MasukPagi itu Satria sudah rapi jauh sebelum ibu dan Kaluna selesai membuat sarapan pagi.Kemeja hitam digulung sampai siku.Jam tangan sudah terpasang.Tablet dan beberapa dokumen dimasukkan ke dalam tas kerja.Kaluna yang berdiri di dapur memperhatikannya sambil sesekali mengaduk bihun goreng di wajan.Sekarang perutnya sudah cukup besar.Gerakannya tidak secepat dulu.Tapi entah kenapa—dia sedang semangat memasak.Karena ini salah satu masakan yang dia cukup percaya diri membuatnya.Bihun goreng dan Satria suka.Kaluna mematikan kompor lalu mulai memasukkan bihun ke kotak bekal.Satria muncul di ambang dapur.“Sayang?”Kaluna menoleh. “Aku buat bekal untuk kamu.”Satria mendekat lalu mengintip isi kotak.Seketika sudut bibirnya naik. “Bihun?” Sorot matanya tampak antusias.Kaluna mengangguk bangga. “Iya.”Satria menatap istrinya beberapa detik, tawa kecilnya terdengar hangat. “Kamu tahu enggak…”Kaluna mengangkat kedua alisnya, menunggu.“Aku paling suka dibekelin,” l
Baru beberapa hari lalu ayah Kama dan bunda Arshavina pulang dari New York tapi ayah Kama tidak pernah menyia-nyiakan waktu, beliau berangkat sejak pagi.Para staf rumah baru selesai merapihkan dan membersihkan mansion ketika bunda Arshavina selesai menerima telepon dari salah satu temannya.“Makan siang sudah siap, Nyonya.” Kepala asisten rumah tangga memberitahu.“Oke … makasih.” Bunda merespon. Beliau melirik jam dinding.Sudah lewat jam makan siang. Bunda lalu menoleh ke arah tangga.“Zyandruuu!” Suara beliau menggema dari ruang keluarga. “Makan dulu!”Tidak ada jawaban.Bunda melanjutkan membaca pesan di ponselnya hingga beberapa menit berlalu beliau kembali memanggil.“Aaarrruuuuu!”Tetap tidak ada jawaban.Kening bunda mulai berkerut.Biasanya meski sibuk atau malas sekalipun—Zyandru akan menyahut.Bunda akhirnya bangkit dari sofa malas yang hampir sepagian ini didudukinya lalu berjalan menaiki tangga menuju lantai atas.Lorong kamar tampak sepi.Bunda berhenti di
Helikopter mendarat dengan sangat halus di atas gedung tinggi yang menjulang di kawasan Manhattan.Baling-baling masih berputar ketika pintu dibuka.Angin kencang menerpa rambut dan pakaian.Bunda Arshavina refleks memegang rambutnya sambil menatap sekeliling.Tatapannya bergerak perlahan.Gedung-gedung tinggi.Langit New York.Dan rooftop luas dengan area landing privat.Meski ini bukan pertama kalinya mereka datang ke New York—tetap saja ada sensasi berbeda.Karena kali ini mereka datang bukan sebagai tamu hotel.Tapi menginap di penthouse anak mereka.Sementara di sampingnya—ayah Kama turun dengan ekspresi dingin seperti biasa.Namun tatapannya tetap mengamati sekeliling diam-diam.Seorang staf menyambut. “Welcome, Mr. Gunadhya.”Ayah hanya mengangguk singkat.Mereka berjalan masuk melewati akses privat menuju lantai tempat penthouse Ryley berada.Begitu pintu terbuka—suara langkah kecil langsung terd
Untuk pertama kalinya sejak berminggu-minggu lalu—rumah bapak di Lembang pagi itu terasa berbeda.Tidak ramai. Tidak heboh. Tidak penuh dengan candaan.Justru terlalu tenang.Itu disebabkan oleh koper besar yang berjajar di ruang tengah.Dokumen sudah dimasukkan berkali-kali ke dalam tas.Paspor dicek entah untuk yang ke berapa kali.Dan semua orang sibuk memastikan tidak ada yang tertinggal.Tapi tetap saja—ada sesuatu yang terasa menggantung di udara.Hari ini Ratu berangkat.Hari ini mimpi itu benar-benar dimulai.***Bandara terlihat sangat ramai.Troli didorong perlahan.Satria berjalan paling depan sambil sesekali mengecek dokumen keberangkatan di ponselnya.Di sebelahnya bapak membawa tas kecil.Ibu menggenggam tangan Ratu sejak turun dari mobil.Sementara Kaluna berjalan pelan di samping Ratu dengan satu tangan sesekali memegang perutnya sendiri yang sudah besar.Ratu tampak gelisah.Tatapannya terus bergerak ke berbagai arah.Pintu masuk. Area drop off.Or
Sore itu suasana kantor pusat AG Group di Jakarta tampak sibuk seperti biasa.Beberapa staf berlalu-lalang membawa dokumen proyek.Layar besar di area utama menampilkan progress beberapa pembangunan resort dan kawasan komersial yang sedang berjalan.Di lantai paling atas—sebuah ruang kerja besar dengan dominasi kaca dan kayu gelap terlihat tenang.Ayah Kama sedang berdiri menghadap jendela.Jas abu gelap yang dikenakannya masih sangat rapi meski jadwal hari itu cukup padat.Tatapannya tertuju pada deretan gedung Jakarta yang berjejer di depannya.Tok.Tok.“Masuk,” ujarnya melantangkan suara.Pintu terbuka.Om Kaivan masuk sambil membawa tablet dan map proyek.“Sorry telat.”Ayah Kama menoleh lalu tersenyum tipis.“Enggak. Gue juga baru selesai meeting.”Mereka berdua duduk di sofa set yang berada di tengah ruangan.Hari itu agenda mereka cukup jelas.Membahas pembangunan resort baru di Sulawesi Utara.Om Kaivan membuka beberapa gambar konsep.“Ini untuk area cliff
Setelah makan siang selesai, mereka sempat berfoto sekali lagi di depan restoran.Kali ini lebih santai.Tanpa pose resmi.Tanpa arahan fotografer.Hanya keluarga kecil yang sedang berbahagia.“Pak senyum.”“Bu lihat kamera.”“Ratu jangan nangis lagi.”“Kaluna jangan makan kerupuk pas difoto.”Seketika semuanya tertawa.Dan setelah itu, mereka pun berpisah.“Jangan pulang kemalaman.”Ibu mengingatkan saat berdiri di dekat mobil.“Iya Bu.”“Kamu juga jangan ngebut.”“Iya Bu.”Kaluna yang berdiri di samping Satria sampai terkekeh. “Bu, itu suami Luna bukan anak TK.”Ibu jadi tertawa.“Ya gimana, namanya juga anak.”Sementara bapak sudah masuk ke dalam mobil.Tak lama kemudian mobil bapak perlahan meninggalkan area parkir restoran.Membawa bapak, ibu, dan Ratu kembali ke Lembang.Sementara Satria dan Kaluna menuju tujuan lain.Rumah Om Kaivan.Rumah mewah. Elegan. Asr
Mobil berhenti di depan lobi gedung utama AG Group.Satria turun lebih dulu seperti biasa. Ia memutari mobil dan membuka pintu untuk Kaluna.“Nona.”Kaluna turun dengan gerakan anggun, seolah hari itu hanyalah hari kerja biasa.Tidak ada yang akan menyangka bahwa beberapa jam
“Nona, hari ini jadwal kita akan mengunjungi proyek—“ Brifing singkat Satria terjeda.“Sekarang aja, langsung … biar enggak bolak balik,” potong Kaluna.“Baik Nona.” Diam-diam Satria mengirim pesan kepada kepala proyek kalau jadwal kunjungan sang CEO dimajukan.Pagi itu udara di lokasi proyek
Keesokan paginya gedung anak perusahaan AG Group yang dipimpin Kaluna terlihat jauh lebih hidup dari biasanya.Balon-balon perusahaan dengan warna emas dan biru tergantung di beberapa sudut lobi. Booth bazar berdiri berjajar di area taman belakang gedung. Musik ringan mengalun dari panggung
Keesokan harinya Andre datang lagi. Kali ini untuk presentasi kolaborasi properti.Ia duduk di ruang meeting bersama Kaluna dan Satria.Andre berbicara dengan percaya diri.“Kita bisa mulai pilot project bulan depan.”Kaluna mengangguk.“Menarik.” Matanya berbinar.Satria membuka dokumen di i







