebih sibuk dengan proyek Alterio Corp.Sampai tiba-tiba, “Ratu pulaaaaang!”Suara itu terdengar dari arah depan rumah.Semua menoleh ke arah ruang tamu sampai Ibu spontan berdiri.“Ratu?”Sosok Ratu masuk ke ruang makan sambil membawa tas ransel besar dan map tabung di tangannya.Wajahnya sumringah sekali.“Ibuuu
Namun bahkan setelah tengah malam beranjak larut—Satria masih sibuk membuka laptop.Membuat checklist. Menyusun timeline. Menghubungi paman Elan. Mengatur area workshop yang akan ditampilkan.Dan keesokan paginya—dia sudah pergi lagi sebelum Kaluna benar-benar bangun.“Yang ini jangan dipajang di depan.”Satria menunjuk salah satu kursi rotan yang finishing-nya sedikit belang.Pekerja workshop langsung mengangguk cepat.“Siap, Pak.”Suasana workshop pagi itu benar-benar sibuk.Lebih sibuk dibanding biasanya.Beberapa pekerja mulai membersihkan area produksi.Sebagian lagi merapikan display furniture.Sementara paman Elan tampak mondar-mandir sambil terus memberi instruksi.“Meja yang itu pindahin!”“Area oven dibersihin lagi!”“Serbuk kayunya sapu yang rapi!”Satria sendiri berdiri di tengah workshop sambil memegang tablet.Tatapannya fokus memperhatikan setiap detail. Mulai dari pencahayaan.Kerapihan. Display sample. Sampai alur produksi.Karena dia tahu—orang-oran
Tadi Brian mengirim pesan di kamar berapa dia menginap, Kaluna langsung menuju ke sana.Langkahnya goyah, dadanya terasa sesak dan hatinya perih hingga buliran kristal dengan mudah berkumpul di pelupuk mata.Enam bulan berlalu dan Brian baru sekarang menghubunginya untuk bertemu, untuk
Keesokan harinya datang terlalu cepat, cahaya matahari menyelinap melalui tirai tipis suite Kaluna ketika ia membuka mata. Laut terlihat tenang dari balik jendela besar, birunya memantulkan cahaya pagi yang lembut. Namun ketenangan itu tidak ada di dalam dirinya.
Detik selanjutnya tangan Satria perlahan membalas pelukan itu.Ia memeluk Kaluna dengan hati-hati, seolah takut merusak sesuatu yang rapuh.Tangannya mengusap punggung Kaluna perlahan.Gerakan yang lembut, tenang, hangat.Kaluna semakin merapat.Satria menundukkan kepala sedikit.Bibirnya tan
Langkah mereka pelan ketika kembali dari restoran dekat pantai menuju bangunan utama resort.Malam Bali terasa hangat saat itu. Angin laut masih berembus lembut membawa aroma asin yang samar.Satria berjalan di samping Kaluna, kedua tangan mereka saling bergandengan.Sesekali Satria menoleh ke s







