LOGINSetelah sarapan yang dipenuhi tawa kecil dan candaan ringan, suara-suara dari luar mulai semakin ramai.Deru kendaraan.Langkah kaki.Suara orang-orang yang saling menyapa.Kaluna yang masih duduk di dalam kamar, refleks menoleh ke arah jendela.“Ada yang datang,” gumamnya pelan.Satria berdiri, melangkah ke arah pintu.Mengintip sedikit ke luar.Lalu ia tersenyum tipis.“Iya .…”Kaluna mengernyit.“Siapa?”Satria menoleh.“Keluarga kamu.”Deg.Jantung Kaluna berdetak sedikit lebih cepat.Ia langsung berdiri.Tanpa sadar merapikan kebayanya, memastikan semuanya sempurna.Sementara di luar—beberapa mobil mewah mulai terparkir rapi di sepanjang jalan desa.Kontras.Sangat kontras.Dengan rumah-rumah sederhana di sekitarnya.Warga mulai berkumpul.Berbisik.Menatap takjub.“Itu mobil apa…?”“Orang kota ya…”“Kayaknya keluarga pengantin perempuan…”Dan benar saja—pintu mobil terbuka satu per satu.Keluarga besar Gunadhya turun.Dengan aura yang tidak perlu di
Udara di desa masih dingin ketika Kaluna membuka mata.Selimut tebal membungkus tubuh polosnya, sementara di sampingnya—Satria sudah terjaga lebih dulu.Pria itu menoleh begitu melihat Kaluna bergerak.“Sudah bangun?” tanyanya pelan.Kaluna mengangguk kecil, masih setengah mengantuk.“Iya .…” Kaluna merentangkan tangan ke atas, menggeliat.“Acara kita jam berapa?” tanya Kaluna sambil membenarkan letak selimut yang melorot.“Jam sepuluh … masih lama, aku masih bisa joging dulu.”Kaluna tertawa pelan.“Olah raga di atas ranjang aja gimana? Lanjutin yang tadi malem?” Kaluna melingkari leher Satria menggunakan kedua tangannya.Satria tersenyum, mengecup lengan Kaluna di samping wajahnya.“Kasian kamu, enggak bisa teriak-teriak … besok malam aja, aku udah booking kamar di resort yang baru buka di Lembang.” Kaluna menatap Satria sesaat, ingin menolak karena Kaluna tahu tabungan Satria sudah menipis tapi takut ego suami tampannya itu terluka. “Makasih ya sayang.” Akhirnya itu
Setelah makan siang dengan banyak cecaran dari Satria yang untungnya berhasil Ratu jelaskan dengan tenang dan masuk akal kemudian mereka beralih ke lantai satu untuk membeli bolen favorite Kaluna—baru lah mereka melanjutkan perjalanan meninggalkan kota, masuk ke jalanan yang semakin sempit.Aspal mulai retak di beberapa sisi.Deretan pohon pinus menyambut.Udara berubah menjadi lebih dingin.Kaluna menatap ke luar jendela.Dan entah kenapa dadanya terasa hangat.Berbeda dari semua tempat yang pernah ia datangi.“Akhirnya kita ke sini lagi, aku rindu tempat ini,” gumam Kaluna pelan.Satria menoleh sekilas bersama senyumnya. “Kangen main di kali atau kangen ikan asin buatan ibu?”Kaluna tergelak, dia ingat sewaktu belum menikah dengan Satria mereka pernah datang ke sini—dia sok tahu ingin main di kali kecil yang berfungsi untuk mengairi sawah tapi malah hampir menginjak kotoran manusia.Ratu ikut tertawa sewaktu Kaluna menceritakannya.“Pantesaaaan, ada sepatu boot warna pink
Perjalanan menuju Bandung dimulai sejak pagi.Langit Jakarta masih pucat ketika mobil Satria keluar dari parkiran apartemen.Jalanan belum terlalu padat, memberi ruang bagi mereka untuk melaju lebih tenang.Kaluna duduk di kursi penumpang, tangannya bertaut di atas pangkuan. Sesekali ia melirik Satria yang fokus menyetir.Ada perasaan berbeda hari ini.Campuran antara gugup dan hangat karena akan mendatangi kampung halaman Satria.Ibu dan ayah ingin merayakan pernikahan Satria dengan membuat acara ngunduh mantu.“Kita jemput Ratu dulu ya,” kata Satria memecah hening.Kaluna mengangguk. “Iya … sekalian aku mau bolen Kartikasari.”Satria tersenyum tipis. “Kamu kaya lagi ngidam.”Senyum Kaluna melebar.Dan perjalanan pun berlanjut.Menjelang siang, mereka sudah sampai di Bandung.Udara lebih sejuk. Lebih ringan.Mobil berhenti di depan kampus Ratu.Tidak butuh waktu lama—sosok itu muncul dari gerbang utama.Dengan gaya yang kini jauh berbeda dari sebelumnya. Lebih rapi. L
Pagi di apartemen kecil itu dimulai seperti biasa.Tidak ada pelayan.Tidak ada sarapan mewah tersaji di meja panjang.Hanya dapur sederhana dengan suara wajan yang beradu pelan.Satria sibuk di sana.Masih dengan kaos rumahan dan celana santai.Tangannya cekatan membalik telur.Sesekali melirik nasi yang sedang dipanaskan.Gerakannya tenang.Seolah semuanya baik-baik saja.Padahal tidak.Di dalam kepalanya—penuh.Kaluna keluar dari kamar.Rambutnya masih sedikit berantakan, wajahnya polos.Ia bersandar di pintu dapur.Memperhatikan Satria.“Pagi sayang .…”Satria menoleh.Langsung tersenyum.“Pagi, sayang.”Senyum itu hangat.Terlalu hangat.Seolah tidak ada beban apa pun.Kaluna berjalan mendekat.Memeluk Satria dari belakang.Pipinya menempel di punggung pria itu.“Kamu bangun pagi banget…”“Iya… biar kamu enggak kelaparan,” jawab Satria santai.
Mobil melaju meninggalkan area kampus.Tidak ada suara.Tidak ada percakapan.Hanya deru mesin dan napas keduanya yang masih belum benar-benar stabil.Ratu duduk di kursi penumpang, menatap lurus ke depan. Tangannya terlipat di pangkuan. Sesekali jemarinya bergerak gelisah.Air matanya sudah berhenti.Tapi bekasnya masih jelas.Sementara Zyandru—tangannya mencengkeram setir lebih kuat dari biasanya.Rahangnya mengeras.Tatapannya lurus, tapi jelas … pikirannya tidak tenang.Beberapa kali ia melirik ke arah Ratu.Namun tidak langsung bicara.Seolah sedang menahan sesuatu.Atau menyusun kata yang tepat.Perjalanan terasa lebih panjang dari biasanya.Sampai akhirnya—mobil berhenti di basement hotel.Tanpa bicara, Zyandru turun lebih dulu.Mengitari mobil.Membukakan pintu untuk Ratu.Ratu turun pelan.Masih diam.Masih tenggelam dalam pikirannya sendiri.Mereka berjalan berdamp
Setelah menutup panggilan telepon, Kaluna mengembuskan nafas panjang, dia merentangkan kedua tangan, matanya menatap kosong langit-langit kamar.Tiba-tiba perutnya berbunyi. Dia belum makan malam karena sekretarisnya tidak peka.Akhirnya Kaluna keluar kamar, masih belum ganti baju—dia m
Ketika malam di perbatasan Lembang-Subang—udara begitu dingin.Di luar, langit dipenuhi bintang.Satria duduk di teras rumah, di bangku kayu sedang menikmati malam sendirian.Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar lalu pintu terbuka.Bapak muncul dari dalam lantas duduk di sampingnya.Beberapa
Keputusan sudah dijatuhkan.Bukan vonis.Tapi—awal dari pembuktian.Dan seluruh gedung AG Group berubah jadi ruang penyelidikan.Hari itu juga—tim audit internal mulai bergerak.Tidak ada penundaan. Tidak ada kompromi. Semua akses dibuka.Server, log aktivitas, jadwal ruangan, hingga rekaman
Tapi baru saja Kama duduk di kursi kebesarannya.Suara pintu terdengar diketuk.Tok.Tok.“Masuk.”Pintu terbuka pelan.Seorang wanita paruh baya masuk dengan raut wajah tegang. Ia adalah kepala HRD AG Group pusat.“Maaf mengganggu, Pak Kama… ada hal penting yan







