Home / Romansa / Menantang Kasta / Ratunya Satria

Share

Ratunya Satria

Author: Erna Azura
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-27 18:38:10

Udara di desa masih dingin ketika Kaluna membuka mata.

Selimut tebal membungkus tubuh polosnya, sementara di sampingnya—Satria sudah terjaga lebih dulu.

Pria itu menoleh begitu melihat Kaluna bergerak.

“Sudah bangun?” tanyanya pelan.

Kaluna mengangguk kecil, masih setengah mengantuk.

“Iya .…” Kaluna merentangkan tangan ke atas, menggeliat.

“Acara kita jam berapa?” tanya Kaluna sambil membenarkan letak selimut yang melorot.

“Jam sepuluh … masih lama, aku masih bisa joging dulu.”

Kaluna t
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (3)
goodnovel comment avatar
Nina Tantina
Aaahhhh romantis banget ya mereka. ..
goodnovel comment avatar
virna putri
Secinta dan sesayang itu satria utk Luna nya.. smg mrka dpt mengarungi badai kehidupan dgn tetap berpegangan erat
goodnovel comment avatar
Astariii_
Baca judulnya udh salah paham aja, kirain si komo yg bakal nyesel taunya si noorin wkwkwkw ternyata ga semudah itu bikin komo nyesell, fergusooo hahahahah mangats satria, perjuanganmu masih panjanggg
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Menantang Kasta   Membalas Sakit Hati Satria

    Kabut tipis mulai menyelimuti kebun teh, lampu-lampu kecil di sepanjang jalan menyala satu per satu, menciptakan suasana hangat di tengah udara dingin dan gelapnya malam.Di dalam kamar villa, Kaluna sedang duduk di depan cermin, merapikan rambutnya yang kini dibiarkan jatuh alami di bahu.Satria keluar dari kamar mandi, sudah rapi dengan kemeja kasual berwarna gelap.“Kita keluar sebentar ya,” katanya sambil mengambil kunci mobil.Kaluna menoleh. “Makan malam?”Satria mengangguk. “Ada Caffe yang lagi viral, enggak jauh dari sini. Tadi aku lihat di sosial media.”Kaluna tersenyum. “Yeaaaay.” Dia senang sekali.Tidak berapa lama kemudian, Satria sudah memarkirkan mobilnya di depan Caffe yang dimaksud.Caffe itu tidak terlalu besar.Bangunannya dominan kayu dengan lampu kuning temaram yang memberi kesan hangat dan intim.Dari luar sudah terlihat beberapa meja terisi, sebagian besar pasangan atau keluarga kecil.Begitu mereka masuk

  • Menantang Kasta   Bulan Madu Kedua

    Perjalanan menuju resort terasa lebih sunyi.Bukan karena tidak ada yang ingin dibicarakan melainkan karena keduanya sedang menikmati jeda.Jeda setelah hari kemarin yang penuh tawa dan kebahagiaan.Tiga puluh menit kemudian, mobil berhenti di sebuah gerbang kayu dengan ukiran sederhana.Tidak terlalu mencolok.Tidak terlalu mewah.Namun begitu mereka masuk—hamparan kebun teh langsung menyambut.Hijau.Luas.Seolah tidak berujung.Udara di sana lebih dingin.Lebih bersih.Lebih menenangkan.“Keren banget pemandangannya…,” gumam Kaluna pelan.Satria tersenyum tipis.“Lumayan lah buat second honeymoon,” katanya santai, padahal ia memilih tempat ini dengan sangat hati-hati dan menekan kebutuhan pribadinya mengingat saldo di rekening semakin menipis.Villa yang mereka tempati berdiri sedikit terpisah.Privat. Tenang. Menenangkan.Begitu pintu dibuka—aroma kayu dan udara hangat langsung menyambut.Interiornya sederhana. Elegan.Dengan jendela besar menghadap langsung ke

  • Menantang Kasta   Donatur

    Pagi ini, tidak ada lagi musik maupun suara tawa yang memecah halaman.Tenda masih berdiri, meski sebagian sudah setengah dibongkar.Beberapa kursi ditumpuk di sudut.Sisa-sisa pesta masih terasa tapi suasananya jauh lebih hening.Kaluna menghirup udara pagi yang dingin di teras rumah.Rambut sengaja digerai, wajahnya masih segar setelah mandi.Tidak lama kemudian Satria keluar sambil membawa koper kecil.“Sudah siap?” tanyanya.Kaluna menoleh, lalu mengangguk.“Iya .…”Hari ini mereka akan pergi.Bulan madu kedua—kata Satria.Di sebuah resort tidak jauh dari sini tepatnya di Lembang.Bukan milik Gunadhya.Bukan sesuatu yang mewah berlebihan.Tapi cukup untuk mereka berdua.“Kalian yakin enggak akan sarapan dulu?” kata ibu karena tadi Satria dan Kaluna melarangnya membuat sarapan pagi.“Enggak Bu, kita mau kuliner ….” Kaluna yang menjawab.“Jangan bawa Kaluna makan di pinggir jalan ya, Satria.” Bapak Sutisna berpesan.Satria dan Kaluna terkekeh.“Enggak lah, Pak.”

  • Menantang Kasta   Menutupi Kesalahan Ayah Kama

    Setelah mandi bersama dengan alasan mempersingkat waktu—Kaluna dan Satria kembali ke kamar.“Sini duduk sayang,” kata Satria menuntun Kaluna duduk di depan meja rias.Rambut Kaluna basah.Ujung-ujungnya menetes pelan ke bahu.Satria berdiri di belakangnya.Memegang hairdryer.Suara mesin kecil itu mulai terdengar.Hembusan hangat mengalir di antara helai rambut Kaluna.Gerakan Satria pelan.Hati-hati.Seolah rambut itu sesuatu yang rapuh.Kaluna menatap pantulan mereka di cermin.“Capek?” tanya Satria pelan.Kaluna menggeleng kecil.“Enggak… malah senang.”Satria tersenyum tipis.“Acaranya… di luar ekspektasi aku,” lanjut Kaluna.“Lebih ramai ya?” tanya Satria.“Lebih hangat,” jawab Kaluna pelan.Jeda.“Aku lihat sendiri … keluarga aku benar-benar menikmati.”Nada suaranya jujur.Masih menyimpan sisa haru.Satria terus mengeringkan rambut Kaluna.“Sepupu-sepupu kam

  • Menantang Kasta   Dunia Satria

    Sore mulai turun perlahan.Langit desa berubah jingga.Sinar matahari yang tadinya terang kini melembut, jatuh di antara tenda dan rangkaian bunga yang mulai sedikit layu setelah seharian dipenuhi manusia dan tawa.Suara musik tidak lagi sekeras tadi.Beberapa tamu mulai berpamitan.Piring-piring mulai dirapikan.Anak-anak sudah kelelahan dan digendong pulang.Dan di antara semua itu—keluarga Gunadhya mulai bersiap pulang.Mobil-mobil mewah kembali dipanaskan.Para sopir berdiri siaga.Namun suasana perpisahan tidak terasa dingin.Justru hangat. Sangat kekeluargaan.Di depan rumah, bapak Sutisna dan ibu Ratna berdiri berdampingan.Masih dengan pakaian yang dikenakan saat acara.Masih dengan wajah lelah … tapi bahagia.Om Kana yang paling dulu mendekat.Langsung menjabat tangan bapak dengan erat.“Pak… terima kasih banyak ya,” katanya tulus.“Ini… luar biasa sekali.”Bapak Sutisna tersenyum canggung.“Ah… biasa saja, Pak… seadanya.”“Seadanya?” Om Kana tertawa ke

  • Menantang Kasta   Kekecewaan Terdalam Kaluna

    Riuh pesta masih terasa di halaman rumah Bapak Sutisna.Musik dangdut bercampur tawa para Gunadhya yang tampak menikmati acara ini karena merupakan hal baru bagi mereka.Suara gelas beradu, denting sendok garpu terdengar dari para tamu undangan yang hadir siang itu.Anak-anak berlarian mengelilingi panggung.Tapi di sisi lain halaman rumah—sedikit menjauh dari keramaian itu—suasananya berbeda.Lebih tenang.Lebih sunyi.Dan lebih … jujur.Kaluna tengah berdiri di dekat pagar kayu, memandang ke arah jalan desa yang dipenuhi mobil-mobil mewah yang terparkir rapih beraturan.Tangannya terlipat di depan dada.Tatapannya kosong, tapi pikirannya jelas tidak.“Lun.” Suara itu membuatnya menoleh.Davanka berjalan mendekat.Masih rapi dengan kemeja mahalnya, tapi wajahnya tidak setenang biasanya.Ia sudah lama memperhatikan adiknya dari jauh sampai akhirnya mengambil inisiatif untuk mendatangi.“Lo kenapa?” tanyanya pelan.Kaluna tidak langsung menjawab.Ia hanya menatap kakak

  • Menantang Kasta   Jadi, Siapa Yang Salah?

    Setelah menutup panggilan telepon, Kaluna mengembuskan nafas panjang, dia merentangkan kedua tangan, matanya menatap kosong langit-langit kamar.Tiba-tiba perutnya berbunyi. Dia belum makan malam karena sekretarisnya tidak peka.Akhirnya Kaluna keluar kamar, masih belum ganti baju—dia m

  • Menantang Kasta   Mencari Bukti

    Keputusan sudah dijatuhkan.Bukan vonis.Tapi—awal dari pembuktian.Dan seluruh gedung AG Group berubah jadi ruang penyelidikan.Hari itu juga—tim audit internal mulai bergerak.Tidak ada penundaan. Tidak ada kompromi. Semua akses dibuka.Server, log aktivitas, jadwal ruangan, hingga rekaman

  • Menantang Kasta   Sudah Saatnya

    Tapi baru saja Kama duduk di kursi kebesarannya.Suara pintu terdengar diketuk.Tok.Tok.“Masuk.”Pintu terbuka pelan.Seorang wanita paruh baya masuk dengan raut wajah tegang. Ia adalah kepala HRD AG Group pusat.“Maaf mengganggu, Pak Kama… ada hal penting yan

  • Menantang Kasta   Tidak Akan Mudah

    Ting ….Suara denting terdengar pertanda pintu lift akan terbuka.Davanka keluar dari dalam lift kemudian menderapkan langkah menuju ruangan CEO.Dari jauh, Satria sudah menangkap sosok Davanka.Dia keluar dari mejanya menyambut pria itu yang datang tanpa pemberitahuan, karena biasanya jika ada

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status